Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِسَالَةَ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
سُبْحَانَهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
وَتَقْوَى اللهَ
جَلَّ
وَعَلَا:
عَمَلٌ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
رَجَاءَ
ثَوَابَ
اللهِ،
وَتَرْكٌ
لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ اللهِ
خِيْفَةَ
عَذَابِ
اللهِ.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Allah
Ta’ala
berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
يَا
عِبَادِي
إِنِّي
حَرَّمْتُ
الظُّلْمَ عَلَى
نَفْسِي،
وَجَعَلْتُهُ
بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا
فَلَا
تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman
atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezhaliman itu haram di antara kalian, maka
janganlah kalian saling menzhalimi…” (HR. Muslim).
Hal
ini adalah kesempurnaan keadilan Allah Jalla
wa ‘Ala. Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu, tapi Dia
melarang kezaliman atas diri-Nya. Maka janganlah seseorang menzalimi Allah Ta’ala. Janganlah
seseorang menzalimi orang lainnya. Karena Dia Yang Maha Kuasa telah
mengharamkan kezaliman.
Wajib
bagi seorang hamba mengetahui keharaman perbuatan zalim, bahayanya, jeleknya
akibatnya, dan besarnya hukumannya. Perbuatan zalim telah Allah haramkan. Bagi
mereka yang tetap menerabasnya, mereka layak mendapatkan siksa yang berat.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
وَلَا
تَحْسَبَنَّ
اللَّهَ
غَافِلًا
عَمَّا
يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa
Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.” (QS.
Ibrahim: 42).
Firman-Nya
juga,
وَسَيَعْلَمُ
الَّذِينَ
ظَلَمُوا
أَيَّ مُنْقَلَبٍ
يَنْقَلِبُونَ
“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke
tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 227).
Dan
firman-Nya,
إِنَّمَا
السَّبِيلُ
عَلَى
الَّذِينَ
يَظْلِمُونَ
النَّاسَ
وَيَبْغُونَ
فِي الْأَرْضِ
بِغَيْرِ
الْحَقِّ
أُولَئِكَ
لَهُمْ
عَذَابٌ
أَلِيمٌ
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim
kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat
azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42).
Dan
masih banyak ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat-ayat ini.
Ayyuhal
mukminuna ibadallah,
Kezaliman
akan berdampak kegelapan pada hari kiamat. Hari dimana seseorang yang beriman
datang dengan berjalan cepat dengan cahaya-cahaya mereka. Adapun orang-orang
yang zalim mereka datang pada hari kiamat dengan merangkak, meraba-raba dalam
kegelapan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya,
dari Ibnu Umar radhiallahu
‘anhuma bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الظُّلْمُ
ظُلُمَاتٌ
يَوْمَ القِيَامَةِ
“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
Kezaliman
wahai ibadallah, walaupun berupa mengambil sebagian kecil dari hak-hak orang
lain, maka pada hari kiamat akan tetap ia pertanggung-jawabkan, ia pikul di
pundaknya. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu
‘anha, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
ظَلَمَ قِيدَ
شِبْرٍ مِنَ
الأَرْضِ طُوِّقَهُ
مِنْ سَبْعِ
أَرَضِينَ
“Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim,
maka Allah akan mengalungkan tujuh bumi kepadanya.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Yakni
ia akan membawa seukuran bumi dengan tujuh lapis bagiannya yang ia curi. Bagian
tersebut akan ia bawa dengan dipikul di atas pundaknya pada hari kiamat, di
hadapan seluruh manusia.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Orang-orang
yang berbuat zalim juga bisa jadi akan datang pada hari kiamat dalam keadaan
bangkrut. Hilang semua amal kebajikan yang telah ia usahakan di dunia. Karena
pada hari itu hak-hak yang belum selasai di dunia akan ditunaikan dan
disempurnakan balasannya. Kezaliman dilimpahkan kepada pelakunya. Karena
itulah, kebaikan-kebaikan si pelaku kezaliman, yang telah ia lakukan di dunia
akan ditukar. Apabila amal kebaikannya sudah habis, maka dosa orang yang
dizalimi dilimpahkan kepadanya. Saat itu benar-benar akan terlihat orang-orang
yang bangkrut dengan kebangkrutan yang hakiki.
