بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ”.
“يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً”.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً”
أما
بعد
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala
dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang
diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kemudia keluarga, sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan secara umum kepada hamba-hamba-Nya untuk beristiqamah,
firman-Nya:
فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ
“Maka
tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 6)
Demikian
juga kepada Nabi-Nya secara khusus, firman-Nya:
فَاسْتَقِمْ
كَمَآأُمِرْتَ
وَمن تَابَ مَعَكَ
وَلاَتَطْغَوْا
“Maka tetaplah kamu pada jalan
yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah taubat
beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas..” (QS. Hud: 112)
Allah
Ta’ala
juga menjanjikan pahala yang banyak kepada mereka yang istiqamah, firman-Nya:
إِنَّ
الَّذِينَ
قَالُوا
رَبُّنَا
اللهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
فَلاَخَوْفٌ
عَلَيْهِمْ
وَلاَهُمْ
يَحْزَنُونَ
{13} أُوْلَئِكَ
أَصْحَابُ
الْجَنَّةِ
خَالِدِينَ
فِيهَا
جَزَآءً
بِمَا
كَانُوا
يَعْمَلُونَ
{14}
“Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap
istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula)
berduka cita.– Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di
dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaaf: 13-14).
Secara
bahasa istiqamah berarti menjadikan sesuatu tegak,
lurus, dan sejajar. Sedangkan secara istilah ada beberapa pengertian dari para
ulama.
Al-Qadhiy
‘Iyadh berkata: “Tauhidkanlah Allah, beriman kepadanya kemudian
beristiqamahlah. Jangan menyimpang dari tauhid dan teruslah menjalankan
ketaatan kepada-Nya hingga kamu mati dalam keadaan seperti itu.”
Ibnu
Katsir mengartikan istiqamah sebagai mengikhlaskan amal untuk
Allah dan menjalankan ketaatan kepada Allah sesuai yang Dia syariatkan.
Al-Qurthubiy
berkata, “Bersikap luruslah dalam ketaatan kepada Allah, baik dalam
keyakinan, ucapan maupun perbuatan dan tetaplah dalam keadaan tersebut.”
Jadi,
istiqamah adalah usaha menempuh shiratal mustaqim (jalan
yang lurus) tanpa berbelok ke kanan dan ke kiri, tanpa menambah atau
mengurangi, tanpa mempersulit atau menyepelekan. Hal ini, sebagaimana
ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:
“Maka
tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan
(juga) orang yang telah bertobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui
batas. “
Ayat
“Maka tetaplah kamu
pada jalan yang benar” yakni tetaplah kamu berada di atas
ajaran Islam, jangan malas mengerjakannya atau meremehkannya.
Sedangkan
ayat “sebagaimana
diperintahkan kepadamu” yakni sesuai yang diajarkan oleh
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Ayat
“janganlah kamu
melampaui batas” yakni tidak melewati aturan dan tidak
menambah-nambah (berbuat bid’ah).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa karamah terbesar yang diberikan
Allah Ta’ala
adalah seseorang dapat beristiqamah.
