Oleh:
Ustadz Abu Ismail Muslim Al-Atsari
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Jamaah
Jumat rahimani wa rahimakumullah
Alhamdulillah
kita bersyukur kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang senantiasa memberikan banyak kenikmatan
sehingga tidak terhitung nilai dan jumlahnya. Nikmat tersebut dicurahkan siang
dan malam kepada kita. Semoga Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang
senang bersyukur kepada-Nya. Yaitu dengan meningkatkan taqwa dan taqarrub
kepada-Nya.
Sadarkah
kita, bahwa setiap diri ini memiliki musuh besar? Musuh yang sangat
menginginkan kita sesat dan celaka. Musuh yang tidak terlihat, tapi memiliki
banyak tipu-daya dan cara untuk mencapai tujuannya. Itulah setan (setan).
Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah mengingatkan manusia agar tidak tergoda olehnya.
Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman :
يَا
بَنِي آدَمَ
لَا
يَفْتِنَنَّكُمُ
الشَّيْطَانُ
كَمَا
أَخْرَجَ
أَبَوَيْكُمْ
مِنَ
الْجَنَّةِ
Hai
anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia
telah berhasil mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. [al-A’râf/7: 27]
Oleh
karena itu, dengan rahmat-Nya, Allah ‘Azza
wa Jalla memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai
musuh. karena memang sebenarnya, setan musuh bagi manusia. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
إِنَّ
الشَّيْطَانَ
لَكُمْ
عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ
عَدُوًّا ۚ
إِنَّمَا
يَدْعُو
حِزْبَهُ
لِيَكُونُوا
مِنْ
أَصْحَابِ
السَّعِيرِ
Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena
sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka
menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. [Fâthir/35:6]
Jamaah
yang dirahmati Allah
Bagaimana
sepak terjang musuh terhadap lawannya? Semua orang sudah tahu jawabannya yaitu
berusaha sekuat tenaga agar lawannya ditimpa segala keburukan dan terlepas dari
semua kebaikan.
Imam
Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ayat di atas, “Perintah Allah
untuk menjadikan setan sebagai musuh ini sebagai peringatan agar (manusia)
mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi dan melawannya. Sehingga setan itu
seolah-olah musuh yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah lalai”.
[Zâdul Ma’âd, III/6]
Dalam
menjalankan aksinya menyesatkan dan membinasakan manusia, setan memiliki dua
senjata yaitu syubhat dan syahwat. Oleh karena itu, orang yang ingin selamat
harus berjihad melawan setan dengan bersenjatakan ilmu dan mentazkiyah
(membersihkan) jiwanya. Ilmu nafi’ (yang yang bermanfaat) akan membuahkan
rasa yakin, yang akan menolak syubhat. Sedangkan tazkiyatun nafs akan
melahirkan ketakwaan dan kesabaran, yang membuatnya mampu mengendalikan
syahwat.
Imam
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jihad melawan setan memiliki dua
tingkatan : Pertama, menolak syubhat dan keraguan yang dilemparkan setan kepada
hamba; Kedua, menolak syahwat dan keinginan-keinginan jelek yang dilemparkan
setan kepada hamba. Jihad yang pertama akan diakhiri dengan keyakinan,
sedangkan jihad yang kedua akan diakhiri dengan kesabaran.
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan
Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat
Kami.
[as-Sajdah/32:24]
Allah ‘Azza wa Jalla memberitakan
bahwa kepemimpinan agama hanya bisa diraih dengan kesabaran (dan keyakinaan),
kesabaran akan menolak syahwat dan keinginan-keinginan jelek, dan keyakinan
akan menolak keraguan dan syubhat.” [Zâdul Ma’âd
III/10]
Jadi
senjata manusia untuk melawan setan adalah ilmu dan kesabaran. Ilmu yang
bersumber dari kitabullâh dan sunnah Rasul-Nya. Kemudian mengamalkan ilmu
tersebut sehingga jiwa menjadi bersih dan suci, dan menumbuhkan kesabaran.
