Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلرَّزَّاقُ ذُوْ القُوَّةِ المَتِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ، فَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى؛
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ
.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Ibadalah
adalah ekspresi cinta seorang hamba kepada Allah. Ibadah adalah keinginan
seorang hamba mencari ridha tuannya, Allah ﷻ. Karena ibadah inilah Allah ciptakan
makhluk-makhluk. Jin dan manusia. Dan untuk hal itu pula Allah ﷻ
utus rasul-rasul-Nya. Allah ﷻ berfirman,
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS: Adz-Dzaariyat | Ayat: 56).
Dalam
firman-Nya yang lain,
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا
فِي كُلِّ
أُمَّةٍ رَسُولًا
أَنِ
اعْبُدُوا
اللَّهَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah.” (QS: An-Nahl | Ayat:
36).
Dan
firman-Nya,
وَمَا
أَرْسَلْنَا
مِنْ
قَبْلِكَ
مِنْ رَسُولٍ
إِلَّا
نُوحِي
إِلَيْهِ
أَنَّهُ لَا
إِلَٰهَ
إِلَّا أَنَا
فَاعْبُدُونِ
Dan
Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS: Al-Anbiyaa | Ayat: 25).
Dan
masih banyak ayat-ayat semakna yang menjelaskan bahwa tujuan rasul-rasul diutus
adalah agar Allah disembah.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Ibadah
adalah sebab utama yang mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan baik di dunia
maupun di akhirat. Tidak ada kehidupan yang nyaman dan bahagia di dunia dan di
akhirat kelak kecuali dengan merealisasikan peribadatan kepada Allah.
Peribadatan yang merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya.
Ayyuhal
mukminun,
Hidup
manusia seluruhnya adalah memperbaiki hubungannya dengan Allah dengan
sesempurna mungkin. Sebagaimana firman-Nya ﷻ,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah:
sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah)”. (QS: Al-An’am | Ayat: 162-163).
Ayyuhal
mukminun,
Ibadah
bukanlah sebatas dalam bentuk ritual tertentu saja. Atau hanya dalam masjid
saja. Ibadah bersifat lebih luas dan lebih umum dari itu. Ibadah itu mencakup
apa yang ada di hati, di lisan, dan anggota badan. Allah ﷻ berfirman,
لَيْسَ
الْبِرَّ
أَنْ
تُوَلُّوا
وُجُوهَكُمْ
قِبَلَ
الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ
وَلَٰكِنَّ
الْبِرَّ
مَنْ آمَنَ
بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ
وَالْمَلَائِكَةِ
وَالْكِتَابِ
وَالنَّبِيِّينَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…”
(QS: Al-Baqarah | Ayat: 177).
Beriman
kepada Allah dengan segala yang Dia perintahkan. Dan keimanan adalah pondasi
dan pilar-pilar ibadah. Allah ﷻ berfirman,
وَمَنْ
يَكْفُرْ
بِالْإِيمَانِ
فَقَدْ حَبِطَ
عَمَلُهُ
وَهُوَ فِي
الْآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum
Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang
merugi.” (QS: Al-Maidah | Ayat: 5).
Ibadah
itu mencakup semua bentuk penghambaan seseorang baik berupa amalan hati yang
bisa mendorong seseorang untuk menaati Allah. Beribadah kepada-Nya. Dan ridha
kepada-Nya. Seperti mencintai Allah. Takut kepada-Nya. Sabar atasu
ketetapan-Nya. Tawakal dan ridha kepada-Nya. Berharap dan bertaubat kepada-Nya.
Dan bentuk-bentuk ibadah hati lainnya. Semuanya itu masuk dalam cakupan ibadah.
Ibadallah,
Ibadah
juga meliputi ibadah lisan. Ibadah lisan yang paling agung adalah mengucapkan
dua kalimat syahadat. Karena inilah pokok dan dasar ibadah itu dibangun.
Kemudian perkataan-perkataan yang baik. Perkataan-perkataan yang benar. Yang
dikatakan seseorang sebagai perantara yang mendekatkan seseorang kepada Allah ﷻ.
Demikian juga membaca Alquran. Mengajak kepada kebaikan dan melarang
kemungkaran. Berdakwah di jalan Allah. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Semua
itu termasuk ibadah.
