Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
: اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
؛ فَإِنَّ فِي
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا
خَلْفًا مِنْ
كُلِّ شَيْءٍ
وَلَيْسَ مِنْ
تَقْوَى
اللهِ خَلْفٌ.
وَتَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا :
عَمَلٌ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
رَجَاءً
ثَوَابِ اللهِ
، وَتَرْكٌ
لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
خِيْفَةً
عَذَابِ
اللهِ .
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Di
antara sunnatullah yang terus berlangsung dan dialami oleh hamba-hamba-Nya,
sedari yang paling awal hingga hari kiamat kelak adalah, Allah akan memberikan
mereka musibah dan cobaan dengan berbagai macam bentuknya. Dengan itu, akan
terlihat mana hamba yang baik dan mana di antara mereka orang-orang yang jelek,
mana yang sabar dan mana yang tidak sabar. Allah Ta’ala menerangkan musibah ini dalam
firman-Nya,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ
مِنَ الْخَوْفِ
وَالْجُوعِ
وَنَقْصٍ
مِنَ الْأَمْوَالِ
وَالْأَنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ
وَبَشِّرِ
الصَّابِرِينَ
(155) الَّذِينَ
إِذَا أَصَابَتْهُمْ
مُصِيبَةٌ
قَالُوا
إِنَّا لِلَّهِ
وَإِنَّا
إِلَيْهِ
رَاجِعُونَ (156)
أُولَئِكَ
عَلَيْهِمْ
صَلَوَاتٌ
مِنْ رَبِّهِمْ
وَرَحْمَةٌ
وَأُولَئِكَ
هُمُ
الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa
ilaihi raaji´uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang
sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Ayyuhal
mukminun,
Setiap
hamba akan mengalami dan mendapatkan musibah, cobaan, dan ujian. Bagi mereka
yang ridha atas ujian tersebut, maka bagi mereka ridha Allah. Dan barangsiapa
yang murka atas musibah dan ujian tersebut, bagi mereka murka pula.
Ibdallah,
Barangsiapa
yang murka dan kufur ketika musibah menimpanya, maka ia dicatatkan dalam daftar
orang-orang yang binasa. Barangsiapa yang berputus asa dan meratapi apa yang
menimpanya, maka ia dicatatkan termasuk orang-orang yang berputus asa dari
rahmat Allah. Barangsiapa yang mencela takdir Allah dan mengkritik hikmah
keputusan Allah, maka ia termasuk orang-orang yang merugi. Barangsiapa yang
ridha, maka ia dicatat ke dalam golongan orang-orang yang ridha. Barangsiapa
yang bersabar, maka ia dicatat sebagai orang-orang yang bersabar. Dan
barangsiapa yang bersyukur atas ujian yang menimpanya, maka ia dimasukkan ke
dalam golongan orang-orang yang senantiasa memuji Allah dan bersyukur
kepada-Nya.
Ibadallah,
Jika
demikian halnya, maka yang perlu diketahui oleh setiap muslim dalam
permasalahan musibah, cobaan, dan ujian adalah bagaimana Islam menuntunkan
seorang muslim ketika mendapatkan hal-hal demikian.
Musibah
adalah sesuatu yang menyesakkan dan membuat seseorang terluka. Namun jika
seseorang telah mendapat petunjuk dengan hidayah Islam, maka luka tersebut pun
akan mudah terobati. Obat dalam permasalahan ini sangatlah jelas dalam tuntunan
Islam. Akan tetapi taufik tetap di tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Seseorang tidak akan
mampu berpegang teguh dengannya kecuali atas izin Allah Ta’ala.
Ayyuhal
mukminun,
Pertama: Hal yang paling utama yang mampu
mengobati rasa luka dan duka seseorang saat ditimpa musibah adalah mengucapkan
dan merenungi makna kalimat istirja’ ‘innaa lillaahi wa inaa ilaihi
raaji’uun’. Allah Ta’ala
berfirman,
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa
innaa ilaihi raaji´uun”.” (QS. Al-Baqrah: 155-156).
Ini
adalah obat yang paling utama yang hendaknya diucapkan seorang hamba tatkala
mendapatkan suatu musibah. Kalimat ini membuatnya kembali tersadar bahwa dia
adalah seorang hamba milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya pula. Kesadaran
yang mendalam akan kalimat ini, akan membuat musibah terasa ringan, betapa pun
besar musibah tersebut.
