Adaptasi dari bulletin Al Hujjah,
Risalah No: 45 / Thn IV / Muharram / 1423H
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
Jama’ah jum’ah rahimani wa rahimakumullah…
Berkata sebagian kaum Muslimin :
"Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang
agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa
ketempat yang sejuk." Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang
selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: "Perbedaan
pendapat pada umatku adalah rahmat" Benarkah ungkapan ini? benarkah
Rasulullah mengucapkan hadits tersebut?
Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut??
Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata:
"Hadits tersebut tidak ada asalnya". [Adh-Dha’ifah :II \
76-85]. Imam As-Subki berkata:
"Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya
baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).". Syaikh
Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: "ini adalah hadits bathil dan
kebohongan." [Ushul Al-Bida’]
Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh
para ulama.
Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam
Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits:
"Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu
adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin
dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan
perselisihan, rahmat dan adzhab."
Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut
terhadap Islam ??
1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam
Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah
tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa
panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode)
yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada
persatuan Islam dengan berkata: "Biarkanlah kaum muslimin dengan
keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya
masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan
yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang
pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda:
" Perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat."
Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan
tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum
muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam
Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu.
Seperti Firman Allah dalam:
وَلَا
تَنَازَعُوا
فَتَفْشَلُوا
وَتَذْهَبَ
رِيحُكُمْ
"Jangan kamu berselisih, karena kamu akan
menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu." [Al-Anfal ayat 46]
وَلَا
تَكُونُوا
مِنَ
الْمُشْرِكِينَ،
مِنَ
الَّذِينَ
فَرَّقُوا
دِينَهُمْ
وَكَانُوا
شِيَعًا كُلُّ
حِزْبٍ بِمَا
لَدَيْهِمْ
فَرِحُونَ
"Jangan kamu seperti orang-orang yang
musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan
setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."
[Ar-Rum ayat 31-32]
وَلَا
يَزَالُونَ
مُخْتَلِفِينَ،
إِلَّا مَنْ
رَحِمَ
رَبُّكَ
"Mereka terus-menerus berselisih kecuali
orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu." [Hud ayat: 118-119]
Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala
untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah
dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am
ayat: 153:
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلَا
تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ
ذَلِكُمْ
وَصَّاكُمْ
بِهِ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
"Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini
adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa."
Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk
bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya
membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di
tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’
ayat 59
فَإِنْ
تَنَازَعْتُمْ
فِي شَيْءٍ
فَرُدُّوهُ
إِلَى
اللَّهِ
وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ
تُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
ذَلِكَ
خَيْرٌ
وَأَحْسَنُ
تَأْوِيلًا
yang artinya: " Jika kamu berselisih
pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu
lebih utama dan lebih baik akibatnya."
2. Kaum muslimin tidak
lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim
Syaikh Al-Albani berkata: "Diantara dampak
buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya
perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali
berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits."
[Adh-Dha’ifah: I/76]
Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad
Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya:
وَقَالَ
الرَّسُولُ
يَا رَبِّ
إِنَّ قَوْمِي
اتَّخَذُوا
هَذَا
الْقُرْآنَ
مَهْجُورًا
"Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku,
sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan." [QS.
Al-Furqan: 30]. Sungguh hal itu terulang kembali
di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.
Jama’ah jum’ah rahimani wa rahimakumullah…
3. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik
yang jaya di atas umat yang lainnya.
ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi
dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang
muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik,
kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut.
Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya
adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat
ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan
syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam
surat Ali-’Imran ayat:110
كُنْتُمْ
خَيْرَ
أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ
وَتَنْهَوْنَ
عَنِ
الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ
yang artinya: "Kamu adalah umat terbaik
yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah
dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
4. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi,
karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.
Rasulullah bersabda :
مَنْ
كَذَبَ
عَلَيَّ
فَلْيَتَبَوَّأْ
مَقْعَدَهُ
مِنْ
النَّارِ
"Barang siapa
berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya
dari api neraka" [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut
orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian
pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah
yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah
seburuk-buruk perkataan.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
أَنْزَلَ
عَلَى
عَبْدِهِ
الْكِتَابَ
وَلَمْ يَجْعَلْ
لَهُ عِوَجًا
،أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ
عَلَى
سَيِّدِ
الْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ؛ ؛
فَيَا
عِبَادَ
اللهِ!
إِتَّقُوْا
اللهَ حَقَّ
تُقَا تِهِ
وَلاَ تَمُوْ
تُنَّ إِلاَّ
وَأَنْـتُمْ
مُسْلِمُوْنَ.
وَقَدْ فَازَ
اْلمُتَّـقُوْن
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ.
Jama’ah jum’ah rahimani wa rahimakumullah…
5. Meninggalkan perintah Allah
Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu
tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan
haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu,
maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan
setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman
:
"Jika kamu berselisih
pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah)
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu
lebih utama dan lebih baik akibatnya" [An-Nisa:59]
6. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta
membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam
Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya "ushul
bida" mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan
kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu
tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan
Allah berfirman :
وَلَا
تَنَازَعُوا
فَتَفْشَلُوا
وَتَذْهَبَ
رِيحُكُمْ
"Jangan kamu berselisih, karena kamu akan
menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu." [Al-Anfal: 46]
Simaklah firman Allah kepada Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :
وَلَوْ
تَقَوَّلَ
عَلَيْنَا
بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ،
لَأَخَذْنَا
مِنْهُ
بِالْيَمِينِ،
ثُمَّ
لَقَطَعْنَا
مِنْهُ
الْوَتِينَ
"Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan
sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia
pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali
jantungnya" [QS. Al-Haqqah : 44 - 46]
Tukang mengada-ada atas nama Allah dan
Rasul-Nya. Para
pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar
hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci. Tidakkah mereka
takut akan ayat di atas ? ?
Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah
mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia
telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang
yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari
dosa.
Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya
dalam ayat tersebut dengan berfirman: "Kami potongan tali urat
jantungnya". Lalu apakah MEREKA
merasa aman ???
Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata :
"Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan
kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparakn kebaikan. Sebab melakukan
kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa
sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan
berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari
Allah." [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah
dalam "Al-Baits :127"]
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا.
اللَّهُمَّ
إِنّاَ
نَعُوذُ بِكَ
مِنْ عِلْمٍ
لَا
يَنْفَعُ،
وَمِنْ
قَلْبٍ لَا
يَخْشَعُ، وَمِنْ
نَفْسٍ لَا
تَشْبَعُ،
وَمِنْ
دُعَاءٍ لَا
يُسْمَعُ.
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبِ الْعَالَمِيْنَ.
Maraji’:
Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]
Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad
Nasyaruddin Al-Albani] dan sumber-sumber lainnya