Ayyuhal
mukminun,
Demikian
pula dengan amalan anggota badan yang dilakukan seseorang untuk mendekatkan
dirinya kepada Allah ﷻ, itu adalah ibadah. Seperti: shalat, berpuasa, haji, berbuat
kebajikan, dan perbuatan-perbuatan lainnya yang Allah cintai. Itu semua adalah
ibadah.
Termasuk
juga ibadah adalah menginfakkan harta untuk zakat, sedekah, dan memberi nafkah
yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Zakat yang Allah wajibkan
adalah ibadah. Sedekah yang Allah anjurkan juga ibadah. Menolong orang yang
memerlukan. Membantu orang miskin atau janda-janda, dll. yang diniatkan untuk
mendekatkan diri kepada Allah adalah ibadah. Dalam ash-Shahih, dari Saad radhiallahu ‘anhu,
Nabi ﷺ bersabda,
وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِيّ امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya
apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Alah pasti kamu
diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.”
Jika
Anda menafkahi istri dan anak-anak Anda dan semangat bekerja untuk menghidupi
mereka dan berbuat baik kepada mereka dengan
meniatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berharap pahala dari-Nya,
maka yang demikian itu termasuk ibadah. Allah akan memberikan Anda ganjaran
pahala yang besar di sisi-Nya.
Ibadallah,
Termasuk
ibadah juga adalah seseorang merealisasikan apa yang Allah ﷻ wajibkan
kepadanya. Melakukan kebaikan dengan berbagai macam bentuknya kepada sesama
makhluk. Menyambung silaturahmi. Menjaga hak-hak tetangga. Berbuat baik kepada
manusia secara umum. Membantu orang yang butuh, dll. semua itu adalah ibadah
yang mendekatkan seseorang kepada Allah ﷻ.
Bahkan
termasuk perakra-perkara yang Allah ﷻ bolehkan kepada para hamba-Nya bisa
menjadi ibadah jika niatnya baik. Jika Anda makan, minum, tidur, Anda meniatkannya
untuk membantu dalam berbuat kebaikan dan menaati Allah, maka Anda mendapatkan
pahala dengan makan, minum, dan tidur tersebut.
Dalam
Shahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa Abu Dzar radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Muadz
bin Jabal radhiallahu
‘anhu tentang membaca Alquran. Abu Dzar berkata,
أَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ فَأَقُومُ وَقَدْ قَضَيْتُ جُزْئِي مِنْ النَّوْمِ فَأَقْرَأُ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِي فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي
“Aku
tidur di awal malam kemudian aku shalat (di pertengahan atau akhir malam pen.).
Aku telah tidur di sebagian malam. Kemudian aku membaca apa yang Allah
perintahkan kepadaku (dalam shalat). Aku berharap pahala dengan tidurku
sebagaimana aku berharap pahala dengan shalatku.”
Jadi
Abu Dzar meniatkan tidurnya untuk membantunya dalam shalat malam. Agar tidak
ngantuk dan konsentrasi dalam shalat. Dengan demikian tidur bisa mendapatkan
pahala. Makan bisa mendapatkan pahala. Minum juga bisa mendapatkan pahala. Jika
diniatkan untuk membantu berbuat kebajikan. Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ
وَإِنَّمَا
لِكُلِّ
امْرِئٍ مَا
نَوَى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya. Setiap
orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.”
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Seseorang
menjauhi suatu dosa dan hal-hal yang diharamkan, mengharap ridha Allah, maka
hal ini juga termasuk ibadah. Apabila orang yang beriman menjauhi zina,
mencuri, menipu, berdusta, berkhianat, dll. karena takut kepada Allah dan
mengharapkan pahala di sisi-Nya, maka ia telah melakukan suatu ibadah yang
Allah beri balasan pahala. Di dalam ash-Shahih
diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, Allah ﷻ berfirman kepada malaikat pencatat amal,
إِذَا
أَرَادَ
عَبْدِي أَنْ
يَعْمَلَ
سَيِّئَةً
فَلاَ
تَكْتُبُوهَا
عَلَيْهِ
حَتَّى
يَعْمَلَهَا
فَإِنْ
عَمِلَهَا
فَاكْتُبُوهَا
بِمِثْلِهَا
وَإِنْ
تَرَكَهَا
مِنْ أَجْلِي
– وهذا موضع الشاهد
–
فَاكْتُبُوهَا
لَهُ
حَسَنَةً
“Jika hamba-Ku berniat melakukan kesalahan, maka janganlah
kalian menulis kesalahan itu sampai ia (benar-benar) mengerjakannya. Jika ia sudah
mengerjakannya, maka tulislah sesuai dengan perbuatannya. Jika ia meninggalkan
kesalahan tersebut karena Aku, maka tulislah untuknya satu kebaikan. Jika ia
ingin mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, tulislah sebagai
kebaikan untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, tulislah baginya
sepuluh kali kebaikannya itu hingga tujuh ratus (kebaikan).”
