Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ وَعَلَا
هِيَ أَسَاسُ
الفَلَاحِ
وَعُنْوَانُ
السَعَادَةِ
فِي
الدُنْيَا
وَالآخِرَةِ،
وَتَقْوَى
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا أَنْ
يَعْمَلَ
العَبْدُ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
يَرْجُوْ
ثَوَابَ
اللهِ، وَأَنْ
يَتْرُكَ
مَعْصِيَةَ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ يَخَافُ
عِقَابَ
اللهِ.
Ibadallah,
Perbuatan
atau ibadah yang palign Allah cintai adalah tauhid. Dan dosa yang paling Allah
benci dan murkai adalah syirik. Syirik tidak hanya diartikan dengan seseorang
menyembah berhala atau mengakui adanya pencipta selain Allah. Ya, memang hal
ini adalah kesyirikan. Namun, kaum muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
kesyrikan memiliki arti can cakupan yang lebih luas daripada hanya sekedar
menyembah patung. Syirik itu adalah memalingkan ibadah, ibadah apapun untuk mencari
ridha, rasa suka, pujian, dan hal-hal lainnya kepada selain Allah, itulah sudah
termasuk syirik.
Meskipun
ibadah itu ditujukan kepada malaikat, orang sholeh, seorang nabi, wali, jin
atau pada batu berhala, kesemuanya sama-sama syirik. Sehingga jika ada yang
menyembelih dengan melakukan tumbal pada jin penjaga jembatan, maka ini pun
termasuk kesyirikan karena nusuk (penyembelihan) adalah suatu ibadah. Begitu
juga bergantungnya hati atau tawakkal adalah ibadah, sehingga jika seseorang
menggantungkan hati pada jimat, penglaris, rajah, wafaq, susuk dan pelet dengan
tujuan untuk kesaktian, membuat laris dagangan, atau menarik cinta, ini pun
termasuk kesyirikan. Namanya ibadah hanya boleh ditujukan pada Allah semata.
Inilah makna syirik yang patut kita pahami dengan baik.
Perbuatan-perbuatan
yang demikian, apapun ia dinamakan oleh orang sekarang, maka itu adalah
kesyirikan yang merupakn sebesar-besarnya dosa dan kemaksiatan.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Seorang
muslim wajib memiliki rasa kecemburuan dan ketidak-senangan ketika Allah
disekutukan. Ada perasaan marah di hatinya ketika ada manusia beribadah kepada
selain Allah. Ada rasa keinginan untuk menasihati dan mencegah pelaku
kesyirikan itu dengan cara-cara yang hikmah, agar ia berhenti dari
kesyirikannya. Atau mengingatkan orang lain dari kesyirikan yang dilakukan para
pelaku syirik.
Pada
hari ini, lihatlah, para dukun mendedahkan kesyirikan dengan mengiklankan diri
di televisi, baliho-baliho, koran-koran, majalah-majalah, dan lain-lain.
Hendaknya muncul rasa prihatin dalam wujud upaya melakukan menolaknya. Dimulai
dengan mengkaji apa itu tauhid dan apa itu syirik dengan segala bentuknya, lalu
mendakwahi keluarga, dan masyarakat.
Ibadallah,
Di
antara kecemburuan dan bentuk upaya menghilangkan kesyirikan adalah apa yang
dilakukan oleh seekor burung. Ya, seekor burung.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ﴿٢٠﴾لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ﴿٢١﴾فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ﴿٢٢﴾إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ﴿٢٣﴾وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ﴿٢٤﴾أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ﴿٢٥﴾اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Dan
dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak
melihat Hud-hud apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar
akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya
kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan (alasan) yang
terang”. Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata:
“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa
kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku
menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala
sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya
menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang
indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah),
sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Agar mereka tidak menyembah Allah Yang
mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa
yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang
berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai Arsy yang besar.” (QS.
An-Naml: 20-26).
Ibadallah,
Perhatikanlah
firman Allah Ta’ala ini, yang menjelaskan bagaiman seekor burung Hud-hud
tidak rela Allah disekutukan. Tergerak dari sebuah rasa kecemburuan terhadap
penyimpangan akidah dalam hati seekor burung, ketika ia merasa enggan melihat
seseorang bersujud dan menyembah kepada selain Allah. Yang mana hal tersebut
dilandasi dengan dasar ilmu bahwa penyembahan yang dilakukan kepada selain
Allah adalah perbuatan sia-sia dan merupakan kebinasaan. Inilah suatu kebenaran
yang nyata dan wajib untuk diketahui oleh semua orang.
(Kemudian timbul pertanyaan) bagaimana mereka bisa sujud kepada
selain Allah, menundukkan kepala-kepala mereka dan merendahkan (dengan rasa
hina) leher-leher mereka dihadapan mahluk-mahluk Allah? Semestinya
kepala-kepala dan leher harus terangkat, tubuh harus berdiri tegak di hadapan makhluk
Allah. Karena seluruh mahluk adalah sama derajatnya dihadapan Allah dalam
permasalahan ubudiyah (penghambaan) meskipun dalam masalah status derajat
kehidupan di dunia mereka berbeda. Kening itu tidak boleh ditundukkan kecuali
hanya kepada Allah saja, punggung tidak boleh dimiringkan dan ditundukan dengan
rasa hina kecuali hanya kepada Dzat Yang Maha Pemberi Kehidupan. Itulah
kemuliaan yang telah Allah berikan kepada manusia yang mulia. Ubudiyah
(peribadatan) bagi manusia adalah sebuah kedudukan yang tinggi dan tidaklah
dipilih hak dan pelaksanaan peribadatan itu kecuali oleh orang-orang yang
berilmu.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah diberikan penawaran oleh Allah ‘Azza wa Jalla
antara menjadi seorang Raja (penguasa) dan Rasul (utusan) atau sebagai seorang
Hamba dan Rasul (utusan). Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memilih sisi ubudiyah (penghambaan) yaitu
sebagai seorang hamba yang di utus, karena beliau mengetahui hakikat dari
ubudiyah, dan bagaimana mungkin beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak mengetahui hal tersebut sedangkan
beliau adalah sebagai orang yang mengajarkan Al-Hikmah (Alquran dan sunnah).
