Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَتَمَّ لَنَا النِعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا أُمَّةَ الإِسْلَامِ خَيْرُ أُمَّةٍ، هَدَى مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ إِلَى دِيْنِهِ القَوِيْمُ، وَأَكْرَمَ مَنْ أَكْرَمَ مِنْهُمْ بِلُزُوْمِ صِرَاطِهِ المُسْتَقِيْمِ، لَهُ جَلَّ وَعَلَا اَلْحَمْدُ أَوَّلاً وَآخِرًا، وَلَهُ الشُكْرُ ظَاهِراً وَبَاطِنًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ، وَمَا تَرَكَ خَيْراً إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرّاً إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرِ
أُمُوْرِ دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
Ibadallah,
Sebaik-baik
waktu yang dihabiskan seorang hamba dalam kehidupan dunia ini adalah waktu yang
ia luangkan untuk mempelajari ilmu agama. Untuk mengenal Allah dan mengenal
agama-Nya. Memperhatikan, mengkaji, menghafal sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
untuk kemudian diamalkan dan didakwahkan. Dan inilah tujuan Allah Tabaraka wa Ta’ala
menciptakan manusia.
Ibadallah,
Imam
at-Tirmidzi dan selain beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin
Mas’ud radhiallahu
‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
نَضَّرَ
اللَّهُ
امْرَأً
سَمِعَ
مَقَالَتِي
فَوَعَاهَا
وَحَفِظَهَا
وَبَلَّغَهَا
، فَرُبَّ
حَامِلِ
فِقْهٍ إِلَى
مَنْ هُوَ أَفْقَهُ
مِنْهُ ،
ثَلَاثٌ لَا
يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ
قَلْبُ
مُسْلِمٍ :
إِخْلَاصُ
الْعَمَلِ
لِلَّهِ ،
وَمُنَاصَحَةُ
أَئِمَّةِ
الْمُسْلِمِينَ
، وَلُزُومُ
جَمَاعَتِهِمْ
، فَإِنَّ
الدَّعْوَةَ
تُحِيطُ مِنْ
وَرَائِهِمْ
“Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang
mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya.
Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham
darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya:
mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang
kepada jamaah mereka karena doa mereka meliputi dari belakang mereka.”
Ibadallah,
Hadits
ini diriwayatkan lebih dari satu orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada
sekitar 20 orang sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits ini.
Renungkanlah
dengan mendalam pelajaran dari hadits ini. Renungkanlah seruan yang penuh
berkah yang diserukan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bagi orang-orang yang menghafalkan sabda
beliau. Orang yang mendengarkan hadits, kemudian memahaminya, dan menyampaikannya
sebagaimana yang ia dengar dan kadar yang ia pahami,, maka akan Allah berikan
cahaya di wajahnya.
Apabila
Anda ingin menjadi kelompok Nabi dan sukses menghadapi tantatang kehidupan di
abad 15 H ini, maka renungilah hadits Nabi berikut ini. Kemudian menyambut
seruannya itu, seruan sebaik-baik manusia, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ayyuhal
mukminun,
Bukankah
kita sangat butuh agar Allah menerangi wajah kita? Bukankah kita sangat
menginginkan termasuk golongan yang disebutkan Nabi dalam hadits ini?
Makna
dari kalimat “Semoga Allah memberikan nudhrah
(cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku” adalah Allah
menjadikan wajah seseorang bercahaya, menarik, dan berwibawa. Menarik secara kasat
mata maupun secara batinnya. Menarik secara batinnya adalah pemiliknya
menghiasi diri dengan indahnya sunnah, berpegang teguh dengannya, dan
menghafalkannya. Dan keindahan dari dalam ini merupakan sebuah keberkahan yang
merupakan buah dari penerimaannya terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan berpegang teguh dengannya.
Kemudian
sabda beliau ini “Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang
mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya”.