Barangsiapa
meninggalkan sesuatu yang haram dan menjauhi perbuatan dosa karena takut kepada
Allah dan berharap pahala dari-Nya, maka hal itu dicatat sebagai kebaikan dan
ketaatan. Allah ﷻ akan membalasnya dengan pahala dan ganjaran yang besar.
Dengan
demikian, jelaslah bagi kita, seorang mukmin yang memiliki niat yang baik,
mencontoh Rasulullah ﷺ sepanjang hidupnya, maka ia telah
mengisi umurnya dengan ibadah. Ia juga telah merealisasikan firman Allah ﷻ,
وَاعْبُدْ
رَبَّكَ
حَتَّىٰ
يَأْتِيَكَ
الْيَقِينُ
“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang
diyakini (ajal).” (QS: Al-Hijr | Ayat: 99).
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ-
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى.
Ibadallah,
Setelah
kita mengetahui cakupan ibadah, maka penting bagi kita untuk mengetahui syarat
diterimanya ibadah. Syarat diterimanya ibadah seseorang ada dua: niatnya ikhlas
karena Allah dan mengikuti contoh praktik Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ berfirman,
فَمَنْ
كَانَ
يَرْجُو
لِقَاءَ رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا
صَالِحًا وَلَا
يُشْرِكْ
بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ
أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS: Al-Kahfi | Ayat: 110).
Pilar
ibadah yang mesti ada di hati seorang hamba ketika ia melakukan ibadah adalah
rasa cinta kepada Allah, berharap pahala dari-Nya, dan takut akan adzab-Nya.
Allah ﷻ menyebutkan pilar ibadah ini dalam firman-Nya,
أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ
يَدْعُونَ
يَبْتَغُونَ
إِلَىٰ
رَبِّهِمُ
الْوَسِيلَةَ
أَيُّهُمْ
أَقْرَبُ
وَيَرْجُونَ
رَحْمَتَهُ
وَيَخَافُونَ
عَذَابَهُ ۚ
إِنَّ
عَذَابَ
رَبِّكَ
كَانَ
مَحْذُورًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari
jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada
Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab
Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS: Al-Israa’ | Ayat:
57).
Kita
memohon kepada Allah ﷻ. Senantiasa memohon pertolongan dan bantuan-Nya dalam
mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya.
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
-رَحمَاكُمُ
اللهُ- عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى
إبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرٍ
الصِدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنَ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
وَرِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى، اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا
اَلَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
وَلَا تُعِنْ
عَلَيْنَا،
وَانْصُرْنَا
وَلَا
تَنْصُرْ
عَلَيْنَا،
وَامْكُرْ لَنَا
وَلَا
تُمْكِرْ
عَلَيْنَا،
وَاهْدِنَا
وَيَسِّرْ
الهُدَى
لَنَا،
وَانْصُرْنَا
عَلَى مَنْ
بَغَى
عَلَيْنَا.
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا
لَكَ
شَاكِرِيْنَ،
لَكَ
ذَاكِرِيْنَ،
إِلَيْكَ
أَوَّاهِيْنَ
مُنِيْبِيْنَ،
لَكَ مُخْبِتِيْنَ،
لَكَ
مُطِيْعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ
تَوْبَتَنَا،
وَاغْسِلْ
حَوْبَتَنَا،
وَثَبِّتْ
حُجَّتَنَا،
وَاهْدِ قُلُوْبَنَا،
وَسَدِّدْ
أَلْسِنَتَنَا،
وَاسْلُلْ
سَخِيْمَةَ
صُدُوْرِنَا.
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ
لَنَا ذُنُبَنَا
كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا
وَمَا
أَخَّرْنَا،
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا
أَعْلَنَّا،
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ بِهِ
مِنَّا،
أَنْتَ المُقَدِّمُ
وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ.
اَللَّهُمَّ
أَعْطِنَا
وَلَا
تَحْرِمْنَا
وَزِدْنَا
وَلَا
تَنْقُصْنَا
وَآثِرْنَا
وَلَا
تُؤْثِرْ
عَلَيْنَا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ
وَاللهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com