إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ”.
“يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً”.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً”
أما
بعد
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan ketakwaan yang
sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan
Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang
oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika
kita keluar rumah, kita akan menyaksikan bahwa kebanyakan manusia –mungkin juga diri kita–
memandang dunia sebagai tujuan hidupnya. Belum yang kita saksikan di kota-kota
baik di pinggiran jalan, di kendaraan; di bus-bus, kereta maupun lainnya. Kita
akan menyaksikan bahwa yang terlintas di benaknya hanyalah “Bagaimana caranya agar bisa
hidup enak di dunia ini”, tidak lebih dari itu. Seakan-akan
tidak pernah terlintas di hati ini bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan
bahwa Allah menjadikan dunia ini sebagai ladang
untuk beramal. Kita akan melihat manusia
bermegah-megahan dalam segala hal sampai tidak sempat lagi beramal. Allah
berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ {1} حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ {2}
“Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu-sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At Takaatsur: 1-2)
Ketika
azan dikumandangkan mereka masih saja sibuk dengan pekerjaannya, tanpa
mempedulikan seruan adzan. Padahal tentang dunia ini, Allah Ta’ala berfirman,
اعْلَمُوا
أَنَّمَا
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
لَعِبٌ
وَلَهْوٌ
وَزِينَةٌ
وَتَفَاخُرٌ
بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ
فِي
اْلأَمْوَالِ
وَاْلأَوْلاَدِ
كَمَثَلِ
غَيْثٍ
أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ
نَبَاتُهُ
ثُمَّ
يَهِيجُ
فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا
ثُمَّ
يَكُونُ
حُطَامًا
وَفِي اْلأَخِرَةِ
عَذَابٌ
شَدِيدٌ
وَمَغْفِرَةٌ
مِّنَ اللهِ
وَرِضْوَانٌ
وَمَاالْحَيَاةُ
الدُّنْيَآ
إِلاَّ
مَتَاعُ
الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
saling berbangga dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang
tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan
kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada
azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia
ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. Al Hadiid : 20)
Di
ayat lain, Allah berfirman:
إِنَّمَا
مَثَلُ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
كَمَآءٍ
أَنزَلْنَاهُ
مِنَ
السَّمَآءِ
فَاخْتَلَطَ
بِهِ نَبَاتُ
اْلأَرْضِ
مِمَّا
يَأْكُلُ
النَّاسُ وَاْلأَنْعَامُ
حَتَّى إِذَآ
أَخَذَتِ اْلأَرْضُ
زُخْرُفُهَا
وَازَّيَّنَتْ
وَظَنَّ
أَهْلُهَآ
أَنَّهُمْ
قَادِرُونَ
عَلَيْهَآ
أَتَاهَآ
أَمْرُنَا
لَيْلاً أَوْ
نَهَارًا
فَجَعَلْنَاهَا
حَصِيدًا
كَأَن لَّمْ
تَغْنَ
بِاْلأَمْسِ كَذَلِكَ
نُفَصِّلُ
اْلأَيَاتِ
لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air yang Kami turunkan dari
langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di
antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu
telah sempurna keindahannya dan berhias, dan permliknya mengira bahwa mereka
pasti menguasainya (memetik hasilnya), tiba-tiba datanglah kepadanya azab
Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan laksana tanaman yang
sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami
menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus : 24)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَا
الدُّنْيَا
فِي
الآخِرَةِ
إِلاَّ مِثْلُ
مَا يَجْعَلُ
أَحدُكُمْ
أُصْبُعَهُ
فِي الْيَمِّ
.
فَلْيَنْظُرْ
بِمَ
يَرْجِعُ؟
“Dunia dibanding
akhirat, tidak lain seperti salah seorang di antara kamu menyelupkan jarinya ke
dalam lautan (kemudian diangkat), lalu lihatlah yang menempel darinya?”
(HR. Muslim)
Berbagai
macam bencana, musibah, kecelakaan, dan kematian yang kita lihat seharusnya
membuat diri kita berhenti dari sikap ini “Mengerahkan pikiran dan tenaga
hanya untuk meraih kenikmatan dunia”, karena pada bencana, musibah,
kecelakaan, dan kematian terdapat bukti nyata akan fananya dunia dan tidak
pantasnya dijadikan sebagai tempat tujuan.
Sebenarnya,
tidak mengapa meraih kesenangan dunia, hanya saja yang menjadi masalah adalah
ketika sibuk dengan dunia sampai lupa dengan akhirat. Shalat lima waktu dan
ibadah-ibadah lainnya yang sesungguhnya manusia diciptakan untuk itu malah
ditinggalkan dan tidak menggunakan kenikmatan yang ada untuk itu. Nampaknya,
untuk orang yang seperti ini hanya maut saja yang dapat membuatnya menyadari
kelalaiannya. Allah Ta’ala
berfirman,
وَأَنفِقُوا
مِن
مَّارَزَقْنَاكُم
مِّن قَبْلِ
أَن يَأْتِيَ
أَحَدَكُمُ
الْمَوْتُ فَيَقُولَ
رَبِّ لَوْلآ
أَخَّرْتَنِي
إِلَى أَجَلٍ
قَرِيبٍ
فَأَصَّدَّقَ
وَأَكُن مِّنَ
الصَّالِحِينَ
{10} وَلَن
يُؤَخِّرَ
اللهُ
نَفْسًا
إِذَا جَآءَ
أَجَلُهَا
وَاللهُ
خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
{11}
“Dan
infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang
kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata (menyesali):
“Wahai Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan aku sedikit waktu lagi,
yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang
saleh?”– Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan
seseorang apabila telah datang waktunya. Allah Maha Mengenal apa yang kamu
kerjakan.” (QS.
