Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَاكِرِيْنَ ، وَأُثْنِيْ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ ثَنَاءَ المُنِيْبِيْنَ اَلذَّاكِرِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهَ الْأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقُيُوْمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِيْنَ وَخَالِقِ الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغِ النَّاسَ شَرْعَهُ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى ، اِتَّقُوْا
اللهَ
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى اللهَ
وَقَاهُ
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah Ta’ala,
bertakwalah kepada-Nya, karena orang yang bertakwa akan Dia jaga dan tunjuki ke
jalan yang baik dalam urusan agama dan dunia. Ingatlah! Kesudahan yang baik
hanya bagi orang-orang yang bertakwa.
Ketahuilah
kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Amanah
adalah suatu tanggung jawab dan kewajiban yang besar yang diemban oleh manusia
dalam kehidupan. Manusia adalah hamba yang Allah adakan setelah sebelumnya
tidak ada , lalu Allah berikan kepada mereka amanah dan manusia menerimanya.
Amanah tersebut diberikan beserta dengan segala konsekuensinya yang besar.
Ibadallah,
Sesungguhnya
amanah adalah sesuatu yang besar dan memiliki kedudukan yang agung. Wajib bagi
hamba Allah untuk memperhatikan dan menjaga hak-haknya, mengetahui
kedudukannya, dan berupaya untuk mewujudkan dan merealisasikannya. Banyak
dalil, baik dari Alquran maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan tentang kedudukan amanah dan balasan yang akan didapatkan di dunia
dan akhirat bagi orang yang menjaganya dan adzab bagi mereka yang
menghianatinya.
Allah
Tabaraka wa Ta’ala
berfirman,
فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ
“Akan
tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah Tuhannya.” (QS. Al-Baqarah: 283)
Firman-Nya
yang lain,
إِنَّا
عَرَضْنَا
الْأَمَانَةَ
عَلَى السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَالْجِبَالِ
فَأَبَيْنَ
أَنْ
يَحْمِلْنَهَا
وَأَشْفَقْنَ
مِنْهَا وَحَمَلَهَا
الْإِنْسَانُ
إِنَّهُ
كَانَ ظَلُومًا
جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada
langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu
dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS.
Al-Ahzab: 72)
Firman-Nya,
إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُكُمْ
أَنْ تُؤَدُّوا
الْأَمَانَاتِ
إِلَى
أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
menyebutkan amanah adalah sifat orang-orang yang beriman,
وَالَّذِينَ
هُمْ
لِأَمَانَاتِهِمْ
وَعَهْدِهِمْ
رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mukminun: 8)
Kemudian
di ayat 10 dan 11 nya Allah menyebutkan,
أُولَٰئِكَ
هُمُ
الْوَارِثُونَ.
الَّذِينَ
يَرِثُونَ
الْفِرْدَوْسَ
هُمْ فِيهَا
خَالِدُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni)
yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS.
Al-Mu’minun: 10-11)
Dalam
surat yang lainnya, Allah Ta’ala
berfirman,
أُولَئِكَ
فِي جَنَّاتٍ
مُكْرَمُونَ
“Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (QS.
Al-Ma’arij: 35)
Kesudahan
yang terpuji dan akhir yang bahagia adalah bagi mereka yang menunaikan dan
menjaga kedudukan amanah.
Setelah
itu, Allah menyebutkan bahwa menyia-nyiakan amanah adalah di antara sifat orang
Yahudi. Allah Ta’ala
berfirman,
وَمِنْهُمْ
مَنْ إِنْ
تَأْمَنْهُ
بِدِينَارٍ
لَا
يُؤَدِّهِ
إِلَيْكَ
إِلَّا مَا
دُمْتَ
عَلَيْهِ
قَائِمًا
“Dan di antara mereka ada orang yang jika kamu
mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika
kamu selalu menagihnya.” (QS. Ali Imran: 75)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyebutkan bahwa tidak menunaikan janji yang hal itu
termasuk amanah adalah sifat dari orang-orang munafik. Di dalam hadits yang
shahih dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
آيَةُ
الْمُنَافِقِ
ثَلَاثٌ :
إِذَا حَدَّثَ
كَذَبَ ،
وَإِذَا
وَعَدَ
أَخْلَفَ ،
وَإِذَا
اؤْتُمِنَ
خَانَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga: (1) Apabila berkata ia
berudsta, (2) apabila ia berjanji ia mengingkari, dan (3) apabila diberi amanah
ia berkhianat.”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga menyebutkan bahwa amanah bagian dari keimanan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لَا
إِيمَانَ
لِمَنْ لَا
أَمَانَةَ
لَهُ
“Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki sifat
amanah.”