Adalah empat kalimat yang Allah berikan manfaat yang begitu besar dengan
kalimat-kalimat tersebut. “Mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya,
menghafalnya, dan menyampaikannya”. Dari hadits ini para ulama mengambil
pelajaran:
Pertama: Seseorang harus mendengarkan sabda
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Ini
adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Seorang muslim harus memberikan
porsi waktu dalam kesehariannya untuk mendengarkan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tidak pantas bagi seorang muslim, melewati hari-hari atau bahkan bulan tanpa
meluangkan waktu untuk mendengarkan hadits Nabi dan mengambil pelajaran
darinya.
Kedua: Memahami hadits Nabi.
Jika
kita telah mendengarkan sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, maka bersemangatlah untuk memahaminya.
Bersungguh-sungguhlah memberi perhatian padanya dan memahaminya sesuai dengan
apa yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai penuturnya.
Ketiga: Menghafalnya.
Ketika
seseorang sudah mendengar, lalu memahaminya, maka tingkatan berikutnya adalah
menghafalkan hadits tersebut agar ia senantiasa tersimpan dalam pikiran.
Keempat: Menyampaikannya kepada orang lain.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengatakan “kemudian menyampaikannya”. Menghafal
hadits, memberikan perhatian padanya, dan menyampaikannya kepada orang lain
adalah bentuk penerimaan seseorang terhadap seruan Nabi dan kesuksesannya dalam
menyambut ajakan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Saudaraku
kaum muslimin,
Janganlah
kita mengatakan, “hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam itu banyak sekali, tidak mungkin bagi saya
untuk menghafalnya. Tidak ada kesempatan bagi saya untuk memberikan perhatian
padanya”. Yang demikian adalah tipuan setan. Wajib bagi kita bertakwa
kepada Allah sesuai dengan kemampuan kita. Hafalkanlah satu, dua, tiga, atau
bahkan sepuluh hadits. Bersungguh-sungguhlah untuk menghafalnya dan menaruh
perhatian kepadanya. Kita senantiasa dalam kebaikan selama kita melakukan yang
demikian. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyia-nyiakan hadits Nabi.
Ibadallah,
Kalimat
dari sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berikutnya yang haru kita renungi adalah,
ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
“Ada
tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat, dengki
dan keburukan), yaitu: (1) beramal dengan ikhlas karena Allah, (2) menasihati
ulil amri (penguasa), dan (3) berpegang teguh pada jamaah kaum muslimin, karena
doa mereka meliputi dari belakang mereka.”
Lihatlah
tiga kalimat yang disampaikan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Itulah pengarahan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bagi mereka yang ingin membersihkan hati. Beliau mengarahkan kita agar memberi
perhatian terhadap hadits dan menghafalkannya, lalu beliau iringi dengan tiga
hal yang bisa membuat hati menjadi bersih. Hafalkanlah ketiga wasiat ini dengan
kesungguhan. Fahamilah dengan pemahaman yang benar. Wajib bagi kita semua untuk
mengamalkan dan mempraktikkannya. Karena ketiga kalimat ini adalah rangkaian
dari hadits yang beliau perintahkan untuk menghafal dan mengamalkannya. Dan
beliau menyebutkan ganjarannya adalah Allah terangi wajah seseorang, baguskan
penampilannya, dan memberinya kewibawaan.
Renungkanlah
kalimat “tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari
khianat, dengki dan keburukan)”. Dalam kalimat ini terdapat isyarat bahwa
ada hati yang memiliki kebencian dan keburukan. Hati yang terdapat kedengkian
ketika berbicara, atau ketika diseru, dan dinasehati.
Misalnya,
di sebagian orang apabila dibacakan padanya sebuah hadits yang memerintahkan
untuk mendengar dan menaati pemerintah kaum mulimin, ia malas untuk
mendengarkan hadits tersebut. Padahal yang mengucapkan perkataan tersebut
adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang datang dengan membawa kebaikan dan
kebenaran.
Bagaimanakah
keadaan hati yang ketika mendengar hadits yang menyerukan untuk taat kepada
pemerintah mereka malah enggan memperhatikannya dan benci untuk mendengakannya?
Hati yang demikian adalah hati yang tinggi lagi sombong. Dan ini adalah bentuk
kedengkian yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan
demikian, ayyuhal mukminun, mari kita waspadai memiliki hati yang penuh dengan
kedengkian yang disabdakan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai hati yang tidak bersih atau kotor.