Al Munaafiquun : 10-11)
Akibatnya
ia pun menyesal, karena terlena oleh dunia dan tidak sempat beramal.
Sungguh
sangat sedikit sekali orang yang memiliki pandangan “Dunia adalah ladang tempat beramal” sebagai persiapan menuju negeri yang
kekal, yaitu akhirat. Padahal inilah pandangan yang benar terhadap dunia yang
seharusnya dimiliki oleh setiap insan. Oleh karena itu, ia pun menjadikan
berbagai fasilitas yang ada sebagai sarana untuk memperbanyak amal shalih.
Dunia
adalah jembatan menuju akhirat, di dunia ia bisa memperbanyak bekal, yaitu
takwa. Dunia adalah tempat ibadah, tempat shalat, tempat puasa, tempat
bersedekah, tempat berjihad, dan tempat ia berlomba-lomba dengan saudaranya
untuk menggapai kebaikan (surga).
نَفَعَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ.
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ
العَظِيْمَ
الجَلِيْلَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ…
اَلحَمْدُ
لِلّهِ
الوَاحِدِ
القَهَّارِ، الرَحِيْمِ
الغَفَّارِ،
أَحْمَدُهُ
تَعَالَى
عَلَى
فَضْلِهِ
المِدْرَارِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
الغِزَارِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ
لَّا إِلَهَ
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ
العَزِيْزُ
الجَبَّارُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى
المُخْتَار،
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
الطَيِّبِيْنَ
الأَطْهَار،
وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ،
وَأَصْحَابُهُ
الأَخْيَارِ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
مَا
تُعَاقِبُ
اللَيْلَ وَالنَّهَار
Petunjuk
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam
Dalam Menjalani Hidup di Dunia
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
كُنْ
فِي
الدُّنْيَا
كَأَنَّكَ
غَرِيبٌ أَوْ
عَابِرُ
سَبِيلٍ
“Jadilah
kamu di dunia seakan-akan sebagai orang asing atau orang yang sedang
melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari)
Yakni
janganlah Anda cenderung kepada dunia, jangan Anda jadikan sebagai tempat
tujuan, jangan sampai terlintas dalam diri Anda bahwa Anda akan kekal di situ,
jangan berlebihan terhadapnya, jangan sampai hati Anda bergantung kepadanya, jangan
sampai Anda disibukkan oleh selain tujuan Anda yang sebenarnya di dunia ini
(yaitu memperbanyak bekal).
Cukuplah
kiranya teladan kita Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai contoh terdepan dalam berpandangan
seperti ini, Ibnu Mas’ud radhiallahu
‘anhu berkata:
نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً فَقَالَ مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidur di atas tikar. Ketika bangun, tikar itu memberikan
bekas pada badan bagian samping beliau. Lalu kami berkata, “Wahai
Rasulullah, bolehkah kami membuatkan untukmu kasur?” Beliau menjawab,
“Apa kepentinganku
terhadap dunia ini! Aku di dunia ini hanyalah seperti orang yang menaiki
kendaraan sedang berteduh sebentar di bawah sebuah pohon, kemudian akan pergi
meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)
Amr
bin Harits radhiallahu
‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
wafatnya tidak meninggalkan satu dinar, satu dirham, budak laki-laki maupun
budak perempuan, dan tidak meninggalkan apa-apa selain seekor bighal putih
(kuda yang lahir dari perkawinan kuda dan keledai) yang biasa ditungganginya,
senjatanya, dan tanahnya yang disedekahkan untuk ibnus sabil.” (HR.
Bukhari)
Sungguh
indah ucapan penyair berikut,
اِنَّ
ِللهِ
عِبَادًا
فُطَنَا
طَلَّقُوا
الدُّنْيَا
وَخَافُو
اْلفِتَنَا
نَظَرُوْا
فِيْهَا
عَلِمُوْا
اَنَّهَا
لَيْسَتْ لِحَيٍّ
وَطَنًا
جَعَلُوْهَا
لُجَّةً
وَاتَّخَذُوْا
صَالِحَ
اْلاَعْمَالِ
فِيْهاَ
سُفُنًا
“Sesungguhnya Allah memiliki
hamba yang cerdas,
Mereka
melepaskan dunia dan takut akan terfitnah,
Mereka
melihat dunia itu dengan sebenarnya,
Maka
sadarlah mereka bahwa ia tidak pantas
dijadikan
tempat menetap,
Mereka
pun menjadikan dunia sebagai samudera,
dan
menjadikan amal yang shalih sebagai bahtera.”
Oleh
karena itu sudah sepantasnya kita memiliki sikap Zuhud terhadap dunia.
Ali
bin Abi Thalib berkata, “Sesungguhnya dunia akan pergi meninggalkan dan
akhirat akan datang menyongsong. Masing-masing dari keduanya memiliki
anak-anak, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia,
karena sesungguhnya hari ini adalah (waktu) beramal dan belum dihisab,
sedangkan nanti adalah hisab dan tidak lagi bisa beramal.”
Abdullah
bin ‘Aun berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan
untuk dunia ini sisanya (dari bekerja) untuk akhirat, namun kamu menjadikan
untuk akhirat kamu sisanya (dari bekerja) untuk duniamu.”
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Marwan
bin Musa
Maraaji’: Riyaadhush
Shalihin dll.