Dua
hadits ini menunjukkan betapa besarnya amanah itu, amanah adalah bagian dari
keimanan. Tiap kali seseorang berusaha menjaga amanah, saat itu pula semakin
bertambah keimanannya. Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan amanah, berkurang
pulalah keimanannya sekadar kurangnya ia menjaga amanah.
Ibadallah,
Di
antara ayat Alquran yang menunjukkan betapa besar dan agungnya kedudukan amanah
di dalam Islam adalah sebuah ayat di akhir surat Al-Ahzab,
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Renungkanlah
ayat ini wahai hamba Allah. Allah Ta’ala
telah mengabarkan dalam ayat yang mulia ini bahwa Dia menawarkan amanah kepada
langit, bumi, dan gunung-gunung. Allah tawarkan kepada mereka untuk memilih.
Dan mereka memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut. Gunung menolaknya,
langit menolaknya, demikian juga bumi enggan mengemban amanah tersebut, bukan
karena mereka tidak mau menerima ganjaran yang besar bagi pengemban amanah!
Akan tetapi mereka takut dan khawatir dengan besarnya tanggung jawab dari
amanah tersebut. Mereka khawatir kalau nanti malah menghianatinya. Lalu amanah
itu diemban oleh manusia, dan manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Dengan
sifat amat zalim dan amat bodoh, manusia menyanggupi mengemban amanah dan
menanggung segala konsekuensinya.
Konsekuensi
bagi orang yang amanah adalah mendapatkan pahala dari sisi Allah Jalla wa ‘Ala baik di
dunia maupun di akhirat dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya dia akan
mendapatkan siksa yang layak bagi orang yang menyia-nyiakan amanah baik di
dunia maupun di akhirat. Manusia berani mengemban amanah dengan sifat mereka
yang amat zalim dan amat bodoh. Setiap orang mengemban amanah dalam
kehidupannya. Dan Allah Jalla
wa ‘Ala akan meminta pertanggung-jawaban atas hal itu ketika
mereka nanti berjumpa dengan Allah.
Ibadallah,
Apabila
kita melihat manusia dalam mengemban amanah dan bagaimana mereka merealisasikannya,
kita akan mendapatkan 3 macam tipe manusia dalam mengemban amanah:
Pertama, mereka yang secara tampak
penglihatan manusia adalah orang yang memegang amanah namun secara batin mereka
adalah orang yang menyia-nyiakannya. Merekalah orang-orang munafik menampakkan
sesuatu yang berbeda dengan batin mereka dan mencitrakan diri dengan sesuatu
yang berbeda dari apa yang mereka rahasiakan.
Saat
mereka datang menemui orang-orang yang beriman, mereka kesankan diri mereka
adalah orang yang beriman, amanah, jujur, dan menunaikan janji, mereka
tampakkan hal itu karena takut kehilangan tempat di sisi orang-orang yang
beriman. Sebaliknya apabila mereka bertemu orang-orang kafir, mereka tampakkan
kekufuran mereka.
Mereka
inilah yang senantiasa berkamuflase menampakkan keimanan dan menyembunyikan
kekufuran, menampakkan sesuatu yang berbeda dari keyakinan. Secara zahir, orang
memandangnya sebagai orang yang amanah, padahal di dalam hatinya terdapat
makar, tipu daya, dan pengkhiantan.
Sebenarnya
mereka ini menipu diri mereka sendiri. Mereka sangka mereka menipu Allah dan
orang-orang yang beriman, padahal hakikatnya mereka tipu diri mereka sendiri,
mereka membuat makar dan kebinasaan yang hakiki untuk diri mereka di dunia dan
akhirat.
Kedua, mereka yang tidak amanah baik secara
zahir maupun batin. Mereka ini adalah orang-orang kafir. Zahir dan batin mereka
sama, menampakkan kekufuran kepada Allah, menentang agama-Nya, dan jauh dari
syariat-Nya.
Ketiga, orang-orang yang beriman yang
mengemban amanah dan menunaikannya. Bersungguh-sungguh sekuat tenaga
mewujudkannya. Mereka adalah ahlul iman dan ahlul karamah di dunia dan akhirat.
Karena
itu ibadallah,
Sebagaimana
yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, tatkala ditawatkan amanah kepada langit,
bumi, dan gunug-gunung, mereka menolaknya karena khawatir akan mengkhianatinya.