Kedua: hal yang dapat mengobati duka lara
saat terjadi musibah adalah seseorang memiliki keyakinan yang utuh tanpa
keraguan, bahwa apa yang telah Allah tetapkan akan menimpanya, maka pasti akan
ia alami. Tidak akan mungkin meleset. Dan sebaliknya, kalau itu bukan bagian
dari takdirnya, maka ia tidak akan tertimpa dan mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman,
مَا
أَصَابَ مِنْ
مُصِيبَةٍ
فِي
الْأَرْضِ
وَلَا فِي
أَنْفُسِكُمْ
إِلَّا فِي
كِتَابٍ مِنْ
قَبْلِ أَنْ
نَبْرَأَهَا
إِنَّ ذَلِكَ
عَلَى
اللَّهِ
يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula)
pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).
Ketiga: seseorang yang mendapatkan musibah
membandingkan musibah yang ia derita dengan musibah orang lain. Pasti akan ia
dapati orang-orang yang mendapatkan musibah lebih besar dan lebih berat
dibanding musibah yang sedang ia alami. Yang demikian ini, akan membantu
memperingan deritanya.
Keempat: menyadari bahwa murka dan amarah
yang ia ekspresikan karena musibah yang menimpanya, tidak akan mampu menolak
musibah atau mengubah ketetapan takdir Allah atasnya. Bahkan murka dan
amarahnya itu malah menjadikannya semakin tertekan dan lemah.
Kelima: jika ia murka dan marah atas musibah
yang ia terima, ia akan kehilangan pahala yang sangat besar dari sisi Allah.
أُولَئِكَ
عَلَيْهِمْ
صَلَوَاتٌ
مِنْ رَبِّهِمْ
وَرَحْمَةٌ
وَأُولَئِكَ
هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan
rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157).
Kalau
kesempatan pahala ini ia lewatkan, maka ia hanya akan mendapatkan derita saja
atau bahkan dosa.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Keenam: hal yang menjadi musibah terasa
ringan lainnya adalah tatkala kita berharap gantinya dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Barangsiapa yang ditimpa musibah, dia bersabar, mengucapkan istirja’
“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”, merasa takut
kepada Allah, maka Allah Jalla
wa ‘Ala akan gantikan yang lebih baik untuknya. Dalam Shahih
Muslim, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا
مِنْ عَبْدٍ
تُصِيبُهُ
مُصِيبَةٌ
فَيَقُولُ:
«إِنَّا
لِلَّهِ
وَإِنَّا
إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
، اللهُمَّ
أْجُرْنِي
فِي مُصِيبَتِي
وَأَخْلِفْ
لِي خَيْرًا
مِنْهَا»
إِلَّا
أَجَارَهُ اللهُ
فِي
مُصِيبَتِهِ
وَأَخْلَفَ
لَهُ خَيْرًا
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia
mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un.
Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala
sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah
ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih
baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan
menggantinya dengan yang lebih baik.”
Ayyuhal
mukminun,
Ketujuh: seseorang yang tidak sabar ketika
pertama kali mendapatkan musibah, kesabaran yang penuh dengan keimanan dan
berharap pahal di sisi Allah Jalla
wa ‘Ala, maka nanti di hari-hari berikutnya rasa sakitnya
juga akan hilang. Jika dia memilih sabar saat pertama terkena musibah, baginya
pahala. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا
الصَّبْرُ
عِنْدَ
الصَّدْمَةِ
الأُولَى
“Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal
musibah.”
Kedelapan: Allah mendatangkan musibah bukan
untuk membinasakan hamba-Nya yang beriman. Musibah itu datang sebagai ujian,
agar tampaklah orang yang bersabar dan orang yang tidak sabar.
Hendaknya
seorang hamba merenungi hal-hal di atas agar mereka termasuk golongan
orang-orang yang bersabar dan ridha. Dengan itu, mereka akan mendapatkan pahala
dari sisi Allah Jalla wa
‘Ala. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((عَجَبًا
لِأَمْرِ
الْمُؤْمِنِ
، إِنَّ أَمْرَهُ
كُلَّهُ
خَيْرٌ،
وَلَيْسَ
ذَاكَ لِأَحَدٍ
إِلَّا
لِلْمُؤْمِنِ
، إِنْ
أَصَابَتْهُ
سَرَّاءُ
شَكَرَ
فَكَانَ
خَيْرًا
لَهُ، وَإِنْ
أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ
صَبَرَ
فَكَانَ
خَيْرًا
لَهُ)) .
“Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, sesungguhnya
semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang
beriman. Jika ia dianugrahi nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya , jika ia
tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Kesembilan: seseorang merenungi keadaan orang
lain. Ia lihat keadaan orang-orang di sekitarnya atau bahkan dunia. Tidak ada
seorang pun di antara mereka kecuali mendapatkan musibah. Kesenangan dunia itu
hanya bagaikan mimpi indah di saat tidur atau hanya naungan bayangan. Abdullah
bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
مع كل فرحةٍ ترحة ، وما مُلئ بيت حَبرة إلا ومُلئ مثلها عَبرة
“Bersama
kebahagiaan itu ada kesedihan. Dan tidaklah suatu rumah itu dipenuhi dengan
kegembiraan kecuali akan dipenuhi dengan kesedihan serupa.”
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Kesepuluh: seseorang harus tetap menyadari
bahwa ada suka dan ada duka. Terkadang Allah menyayangi hamba-Nya dengan cara
memberikannya musibah. Bisa saja seseorang yang apabila ia terus-menerus dalam
keadaan sehat dan banyak harta, ia akan menjadi seseorang yang lalai dan
tertipu, sombong dan ujub. Hal ini akan membuatnya binasa. Ketika Allah ‘Azza wa Jalla
turunkan musibah pada badannya atau pada hartanya atau pada suatu hal yang
membuatnya bersedih. Ia akan terus mengingat Allah, tunduk kepada-Nya, hilang
kesombongan dan ujub darinya. Maka Maha suci Allah atas segala hikmah keputusan
takdir-Nya. Maha suci Allah yang menyayangi hamba-hamba-Nya dengan cara
memberikan musibah kepada hamba tersebut.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Kesebelas: adanya musibah di dunia kemudian
disikapi seorang hamba dengan kesabaran dan berharap pahala dari sisi Allah,
menjadi penyebab kebahagiannya di hari kiamat kelak. Ia bersabar atas kesusahan
yang sedikit dan fana, Allah ganti dengan kebahagiaan yang lebih baik dan
abadi. Dan sebaliknya bagi orang-orang yang tidak bersabar.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Semoga
Allah mengarunia kita sifat mudah mengambil pelajaran dan hikmah dari apa yang
kita alami. Semoga Dia memberi petunjuk kepada kita semua pada jalan yang lurus
dan memperbaiki keadaan kita semua. Semoga Dia menjadikan semua keputusan
takdir-Nya kepada kita adalah kebaikan.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
كَثِيْرًا ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ
سُبْحَانَهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ .
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Apabila
seseorang dalam keadaan sehat, aman, selamat, iman, dan Islam, maka janganlah
ia tertipu dengan dirinya sendiri. Tidaklah orang-orang yang tertimpa musibah
pada hari ini adalah orang-orang yang kemarin mereka hidup bahagia. Karena itu,
bagi orang-orang yang cerdas hendaknya tidak terpedaya dengan apa yang ia
nikmati sekarang. Apa yang ia nikmati sekarang semestinya dipergunakan untuk
menolong saudara-saudaranya yang lain yang sedang mengalami musibah. Allah
senantiasa menolong seorang hamba yang juga menolong saudaranya.
Apabila
seseorang bersama saudaranya ketika saudaranya dalam keadaan sulit, maka Allah
akan bersamanya juga saat ia dalam keadaan sulit. Berbuat kebaikan adalah
benteng pelindung dari kejelekan.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Apabila
seseorang mendapati saudaranya muslim dimanapun mereka berada, dalam keadaan
kesusahan. Seorang muslim hendaknya hadir menolong mereka. Menghilangkan duka
lara yang mereka derita. Memudahkan urusan mereka. Disertai dengan berharap
pahala di sisi Allah Ta’ala.
وَاعْلَمُوْا – رَحمَاكُمُ اللهُ – أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ.
صَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
-رَحمَاكُمُ
اللهُ- عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
﴾ [الأحزاب:56] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلَاةً صَلَّى
الله
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)).
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
يَا رَبَّنَا
انْصُرْهُمْ
فِي سُوْرِيَا
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَهُمْ
حَافِظًا
وَمُعِيْنًا،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْهُمْ
بِمَا
تُحْفِظُ
بِهِ عِبَادَكَ
الصَّالِحِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
آمِنْ
رَوْعَاتِهِمْ
وَاسْتُرْ
عَوْرَاتَهُمْ
وَسَدَّ
حَاجَتَهُمْ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
شُرُوْرِهِمْ
وَنَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ
مِنْ سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ
الأَعْمَالِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا دِيْنَنَا
اَلَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي فِيْهَا
مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي كُلِّ
خَيْرٍ
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ .
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
عَلَانِيَتَهُ
وَسِرَّهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَوَالِدَيْهِمْ
وَذُرِّيَّاتِهِمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتَ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
{وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ }
.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com