Khutbah
Pertama:
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ أَفْضَلَ أَيَّامِ الْأُسْبُوْعِ وَجَعَلَ فِيْهِ سَاعَةً الدُّعَاءُ فِيْهَا مُجَابٌ وَمَسْمُوْعٌ وَخَصَّهُ بِخَصَائِصَ لِيَعْرِفَ النَّاسُ قَدْرَهُ فَيَقُوْمُوْا بِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَشْرُوْعِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْقَوِيُّ القَهَّارُ مُبِيْدُ الأَجْنَادِ وَالجُمُوْعِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَتْقَى عَابِدٍ وَأَهْدَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِيْ القُنُوْتِ وَالْخُضُوْعِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى، وَاشْكُرُوْهُ أَنْ جَعَلَكُمْ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَاخْتَصَّكُمُ اللهَ بِيَوْمٍ عَظِيْمٍ يَتَكَرَّرُ عَلَيْكُمْ كُلَّ أُسْبُوْعٍ.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Segala
puji bagi Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang telah memuliakan kita dengan agama yang mulia
serta menjadikan untuk kita hari Jumat sebagai sebaik-baik hari dalam setiap
pekan dengan berbagai kekhususan dan keistimewaan.
Saya
bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan
benar selain Allah Subhanahu
wa Ta’ala semata serta saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah hamba dan utusan-Nya.
Shalawat
dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya,
para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa di atas petunjuknya.
Hadirin
rahimakumullah,
Marilah
kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala serta mensyukuri berbagai nikmat-Nya. Di antaranya
adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala pada hari Jumat sebagai keistimewaan umat ini yang
tidak diberikan pada umat sebelumnya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللهِ
“Sesungguhnya
hari Jumat itu adalah pemimpin seluruh hari dan hari paling mulia di sisi Allah
Subhanahu wa Ta’ala.”
(HR. Ibnu Majah dinyatakan sahih oleh al-Albani rahimahullah)
Oleh
karena itu, sudah semestinya bagi kaum muslimin untuk mencontoh suri teladannya
yaitu Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam mengistimewakan hari yang mulia ini.
Hadirin
rahimakumullah,
Ketahuilah
bahwa di antara petunjuk Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah mengkhususkan hari tersebut dengan
berbagai amalan yang tidak dilakukan pada hari lainnya.
Di
antaranya adalah bahwa pada pagi harinya yaitu ketika shalat subuh disunnahkan
untuk membaca surat as-Sajdah pada rakaat pertama dan al-Insan pada rakaat
kedua. Hal ini sebagaimana tersebut dalam hadits,
كَانَ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْجُمُعَةِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ }آلم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ } و }َهَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ}
“Dahulu
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pada hari Jumat, ketika shalat subuh
membaca alif laam miim tanzil’ as-Sajdah dan ‘hal ata
‘alal-insan hinun minad dahri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Di
antara hikmah dibacanya dua surat tersebut adalah agar kita mengambil pelajaran
dari kisah Nabiyullah Adam ‘alaihis
salam serta mengingatkan kita dengan kehidupan yang sesungguhnya di
akhirat nanti. Sebab, dua surat tersebut menyebutkan penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam dan
peristiwa hari kiamat yang akan terjadi nanti pada hari Jumat.
Di
samping itu, disunnahkan pula untuk membaca surat al-Kahfi, sebagaimana
tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi, serta
dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Hanya saja surat ini
bukan dibaca pada saat shalat, namun dibaca di luar shalat, baik pada pagi
harinya sebelum shalat Jumat maupun siang dan sore harinya setelah shalat
Jumat.
Hadirin
rahimakumullah,
Termasuk
kekhususan hari Jumat adalah disunnahkannya memperbanyak shalawat kepada Nabi
kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam pada malam dan pagi harinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ
“Sesungguhnya
hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, maka perbanyaklah bershalawat
kepadaku pada hari tersebut.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh
al-Albani rahimahullah)
Bershalawat
kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sangat dianjurkan. Selain karena
keutamaannya yang besar, juga-sebagaimana dijelaskan oleh para ulama- karena
beliau adalah sosok mulia yang menjadi sebab datangnya kebaikan-kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala
atas umat ini. Beliau lebih besar kebaikannya kepada kita daripada orang tua
dan saudara-saudara kita sendiri, sehingga sudah selayaknya bagi kaum muslimin
untuk memperbanyak shalawat dan salam untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jama’ah
jum’ah rahimakumullah,
Di
antara kekhususan hari Jumat adalah mandi dan membersihkan tubuh pada hari itu
serta memperbagus penampilan dengan memotong kuku, merapikan kumis, memakai
wewangian dan pakaian terbagus yang dimiliki karena hari tersebut adalah hari raya
yang datang setiap pekan.
