Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِيْهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
{يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا
كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالْأَرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا}
{يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا }
أَمَّا
بَعْدُ.
فَإِنَّ
خَيْرَ
الكَلَامِ
كَلَامُ
اللهِ وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
رَسُوْلِ
اللهِ وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
فَاتَّقُوْا
اللهَ
تَبْلُغُوْا
رِضْوَانَهُ
وَجَنَّاتَهُ،
وَتَنْجُوْ
مِنْ غَضَبِهِ
وَعُقُوْبَاتِهِ.
Ibadallah,
Ujian
adalah suatu yang pasti menimpa orang mukmin. Ujian bisa berbentuk perkara yang
menyenangkan atau bisa juga berwujud sesuatu yang menyusahkan. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman :
كُلُّ
نَفْسٍ
ذَائِقَةُ
الْمَوْتِ ۗ
وَنَبْلُوكُمْ
بِالشَّرِّ
وَالْخَيْرِ
فِتْنَةً ۖ
وَإِلَيْنَا
تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS.
al-Anbiya’: 35).
Kematian
akan menimpa semua jiwa makhluk. Sesungguhnya kematian merupakan minuman yang
yang harus direguk, walaupun seorang manusia itu sudah hidup lama dan diberi
umur panjang bertahun-tahun pasti akan merasakan kematian. Tetapi Allah ‘Azza wa Jalla
menciptakan para hamba-Nya di dunia, memberikan kepada mereka perintah dan
larangan, menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan, dengan kekayaan dan
kemiskinan, kemuliaan dan kehinaan, kehidupan dan kematian, sebagai cobaan dari
Allah ‘Azza wa Jalla
untuk menguji mereka, siapa di antara mereka yang paling baik perbuataannya ?
Siapa yang akan tersesat atau selamat di tempat-tempat ujian?
Ibadallah,
Di
antara bentuk ujian yang Allah ‘Azza
wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya adalah dengan mewafatkan
orang tersayang, baik itu orang tua, suami, istri, anak, saudara, atau lainnya.
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴿١٥٥﴾الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴿١٥٦﴾أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb
mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.
al-Baqarah: 155-157).
Semua
itu harus dihadapi dengan kesabaran. Hati menerima, lisan mengucapkan ”
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ” (Sesungguhnya kita ini milik
Allah ‘Azza wa Jalla
dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kita semua akan kembali menghadap
pengadilan-Nya), dan anggota badan pun tidak melakukan perbuatan yang dilarang
agama, seperti menjerit, menampar pipi, merobek baju dan semacamnya.
Ibadallah,
Manusia
memiliki ilmu yang sangat terbatas, sehingga seringkali penilaianya terhadap
sesuatu itu itu tidak sesuai dengan kenyaatan. Manusia terkadang menyukai suatu
perkara, padahal perkara itu akan berpotensi untuk mencelakakannya. Demikian
juga terkadang membenci suatu perkara, padahal sesuatu yang dibencinya itu baik
dan bermanfaat baginya.
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).
Oleh
karena itu, ketika seseorang ditimpa ujian kematian orang yang dicintai, dia
harus husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berusaha menghadapi
musibah ini dengan penuh kesabaran. Diantara cara meraih kesabaran ketika
ditinggal mati oleh orang yang dicintai, dan orang yang mati tersebut insya
Allah adalah seorang mukmin, adalah dengan meyakini bahwa kematiannya adalah
merupakan kebaikan bagi dia sebagai seorang mukmin. Sesungguhnya ada dua
perkara yang dibenci oleh manusia, padahal dua perkara tersebut baik bagi
seorang mukmin. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ
مَحْمُودِ
بْنِ لَبِيدٍ
أَنَّ النَّبِىَّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ:
اثْنَتَانِ
يَكْرَهُهُمَا
ابْنُ آدَمَ
الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ
خَيْرٌ
لِلْمُؤْمِنِ
مِنَ الْفِتْنَةِ
وَيَكْرَهُ
قِلَّةَ
الْمَالِ وَقِلَّةُ
الْمَالِ
أَقُلُّ
لِلْحِسَابِ.
Dari
Mahmud bin Labid bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua perkara yang dibenci
anak Adam, (pertama) kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang
mukmin daripada fitnah (kesesatan di dalam agama). (Kedua) dia membenci sedikit
harta, padahal sedikit harta itu lebih menyedikitkan hisab (perhitungan amal).
(HR. Ahmad, dan lain-lain).
Hal
ini juga sangat difahami oleh sebagian sahabat, oleh karena itu Abdullah bin
Mas’ud radhiyallahu
anhu berkata:
“يَا
حَبَّذَا
الْمَكْرُوهَانِ:
الْمَوْتُ
وَالْفَقْرُ،
وَأَيْمُ
اللَّهِ أَلا
إِنَّ
الْغِنَى
وَالْفَقْرَ
وَمَا
أُبَالِي
بِأَيِّهِمَا
ابْتُلِيتُ،
إِنْ كَانَ
الْغِنَى
إِنَّ فِيهِ لَلْعَطْفِ،
وَإِنْ كَانَ
الْفَقْرُ
إِنَّ فِيهِ
لِلصَّبْرِ
“Alangkah bagusnya dua perkara yang dibenci (yaitu)
kematian dan kefakiran. Demi Allah, ketahuilah sesungguhnya kekayaan atau
kemiskinan, aku tidak peduli dengan yang mana dari keduanya aku diuji. Jika aku
diuji dengan kekayaan, maka sesungguhnya di dalam kekayaan itu untuk menolong.