Adapun manusia ketika ditawarkan amanah, mereka menyanggupinya. Setelah itu, di
ayat berikutnya, Allah jelaskan tentang pembagian manusia dalam mengemban
amanah:
لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Sehingga
Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang
musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 73).
Allah
menyebutkan kelompok manusia dalam permasalahan amanah: (1) kelompok yang
diadzab, merekalah orang-orang munafik dan orang-orang musyrik, (2) kelompok
yang diberi nikmat, merekalah orang-orang yang beriman.
Semoga
Allah menjadikan saya dan Anda semua termasuk kelompok orang-orang yang beriman
yang diberi nikmat tersebut.
Ibadallah,
Amanah
dilihat dari sisi kepada siapa dia ditunaikan dan apa saja cakupannya
dijelaskan oleh ayat berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Ayat
ini menjelaskan bahwa amanah ditinjau dari sisi kepada siapa dia ditunaikan dan
apa saja cakupannya dapat dibagi menjadi tiga bagian:
Pertama, amanah yang kaitannya dengan hak
Allah Tabaraka wa
Ta’ala atas para hamba-Nya.
Allah
Jalla wa ‘Ala
memberi amanah kepada semua manusia, termasuk kita, agar menjaga hak-hak-Nya.
Allah menciptakan kita agar kita hanya beribadah kepada-Nya, memerintah, dan
melarang kita. Allah tidak menciptakan kita sia-sia, tanpa diperintah dan
dilarang. Dia menicptakan kita untuk suatu tujuan yang terpuji dan agung yaitu
beribadah hanya kepada-Nya dan mengimani segala yang datang dari-Nya. Jadi,
mentauhidkan Allah adalah amanah dan berbuat syirik adalah khianat.
Amanah
yang paling besar yang Allah embankan kepada kita adalah tauhid. Dan
pengkhiantan yang paling besar dari amanah Allah adalah syirik. Barangsiapa
yang menegakkan hak-hak Allah Jalla
wa ‘Ala, mengikhlaskan agama hanya untuknya, menjalankan
perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan berhati-hati dari
syirik, maka dia telah menunaikan amanah kepada Alla Jalla wa ‘Ala.
Pengetahuan
kita tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, pengetahuan tentang keagungan dan
kebesaran-Nya, pengetahuan tentang kekuasaan-Nya, pengetahuan tentang betapa
sempurna kebijaksanaan-Nya, itu adalah bentuk menunaikan amanah keapda Allah Ta’ala.
Kedua, amanah dalam menunaikah hak-hak
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Di
antara hak Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah mencintai beliau. Cinta di sini
adalah mencintai beliau lebih dari diri sendiri, orang tua, anak, dan orang
selainnya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak
(sempurna) keimanan salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai
dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
Ketikta
Umar radhiallahu ‘anhu
berkata,
يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
لَأَنْتَ
أَحَبُّ إِلَيَّ
مِنْ كُلِّ
شَيْءٍ
إِلَّا مِنْ
نَفْسِي
“Wahai Rasulullah, sungguh engkau paling aku cintai dari
segala sesuatu kecuali diriku”.
Lalu
Rasulullah shallallahu menanggapi,
لَا
يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ
حَتَّى
أَكُونَ عِنْدَهُ
أَحَبَّ
إِلَيْهِ
مِنْ
نَفْسِهِ
“Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian
sampai aku menjadi orang yang paling dia cintai, termasuk dari dirinya
sendiri”.
Umar
menjawab,
فَلَأَنْتَ
الْآنَ
وَاللَّهِ
أَحَبُّ إِلَيَّ
مِنْ نَفْسِي
“Sekarang, demi Allah, Anda yang paling saya cintai
termasuk dari diri saya sendiri”.
Beliau
menjawab,
الْآنَ
يَا عُمَرُ
“Sekarang wahai Umar (imanmu sempurna).”
Di
antara bentuk amanah terhadap hak Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah melaksanakan perintahnya dan
menjauhi larangannya, membenarkan apa yang beliau kabarkan, memuliakannya tanpa
berbuat ghuluw kepada beliau. Inilah amanah yang kita emban terhadap Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Ketiga, amanah yang berkaitan dengan hak
sesama manusia.
Di
sini terkandung juga amanah kepada orang tua, anak, tetangga, amanah dalam
perdagangan, pegawai, dan petugas keamanan. Allah Tabaraka wa Ta’ala akan mempertanyakan
tentang orang-orang yang mendapatkan salah satu atau semua hal di tadi. Dalam
sebuah hadits yang shahih Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam besabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Kalian
semua adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas
kepemimpinannya.”
