Khutbah
Jumat:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى ؛
فَإِنَّ فِي
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا خَلْفًا
مِنْ كُلِّ
شَيْءٍ
وَلَيْسَ
مِنْ تَقْوَى
اللهِ خَلْفٌ.
وَتَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا :
عَمَلٌ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
رَجَاءً
ثَوَابِ
اللهِ ، وَتَرْكٌ
لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
خِيْفَةً
عَذَابِ
اللهِ.
Sesungguhnya
Allah ‘Azza wa Jalla
telah menjadikan walâyah (kedekatan dan kecintaan) di antara kaum
Mukminin. Oleh karena itu, seorang Mukmin harus mencintai saudaranya sesama
Mukmin dengan tulus dari dalam hatinya. Karena hati-hati mereka sama-sama
mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan tunduk pasrah kepada-Nya dengan
mengikuti agama Islam. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman :
وَالْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ
بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَاءُ
بَعْضٍ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan,
sebagian mereka (adalah) menjadi wali (penolong) bagi sebagian yang
lain.” (QS. At-Taubah:71).
Karena
seorang Mukmin mencintai saudaranya sesama Mukmin, maka dia akan menolongnya
dan membela kehormatannya. Dia tidak rela saudaranya dihinakan atau
direndahkan. Jika saudaranya dihinakan, dia akan tampil membelanya, karena ini
merupakan konsekwensi kecintaan.
Seorang
Mukmin tidak akan menuduh Mukmin lainnya dengan tuduhan palsu, apalagi tuduhan
itu dengan sebab kekeliruan saudaranya. Karena walâyah (kedekatan dan
kecintaan) itu akan mendorongnya untuk memberikan nasehat kepada saudaranya,
dia ingin saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana dia menginginkan kebaikan
itu untuk dirinya. Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
لا
يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ
حَتَّى
يُحِبَّ
لأَخِيهِ مَا
يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia
mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya
sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semua
orang itu sering atau pernah melakukan kesalahan. Disebutkan dalam sebuah
hadits :
عَنْ
أَنَسٍ أَنَّ
النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ كُلُّ
ابْنِ آدَمَ
خَطَّاءٌ
وَخَيْرُ
الْخَطَّائِينَ
التَّوَّابُونَ
Dari
Anas radhiyallahu
‘anhu bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua anak cucu Adam
sering berbuat salah dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah
mereka yang banyak bertaubat.” (HR. Ahmad; Tirmidzi; Ibnu Mâjah;
Darimi).
Ibadallah,
Jika
seorang Mukmin terjatuh dalam kesalahan, maka sepantasnya Mukmin lainnya
berusaha memberinya nasehat, karena sesungguhnya hati manusia itu suka dan
mudah menerima nasehat yang tulus dari hati. Tidak sebaliknya, membeberkan
kesalahan tersebut di kalangan umum atau menumpahkan kekesalan. Di saat itulah
keimanan yang ada di kalangan kaum Mukmin menjadi pengikat yang kuat, mereka
akan saling melindungi dan menolong.
Namun
sangat disayangkan, lemahnya semangat melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan
perintah Rasul-Nya telah tersebar dan merata di tengah masyarakat, sehingga
sebagian majlis-majlis mereka berisi celaan dan gangguan terhadap
saudara-saudara mereka sesama Mukmin.
Sebagian
orang yang lemah imannya, jika mendengar saudaranya terjatuh dalam kebatilan
atau kesalahan, mereka menyebarkannya dan menyangka itu merupakan bentuk
nasehat (ketulusan; pembelaan). Padahal, sejatinya itu bertentangan dengan
konsekwensi keimanan dan konsekwensi kecintaan sesama kaum Mukminin. Ini jika
yang mereka sebutkan itu benar. Lalu bagaimana jika yang dia sebutkan itu tidak
benar? Bagaimana jika yang dia sebutkan itu dusta lalu disebarkan oleh banyak
orang tanpa memperdulikan kehormatan saudara-saudara mereka sesama Mukmin ?!
Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman :
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan
yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa
yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58).
Dalam
ayat yang mulia ini Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang yang menyakiti kaum
Mukminin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya
mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Termasuk dalam hal ini
adalah menuduh dan menyebarkan berita dusta. Karena mereka hanya mendengar
berita buruk, lalu disebar dan diulang-ulang. Mereka tidak memiliki bukti
kongkrit. Oleh karena itu, mereka memikul dosa yang nyata, perbuatan maksiat
yang nyata. Pelakunya tidak mendapatkan pahala, bahkan dia memikul dosa dan
keburukan di dunia dan akhirat.
Sifat
yang buruk ini, maksudnya menuduh dengan tuduhan palsu terhadap orang-orang
beriman, yang yang diancam dalam ayat yang agung ini, sering dilakukan manusia
semenjak zaman dahulu.
Ibadallah,
Ada
sekelompok orang Rafidhah atau Syi’ah di zaman dahulu dan berikutnya
telah menuduh kaum Mukminin dan Mukminat yang paling tinggi keimanan mereka,
yaitu para sahabat Rasulullah, dengan tuduhan yang tidak pernah mereka lakukan.
Ini adalah dusta dan dosa nyata, sebagaimana dinyatakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Tuduhan ini telah tersebar di kalangan manusia di zaman dahulu dan zaman
sekarang.
Ada
juga sekelompok orang dari umat ini yang menuduh para Ulama mereka, padahal
para Ulama ini mengiringi para sahabat dalam keimanan dan pengamalan Islam.
Mereka mengikuti petunjuk Allah ‘Azza
wa Jalla , meniti jalan Sunnah, dan mengajak kepada
aqidah tauhid, aqidah as-salafus shalih.
Tuduhan
batil terhadap Ulama ini tersebar di masyarakat di zaman dahulu dan sekarang
yang lemah imannya. Diantara mereka ada yang mengatakan berdasarkan dugaan,
bukan berdasarkan suatu yang meyakinkan, “Aku sangka demikian.”
Kemudian ada orang lain di majlis itu yang mendengarnya lalu menyampaikan ke
orang lain. Dia mengatakan, “Diceritakan bahwa si A demikian dan
demikian”, lalu datang orang ketiga dan mengatakan, “Aku telah
mendengar demikian”, kemudian datang orang yang ke empat dan mengatakan, “Seorang
yang tsiqah (terpercaya) telah memberitahuku demikian”. Lalu datang orang
kelima dan menjadikannya sebagai berita yang benar, dianggap sebuah kebenaran
yang tidak bisa didiskusikan lagi. Lalu berita itu tersebar di tengah
masyarakat, padahal itu adalah tuduhan dusta terhadap Ulama.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda tentang ghibah:
ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Engkau
menyebut saudaramu dengan apa yang dia benci.”
Lalu
beliau ditanya:
أَفَرَأَيْتَ
إِنْ كَانَ
فِي أَخِي مَا
أَقُولُ
“Bagaimana pendapatmu, jika apa yang aku katakan itu
benar-benar ada pada saudaraku?”
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab :
إِنْ
كَانَ فِيهِ
مَا تَقُولُ
فَقَدْ اغْتَبْتَهُ
وَإِنْ لَمْ
يَكُنْ فِيهِ
فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Jika apa yang engkau katakan itu benar adanya, berarti
engkau telah mengghibahnya. Jika tidak ada padanya, berarti engkau telah
membuat kedustaan atasnya.” (HR. Muslim).
Ini
fakta dalam banyak majlis. Mereka membicarakan orang-orang baik, orang-orang
pilihan, para Ulama yang mengajak kepada petunjuk, mengajarkan umat aqidah
Salaf, mengajak agar umat berpegang teguh dengan Islam. Mereka menuduhkan
kepada para Ulama sesuatu yang tidak ada pada mereka atau tidak mereka lakukan.
