Artikel Buletin An-Nur : Senin, 26 Juli 04
Hakikat Bersyukur
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَآتَاكُمْ
مِنْ كُلِّ
مَا
سَأَلْتُمُوهُ
وَإِنْ تَعُدُّوا
نِعْمَتَ
اللَّهِ لَا
تُحْصُوهَا
إِنَّ
الْإِنْسَانَ
لَظَلُومٌ
كَفَّارٌ
"Dan Dia telah memberikan kepadamu
(keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya
manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS.
Ibrahim 14:34)
Karunia atau nikmat yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wata’ala
kepada setiap manusia sungguh sangat banyak dan amat besar, siapa pun dia,
bagaimana pun kondisinya dan apa pun status sosialnya. Bahkan, musibah yang
menimpa seorang mukmin yang ia terima dengan penuh lapang dada, seraya
menucapkan "inâ lillâh wainnâ ilaihi râji`űn" (sesungguhnya
kami ini adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan sesungguhnya kepada-Nya
lah kami kembali) itu pun menjadi karunia dan nikmat tersendiri baginya,
sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
dalam haditsnya,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguhnya keadaan seorang mukmin itu
sangat menakjubkan, karena semua keadaannya menjadi kebaikan bagi dirinya: jika
mendapat nikmat ia bersyukur, maka itu mejadi kebaikan baginya, dan jika
ditimpa musibah ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya". (HR.
Muslim)
Oleh karena sangat banyaknya karunia dan kenikmatan yang Allah anugerahkan
kepada semua manusia yang kadang lalai, tidak tahu diri dan tidak mengenal
kebaikan dan karunia Allah kepadanya, karena itu semua Allah subhanahu
wata’ala menyapa manusia ini dengan mengatakan,
وَآتَاكُمْ
مِنْ كُلِّ
مَا
سَأَلْتُمُوهُ
وَإِنْ
تَعُدُّوا
نِعْمَتَ
اللَّهِ لَا
تُحْصُوهَا
"Dan Dia telah memberikan kepadamu
(keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakan nya. (Ibrahim,
34)
Allah subhanahu wata’ala menyapa manusia agar mereka bersyukur kepada-Nya
dan memanfaatkan semua karunia dan nikmat itu pada jalan yang diridhai-Nya,
juga agar manusia tidak menjadi orang yang zalim dan kufur nikmat dan tahu
betapa banyaknya karunia dan nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kepadanya.
إِنَّ
الْإِنْسَانَ
لَظَلُومٌ
كَفَّارٌ
"Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan
sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim, 34)
Kita sering mendengar seseorang mengeluh dan berontak, seraya berkata,
"Allah sangat tidak adil! Aku sudah melakukan shalat lima waktu, bahkan
shalat malam pun sering aku lakukan dan aku sudah berdo'a, namun hingga detik
ini Dia tidak penah mengabulkan do`aku. Sementara, temanku yang tidak taat
kepada Allah dan selalu melakukan kemaksiatan malah diberi rizki yang berlimpah
ruah! Sungguh Allah sangat tidak adil!"
Ungkapan seperti ini sering kita dengar dari sebagian orang dan mirip dengan
yang diungkapkan oleh Allah subhanahu wata’ala di dalam al-Qur'an
tentang sifat kufur manusia,
فَأَمَّا
الْإِنْسَانُ
إِذَا مَا
ابْتَلَاهُ
رَبُّهُ
فَأَكْرَمَهُ
وَنَعَّمَهُ
فَيَقُولُ
رَبِّي
أَكْرَمَنِ،
وَأَمَّا
إِذَا مَا
ابْتَلَاهُ
فَقَدَرَ
عَلَيْهِ
رِزْقَهُ
فَيَقُولُ
رَبِّي أَهَانَنِ
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya
lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku
telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi
rezkinya maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku". (QS. Al Fajr
89:15-16)
Orang seperti itu biasanya tidak sadar kalau karunia dan kenikmatan yang telah
Allah subhanahu wata’ala berikan kepadanya tidak terhitung jumlahnya
bahkan belum pernah ia syukuri, dan sekali pun ia telah mensyukurinya pasti
syukurnya tidak akan dapat menandingi kenikmatan itu. Tidakkah Allah telah
memberinya mata (penglihatan) yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan
matriel, lalu sepadankah kesyukurannya dengan nikmat penglihatan (mata) ini?!
Tidakkah Allah telah menganugerahkan kepadanya akal yang dengannya ia dapat
melakukan banyak hal? Relakah akalnya ditukar dengan uang sebanyak
kebutuhannya?! Lalu bagaimana dengan nikmat sehat, nikmat bisa bernafas, nikmat
oksigen, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat dapat beribadah dengan baik dan
khusyu', nikmat ilmu dan lain-lainnya? Allah subhanahu wata’ala
berfirman,
قُلْ
هُوَ الَّذِي
أَنْشَأَكُمْ
وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ
وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ
قَلِيلًا مَا
تَشْكُرُونَ
Katakanlah, "Dia-lah yang mencipta kan kamu
dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)". Tetapi
amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al Mulk 67:23)
Jika nikmat yang ada pada dirinya saja belum tersyukuri, lalu pantaskah ia
mengucapkan ungkapan ke-kufuran- seperti di atas? Tidakkah kalau Allah
memberinya nikmat yang lain malah membuatnya makin tidak bersyukur, sebab yang
ada saja tidak disyukuri?!