Di
samping itu, hari tersebut adalah hari berkumpulnya kaum muslimin untuk
menjalankan shalat Jumat sehingga seorang muslim pada kesempatan tersebut
berusaha untuk berpenampilan sebaik-baiknya.
Jama’ah
jum’ah rahimakumullah,
Termasuk
kekhususan yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala tetapkan pada hari Jumat adalah ditegakkannya
shalat dan khutbah pada hari tersebut. Telah datang ancaman yang keras bagi
orang yang tidak menjalankan kewajiban ini sebagaimana tersebut dalam sabda
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ
“Sungguh
orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau (kalau tidak) sungguh
Allah Subhanahu wa
Ta’ala akan menutup hati-hati mereka kemudian sungguh mereka
akan terus menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)
Oleh
karena itu, wajib bagi kaum muslimin untuk menjalankannya kecuali orang-orang
yang sedang dalam perjalanan dalam jarak safar. Tidak ada kewajiban bagi mereka
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yaitu bahwa ketika
dalam perjalanan safar untuk menunaikan ibadah haji mereka tidak menjalankan
shalat Jumat. Mereka tidak wajib menjalankannya, tetapi jika mereka ikut shalat
Jumat bersama penduduk suatu daerah, hal itu sudah mencukupi sehingga shalatnya
pun tetap sah.
Adapun
kaum muslimin yang wajib untuk menjalankannya tidak boleh meninggalkannya,
bahkan semestinya mereka berusaha mendatanginya di awal waktu. Dengan
menghadirinya di awal waktu, seseorang akan mendapatkan banyak keutamaan. Di
antaranya dia akan mendapatkan keutamaan memperoleh shaf pertama dan
mendapatkan keutamaan menunggu shalat serta mendapatkan kesempatan untuk
memperbanyak shalat sunnah dan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
dan yang semisalnya.
Semua
ini tidak akan didapat oleh orang yang datang terakhir atau belakangan ketika
menghadiri shalat Jumat. Begitu pula apabila dia mendatanginya dengan jalan
kaki maka akan lebih sempurna dan mendapatkan keutamaan yang lebih besar.
Hadirin
rahimakumullah,
Khutbah
yang dilakukan dalam rangkaian shalat Jumat juga termasuk kekhususan yang ada
pada hari tersebut. Khutbah Jumat memiliki maksud di antaranya untuk
memanjatkan pujian dan pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala serta persaksian
kita untuk mengesakan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam seluruh bentuk ibadah dan membenarkan seluruh
ajaran Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Begitu
pula, khutbah Jumat memiliki maksud sebagai peringatan bagi kaum muslimin agar
takut dari kerasnya azab Allah Subhanahu
wa Ta’ala, serta sebagai nasihat dan wasiat agar mereka
mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala untuk mendapatkan rahmat-Nya. Dengan demikian,
hadirnya kaum muslimin untuk mendengarkan khutbah adalah sesuatu tuntutan yang
diinginkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Hadirin
rahimakumullah,
Di
antara kekhususan pada hari tersebut adalah adanya waktu yang mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
فِيهِ سَاعَةٌ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Pada
hari tersebut (Jumat) ada saat yang tidaklah seseorang muslim mendapatinya
dalam keadaan shalat dengan berdoa meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
sesuatu kecuali Allah Subhanahu
wa Ta’ala akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)
Maka
dari itu, kesempatan tersebut tentunya tidak akan dilewatkan begitu saja oleh
kaum muslimin. Yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam berdoa lebih-lebih pada
saat shalat, baik pada saat mengikuti shalat Jumat, yaitu ketika sujud dan ini
adalah saat terdekatnya seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun setelah
membaca tasyahhud. Ataupun dengan berusaha mendapatkan waktu yang mustajab tersebut
setelah shalat ashar di hari itu hingga menjelang tenggelamnya matahari. Yaitu
pada saat shalat tahiyatul masjid ketika menunggu waktu shalat maghrib di hari
tersebut atau di luar shalat yaitu pada waktu setelah shalat ashar hingga
menjelang waktu maghrib.