Dasar perkataan mereka hanyalah persangkaan semata, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا
مِنَ
الظَّنِّ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan).” (QS. Al-Hujurat: 12).
Allah
‘Azza wa Jalla
mewajibkan kaum Mukminin menjauhi persangkaan diantara mereka. Allah juga
mewajibkan kaum Mukminin menjauhi sikap saling mencela. Kalau saling mencela
sesama saja terlarang, lalu bagaimana jika celaan diarahkan kepada Ulama yang
merupakan pewaris para Nabi. Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ
وَرَثَةُ
الْأَنْبِيَاءِ
وَإِنَّ
الْأَنْبِيَاءَ
لَمْ
يُوَرِّثُوا
دِينَارًا
وَلَا
دِرْهَمًا
وَرَّثُوا
الْعِلْمَ
فَمَنْ
أَخَذَهُ
أَخَذَ
بِحَظٍّ
وَافِرٍ
“Dan sesungguhnya para Ulama itu pewaris para Nabi. Para
Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa
yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu
Dawud).
Ini
sebuah fakta yang menyedihkan. Seharusnya majlis-majlis kaum Mukminin bersih
dari kedustaan dan dari hal-hal yang bisa mendatangkan dosa yang nyata dan dosa
besar.
Kewajiban
orang-orang yang beriman adalah saling menolong dan saling mencintai. Dan
diantara buah kecintaan itu adalah saling menjaga kehormatan. Dan kehormatan
paling tinggi yang berhak untuk dijaga adalah kehormatan Ulama umat ini.
Persangkaan buruk kepada Ulama, hanya merugikan pelakunya sendiri, karena
dampak buruknya akan kembali kepada pelaku.
Semoga
Allah memberi taufik kepada kita untuk pandai menjaga lisan-lisan kita.
Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha memberi taufik.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
كَثِيْرًا ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ
سُبْحَانَهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ .
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Demikian
juga halnya mencela orang-orang beriman dengan sesuatu yang tidak mereka
lakukan. Perilaku buruk ini juga sudah tersebar di sebagian majlis-majlis.
Mereka menuduh orang lain hanya dengan dasar persangkaan. Perilaku buruk ini
harus dihentikan ! Karena mencela orang lain dan menyebarkannya berarti mencela
dirinya sendiri. Tidakkah kita dengar firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَلَا
تَلْمِزُوا
أَنْفُسَكُمْ
“Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri.” (QS.
Al-Hujurat:11).
Jika
seorang Mukmin mencela saudaranya yang beriman, itu sebenarnya dia mencela
dirinya sendiri, karena seorang Mukmin adalah saudara bagi Mukmin yang lain.
Seharusnya, dia berusaha menjaga dan membela kehormatannya. Jika seseorang
melihat atau mendengar keburukan orang lain, lalu dia menyebarkannya, berarti
dia tidak peduli dosa dan akibat buruknya, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepada Mu’adz radhiyallahu
‘anhu sambil memberikan isyarat kearah lidah :
كُفَّ
عَلَيْكَ
هَذَا
Tahan
ini!
Mu’adz
radhiyallahu ‘anhu
bertanya :
يَا
نَبِيَّ
اللَّهِ
وَإِنَّا
لَمُؤَاخَذُونَ
بِمَا
نَتَكَلَّمُ
بِهِ ؟
Wahai
Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan yang kita katakan?
Beliau
menjawab :
ثَكِلَتْكَ
أُمُّكَ يَا
مُعَاذُ
وَهَلْ يَكُبُّ
النَّاسَ فِي
النَّارِ
عَلَى وُجُوهِهِمْ
أَوْ عَلَى
مَنَاخِرِهِمْ
إِلَّا حَصَائِدُ
أَلْسِنَتِهِمْ
Kasihan
engkau hai Muadz! Adakah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka pada wajah-wajah
mereka atau hidung-hidung mereka selain hasil-hasil (akibat-akibat buruk) lidah
mereka ?”.(Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi).
