
DUA HUJAN
YANG MENJADI SUMBER KEHIDUPAN
October 24, 2011
Khutbah Jumat Pertama
الْحَمْدُ
لِلهِ حَمْداً
كَثِيراً
طَيِّباً
مُبَارَكاً
فِيْهِ كَمَا
يُحِبُّ
رَبُّنَا
وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ،
صَلَوَاتُ
رَبِّي
وَسَلاَمُهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ
Amma
ba’du,
Wahai umat
Islam yang ada di tanah suci! Wahai umat Islam yang ada di belahan bumi bagian
timur dan bagian barat! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala,
taat kepada-Nya, bertaubatlah kepada-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya. Karena
takwa adalah pakaian terbaik.
وَلِبَاسُ
التَّقْوَى
ذَلِكَ
خَيْرٌ
Dan
pakaian takwa itulah yang paling baik. (Q.s. Al-A’raf: 26)
Dan orang
yang bertakwa adalah orang yang paling baik.
إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ
عِندَ اللهِ
أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu.
(Q.s. Al-Hujurat: 13)
Barangsiapa
yang menginginkan kejayaan dan keberuntungan, menghendaki kebaikan dan
keshalihan, dan mengharapkan bimbingan dan kesuksesan, ia harus bertakwa kepada
Allah Subhanahu Wata’ala. Takwa kepada Allah adalah jalan keluar dari
segala kesulitan dan celah keselamatan dari segala himpitan. Takwa kepada Allah
adalah pengaman dari bencana dan penyelamat dari petaka. Takwa kepada Allah Subhanahu
Wata’ala adalah pelindung dari fitnah dan pembebas dari musibah.
Ingat,
sesungguhnya takwa adalah kejayaan dan kemuliaan
Dan cinta Anda pada dunia adalah kekalahan dan penderitaan
Seorang hamba yang bertakwa tidak punya satu pun kekurangan
Jika ia bisa benar-benar bertakwa, meskipun ia berprofesi sebagai tukang
jahit atau tukang bekam
Ayyuhal muslimun! Sesungguhnya Allah Subhanahu
Wata’ala menciptakan anda untuk tujuan sangat penting dan perkara yang
sangat besar, yaitu mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman,
وَمَاخَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَاْلإِنسَ
إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.s. Adz-Dzariat: 56)
Siapakah
yang menciptakan anda selain Allah? Siapakah yang menjamin rezeki Anda selain
Allah? Siapakah yang memelihara sepanjang malam dan siang hari selain Allah?
Sungguh
aneh, bagaimana mungkin Tuhan didurhakai
Atau bagaimana mungkin Dia diingkari oleh seseorang
Padahal dalam setiap gerakan dan diam
Selalu ada saksi yang bersaksi untuk Allah
Dan pada segala sesuatu ada tanda-tanda bagi-Nya
Yang menunjukkan bahwa Dia Mahaesa
Ibadallah! Jangan sekali-kali anda lalai pada
rahasia ciptaan Allah di dalam hidup ini. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman,
فَلاَ
تَغُرَّنَّكُمُ
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
وَلاَيَغُرَّنَّكُمْ
بِاللهِ
الْغُرُورُ
Maka
sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali
janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Q.s. Fathir: 5)
Sungguh,
demi Allah, jika manusia mengetahui untuk apa mereka diciptakan
Niscaya mereka tidak bisa berbaring dan tidur dengan nyenyak
Sungguh mereka diciptakan untuk suatu urusan
Jika mata hati mereka melihatnya
Niscaya mereka akan bingung dan linglung
Kematian, kuburan, lalu berkumpul di padang mahsyar
Lalu teguran dan huru-hara yang maha dahsyat
Manusia telah berbuat untuk mengantisipasi Hari Kiamat
Mereka menunaikan shalat dan puasa karena takut padanya
Sementara jika kita diperintah atau dicegah
Kita seperti Ashabul Kahfi terjaga tapi tidur
Wahai
hamba-hamba Allah, Ibadallah! Sesungguhnya Allah melimpahkan nikmat-Nya
kepada hamba-hamba-Nya agar dapat membantu mereka dalam beribadah dan
mendekatkan diri kepada-Nya. Tapi jika mereka menggunakannya untuk durhaka
kepada-Nya, mengabaikan hak-hak-Nya, melalaikan perintah-perintah-Nya, dan
meremehkan larangan-larangan-Nya, Allah akan mengubah keadaan mereka, sebagai
balasan yang setimpal. Dan Allah tidak pernah berlaku zalim kepada
hamba-hamba-Nya.