Cara menghilangkannya adalah dengan:
Pertama: Beramal dengan ikhlas karena Allah.
Hendaknya
seluruh amalan kita adalah amalan yang ikhlas untuk Allah bukan untuk
selain-Nya. Kita mengamalkan suatu amalan ketaatan semata-mata berharap wajah
Allah. Ikhlas adalah sesuatu yang bersih dan suci. Maka beramallah dengan
bersih dan suci dari tendensi-tendensi apapun.
Jangan
beramal karena ingin didengar atau ingin dilihat atau selainnya dari
ambisi-ambisi duniawi. Hendaknya kita beramal semata-mata berharap ganjaran
dari sisi Allah Jalla wa
‘Ala saja. Allah Ta’ala
berfirman,
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Dan
barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang
yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19).
Maksudnya
merekalah orang-orang yang diridhai dan diterima di sisi Allah Jalla wa ‘Ala.
Kedua: Menasihati ulil amri (penguasa).
Nasihat
adalah sesuatu yang diketahui dan dipahami. Nasihat itu didasari rasa cinta dan
kasih dari orang yang menasihati kepada yang dinasihati. Karena ia ingin
menunjuki orang yang dinasihati kepada jalan kebaikan. Nasihat itu tidak
mengandung rasa benci, dengki, dan hasad. Karena ia ingin memberikan taufik,
membimbing, memperbaiki, dan memberi petunjuk. Nasihat itu bukan mendoakan
kejelakan kepada yang dinasihati. Karena yang demikian adalah bentuk kedengkian
yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Oleh
karena itu, para ulama mengatakan, “Jika aku memiliki satu doa yang
mustajab, maka akan kugunakan untuk mendoakan pemimpin”. Tanda pengikut
sunnah pada diri seseorang adalah ia mendoakan kebaikan dan taufik kepada
pemimpin. Tanda seseorang itu adalah pengikut hawa nafsu dan bid’ah, ia
mendoakan kejelekan kepada pemimpin atau pemerintah.
Berhati-hati
dan waspadailah -wahai hamba Allah-, hal-hal yang demikian. Jadilah seseorang
yang menasihati kepada para penguasa dan mendoakan kebaikan, taufik, keteguhan,
dan hidayah untuk mereka. Dan menasihati mereka sesuai kadar kemampuan kita.
Kita taati mereka dalam kebaikan. Dan tidak menaati mereka ketika memerintahkan
kemaksiatan. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada
Allah Jalla wa ‘Ala
sang Khaliq.
Ketiga: Berpegang teguh pada jamaah kaum
muslimin.
Setia
kepada jamaah kaum muslimin tanpa mengkhianati mereka, atau membangkang kepada
mereka, atau mengadakan pemberontakan dan permusuhan terhadap mereka dengan
melakukan pembunuhan dan pengrusakan. Karena semua itu termasuk dalam keluar
dari persatuan umat Islam. Wajib bagi setiap muslim untuk berpegang teguh pada
jamaah kaum muslimin.
Perhatikanlah
sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam hadits ini “karena doa mereka
meliputi dari belakang mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyerupakan berpegang dengan jamaah kaum muslimin dengan benteng yang
melindungi kaum muslimin. Artinya, berpegang dengan jamaah berarti masuk ke
dalam benteng pelindung. Dan barangsiapa yang keluar dari jamaah umat Islam
seperti orang yang keluar dari benteng pelindung. Maka ia menjadi incaran bagi
para musuh dan mangsa bagi setan.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyabdakan “karena doa mereka meliputi dari belakang
mereka”. Apabila kita berpegang teguh dengan jamaah kaum muslimin, maka
doa yang artinya adalah Islam, akan menjaga kita. Dan makna dari doa ini juga
adalah doa yang diucapkan umat Islam –kepada saudaranya sesama muslim- di
masjid-masjid mereka, di shalat-shalat mereka, dan doa-doa mereka secara umum.
Perhatikanlah
hadits ini. Khotib memohon semoga Allah menjaga kita semua dan melindungki kita
dari fitnah yang nampak maupun yang tidak.