Itulah
cara menghadapi tipu daya syaitan secara global, sedangkan secara rinci adalah
sebagai berikut :
1. Beriman Dan
Mentauhidkan Allah Dengan Benar
Sesungguhnya
seluruh kekuatan, kekuasaan, kesempurnaan hanyalah milik Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, seorang hamba yang ditolong dan dilindungi oleh Allah, tidak
akan ada yang mampu mencelakainya. Inilah senjata pertama dan utama seorang
mukmin dalam menghadapi setan yaitu beriman dengan benar kepada Allah,
beribadah dengan ikhlas kepada-Nya, bertawakkal hanya kepadaNya dan beramal
shalih sesuai aturan-Nya. Allah ‘Azza
wa Jalla memberitakan bahwa setan tidak memiliki daya terhadap
hamba-hamba Allah yang beriman dan mentauhidkan-Nya. Allah berfirman.
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada
memliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.
[an-Nahl/16: 99]
Ibnul
Qayyim rahimahullah
mengatakan, “Ketika Iblis tahu bahwa dia tidak memiliki jalan (untuk
menguasai) orang-orang yang ikhlas, dia mengecualikan mereka dari sumpahnya
yang bersyarat untuk menyesatkan dan membinasakan (manusia). Iblis mengatakan,
قَالَ
فَبِعِزَّتِكَ
لَأُغْوِيَنَّهُمْ
أَجْمَعِينَ﴿٨٢﴾إِلَّا
عِبَادَكَ
مِنْهُمُ
الْمُخْلَصِينَ
“Demi
kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang
ikhlash [Shâd/38: 82-83]
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman :
إِنَّ
عِبَادِي
لَيْسَ لَكَ
عَلَيْهِمْ
سُلْطَانٌ
إِلاَّ مَنِ
اتَّبَعَكَ
مِنَ الْغَاوِينَ
Sesungguhnya
hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (Iblis) terhadap mereka, kecuali
orang-orang yang mengikuti-mu, yaitu orang-orang yang sesat. [al-Hijr/15:42]
Maka
ikhlas adalah jalan kebebasan, islam adalah kendaraan keselamatan, dan iman
adalah penutup keamanan. [al-‘Ilmu, Fadhluhu Wa Syarafuhu, hlm. 72-74,
tansiq: Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi]
2. Berpegang
Teguh Kepada Al-Kitab Dan As-Sunnah Dengan Pemahaman As-Salafush Shalih
Ketika
Allah ‘Azza wa Jalla
menurunkan manusia di muka bumi, sesungguhnya Dia menyertakan petunjuk untuk
mereka. Sehingga manusia hidup di dunia ini tidak dibiarkan begitu saja, tanpa
bimbingan, perintah dan larangan. Allah ‘Azza
wa Jalla menurunkan kitab suci dan mengutus para Rasul yang membawa
peringatan, penjelasan dan bukti-bukti. Barangsiapa berpaling dari peringatan
Allah, maka dia akan menjadi mangsa setan dan dijerumuskan ke dalam kecelakaan
abadi. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman.
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari
pengajaran Rabb yang Maha Pemurah (al-Qur’ân), Kami adakan baginya
syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya. [az-Zukhruf/43: 36]
Oleh
karena itu, jalan selamat dari tipu daya setan adalah dengan mengikuti jalan
Allah, mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman as-salafush
shâlih. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman
وَمَنْ
يُشَاقِقِ
الرَّسُولَ
مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ
لَهُ
الْهُدَىٰ
وَيَتَّبِعْ
غَيْرَ
سَبِيلِ
الْمُؤْمِنِينَ
نُوَلِّهِ
مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ
جَهَنَّمَ ۖ
وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan
barangsiapa menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan
yang bukan jalan orang-orang mu’min (yaitu jalan para sahabat), Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.
[an-Nisâ’/4: 115]
3. Berlindung
Kepada Allah Dari Gangguan Setan.
Inilah
sebaik-baik jalan untuk menyelamatkan diri dari setan dan tentaranya, memohon
perlindungan kepada Allah ‘Azza
wa Jalla , karena Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui
dan Maha Berkuasa.
Imam
Ibnu Katsir rahimahullah
mengatakan, “Makna “aku berlindung kepada Allah dari setan yang
dilaknat” yaitu aku meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang
dilaknat yang menggangguku pada agamaku atau pada duniaku, atau menghalangiku
dari melakukan sesuatu yang diperintahkan (Allah ‘Azza wa Jalla) kepadaku, atau
mendorongku melakukan apa terlarang bagiku. Karena tidak ada yang bisa mencegah
setan dari manusia kecuali Allah.
Oleh
karena itu, Allah
‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk mengambil hati dan
bersikap lembut kepada setan manusia, dengan melakukan kebaikan kepadanya, agar
tabi’atnya (yang baik) menolaknya dari gangguan (yang dia lakukan).