Ibadallah,
Dengan
demikian jelaslah bagi kita bahwa amanah itu tidak hanya terkhusus pada satu
bidang saja seperti yang disangkakakn banyak umat Islam yang awam. Mereka
menyangka amanah itu hanya terbatas pada hak sesama. Tidak demikian. Amanah itu
lebih besar dari itu. Ia berhubungan dengan hak Allah, Rasulullah, kemudian
sesama manusia.
Oleh
karena itu, tunaikanlah amanah kepada masing-masing yang berhak. Yakinlah!
Allah Subhanahu wa
Ta’ala akan menanyakan kepada kita perihal amanah ini di hari
ketika kita berdiri di hadapan-Nya kelak.
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada
hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang
tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18)
Bertakwalah
kepada Allah selama kita diberi kesempatan untuk beramal. Tunaikanlah amanah
pada tempatnya masing-masing. Mohonlah pertolongan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala
dalam menunaikannya. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik Penolong dan Pelindung.
Ya
Allah, tolonglah kami dalam menunaikan amanah-amanah yang berkaitan dengan
hak-hak-Mu, hak-hak Rasul-Mu shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan hak-hak hamba-hamba-Mu yang beriman.
Ya
Allah, janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun sekejap
mata. Ya Allah berilah kami taufik untuk menunaikan amanah wahai Rabb semesta
alam. Ajarkanlah kami dalam menunaikan agar sesuai dengan apa yang Engkau
ridhai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang amanah.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ
، وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ : اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى .
Ibadallah,
Sesungguhnya
ada sebagian orang yang mengamalkan amanah dalam ruang lingkup yang sempit dan
maslahat yang terbatas. Ia membalas orang lain sesuai dengan perlakuan orang
tersebut terhadap dirinya. Apabila ia mendapati orang amanah kepadanya, maka ia
juga akan amanah terhadap orang tersebut. Namun apabila orang itu pernah
mengkhianatinya, maka ia pun akan melakukan pengkhianatan terhadap orang
tersebut. Ini bukanlah sifat seorang mukmin.
Ibadallah,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam besabda,
أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
“Tunaikanlah
amanah kepada orang yang member amanah kepadamu dan jangan engkau khianati
orang yang pernah mengkhianatimu.” (HR. Ahmad).
Amanah
itu dituntut setiap saat dan dalam setiap keadaan, karena dia memang terpuji
dalam keadaan apapun. Sedangkan khianat adalah tercela dalam setiap saatnya dan
jelek dalam keadaan apapun. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“jangan engkau khianati orang yang pernah mengkhianatimu”.
Kita
memang boleh menuntut hak kita, tapi jangan kita balas dengan melakukan
muamalah yang khianat, karena khianat itu tercela. Hati-hatilah dari khianat,
takutlah kalau-kalau kita menjadi seorang yang suka berkhianat. Berusahalah
untuk menjadi seorang yang amanah dalam setiap keadaan. Amanah kepada Allah,
Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya.
Sadarilah,
kita sekarang hidup di zaman yang penuh cobaan. Khatib sengaja mengangkat tema
ini agar kita semua sebagai orang-orang yang bekerja, atau pendidik, atau juga
seorang pelajar, kita semua mendapatkan amanah.
Bertakwalah
kepada Allah Jalla wa
‘Ala, dekatkanlah diri kepada-Nya dalam keadaan sendiri atau
di tengah keramaian, dalam keadaan sepi atau bersama banyak orang, karena tidak
ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala.
Dia mengetahui mata-mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam
hati. Rahasia baginya adalah sesuatu yang tampak, hal yang tersembunyi tidak
ubahnya sesuatu yang nyata bagi-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di
sisi-Nya.
نَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ خَشِيَتَهُ فِي الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ المُتَّقِيْنَ وَأَنْ يَهْدِيَنَا جَمِيْعاً سَوَاءَ السَّبِيْلِ ، وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ))
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ .
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ وَتَرْضَى
وَأَعِنْهُ
عَلَى
البِرِّ
وَالتَقْوَى
وَسَدِدْهُ
فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
يَا ذَا الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةَ
نَبِيِّكَ
صلى الله عليه
وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ
رَأْفَةً
عَلَى
عِبَادِكَ
المُؤْمِنِيْنَ
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
،
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
Tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com