Sungguh alangkah malangnya manusia yang tidak merasakan betapa banyak dan
betapa sangat besarnya karunia dan nikmat Allah subhanahu wata’ala
kepada dirinya, atau hanya bisa merasakan karunia dan nikmat-Nya pada makanan
dan minumannya saja, lalu ia merasa telah bersyukur kepada Allah subhanahu
wata’ala, karena bisa mengucapkan Alhamdu lillâh sesudahnya.
Seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Abű Dardâ ra
pernah mengatakan, "Barang siapa yang tidak melihat (merasakan) nikmat
yang Allah berikan kepadanya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka
sesungguhnya ilmu (ma`rifat)nya sangat dangkal dan azab pun telah
menantinya". (Abu Hayyân al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, jilid
6, hal. 441. Maktabah Tijâriyyah Musthafa al-Bâz)
Karunia dan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita (manusia) sungguh
tidak dapat kita hitung jumlahnya dan sebanyak apapun kesyukuran manusia kepada
Allah atas karunia-Nya tetap tidak akan sebanding, bahkan bisa bersyukur itu
sendiri merupakan karunia dan nikmat. Oleh karena itu, hendaknya manusia,
apapun kedudukannya di dunia harus selalu bersyukur dan berterima kasih kepada
Allah subhanahu wata’ala sang Pemberi nikmat.
Ibnu Qayyim (seorang tokoh ulama terkemuka) menjelaskan bahwa hakikat syukur
kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba
dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan
rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim
al-Jauziyah, Tahdzîb Madârij al-sâlikîn oleh Abdul Mun`im al`Izzî, hal.
348)
Dan beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar
pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan
dianggap belum bersyukur. 5 (lima) pilar pokok itu adalah kepatuhan orang yang
bersukur kepada Pemberi nikmat, mencintai-Nya, mengakui nikmat dari-Nya,
memuji-Nya atas nikmat-Nya dan tidak menggunakan nikmat yang diberikan-Nya
untuk sesuatu yang tidak Dia suka. (maraji' sebelumnya)
Ketika seseorang mengidap suatu penyakit yang membuatnya menderita sepanjang
waktu dan sudah mengancam keselamatan jiwanya. Sang dokter memutuskan ia harus
menjalani suatu operasi medis untuk menyelamatkan jiwanya, akan tetapi biaya
operasi jauh di luar kemampuannya, bahkan sudah berbagai upaya dilakukan
keluarganya untuk mendapatkan dana demi menolongnya hingga akhirnya mereka
berputus asa dan pasrah. Sementara, si penderita terus merasakan getirnya
penderitaan yang menimpanya....... Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba ada
seorang dermawan menanggung semua kebutuhan biaya operasi, hingga akhirnya jiwa
penderita tersemalatkan dan bebas dari derita yang selama ini mencengkramnya.
`Di saat terpenuhinya kebutuhan seperti itulah kenikmatan itu terasa, ucapan
terima kasih dan pujian kepada si dermawan pun terus diucapkan sepenuh hati,
kebaikannya tak terlupakan sepanjang masa, rasa patuh, hormat dan cinta
kepadanya pun mendalam di dalam kalbu. Kalau pun sekiranya bantuan itu
bersyarat, maka dengan suka hati ia memenuhinya. Begitulah kira-kira ilustrasi
seorang yang bersyukur.
Walhasil, ucapan alhamdulillah saja belum bisa dianggap telah
mencerminkan kesyukuran, sebelum adanya pengakuan lisan, sikap tunduk dan taat,
rasa cinta serta memanfaatkan kenikmatan dalam rangka ibadah kepada Allah subhanahu
wata’ala.
Jika, demikian hakikat syukur, maka jangan anda heran kalau Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
وَقَلِيلٌ
مِنْ
عِبَادِيَ
الشَّكُورُ
"Dan sangat sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur" (Q.S. Saba’ 34: 13),
إِنَّ
الْإِنْسَانَ
لَظَلُومٌ
كَفَّارٌ
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan
sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim 14:34), karena memang
seperti itu keadaannya.
Sekalipun begitu, Allah subhanahu wata’ala tidak ingin kalau
hamba-hamba-Nya tidak bersyukur, karena akan berakibat buruk bagi mereka di
dunia maupun di akhirat. Maka Dia perintahkan kepada mereka melalui
ayat-ayatnya agar selalu bersyukur, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam pun mengajarkan kepada ummatnya apa yang harus mereka lakukan
dalam rangka bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala, di antaranya
melalui do`a setiap usai sholat,
اللَّهُمَّ
أَعِنِّي
عَلَى
ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir
kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu".
(HR. Abu Daud:1522 dan Nasa'i: 1302)
Dan dzikir pagi dan sore, artinya,
اَللَّهُمَّ
مَا أَصْبَحَ/ أَمْسَى
بِيْ
مِنْ
نِعْمَةٍ
أَوْ
بِأَحَدٍ
مِنْ خَلْقِكَ
فَمِنْكَ
وَحْدَكَ لاَ
شَرِيْكَ لَكَ،
فَلَكَ
الْحَمْدُ
وَلَكَ
الشُّكْرُ
"Ya Allah, kenikmatan apapun yang ada
padaku atau pada seseorang di antara makhluk-Mu (di pagi hari ini, di sore hari
ini), maka dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka untuk-Mu lah segala puji,
dan untuk-Mu jualah segala rasa syukur" (HR. Abu Daud: 5073, Nasa'i:
7)
Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala yang
pandai bersyukur dan berterima kasih. Wallâhu a`lam. (Musthafa Aini.
Lc)