Dalam
surat Al A’raaf ayat 16-17, Allah Subhanahu
wa Ta’ala menyebutkan janji setan untuk menyesatkan manusia yang
mengharuskan kita agar selalu waspada, firman-Nya:
قَالَ فَبِمَآأَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ {16} ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ {17}
Iblis
menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar
akan (menghalanggi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,— Kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari
kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur
(taat). (QS. Al
A’raaf: 16-17)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ
الشَّيْطَانَ
قَعَدَ
لِابْنِ
آدَمَ بِطُرُقِهِ
فَقَعَدَ
لَهُ
بِطَرِيْقِ
الْإِسْلاَمِ
فَقَالَ :
تُسْلِمُ وَ
تَذَرُ
دِيْنَكَ وَ
دِيْنَ
آبَائِكَ وَ
آبَاءِ
آبَائِكَ ؟
فَعَصَاهُ
فَأَسْلَمَ
ثُمَّ
قَََََعَدَ
لَهُ
بِطَرِيْقِ الْهِجْرَةِ
فَقَالَ :
تُهَاجِرُ وَ
تَدَعُ
أَرْضَكَ وَ
سَمَاءَكَ وَ
إِنَّمَا
مَثَلُ
الْمُهَاجِرِ
كَمَثَلِ
الْفَرَسِ
فِي الطُّوْلِ
! فَعَصَاهُ
فَهَاجَرَ
ثُمَّ قَعَدَ
لَهُ بِطَرِيْقِ
الْجِهَادِ
فَقَالَ :
تُجَاهِدُ
فَهُوَ
جُهْدُ
النَّفْسِ وَ
الْمَالِ فَتُقَاتِلُ
فَتُقْتَلُ
فَتُنْكَحُ
الْمَرْأَةُ
وَ يُقْسَمُ
الْمَالُ ؟
فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ
فَمَنْ
فَعَلَ
ذَلِكَ كَانَ
حَقًّا عَلَى
اللهِ أَنْ
يُدْخِلَهُ
الْجَنَّةَ
وَ مَنْ
قُتِلَ كَانَ
حَقًّا عَلَى
اللهِ أَنْ
يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
وَ إِنْ
غَرَقَ كَانَ
حَقًّا عَلَى
اللهِ أَنْ
يُدْخِلَهُ
الْجَنَّةَ
وَ إِنْ
وَقَصَتْهُ
دَابَّتُهُ
كَانَ حَقًّا
عَلَى اللهِ
أَنْ
يُدْخِلَهُ
الْجَنَّةَ.
“Sesungguhnya setan duduk pada anak Adam di semua
jalannya. Setan duduk di jalan Islam dan berkata, “Apakah kamu akan masuk
Islam sehingga kamu meninggalkan agamamu sebelumnya, agama bapakmu, dan agama
nenek moyangmu?” Ia (anak Adam) itu tidak mau menaati setan dan masuk
Islam. Lalu setan duduk di jalan hijrah dan berkata, “Apakah kamu akan
berhijrah dan meninggalkan tanah airmu, padahal orang yang berhijrah itu
seperti kuda yang menempuh perjalan panjang?!” Ia tidak mau menaati setan
dan tetap berhijrah. Lalu setan duduk di jalan jihad dan berkata: “Apakah
kamu akan berijhad yang melelahkan jiwa dan mengorbankan harta, kamu berperang
dan bisa terbunuh sehingga istrimu dinikahi orang dan hartamu
dibagi-bagikan?!” Ia tidak mau menaati setan dan tetap berjihad. Orang
yang melakukan demikian, Allah akan memasukkannya ke surga, orang yang terbunuh
(dalam jihad), Allah akan memasukkannya ke surga dan jika ia tenggelam, Allah
akan memasukkannya ke surga, dan jika ia terlempar oleh binatang tunggangannya
(sehingga meninggal), maka Allah akan memasukkanya ke surga.” (HR. Ahmad,
Nasa’i dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no.
1652)
Qatadah
menjelaskan bahwa setan akan datang kepada manusia dari depan mereka
mengabarkan bahwa tidak ada kebangkitan, surga dan neraka. Dari belakang
mereka, dengan menghias perkara dunia dan mengajak mereka kepadanya. Dari kanan
mereka, dengan membuat mereka menunda-nunda kebaikan dan dari kiri mereka
dengan menghias kejahatan dan maksiat, mengajak mereka kepadanya dan
memerintahkannya. Ia akan datang dari semua arah selain dari atas, karena ia
tidak sanggup menghalangi seseorang dari rahmat Allah.
Ibnu
Abbas menafsirkan “dari kanan mereka” yakni setan akan membuat
samar urusan agama mereka (mendatangkan syubhat), sedangkan dari kiri mereka,
yakni membuat mereka senang kepada maksiat (fitnah syahwat).
Oleh
karena itu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam senantiasa membaca doa berikut di pagi dan
sore hari -meminta kepada Allah perlindungan-Nya di berbagai arah-:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اَلْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْاَخِرَةِ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَ اَلْعَافِيَةَ فِي دِينِي, وَدُنْيَايَ, وَأَهْلِي, وَمَالِي, اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي, وَآمِنْ رَوْعَاتِي, اَللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ, وَمِنْ خَلْفِي, وَعَنْ يَمِينِي, وَعَنْ شِمَالِي, وَمِنْ فَوْقِي, وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta
‘afiyat (penjagaan) kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah,
sesungguhnya aku meminta kepada-Mu maaf dan ‘afiyat baik dalam agamaku,
duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah cacatku, tenangkanlah rasa
takutku. Ya Allah, jagalah aku dari depan dan belakangku, dari kanan dan kiriku
serta dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan sampai ada
yang menghantamku secara tiba-tiba dari bawahku.”