Dan
Allah memerintahkan agar (manusia) berlindung kepada-Nya dari setan jin, karena
dia tidak menerima suap dan perbuatan kebaikan tidak akan mempengaruhinya,
karena dia memiliki tabi’at yang jahat, dan tidak akan mencegahnya darimu
kecuali Yang telah menciptakannya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 1/14, penerbit:
Darul Jiil, Beirut, tanpa tahun]
Memohon
perlindungan ini dilakukan secara umum pada setiap waktu, pada setiap diganggu
oleh setan, dan juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang dituntunkan oleh
Allah dan Rasul-Nya.
Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman :
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan
jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [al-A’râf/7:200]
Adapun
waktu-waktu tertentu yang dituntunkan untuk beristi’adzah antara lain
yaitu saat diganggu setan; adanya bisikan jahat; gangguan dalam shalat; saat
marah; mimpi buruk; akan membaca Alquran; akan masuk masjid; akan masuk tempat
buang hajat; saat mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai; ketika akan
berjima’; waktu pagi dan petang; isti’adzah untuk anak-anak dan
keluarga; ketika singgah di suatu tempat; ketika akan tidur; dan lain-lain.
Perincian dalil-dalil ini semua terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih.
4. Membaca
Alquran
Sesungguhnya
setan akan lari menjauh dengan sebab bacaan Alquran, sebagaimana di dalam
hadits sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
Dari
Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kamu menjadikan
rumah-rumah kamu sebagai kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang
dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya”. [HR. Muslim, no: 780]
Setan
telah membukakan salah satu rahasianya ini kepada Abu Hurairah, yang hal itu
dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam . Setan mengatakan:
إِذَا
أَوَيْتَ
إِلَى
فِرَاشِكَ
فَاقْرَأْ
آيَةَ
الْكُرْسِيِّ
( اللَّهُ لَا
إِلَهَ إِلَّا
هُوَ
الْحَيُّ
الْقَيُّومُ )
حَتَّى تَخْتِمَ
الْآيَةَ
فَإِنَّكَ
لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ
مِنَ اللَّهِ
حَافِظٌ
وَلَا يَقْرَبَنَّكَ
شَيْطَانٌ
حَتَّى
تُصْبِحَ فَخَلَّيْتُ
سَبِيلَهُ
فَأَصْبَحْتُ
“Jika engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat
kursi (Allohu laa ilaaha
illa huwal hayyul qayyuum) sampai engkau menyelesaikan ayat
tersebut, maka sesungguhnya akan selalu ada padamu seorang penjaga dari Allah, dan
setan tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi”. [HR.
Bukhari]
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
أَسْتَغْفِرُ
الله لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
اْلغَفُوْرُ
الرّحِيْمُ
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah, tuntunan Islam berikutnya agar kita terhindar dari tipu
daya setan adalah
5. Memperbanyak
Dzikrulloh.
Dzikrullah
adalah benteng yang sangat kokoh untuk melindungi diri dari gangguan setan. Hal
ini diketahui dari pemberitaan Allah Subhanahu
wa Ta’ala lewat para RasulNya, antara lain lewat lisan Nabi
Yahya ‘alaihissallam,
sebagaimana hadits di bawah ini:
عَنْ
الْحَارِثِ
الْأَشْعَرِيِّ
أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ إِنَّ
اللَّهَ
أَمَرَ
يَحْيَى بْنَ
زَكَرِيَّا
بِخَمْسِ
كَلِمَاتٍ
أَنْ يَعْمَلَ
بِهَا
وَيَأْمُرَ
بَنِي
إِسْرَائِيلَ
أَنْ يَعْمَلُوا
بِهَا…وَآمُرُكُمْ
أَنْ تَذْكُرُوا
اللَّهَ
فَإِنَّ
مَثَلَ
ذَلِكَ كَمَثَلِ
رَجُلٍ
خَرَجَ
الْعَدُوُّ
فِي أَثَرِهِ
سِرَاعًا
حَتَّى إِذَا
أَتَى عَلَى
حِصْنٍ
حَصِينٍ
فَأَحْرَزَ
نَفْسَهُ
مِنْهُمْ كَذَلِكَ
الْعَبْدُ
لَا يُحْرِزُ
نَفْسَهُ
مِنَ
الشَّيْطَانِ
إِلَّا
بِذِكْرِ
اللَّهِ
Dari
Al-Harits Al-Asy’ari, bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah
memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima kalimat, agar beliau mengamalkannya
dan memerintahkan Bani Israil agar mereka mengamalkannya (di
antaranya)…”Aku perintahkan kamu untuk dzikrullah
(mengingat/menyebut Allah). Sesungguhnya perumpamaan itu seperti perumpamaan
seorang laki-laki yang dikejar oleh musuhnya dengan cepat, sehingga apabila dia
telah mendatangi benteng yang kokoh, kemudian dia menyelamatkan dirinya dari
mereka (dengan berlindung di dalam benteng tersebut). Demikianlah seorang hamba
tidak akan dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan
dzikrullah”. [HR.Ahmad]
Maka
jika anda ingin selamat dari tipu-daya dan gangguan setan, hendaklah selalu
membasahi lidah anda dengan dzikrullah disertai konsentrasi dengan hati.