Jika aku diuji dengan kefakiran, maka sesungguhnya di dalam kefakiran itu untuk
kesabaran.” (HR. Thabarani; Ahmad di dalam Az-Zuhd; dll).
Abdullah
bin Mas’ud radhiyallahu
anhu juga berkata:
وَاللَّهِ
الَّذِي لا
إِلَهَ
غَيْرُهُ، مَا
مِنْ نَفْسٍ
حَيَّةٍ إِلا
الْمَوْتُ
خَيْرٌ لَهَا
إِنْ كَانَ
بَرًّا،
إِنَّ
اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ
يَقُولُ: ”
وَمَا عِنْدَ
اللَّهِ
خَيْرٌ
لِلْأَبْرَارِ”
وَإِنْ كَانَ
فَاجِرًا ,
إِنَّ
اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ
يَقُولُ: ”
وَلَا
يَحْسَبَنَّ
الَّذِينَ
كَفَرُوا
أَنَّمَا
نُمْلِي
لَهُمْ خَيْرٌ
لِأَنْفُسِهِمْ
ۚ إِنَّمَا
نُمْلِي
لَهُمْ
لِيَزْدَادُوا
إِثْمًا”
“Demi Allah ‘Azza
wa Jalla Yang tidak ada ilah yang haq kecuali Dia. Tidak ada satu
jiwapun yang mati kecuali kematian lebih baik darinya.
Jika
dia seorang yang berbakti, maka sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, (yang
artinya) “Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang
yang berbakti”. (Ali ‘Imran/198)
Jika
dia seorang yang fajir (jahat), maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah sekali-kali orang-orang
kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik
bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya
bertambah-tambah dosa mereka”. (Ali ‘Imran/3: 178). (Riwayat
Thabarni, dll)
Ayat
yang mulia ini (Ali ‘Imran/3: 178) menunjukkan adanya problem dan syubhat
yang merasuki sebagian hati manusia, yaitu musuh-musuh kebenaran tidak
mendapatkan siksa di dunia, diberi kesenangan secara lahiriyah dengan kekuatan,
kekuasaan, harta benda, dan kedudukan ! Yang hal ini menimbulkan kesesatan di
hati mereka dan orang-orang yang berada di sekitar mereka. Ini juga membuat
orang-orang yang imannya lemah berburuk sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla ,
perasangka yang tidak benar, perasangka jahiliyah, yaitu menyangka Allah ‘Azza wa Jalla
meridhai kebatilan dan keburukan. Mereka mengatakan bahwa jika Allah k tidak
meridhainya, tentu Allah ‘Azza
wa Jalla tidak akan membiarkannya membesar dan berkuasa.
Ketahuilah
wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya ketika Allah ‘Azza wa Jalla tidak segera menyiksa
mereka, ketika Allah memberikan berbagai kesenangan di dunia, itu semua
hanyalah tipu daya terhadap mereka, karena Allah tidak menghendaki kebaikan
bagi mereka.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلِهِ القَوِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
وَفَّقَ مَنْ
شَاءَ إِلَى
الخَيْرَاتِ،
وَخَذَلَ
مَنْ شَاءَ
بِعَدْلِهِ
وَحِكْمَتِهِ
فَاتَّبَعَ
الشَهَوَاتِ،
أَحْمَدُ رَبِّي
وَأَشْكُرُهُ،
وَأَتُوْبُ
إِلَيْهِ
وَأَسْتَغْفِرُهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ رَبُّ
الأَرْضِ
وَالسَّمَاوَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ نَبِيَّنَا
وَسَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
كعبةُ
المَكْرُمَاتِ،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
ذَوِيْ
الطَّعَاتِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ
قِيَامًا
بِشُكْرِهِ،
وَاذْكُرُوْهُ
حَقَّ
ذِكْرِهِ.
Ibadallah,
Dunia
adalah ibarat penjara bagi seorang mukmin. Ini artinya, jika seorang mukmin
meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut.
عَنْ
أَبِى
هُرَيْرَةَ
قَالَ قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ n :
الدُّنْيَا
سِجْنُ
الْمُؤْمِنِ
وَجَنَّةُ
الْكَافِرِ
Dari
Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia itu penjara seorang
mukmin dan sorga orang kafir”. (HR. Muslim).