Imam
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bertanya:
((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟)) قَالُوا: «الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ» ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّار
Dari
Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu; bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang
yang bangkrut?”
Para
shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak
memiliki uang dirham maupun harta benda.”
Beliau
menimpali, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah
orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan
zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh,
memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak
kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan
kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak
kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu
diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR.
Muslim).
Ayyuhal
mukminun,
Hari
kiamat adalah hari dimana kezaliman dibalaskan. Renungkanlah dalam-dalam hadits
berikut ini. Sebuah hadits dari Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
((يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حفاة عُرَاةً بُهْمًا)) قالوا : وَمَا بُهْمًا يا رسول الله ؟ قَالَ : ((أي لَيْسَ مَعَهُمْ من الدنيا شَيْءٌ ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ : أَنَا الْمَلِكُ ، أَنَا الدَّيَّانُ ، ثم يقول جل وعلا : لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ ولأحدٍ من أهل النار عليه مظلمة حتى أقصَّها منه ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ ولأحدٍ من أهل الجنة عليه مظلمة حتى أقصها منه ، حَتَّى اللَّطْمَةَ )) قالوا يا رسول الله وكيف ذاك وهم إنما جاءوا بُهمًا ؟ قال : ((بالحسنات والسيئات)) .
“Pada
hari kiamat, seluruh manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki,
telanjang, tidak disunat, dan buhman.” Para sahabat bertanya, “Apa itu
buhman wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka tidak membawa
sedikit pun bagian dari dunia. Kemudian ia dipanggil dengan suara yang
terdengar jelas oleh orang yang jauh sebagaiman jelasnya orang yang dekat.
‘Akulah raja. Akulah yang membuat perhitungan’. Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala
melanjutkan, ‘Penduduk surga tidak akan masuk ke dalam surga demikian
juga penduduk neraka yang ada kezaliman pada mereka, sehingga Aku putuskan
perkaranya. Penduduk neraka tidak akan masuk ke dalam neraka demikian juga penduduk
surge yang terdapat kezaliman pada mereka sehingga Aku memutuskan
perkaranya’.”
Para
sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana hal itu terjadi
padahal mereka datang dalam keadaan buhman?”
Beliau menjawab, “Amalan kebaikan ditukar dengan amalan kejelekan (dan
sebaliknya)”.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Orang
yang berpikir dan merenungkan ketika mereka membaca keterangan-keterangan dari
Kitabullah dan hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam ini, mereka akan waspada agar tidak melakukan
kezaliman. Baik kezaliman yang berkenaan dengan jiwa, kehormatan, atau harta
seseorang. Mereka akan sungguh-sungguh bermuhasabah. Mereka akan
menimbang-nimbang amal perbuatan mereka di dunia ini sebelum amalan mereka
benar-benar akan ditimbang di hadapan Allah Jalla
wa ‘Ala.
Terdapat
sebuah hadits dalam ash-Shahih dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa
yang pernah menzalimi saudaranya, baik terhadap kehormatan maupun hartanya,
hendaklah dia meminta untuk dihalalkan sekarang, sebelum tiba hari Kiamat,
ketika dinar dan dirham tidak lagi diterima. Jika dia memiliki amal shalih,
maka amal itu akan diambil sesuai besar kezalimannya dan diberikan kepada yang
berhak. Jika dia tidak memiliki amal shaleh maka dosa-dosa orang yang dizalimi
akan diambil dan dibebankan kepadanya.”
Ibadallah,
Saat
ini merupakan kesempatan yang sangat berharga agar supaya seseorang menyucikan
diri dari kezaliman yang ia lakukan di dunia ini. Sebelum datang hari kiamat,
hari pertemuan dengan Allah. Bagaimana kiranya pada hari itu seseorang membawa
kezaliman yang ia lakukan kepada pegawainya, lalu ia mendapatkan hukuman karena
hal itu.
