Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ،
وَتَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا
عَمَلٌ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
رَجَاءَ
رَحْمَةِ
اللهِ، وَبُعْدٌ
عَنْ
مَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
خِيْفَةَ
عَذَابِ
اللهِ.
Ma’asyiral
mukminin ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah! Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan
menjaganya, kemudian membimbingnya kepada urusan yang terbaik di dunia maupun
di akhirat. Takwa kepada Allah adalah suatu amalan ketaatan yang berdasarkan
bimbingan dari Allah dengan mengharap rahmat dan kasih sayang Allah. Takwa
kepada Allah adalah menjauhi dosa dan kemaksiatan berdasarkan petunjuk dari
Allah dengan perasaan takut akan adzab-Nya.
Ibadallah,
Dalam
perjalan umat manusia kita mengetahui banyak orang-orang yang baik dan tidak
sedikit pula orang-orang yang jahat. Orang-orang baik contohnya adalah mereka
para nabi dan rasul. Mereka mengalami berbagai macam ujian dalam kehidupan.
Mereka senantiasa diuji. Di antara mereka ada yang diusir dari kampungnya.
Mengalami intimidasi. Namun apakah mereka kala? Tidak, di akhir cerita mereka
adalah pemenangnya. Kemenangan yang bisa didapatkan di dunia. Atau di negeri
akhirat yang kekal abadi.
Kita
juga mengetahui bagaimana keadaan orang-orang yang durhaka. Firaun yang
memiliki kekuasaan absolut. Tidak ada penguasa di dunia saat ini yang memiliki
kekuasaan mutlak seperti dirinya. Namun akhir kesudahannya adalah binasa dan
dikenal sebagai orang yang buruk sepanjang masa. Ada pula orang yang kaya raya
seperti Qarun. Namun ia tidak bertakwa. Ia pun tenggelam bersama hartanya. Ada
pula seseorang yang pintar seperti Haman. Ia mampu membuat bangunan-bangunan
yang tinggi menjulang. Kesudahannya pun sama seperti dua orang sebelumnya.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Salah
satu metode Alquran memberikan pemahaman kepada manusia adalah dalam bentuk
kisah. Namun kisah-kisah di dalam Alquran adalah kisah-kisah penuh hikmah dan
tidak ada kedustaan di dalamnya. Allah ﷻ berfirman,
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ
“Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat.” (QS:Yusuf | Ayat:
111).
Oleh
karena itu, tidak dikisahkan di dalam Alquran tongkat Nabi Musa itu dari kayu
jenis apa. Pohon apa yang dijadikan bahan utama dalam pembuatan kapal Nabi Nuh.
Jenis anjing apa yang dipelihara oleh ash-habul kahfi. Tidak dimuat di dalam
Alquran. Karena tidak memiliki hikmah dan faidah. Alquran sangat jauh dari
kalimat yang sia-sia.
Ibdallah,
Pada
kesempatan kali ini, khotib hendak meniru metode Alquran dalam menyampaikan
risalah kepada manusia. Khotib akan membawakan kisah teladan yang layak ditiru
oleh para pemuda dan menjadi pelajaran bagi orang tua dalam mendidik
anak-anaknya. Kisah tersebut adalah kisah tentang sahabat yang mulia, yang
bernama Mush’ab bin Umair.
Mush’ab
bin Umair adalah seorang pemuda anak dari seorang yang kaya-raya. Pemuda palign
tampan di Kota Mekah. Keturunan bangsawan Quraisy. Ia terbiasa dengan kehidupan
mewah. Tidak pernah mengalami susah. Berpenampilan rupawan membuat banyak orang
terkesan. Diceritakan bahwasanya kesan pertama al-Barra bin Azib tatkala
pertama berjumpa dengan Mush’ab bin Umair di Madinah, ia berkata,
رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ
“Seorang
laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia
adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”
Rasulullah
ﷺ
bersabda,
مَا
رَأَيْتُ
بِمَكَّةَ
أَحَدًا
أَحْسَنَ لِمَّةً
، وَلا
أَرَقَّ
حُلَّةً ،
وَلا أَنْعَمَ
نِعْمَةً
مِنْ
مُصْعَبِ
بْنِ
عُمَيْرٍ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih
rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan
selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).
Imam
Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan
dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah
seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami,
pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang
paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang
ia lewati.”
Inilah
keadaan Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu. Sampai-sampai ada yang
meriwayatkan karena begitu dimanjakannya oleh ibunya, ketika Mush’ab
bangun tidur, makan sudah ada di dekatnya.
Kaum
muslimin pemuda-pemuda Islam rahimakumullah,
Di
tengah-tengah keadaan yang berkecukupan tersebut, Mush’ab mendengar
dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Ia pun menerima dakwah tersebut. Secara
sembunyi-sembunyi ia mempelajari agama yang mulia ini.
Suatu
hari ada seseorang yang bernama Utsman bin Thalhah, melihat Mush’ab bin
Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa
yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam
kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui
putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa
bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta
terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang
dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.
Ini
adalah cobaan pertama baginya. Seorang anak yang baik tentu tidak tega melihat
ibu yang sangat menyayanginya menderita. Demikian pula Mush’ab, ia sangat
bersedih melihat ibunya menderita menyiksa diri.
Kesulitan
berikutnya adalah ia diisolasi dari pergaulannya dan semua kenikmatan yang ia
rasakan diputus, distop oleh ibunya. Jadilah Mush’ab seorang yang miskin
tak berpunya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya.
Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus. Ia tidak bisa melarikan
diri, karena semua lingkungan Mekah akan menangkap dan menyiksa orang-orang
yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Dalam
keadaan tersebut, Mush’ab tetap memegang teguh tauhid yang menghujam di
dadanya. Ia tidak melepaskan nikmatnya keimanan yang ia rasakan untuk ditukar
dengan kenikmatan duniawi yang juga pernah ia alami. Demikianlah nikmatnya
keimanan, ia lebih nikmat dari kenikmatan duniawi lainnya.
Memang
demikianlah keimanan ketika cahayanya telah menyentuh hati. Tidak seorang pun
membencinya. Memang demikianlah keimanan, ketika kenikmatannya telah dirasakan
tidak ada seorang pun yang rela melepaskannya. Salah seorang ulama ada yang
mengatakan,
لو يعلم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فيه لجالدونا عليه بالسيوف.
“Seandainya
para raja dan putra-putra mahkota mengetahui apa yang kami rasakan, niscaya
mereka akan merampasnya dengan pedang.”
Sampai
akhirnya ia mengikuti perintah hijrah dari Mekah menuju Madinah.
Berubahlah
kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia
nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib
berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah ﷺ di masjid.
Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar
dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau pun menangis teringat
akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan
dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi).
Zubair
bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba,
lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang
kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu
ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik
tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab
tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan
memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda
Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi
menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim).
Mush’ab
berjuang demi kepentingan Islam dan kaum muslimin. ia termasuk sahabat yang
utama. Memiliki kecerdasan dan pemahaman yang baik. Karena itu, Rasulullah ﷺ
mengutusnya berdakwah ke Madinah. Hingga penduduk Madinah memeluk Islam dan
menjadi tempat hijrah kaum muslimin. Jadi, kenikmatan Kota Madinah, suasana
islami, ketenangan, dan kekhusyuan yang ada di sana yang kita rasakan saat haji
maupun umrah adalah buah dakwah dari Mush’ab bin Umair radhiallahu
‘anhu.
Pendek
cerita, akhirnya tibalah masa-masa akhir kehidupan Mush’ab bin Umair
radhiallahu ‘anhu. Pada tahun ke-3 H, terjadilah Perang Uhud.
Mush’ab ditugaskan memegang bendera umat Islam dalam peperangan. Saat
itulah ajal menjemputnya.
Datanglah
seorang penunggang kudak dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah
al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas
tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab
membaca ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ
“Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Bendera
pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan
menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut
di dadanya sambal membaca ayat yang sama:
وَمَا
مُحَمَّدٌ
إِلَّا
رَسُولٌ قَدْ
خَلَتْ مِنْ
قَبْلِهِ
الرُّسُلُ ۚ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh
telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Kemudian
anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut.
Setelah
perang usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksa
sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang
Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari
sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang
syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan
kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:
مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ
رِجَالٌ
صَدَقُوا مَا
عَاهَدُوا
اللَّهَ
عَلَيْهِ ۖ
فَمِنْهُمْ
مَنْ قَضَىٰ
نَحْبَهُ
وَمِنْهُمْ
مَنْ
يَنْتَظِرُ ۖ
وَمَا
بَدَّلُوا
تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang
menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada
yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka
tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).
Kemudian
beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di
sisi Allah.
Setelah
itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu
ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi
penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain
burdah.”
Tak
sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah.
Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila
ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda,
“Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput
idkhir.”
Mush’ab
wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أما
بعد:
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى .
Ibadallah,
Dari
kisah Mush’ab bin Umair ini kita dapat memetik pelajaran yang sangat
banyak. Bagaima seorang pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan bisa lupa dan
menyadari bahwa itu bukanlah kenikmatan yang ia cari.
Bagi
Anda yang merasakan berbagai kenikmatan dari Allah melalui orang tua Anda. Anda
Allah anugerahkan penampilan yang menarik. Membawa kendaraan yang mewah. Tempat
tinggal yang nyaman. Dan fasilitas lainnya. Jangan sampai hal itu membuat Anda
terlena. Jangan sampai Anda merasa itulah puncak kenikmatan yang tak bisa
ditukar dengan apapun. Jangan sampai Anda merasa bahwa mempelajari agama Anda
yang mulia tidaklah penting, tidaklah membawa manfaat pada keidupan Anda.
Bagi
Anda yang tidak merasakan kenikmatan dunia sebagaimana yang dirasakan oleh
Mush’ab bin Umair, pertanyaannya adalah bagaimana dunia bisa menipu Anda?
Apa yang telah dijanjikan dunia sehingga siang-malam Anda mengejarnya?
Khotib
tidak mengajak kita hidup dalam kemiskinan dan meninggalkan kekayaan yang kita
rasakan. Umat Islam butuh materi. Namun materi itu jangan sampai menjadi tujuan
akhir. Tujuan akhir kita adalah kampung halaman kita. Kampung akhirat yang
abadi. Yang telah dijanjikan Allah ﷻ bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
وَاعْلَمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ أَنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾[الأحزاب:56]، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((من صلَّى عليَّ صلاة صلى الله عليه بها عشرا)) اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللّٰهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ
مِنْ
سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ
الأَعْمَالِ
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللّٰهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى.
اَللّٰهُمَّ
اهْدِنَا
وَسَدِّدْنَا.
اَللّٰهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَناَ
اَلَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِيْ
فِيْهَا
مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ،
يَا مُقَلِّبَ
القُلُوْبِ
ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا
عَلَى
دِيْنِكَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ، دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ، عَلَانِيَتَهُ
وَسِرَّهُ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ
اللهِ..
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com