Imam
Nawawi rahimahullah
menjelaskan hadits ini dengan perkataan, “Maknanya bahwa semua orang
mukmin di dunia ini dipenjara atau dilarang dari syahwat-syahwat
(perkara-perkara yang disukai) yang diharamkan dan dimakruhkan, dibebani dengan
melaksanakan ketaatan-ketaatan yang berat. Maka jika dia telah meninggal dunia,
dia istirahat dari ini, dan dia kembali menuju perkara yang telah dijanjikan
oleh Allah ‘Azza wa
Jalla untuknya, berupa kenikmatan abadi dan istirahat yang bebas
dari kekurangan. Sedangkan orang kafir, maka dia mendapatkan kenikmatan di
dunia, dengan sedikitnya kenikmatan itu dan disusahkan dengan perkara-perkara
yang menyusahkan. Jika dia mati, dia menuju siksaan abadi dan kecelakaan yang
kekal”.
Kematian
seorang mukmin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dinyatakan oleh imam
Nawawi di atas, dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya sebagai berikut:
وعَنِ
أَبِى
قَتَادَةَ
بْنِ
رِبْعِىٍّ
الأَنْصَارِىِّ
أَنَّهُ
كَانَ
يُحَدِّثُ
أَنَّ
رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مُرَّ عَلَيْهِ
بِجِنَازَةٍ
فَقَالَ :
مُسْتَرِيحٌ
، وَمُسْتَرَاحٌ
مِنْهُ .
قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ
مَا
الْمُسْتَرِيحُ
وَالْمُسْتَرَاحُ
مِنْهُ قَالَ:
الْعَبْدُ
الْمُؤْمِنُ
يَسْتَرِيحُ
مِنْ نَصَبِ
الدُّنْيَا
وَأَذَاهَا
إِلَى
رَحْمَةِ
اللَّهِ ،
وَالْعَبْدُ
الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ
مِنْهُ
الْعِبَادُ
وَالْبِلاَدُ
وَالشَّجَرُ
وَالدَّوَابُّ
Dari
Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshari, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang
(dipikul) melewati Rasulullah, maka beliau bersabda, “Orang yang
beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Para sahabat
bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan
orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba
yang mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah.
Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan
binatang, beristirahat darinya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnut
Tien rahimahullah
berkata, “(Yang dimaksudkan seorang mukmin dalam hadits di atas)
kemungkinan adalah khusus orang yang bertaqwa, atau semua orang mukmin. Adapun
yang dimaksudkan seorang fajir (jahat) di dalam hadits di atas kemungkinan
adalah orang yang kafir, atau termasuk orang yang bermaksiat.”
Ad-Dawudi
rahimahullah
berkata, “Adapun istirahatnya manusia adalah karena kemungkaran yang
dilakukan oleh orang fajir itu (telah berhenti juga). Jika manusia
mengingkarinya, dia mengganggu mereka; namun jika mereka membiarkannya, maka
mereka berdosa. Adapun istirahatnya kota karena kemaksiatan-kemaksiatan yang
dilakukan oleh orang fajir itu telah sirna juga. Karena hal itu menyebabkan
tidak turun hujan, yang berakibat kebinasaan pertanian dan peternakan”.
Tetapi
al-Baji rahimahullah
mengkritik bagian awal dari perkataan ad-Dawudi, yaitu bahwa orang yang
mendapatkan gangguannya, maka dia tidak berdosa dengan tidak mengingkarinya,
jika dia telah mengingkari dengan hatinya. Atau dia mengingkari kemungkarannya
dengan cara yang bisa menghindarkan dirinya dari gangguan si pelaku kejahatan.
Dan kemungkinan yang dimaksudkan dengan istirahatnya manusia darinya adalah
karena kezhalimannya yang menimpa manusia (telah terhenti). Sedangkan
istirahatnya bumi darinya karena perbuatannya yang merampas bumi, menghalanginya
dari hak bumi, dan dia mempergunakan bumi untuk perkara yang tidak selayaknya.
Sedangkan istirahatnya binatang karena perkara yang seharusnya tidak boleh
dilakukan, yaitu melelahkannya. Wallahu a’lam.”
Sedikit
penjelasan ini semoga bisa menghibur orang yang tertimpa musibah kehilangan
orang yang discintainya. Wallahul Musta’an.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ
الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ
احْمِ
حَوْزَةَ الدِّيْنِ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ
النَّاصِحَةَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
مِنَ
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَتُبْ عَلَى
التَّائِبِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَارْحَمْ
مَوْتَانَا
وَمَوْتَى
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَاشْفِ
مَرْضَانَا وَمَرْضَى
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
فَرِجّْ هُمُ
المَهْمُوْمِيْنَ
مِنَ المُسْلِمِيْنَ
وَفَرِّجْ
كَرْبَ
المَكْرُوْبِيْنَ،
وَاقْضِ
الدَّيْنَ
عَنِ
المَدِيْنِيْنَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ أَنْتَ
حَسْبُنَا
وَنِعْمَ
الوَكِيْلِ. {
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
}.{ رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ }.
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ .(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Isma’il Muslim
al-Atsari di majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVI/1433H/2012M).
www.KhotbahJumat.com