إِنَّ
اللهَ
لاَيُغَيِّرُ
مَابِقَوْمٍ
حَتَّى
يُغَيِّرُوا
مَابِأَنفُسِهِمْ
وَإِذَآ
أَرَادَ
اللهُ
بِقَوْمٍ
سُوءًا فَلاَ
مَرَدَّ لَهُ
وَمَالَهُم
مِّن دُونِهِ
مِنْ وَالٍ
Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.s. Ar-Ra’du: 11)
ذَلِكَ
بِأَنَّ
اللهَ لَمْ
يَكُ
مُغَيِّرًا
نِّعْمَةً
أَنْعَمَهَا
عَلَى قَوْمٍ
حَتَّى
يُغَيِّرُوا
مَابِأَنفُسِهِمْ
وَأَنَّ
اللهَ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Yang
demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan
merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, pada
diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha
Pengetahui.
(Q.s. Al-Anfal: 53)
Jika
manusia merubah ketaatan dengan kemaksiatan, kebenaran dengan kebatilan,
kebaikan dengan kemungkaran maka Allah akan merubah kekayaan mereka dengan
kemiskinan, kemuliaan dengan kehinaan, kekuatan dengan kelemahan dan kekalahan,
ilmu pengetahuan dengan kebodohan, keamanan dengan ketakutan, kebahagiaan
dengan kegelisahan dan kerisauan, kenikmatan dengan hukuman, hujan dengan
kekeringan, kemudahan dengan kesulitan.
Setiap
bencana yang turun dari Allah tentu akibat perbuatan dosa, kelalaian dalam menjalankan
kewajiban, kedurhakaan kepada Allah, dan memperturutkan hawa nafsu. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman,
وَمَآأَصَابَكُم
مِّن
مُّصِيبَةٍ
فَبِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِيكُمْ
وَيَعْفُوا
عَن كَثِيرٍ
Dan apa
saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Q.s. Asy-Syuraa: 30)
أَوَلَمَّآأَصَابَتْكُم
مُّصِيبَةُُ
قَدْ
أَصَبْتُم
مِّثْلَيْهَا
قُلْتُمْ
أَنَّى هَذَا
قُلْ هُوَ
مِنْ عِندِ
أَنفُسِكُمْ
إِنَّ اللهَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرُُ
Dan
mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah
menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan
Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini” Katakanlah, “Itu
dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu. (Q.s.
Ali-Imran: 165)
Kurangnya hujan, keringnya sumber air, maraknya kekeringan,
kelaparan dan kemiskinan yang menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia
tidak lain disebabkan karena dosa-dosa mereka, maraknya kemaksiatan di antara
mereka, dan banyaknya kemungkaran di dalam masyarakat. Maka kesulitan, bencana,
kekeringan, dan kelaparan yang menimpa mereka tidak bisa dihilangkan kecuali
dengan membimbing mereka ke jalan Tuhan, mengajak mereka kembali kepada agama,
bertobat dan memperbanyak istigfar untuk memohon ampun atas kelalaian mereka.
Wahai umat
Islam! Allah Subhanahu Wata’ala telah menurunkan dua macam hujan kepada
manusia.
Hujan yang pertama adalah hujan hati dan
ruhani. Yaitu dengan menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam. Hujan ini adalah sumber kehidupan hati dan kejernihan
ruhani, di samping menjadi penentu kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Hujan
inilah yang sejatinya dari diri manusia sekarang. Bahkan kebutuhan mereka akan
hujan ini jauh lebih penting dan lebih besar dibanding hujan jenis kedua, yaitu
hujan air ke bumi.
Ayyuhal muslimun! Anda semua keluar dari
rumah untuk meminta hujan kepada Tuhan. Sesungguhnya sudah sepatutnya
kita lebih memperhatikan hujan hati dan ruhani. Karena hujan jenis inilah yang
menentukan kebahagiaan hidup kita di dunia dan di akhirat, serta keberhasilan
kita mendapatkan hujan yang lain. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ
الْقُرَى
ءَامَنُوا
وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِم
بَرَكَاتٍ
مِّنَ
السَّمَآءِ
وَاْلأَرْضِ
Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Q.s. Al-A’raf: 96)
Ibadallah! Terhentinya kuncuran air dari
langit antara lain disebabkan karena kelalaian manusia dalam menjalankan
ketaatan kepada Tuhan, kekerasan hati mereka akibat tumpukan noda-noda dosa dan
maksiat, ketidak seriusan mereka dalam menunaikan iman dan takwa, serta kealpaan
mereka dalam menunaikan shalat dan zakat.
Hal ini
yang menghambat turunnya hujan adalah keengganan banyak orang untuk bertobat
dan memohon ampun kepada Allah. Dan kedua hal ini merupakan faktor terpenting
yang memudahkan turunnya hujan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman
melalui Nuh ‘Alaihissalam.
فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا
رَبَّكُمْ
إِنَّهُ
كَانَ
غَفَّارًا
يُرْسِلِ
السَّمَآءَ عَلَيْكُم
مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم
بِأَمْوَالٍ
وَبَنِينَ
وَيَجْعَل
لَّكُمْ جَنَّاتٍ
وَيَجْعَل
لَّكُمْ
أَنْهَارًا
Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada
Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan
kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan
untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Q.s. Nuh: 12)
Dan Allah
berfirman melalui Hud ‘Alaihissalam,
وَيَاقَوْمِ
اسْتَغْفِرُوا
رَبَّكُمْ ثُمَّ
تُوبُوا
إِلَيْهِ
يُرْسِلِ
السَّمَآءَ
عَلَيْكُم
مِّدْرَارًا
وَيَزِدْكُمْ
قُوَّةً
إِلَى
قُوَّتِكُمْ
وَلاَتَتَوَلُّوا
مُجْرِمِينَ
Dan (dia
berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, lalu tobatlah kepada-Nya,
niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan
kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (Q.s. Hud: 52)
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu
Wata’ala. Ketahuilah bahwa minta hujan tidak bisa dilakukan hanya dengan
mengandalkan hati yang lalai dan akal yang alpa. Upaya ini menuntut adanya
pembaharuan kontrak dengan Allah, pembukaan lembaran kehidupan yang baru yang
dipenuhi ketaatan dan jauh dari kemaksiatan, serta perbaikan menyeluruh dalam
segala aspek kehidupan. Karena kebutuhan umat untuk meminta pertolongan melalui
perbuatan dan karya nyata tidak lebih kecil dari pada kebutuhannya untuk
meminta pertolongan melalui ucapan dan doa.
Tetapi
meskipun ada banyak kecerobohan yang dilakukan, ampunan Allah sangatlah luas.
Rahmat Allah meliputi segala sesuatu dan ampunannya meliputi semua orang yang
bertobat. Setiap ada perkara yang sempit, Allah selalu menyediakan jalan keluar
darinya. Dan setiap ada masalah yang berat, Allah selalu menyediakan peluang
untuk meringankannya. Allah selalu mengundang Anda untuk bertobat dan kembali
ke jalan yang benar. Dan dia selalu meminta Anda untuk memanjatkan doa dan
memohon ampun.
Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman,
قُلْ
يَاعِبَادِي
الَّذِينَ
أَسْرَفُوا عَلَى
أَنفُسِهِمْ
لاَتَقْنَطُوا
مِن رَّحْمَةِ
اللهِ إِنَّ
اللهَ
يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ
جَمِيعًا
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ
وَأَنِيبُوا
إِلَى
رَبِّكُمْ
وَأَسْلِمُوا
لَهُ مِن
قَبْلِ أَن
يَأْتِيَكُمُ
الْعَذَابُ
ثُمَّ
لاَتُنصَرُونَ
Katakanlah,
“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya
sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (Q.s. Az-Zumar: 54)
وَإِنِّي
لَغَفَّارٌ
لِّمَن تَابَ
وَءَامَنَ
وَعَمِلَ صَالِحًا
ثُمَّ
اهْتَدَى
Dan
sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal
saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Q.s. Thahaa: 82)
أَمَّن
يُجِيبُ
الْمُضْطَرَّ
إِذَا دَعَاهُ
وَيَكْشِفُ
السَّوءَ
وَيَجْعَلُكُمْ
خُلَفَآءَ
اْلأَرْضِ
أَءِلَهٌ
مَّعَ اللهِ
قَلِيلاً
مَّاتَذَكَّرُونَ
Atau
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia)
sebagai khalifah di bumi?Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Amat
sedikitlah kamu mengingati(Nya). (Q.s. An-Naml: 62)
وَقَالَ
رَبُّكُمُ
ادْعُونِي
أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan
Rabb-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. (Q.s. Al-Mu’min: 60)
وَإِذَا
سَأَلَكَ
عِبَادِي
عَنِّي
فَإِنِّي
قَرِيبٌ
أُجِيبُ دَعْوَةَ
الدَّاعِ
إِذَا
دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيبُوا
لِي
وَلْيُؤْمِنُوا
بِي لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ
Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa
apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.