(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim, ia berkata:
“Shahih isnadnya”)
Ketika
seorang hamba dalam keadaan berpaling dari agama, maka setan akan mendorongnya
untuk menggampangkan atau bermalas-malasan sampai akhirnya dia meninggalkan
kewajiban dan melakukan perkara yang haram. Setan akan terus membuatnya lalai,
sehingga putuslah hubungannya dengan agama (seperti dijadikannya meninggalkan
shalat), dan di saat itulah setan meninggalkannya dalam keadaan binasa.
Sebaliknya,
jika setan melihat seorang hamba bersemangat menjalankan agamanya dan tidak
mungkin baginya menghalangi, maka setan menggodanya agar dia berlebih-lebihan
dan menganiaya diri sehingga melampaui batas. Setan terus mendorongnya hingga
ia keluar dari batasan yang ditentukan terjatuh ke dalam bid’ah, bisa
saja dijadikannya ia bangga (‘ujub)
terhadap ibadahnya, seperti yang menimpa orang-orang Khawarij. Dimana ibadah
yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dianggap kecil oleh mereka.
Kedua
keadaan tersebut, yakni meremehkan dan melampaui batas aturan merupakan keadaan
tercela. Meremehkan merupakan tanda kelemahan iman, sedangkan melampaui batas
merupakan sebab penyimpangan. Kedua sikap itu menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan istiqamah. Dalam hadis shahih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu
disebutkan:
جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ . قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَداً . وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ . وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَداً . فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ :« أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ ،وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
Pernah
datang tiga orang ke rumah-rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
bertanya tentang bagaimana ibadah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahukan, sepertinya
mereka menganggap sedikit, mereka berkata, “Bagaimana keadaan kami
dibanding Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang telah diampuni dosa-dosanya di masa
yang lalu dan yang akan datang”, salah seorang di antara mereka berkata,
“Saya shalat malam selamanya (tanpa diselingi tidur)”, yang satu
lagi berkata, “Saya akan puasa selamanya dan tidak akan berbuka.”
Sedangkan yang lain berkata: “saya akan menjauhi wanita dan tidak akan
menikah selama-lamanya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang
dan bersabda, “Kaliankah
orang yang mengucapkan kata-kata ini dan itu? Demi Allah, sesungguhnya saya adalah
orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya. Akan
tetapi, saya berpuasa dan berbuka, saya shalat (malam) dan tidur dan saya
menikahi wanita. Barang siapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukanlah termasuk
golonganku.” (HR. Bukhari)
Jalan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tersebut adalah jalan yang lurus, adapun
jalan-jalan yang dibuat manusia dalam beribadah atau biasa dikenal dengan nama
“tarekat” seperti yang dibuat oleh orang-orang shufi, bukanlah
jalan yang lurus, dan yang demikian dapat menjadikan kita berpecah belah. Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَتَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ
ذَالِكُمْ
وَصَّاكُمْ
بِهِ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami
perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai
beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu
bertakwa.” (QS.
Al An’aam: 153)
Di
samping hal di atas, sikap berlebih-lebihan dapat membuat seseorang mudah bosan
dan berputus asa, menghalangi istiqamah, memberatkan diri dan tidak sejalan
dengan fitrahnya.
Wahai
hamba-hamba Allah,
sebagian manusia ada yang berkata: “Kami
beriman kepada Allah“, akan tetapi mereka tidak istiqamah di atas agama Allah, bahkan
mencukupkan keimanan itu hanya dengan ucapan semata. Tentang mereka, Allah Ta’ala berffirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللهِ فَإِذَآ أُوذِيَ فِي اللهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللهِ وَلَئِن جَآءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللهُ بِأَعْلَمَ بِمَافِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
“Dan
di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada
Allah”, Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia
menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. dan sungguh jika datang
pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya Kami
adalah besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam
dada semua manusia? (QS.