Hadirin
rahimakumullah,
Demikian
sebagian kekhususan dan keistimewaan hari Jumat. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan kemudahan kepada kita semua untuk bisa mengikuti petunjuk Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam mengistimewakan hari yang penuh keutamaan ini.
اَللَّهُمَّ
بَصِرْنَا
بِدِيْنِكَ ،
وَوَفِقْنَا
لِاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ عَلَيْهِ
الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
، وَأَعِذْنَا
مِنَ
الْفِتَنِ
كُلِّهَا مَا
ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ
إِنَّكَ
سَمِيْعُ الدُّعَاءِ
وَأَنْتَ
أَهْلُ
الرَّجَاءِ
وَأَنْتَ
حَسْبُنَا
وَنِعْمَ
الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
شَرَعَ
لِعِبَادِهِ
الجُمَعَ
وَالجَمَاَعَاتِ
لِيُطَهِّرَهُمْ
بِهَا مِنَ
السَّيِّئَاتِ
وَيَرْفَعُ
بِهَا
الدَّرَجَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ فِيْ
رُبُوْبِيَّتِهِ
وَأُلُوْهِيَّتِهِ
وَالأَسْمَاءِ
والصِّفَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدً ا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَنْزَلَ
عَلَيْهِ ا
يْآلَاتِ البَيِّنَاتِ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا،
أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Marilah
kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan mensyukuri nikmat berupa dikaruniakannya hari
yang mulia ini, dengan bersegera menghadiri shalat Jumat serta
bersungguh-sungguh dalam mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
untuk mendapatkan keutamaan-keutamaannya.
Hadirin
rahimakumullah,
Perlu
diingat bahwa seseorang apabila telah sampai di masjid seharusnya dia segera
menuju shaf terdepan dan segera menyibukkan dirinya dengan shalat, membaca
al-Qur’an, berzikir, dan semisalnya. Jadi, tidaklah tepat, justru
menyelisihi sunnah apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin ketika mereka
telah sampai di masjid pada awal waktu tetapi memilih tempat di shaf belakang.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ
يَزَالُ
قَوْمٌ
يَتَأَخَّرُونَ
حَتَّى
يُؤَخِّرَهُمْ
اللهُ
“Orang-orang selalu saja ingin berada di(shaf) akhir
sehingga Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun mengakhirkan mereka.” (HR. Muslim)
Demikianlah
balasan sesuai dengan amalannya, sehingga orang-orang yang selalu memilih di
shaf akhir Allah Subhanahu
wa Ta’ala akan menjadikan mereka termasuk dari orang-orang
yang terakhir masuk ke dalam jannah.
Hadirin
rahimakumullah,
Perlu
diketahui bahwasanya tidak ada sebelum shalat Jumat, shalat sunnah rawatib atau
shalat sunnah yang mengiringi sebelumnya, namun disyariatkan untuk shalat
sunnah sebanyak-banyaknya sampai datangnya waktu khutbah.
Adapun
setelahnya, maka disunnahkan untuk shalat sunnah rawatib empat rakaat apabila
dilakukan di masjid atau dua rakaat apabila dilakukan di rumah sebagaimana
keterangan para ulama berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim
rahimahullah dalam Shahih-nya.
Begitu
pula seseorang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat Jumat, maka dia
menyempurnakan satu rakaat lagi setelah salamnya imam.
Adapun
seseorang yang tidak mendapatkan satu rakaat pun ketika mengikuti shalat Jumat,
dia ketika masuk masjid segera mengikuti imam dan meniatkan untuk shalat zhuhur
dengan menyempurnakan empat rakaat setelah salamnya imam.
Demikianlah,
mudah-mudahan Allah Subhanahu
wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua
untuk bisa memahami agama-Nya dan mengamalkannya.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
، وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةً
الصَالِحَةً
النَاصِحَةً
يَا ذَا
الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ .
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَناَ
تَقْوَاهَا ،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعِفَّةَ
وَالغِنَى ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالسَّدَادَ
،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا كُنَّا
. اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
بِأَسْمَائِكَ
الْحُسْنَى
وَصِفَاتِكَ
العُلَى أَنْ
تَجْعَلْ قُوَّتَنَا
حَلَالًا
وَأَنْ
تَجَنِّبْنَا
الحَرَامَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
، اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا ذُنُبَنَا
كُلَّهُ
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ .
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَباَرَكَ
وَأَنْعَمَ
عَلَى عَبْدِ
اللهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Sumber:
Asy Syariah
Oleh Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
www.KhotbahJumat.com