نَسْأَلُهُ بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ أَنْ لَا يَجْعَلَ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا ذَكَرَهُ رَسُوْلُنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَأَنْ يَجْعَلَ أَعْمَالَنَا لَهُ خَالِصَةً، وَأَنْ يُوَفِقَنَا لِلنَصِيْحَةِ لِوُلَاةِ أَمْرِنَا، وَأَنْ يُعِيْنَنَا عَلَى لُزُوْمِ جَمَاعَةِ المُسْلِمِيْنَ بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ الدُّعَاءِ وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
فَإِنَّ
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا
عِزٌّ
لِصَاحِبِهَا
وَفَلَاحٌ
لَهُ فِي
الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ.
Ibadallah,
Kita
saat ini tengah mengkaji dan merenungi sebuah hadits yang agung dari Rasul
kita, teladan kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Namun sangat disayangkan dan sesuatu yang
menyedihkan ketika kita melihat keadaan pemuda-pemuda Islam yang terjebak bujuk
rayu setan dan dilencengkannya dari jalan yang lurus. Mereka dengan sengaja
keluar dari jamaah kaum muslimin. Mereka melepaskan ikatan ketaatan dan
mengangkat senjata mereka. Mereka memerangi saudara mereka sesama Islam sebagai
bentuk pemberontakan.
Dimanakah
kedudukan hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ini di sisi mereka? Dimanakah posisi mereka
dalam bimibingan dan arahan Nabi? Bimbingan Nabi adalah jalan kemuliaan umat
Islam dan memperkuat kedudukan umat di dunia dan akhirat.
Ibadallah,
Bukankah
sebuah bentuk kezaliman, pemberontakan, dan permusuhan apa yang dilakukan
sebagian orang di negeri-negeri Islam. Mereka memerangi aparat pemerintah
polisi dan tentara. Mereka menyerang fasilitas umum, bahkan baru-baru ini
terjadi di Pakistan mereka menyerang dan membunuhi anak-anak sekolahan.
Dimanakan
nasihat untuk agama Allah? Dimanakah nasihat untuk hamba-hamba Allah? Dimanakah
orang yang bertakwa kepada Allah Jalla
wa ‘Ala di antara mereka? Dimanakah mereka dari Alquran dan
hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang memperingatkan tentang hal itu? Agama
apa yang mereka bawa? Jihad apa yang mereka maksud? Ketaatan kepada Allah
seperti apa yang mereka lakukan dengan perbuatan zalim dan pemberontakan
semisal itu?
Hanya
kepada Allah Jalla wa
‘Ala kita memohon agar Dia melindungi kaum muslimin dari
kejahatan mereka dan membersihkan negeri kita dari aksi-aksi orang-orang
berpemikiran serupa. Semoga Allah menjaga orang-orang yang beriman. Menjaga
keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman mereka. Semoga Allah menjaga agama
kita, dengan karunia dan rahmat dari-Nya. Karena Dia Maha Mendengar lagi Maha
mengabulkan.
Kita
memohon kepada Allah untuk memberi petunjuk orang-orang yang menyimpang dari
umat Islam menuju ke jalan dan pemahaman yang benar. Dan mengajarkan mereka
ilmu dan pemahaman yang lurus.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.اَللَّهُمّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى،
وَأَعِنْهُ
عَلَى
البِرِّ
وَالتَّقْوَى،
وَسَدِدْهُ
فِي أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ،
وَأَلْبِسْهُ
ثَوْبَ
الصِحَّةِ
وَالعَافِيَةِ،
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ
النَاصِحَةَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَاجْعَلْهُمْ
رَأْفَةً
وَرَحْمَةً
عَلَى
عِبَادَكَ
المُؤْمِنِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْهُمْ
فِي
العِرَاقِ
وَفِي فِلَسْطِيْنِ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ أيِّدْهُمْ
بِتَأْيِيْدِكَ،
اَللَّهُمَّ
ارْحَمْ
ضَعْفَهُمْ،
وَاجْبِرْ
كَسْرَهُمْ،
وَأَعِنْهُمْ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلَكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ اللَّهُمَّ
مِنْ
شُرُوْرِهِمْ.
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ .
(عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
). وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ
[العنكبوت:45].
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com