(Q.s. Al-Baqarah: 186)
ادْعُوا
رَبَّكُمْ
تَضَرُّعًا
وَخُفْيَةً
إِنَّهُ
لاَيُحِبُّ
الْمُعْتَدِينَ
وَلاَتُفْسِدُوا
فِي
اْلأَرْضِ
بَعْدَ إِصْلاَحِهَا
وَادْعُوهُ
خَوْفًا
وَطَمَعًا إِنَّ
رَحْمَتَ
اللهِ
قَرِيبٌ
مِّنَ
الْمُحْسِنِينَ
Berdoalah
kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya
dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.s. Al-A’raf: 55-56)
وَهُوَالَّذِي
يُنَزِّلُ
الْغَيْثَ
مِن بَعْدِ
مَاقَنَطُوا
وَيَنشُرُ
رَحْمَتَهُ وَهُوَ
الْوَلِيُّ
الْحَمِيدُ
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa
dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. (Q.s. Asy-Syura: 28)
أَفَرَءَيْتُمُ
الْمَآءَ
الَّذِي
تَشْرَبُون
ءَأَنتُمْ
أَنزَلْتُمُوهُ
مِنَ الْمُزْنِ
أَمْ نَحْنُ
الْمُنزِلُونَ
لَوْ نَشَآءُ
جَعَلْنَاهُ
أُجَاجًا
فَلَوْلاَ
تَشْكُرُونَ
Maka
terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya
dari awan ataukah Kami yang menurunkan, Kalau kami kehendaki niscaya Kami
jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur (Q.s. Al-Waqi’ah: 70)
قُلْ
أَرَءَيْتُمْ
إِنْ
أَصْبَحَ
مَآؤُكُمْ
غَوْرًا
فَمَن
يَأْتِيكُم
بِمَآءٍ مَّعِينٍ
Katakanlah,
“Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang
akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (Q.s. Al-Mulk: 30)
وَنَزَّلْنَا
مِنَ
السَّمَآءِ
مَآءً مُبَارَكًا
فَأَنبَتْنَا
بِهِ
جَنَّاتٍ
وَحَبَّ
الْحَصِيدِ وَالنَّخْلَ
بَاسِقَاتٍ
لَّهَا
طَلْعٌ نَّضِيدٌ
رِزْقًا
لِلْعِبَادِ
وَأَحْيَيْنَا
بِهِ
بَلْدَةً
مَّيْتًا
كَذَلِكَ
الْخُرُوجُ
Dan Kami
turunkan dari langit air yang banyak manf’atnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air
itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, Dan pohon kurma yang
tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, Untuk menjadi rezeki
bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati
(kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan. (Q.s. Qaaf: 9-11)
وَأَرْسَلْنَا
الرِّيَاحَ
لَوَاقِحَ
فَأَنزَلْنَا
مِنَ
السَّمَآءِ
مَآءً
فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ
وَمَآأَنتُمْ
لَهُ بِخَازِنِينَ
Dan Kami
telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan
hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu,dan sekali-kali
bukanlah kamu yang menyimpannya. (Q.s. Al-Hijr: 22)
وَهُوَ
الَّذِي
أَرْسَلَ
الرِّيَاحَ
بُشْرًا بَيْنَ
يَدَيْ
رَحْمَتِهِ
وَأَنزَلْنَا
مِنَ
السَّمَآءِ
مَآءً
طَهُورًا
لِّنُحْيِىَ
بِهِ
بَلْدَةً
مَّيْتًا
وَنُسْقِيَهُ
مِمَّا
خَلَقْنَآ
أَنْعَامًا
وَأَنَاسِيَّ
كَثِيرًا
وَلَقَدْ
صَرَّفْنَاهُ
بَيْنَهُمْ
لِيَذَّكَّرُوا
فَأَبَى
أَكْثَرُ النِّاسِ
إِلاَّ
كَفُورًا
Dialah
yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, Agar
Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami
memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami,
binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah
mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran
(daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari
(nikmat). (Q.s.
Al-Furqan: 50)
Ayyuhal ikhwah fillah ! Setiap kali Allah Subhanahu
Wata’ala menimpakan musibah atau cobaan kepada penduduk bumi, sesungguhnya Dia
ingin mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang
dusta. Dan Allah Subhanahu Wata’ala juga hendak melihat siapa di antara
mereka yang mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
بارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah Jumat Kedua
الْحَمْدُ
لِلهِ
حَمْداً
كَثِيراً
طَيِّباً
مُبَارَكاً
فِيْهِ كَمَا
يُحِبُّ
رَبُّنَا
وَيَرْضَى،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
صَلَوَاتُ
رَبِّي
وَسَلاَمُهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ
Amma
ba’du:
Ibadallah! Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam mengajarkan bahwa sesudah meminta hujan kepada Tuhan, Nabi membalik
jubahnya. Maka, baliklah jubah Anda dalam rangka meneladani Sunnah Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wata’ala berkenan
membalik keadaan Anda; dari sulit menjadi mudah, kekeringan menjadi hujan. Dan
semoga hal itu juga menjadi lambang dan janji pada diri sendiri untuk merubah
pakaian batin anda menjadi pakaian iman dan takwa untuk menggantikan pakaian
dosa dan maksiat.
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
Dikutip
dari buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA
Al-Fitrah, Surabaya. Disalin dari alsofwah.or.id dengan beberapa penyuntingan
oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com