6. Mengetahui
Tipu-Daya Setan Sehingga Mewaspadainya.
Setan
itu sangat berantusias menyesatkan manusia, ia habiskan waktunya dan segala
kemampuannya dikerahkan untuk merusak manusia. Allah ‘Azza wa Jalla
memperingatkan hamba-hambaNya yang beriman dari musuh bebuyutan tersebut dengan
firmanNya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan.
Barangsiapa mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu
menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. [An-Nuur/24: 21]
Salah
satu cara menghindari tipu daya setan yaitu mengetahui dan membongkar tipu-daya
itu sehingga dapat dihindari. Karena orang yang tidak mengetahui keburukan, dia
akan mudah terjerumus dalam keburukan tersebut tanpa disadari.
7. Menyelisihi
Setan Dan Menjauhi Sarana-Sarananya Untuk Menyesatkan Manusia.
Setan
adalah musuh manusia. Oleh karena itu, kita wajib memposisikannya sebagai
musuh. Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman:
يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُورُ
Hai
manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah
kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang
pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. [ Fathir: 5]
Diantara
realisasi dari hal diatas yaitu dengan menyelisihi perbuatan setan. Misalnya:
• Setan makan dan minum dengan tangan kiri, maka selisihi dia dengan
makan dan minum dengan tangan kanan.
• Setan tidak melakukan qoilulah (istirahat di tengah hari), maka kita
selisihi dengan melakukan qoilulah.
• Tidak boros (tabdziir) karena orang yang berbuat tabdziir adalah
saudarasetan.
• Melakukan sesuatu dengan tenang dan hati-hati, karena sikap
tergesa-gesa dari setan.
• Hendaklah kita berusaha sekuat tenaga agar tidak menguap, karena itu
dari setan.
Dalil-dalil
yang kami sebutkan ini, terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih.
Diantara
realisasi sikap permusuhan terhadap setan adalah adalah menjauhi sarana-sarana
yang digunakan oleh setan untuk menyesatkan manusia, seperti: musik, lagu dan
khamer.
8. Taubat Dan
Istighfar.
Selama
masih hidup, manusia senantiasa perlu bertaubat dan istighfar kepada Allah
‘Azza wa Jalla,
diriwayatkan dalam sebuah hadits:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ لِرَبِّهِ بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي بَنِي آدَمَ مَا دَامَتِ الْأَرْوَاحُ فِيهِمْ فَقَالَ اللَّهُ فَبِعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَبْرَحُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي
Dari
Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Iblis berkata kepada Robbnya: “Demi kemuliaan dan
keagunganMu, aku senantiasa akan menyesatkan anak-anak Adam selama ruh masih
ada pada mereka”. Maka Allah berfirman: “Demi kemuliaan dan
keagunganKU, Aku senantiasa akan mengampuni mereka selama mereka mohon ampun
kepadaKu”. [HR. Ahmad]
Inilah
sedikit keterangan tentang setan dan tipu-dayanya, semoga bermanfaat bagi kita
semua.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللّهُمّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنًاتِ
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
إِنّكَ سَمِيْعٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ
رَبّنََا
لاَتًؤَخِذْنَا
إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلىَ
الّذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا وَلاَ
تُحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنّا
وَاغْفِرْ
لَنَا وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلىَ
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبّنَا
آتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَ فِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبّ
الْعَالَمِيْنَ.
Disalin
dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XV/1432H/2011.