Al ‘Ankabut: 10)
Mereka
berpaling ketika mendapatkan ujian dan mereka tersesat ketika menghadapi
syubhat dan syahwat. Agama mereka didasari hawa nafsu dan apa saja yang mereka
inginkan. Mereka tidak bermar ma’ruf dan bernahi mungkar. Mereka tidak
konsisten dengan ucapan mereka “Kami
beriman kepada Allah” yang menuntut keistiqamahan kepada
tujuan kalimat ini, berupa melaksanakan ketaatan dan meninggalkan yang haram,
ikhlas karena Allah dan berbuat baik kepada sesama hamba Allah. Dari sini kita
ketahui bahwa keimanan kepada Allah harus ditambah dengan istiqamah.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ
العَظِيْمَ
الجَلِيْلَ
لِيْ
وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
اَلحَمْدُ
لِلّهِ
الوَاحِدِ
القَهَّارِ، الرَحِيْمِ
الغَفَّارِ،
أَحْمَدُهُ
تَعَالَى
عَلَى
فَضْلِهِ
المِدْرَارِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
الغِزَارِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا
إِلَهَ
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
العَزِيْزُ
الجَبَّارُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى
المُخْتَار،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ الطَيِّبِيْنَ
الأَطْهَار،
وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ،
وَأَصْحَابُهُ
الأَخْيَارِ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
مَا
تُعَاقِبُ
اللَيْلَ
وَالنَّهَار
Sufyan
bin Abdullah Ats Tsaqafiy pernah berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah
kepada saya dalam Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan
kepada seorang pun selainmu.” Beliau menjawab:
قُلْ
آمَنْتُ
بِاللهِ
ثُمَّ
اسْتَقِمْ
Katakanlah:
“Aku beriman kepada
Allah dan beristiqwamahlah.” (HR. Muslim)
Berdasarkan
hadis di atas kita mengetahui bahwa keselamatan dari neraka dan kemenangan
meraih surga tidaklah dihasilkan kecuali dengan 2 perkara:
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ {3}
Demi
masa.–Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,–Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh
…dst.. (Al
‘Ashr: 1-3)
Kalau
sekiranya ucapan semata sudah cukup dan bermanfaat bagi pelakunya, tentu
bergunalah ucapan “saya beriman kepada Allah” yang diulang-ulang
oleh orang-orang munafik. Namun kenyataannya, Allah mendustakan mereka dengan
firman-Nya “Mereka itu
sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS. Al
Baqarah: 8).
Seorang
ahli ibadah memiliki masa semangat dan masa kendornya sebagaimana dijelaskan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sabdanya berikut:
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَ لِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِيْ فَقَدِ اهْتَدَى وَ مَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
“Sesungguhnya setiap amal memiliki
saat-saat semangat, dan saat-saat semangat memiliki saat-saat lemahnya.
Barangsiapa yang ketika lemahnya masih di atas sunahku, maka dia mendapatkan
petunjuk. Sebaliknya, jika tidak di atas itu, maka dia binasa.”
(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Lih. Shahihul
Jami no. 2152)
Apabila
sesorang tertimpa futur, -dan hal itu pasti datang kepada ahli ibadah–, jika ia tidak
meninggalkannya secara keseluruhan, yakni mengarah kepada iqtishad (pertengahan dan
tidak meremehkan), maka ia memperoleh petunjuk, karena diharapkan sekali ia
akan kembali semangat.
Contohnya
sesorang yang banyak menjalankan shalat sunat. Tidak ada satu shalat sunat pun
kecuali dia kerjakan, tiba-tiba ia futur. Jika futurnya tidak membuatnya
meninggalkan secara keseluruhan, misalnya tetap menjaga shalat wajib beserta
shalat sunat yang mu’akkadnya saja, maka insya Allah ia masih di atas
pertunjuk. Sebaliknya, jika malah ditinggalkannya secara keseluruhan,
sampai-sampai yang wajib ditinggalkan dan beralih kepada maksiat, maka ia akan
binasa. Wallahu a’lam.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. اللهم
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Marwan
bin Musa
Maraaji’:
Kitab-kitab tafsir, Shahih
Bukhari dan Shahih
Muslim, Shahihul Jami’,
majalah Fatawa (Vol. 05 Tahun II 1425 H/2004 M) dll.