Oleh
karena itu barangsiapa mendengar tentang sesuatu, tetapi dia belum memastikan
kebenarannya, maka jangan sekali-kali dia membicarakannya. Karena menjaga
kehormatan seorang Mukmin hukumnya wajib. Jika dia mendengar tentang sesuatu
dan sudah memastikan kebenarannya, maka dia tidak boleh menyebarkannya dan
menyampaikan kepada orang lain. Dia berkewajiban memberi nasehat secara rahasia.
Karena jika dosa-dosa itu disebarkan di tengah masyarakat, maka mereka akan
meremehkannya. Sehingga menyebarkan beritanya akan lebih mempermudah
tersebarnya perbuatan dosa tersebut setelah sebelumnya disebarkan dengan
perbuatan.
Hendaklah
kita memperhatikan masalah besar ini. Yaitu masalah memberikan nasehat kepada
kaum Mukminin. Memberikan nasehat dengan tetap menjaga kehormatan mereka,
membimbing dan mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan
kebaikan.
Hendaklah
kita menjaga kehormatan para Ulama. Karena jika para Ulama dicela, maka
perkataan mereka tidak akan didengar. Kedudukan mereka yang mulia sebagai
pembimbing, pemberi fatwa dan juru dakwah akan hilang. Karena tabi’at
umumnya orang, jika ada orang lain yang memiliki reputasi buruk, maka mereka
tidak akan mendengar perkataannya.
Oleh
karena itu, kita berkewajiban menjaga kehormatan para Ulama kita dari hal-hal
buruk yang mereka sebarkan. Bukan hanya para Ulama, bahkan kita juga wajib
menjaga kehormatan seluruh kaum Mukminin sesuai dengan kedudukannya di dalam
keimanan, sesuai dengan kedudukannya di dalam melaksanakan perintah Allah dan
perintah RasulNya. Ini merupakan perkara penting. Janganlah kita isi majlis
kita dengan desas-desus, “Fulan telah berkata”, “Orang lain
berkata”, yang jika kita perhatikan, perkataan itu menyakiti kaum
Mukminin dengan sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan.
Kita
memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar mensucikan lidah kita dan pendengaran
kita. Dan agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengucapkan perkataan
yang haq dan termasuk orang-orang berhati bersih yang selalu husnuz zhan
(berbaik sangka) terhadap seluruh kaum Muslimin. Aku mohon petunjuk, ketaqwaan,
‘afaf (kehormatan; kemuliaan), dan kecukupan kepada Allah untukku dan untuk
kalian semua. Wallahu a’lam.
وَاعْلَمُوْا – رَحمَاكُمُ اللهُ – أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ.
صَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
- رَحمَاكُمُ
اللهُ- عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ:
﴿إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:56] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلَاةً صَلَّى
الله
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)).
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْن.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
يَا رَبَّنَا
انْصُرْهُمْ
فِي سُوْرِيَا
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَهُمْ
حَافِظًا
وَمُعِيْنًا،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْهُمْ
بِمَا تُحْفِظُ
بِهِ
عِبَادَكَ
الصَّالِحِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
آمِنْ
رَوْعَاتِهِمْ
وَاسْتُرْ
عَوْرَاتَهُمْ
وَسَدَّ
حَاجَتَهُمْ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَعُوْذُ بِكَ
مِنْ
شُرُوْرِهِمْ
وَنَجْعَلُكَ
فِي نُحُوْرِهِمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ
مِنْ سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ
الأَعْمَالِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا اَلَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
فِيْهَا مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
عَلَانِيَتَهُ
وَسِرَّهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَوَالِدَيْهِمْ
وَذُرِّيَّاتِهِمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتَ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
{وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
}.
(Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari, dari khutbah
jum’at Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Aalu Syaikh yang berjudul
“Walayatul Mukmin”)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XV/1433H/2012M].
www.KhotbahJumat.com