نَعُوْذُ
بِاللهِ
العَظِيْمِ
أَنْ نَظْلِمَ
أَوْ
نُظْلَمَ،
وَنَسْأَلُهُ
جَلَّ فِي
عُلَاهُ أَنْ
يُصْلِحَ
لَنَا شَأْنَنَا
كُلَّهُ
وَأَنْ لَا
يَكِلْنَا
إِلَى
أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ
إِنَّهُ سَمِيْعُ
الدُّعَاءِ
وَهُوَ
أَهْلُ
الرَّجَاءِ
وَهُوَ
حَسْبُنَا
وَنِعْمَ
الوَكِيْلِ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى .
Ayyuhal
mukminun,
Telah
kita dengarkan penjelasan tentang bahayanya kezaliman dan betapa buruk
akibatnya. Lalu bagaimana jika seseorang melakukan kezaliman terhadap suatu
komunitas yang terdiri dari banyak orang? Atau kezaliman terhadap umat dan
rakyat?
Bagaimana
pula kalu bentuk kezalimannya bervariasi pula? Melecehkan kehormatan, melakukan
yang haram, membunuh, mengambil harta dengan cara haram, dll. Jika seseorang
memiliki kekuasaan lalu berlaku kezaliman. Ia menjadikan kekuatannya untuk
merusak dan menciderai kehormatan. Ia melakukan kezaliman dan kejahatan. Yang
demikian adalah kezaliman yang sangat besar dan balasannya pun akan sangat
berat di hari kiamat kelak.
Apabila
kita merenungkan apa yang terjadi sekarang. Kita memperhatikan apa yang terjadi
pada saudara-saudara kita di Suriah. Kita dapati mereka menerima kezaliman
dengan segala macam bentuknya. Mereka ditindas oleh penguasa yang zalim dan
kejam. Mereka disiksa, dibunuh, diusir, dan dinodai kehormatannya. Keadaan
mereka tentulah sangat menyedihkan bagi kita sebagai sadaura. Ratusan ribu
tewas karena kekejaman penguasanya. Anak-anak menjadi yatim dan wanita-wanita
menjadi janda kehilangan suami.
Dari
Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu
‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ قَالَ ثُمَّ قَرَأَ: وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
“Sesungguhnya
Allah Ta’ala
betul-betul menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zhalim. Sampai tatkala
Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian
Rasulullah membaca ayat,
وَكَذَلِكَ
أَخْذُ
رَبِّكَ
إِذَا أَخَذَ
القُرَى
وَهِيَ
ظَالِمَةٌ
إِنَّ
أَخْذَهُ أَلِيمٌ
شَدِيدٌ} [هود: 102]
“Begitulah siksaan Rabbmu apabila Dia menyiksa (penduduk)
negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya siksaan-Nya itu sangat pedih
lagi keras.” (QS. Huud: 102) (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kita
memohon kepada Allah Jalla
wa ‘Ala agar segera menghancurkan kebinasaan kepada orang
yang zalim ini. Karena betapa dahsyatnya kerusakan di muka bumi lantaran
dirinya.
Kita
juga memohon kepada Allah Jalla
wa ‘Ala agar Dia menolong saudara-saudara kita yang lemah
lagi tertindas. Semoga Dia menjadi pelindung mereka, penolong mereka, dan
peneguh hati-hati mereka.
Kita
memohon kepada Allah Jalla
wa ‘Ala agar menjaga saudara-saudara sesame muslim yang
tertindas, baik di Suriah, Palestina, dan tempat-tempat lainnya. Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Penolong, Maha mampu melakukannya, dan Dialah Yang Maha
Mendengar, Maha Dekat, lagi Maha Mengabulkan permintaan.
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
-رَحمَاكُمُ
اللهُ- عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
﴾ [الأحزاب:٥٦]
، وَقَالَ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلَاةً
صَلَّى الله
عَلَيْهِ بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
شَأْنَنَا كُلَّهُ
وَلَا
تَكِلْنَا
إِلَى
أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ
مِنْ
سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ
الأَعْمَالِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ
اللَّهُمَّ
مِنْ
شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ
مَنْ
أَرَادَنَا
أَوْ أَرَادَ
أَمْنَنَا
وَإِيْمَانَنَا
بِسُوْءٍ
فَأَشْغِلْهُ
فِي نَفْسِهِ
وَاجْعَلْ
كَيْدَهُ فِي
نَحْرِهِ وَاجْعَلْ
تَدْبِيْرَهُ
تَدْمِيْرَهُ
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ
.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com