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Pada
hakikatnya burung Hud-hud ini adalah salah satu sosok makhluk Allah yang
beriman, artinya bahwa ia tidak mengetahui yang patut disembah kecuali hanya
Allah semata. Sebagaimana firman Allah.
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ
“Dan
tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian
tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra: 44).
Dan
sebuah kenyataan bahwa burung Hud-hud ini memiliki ilmu dan mengenal beberapa
perkara yang samar dimana urusan tersebut tidaklah dikenal kecuali oleh
kalangan Ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu). Tidaklah Hud-hud ketika
melewati suatu kaum musyrik, kecuali dengan sikap sebagaimana orang-orang yang
tidak peduli dengan keberadaan kaum yang mereka lewat dihadapannya, tidak pula
terburu-buru dalam menafsirkan keadaan kaum tersebut, dengan mengatakan:
“Mereka adalah orang-orang tidak berilmu dan pander”. Akan tetapi
Hud-hud bergerak dan pergi dengan perlahan-lahan kemudian datang melaporkan
kejadian yang baru ia saksikan kepada Nabi Allah Sulaiman ‘alaihisallam dengan
kabar yang yakin (tidak diragukan kebenarannya).
Ibadallah,
Ada
pendapat yang mengatakan: Bahwasanya Hud-hud adalah hewan yang telah
dipersiapkan secara khusus dan termasuk salah satu dari golongan pasukan Nabi
Sulaiman yang bertugas khusus dalam hal pengintaian (menjaga serta mengawasi)
dan memiliki kedudukan sebagai mahluk yang berakal dan berilmu.
Bisa
jadi perkataan itu benar. Akan tetapi yang paling penting dalam kasus di atas
adalah sikap marah dan perlawanan yang dimiliki dan diberikan oleh seekor
burung terhadap penyimpangan tauhid yang terjadi. Sementara di lain kita
melihat dan menemukan sebagian manusia dari kalangan orang-orang Islam yang
melewati dan melihat kejadian sebagaimana yang dialami burung Hud-hud ini tanpa
ada rasa marah dan ingkar dalam hati mereka. Bahkan terkadang mereka
membenarkan sikap orang-orang yang bersalah dan tersesat dari jalan tauhid.
Allah
saja yang dimintai pertolongan, seandainya burung Hud-hud ini melewati sebagian
negeri-negeri kaum muslimin pada zaman sekarang dan melihat sikap mereka
bergegas untuk mendatangi tempat-tempat yang diagungkan seperti
perkuburan-perkuburan, kubah-kubah (sejenis bangunan untuk menutupi atas
kuburan tertentu). Dan seandainya Hud-hud mendengar teriakan-teriakan mereka tersebut
….. dari sebagian kaum muslimin yang menyeru kepada selain Allah !!!
Sekiranya
bagaimana reaksi Hud-hud melihat kesyirikan yang jauh lebih dahsyat di zaman
ini?
Sungguh
suatu realita pahit yang sangat disayangkan; lalu kapan kaum muslimin akan
sadar dan memperhatikan hal ini ….
Demikian
pula para da’i Islam? Sejauh mana kecemburuan mereka? Apakah mereka
menganggap selain syirik itu lebih besar sehingga mendapatkan porsi perhatian
pertama?
Semoga
Allah memberi taufik kepada kita semua untuk senantiasa mentauhidkannya dalam
setiap keadaan dan mengampuni dosa syirik yang kita lakukan baik yang kita
sadari maupun tidak kita sadari.
فَنَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ بِأَسْمَائِهِ الحُسْنَى وَصِفَاتِهِ العُلْىَ أَنْ يَحْفَظَ نِسَاءَنَا وَنِسَاءَ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَبَلَاءٍ وَأَنْ يَجْنِبْهُنَّ الفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَنْ يَرُدَّ كَيْدَ مَنْ أَرَادَ بِهِنَّ شَرّاً فِي نَحْرِهِ إِنَّهُ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ:
عِبَادَ
اللهِ
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى
اللهِ
تَعَالَى،
فَإِنَّ
تَقْوَى الله
جَلَّ
وَعَلَا هِيَ
خَيْرُ زَادِ
يُبَلِّغُ
إِلَى
رِضْوَانِ
اللهِ،
وَهِيَ وَصِيَّةُ
اللهِ
لِلْأَوَّلِيْنَ
وَالآخِرِيْنَ
مِنْ
خَلْقِهِ،
وَهِيَ وَصِيَةُ
الرَّسُوْلِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لِأُمَّتِهِ،
وَهِيَ
وَصِيَة ُالسَّلَفِ
الصَالِحِ
فِيْمَا
بَيْنَهُمْ،
وَنَسْأَلُ
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا أَنْ
يَجْعَلَنَا
جَمِيْعًا
مِنْ أَهْلِ
التَّقْوَى وَأَنْ
يُوَفِقَنَا لِتَحْقِيْقِهَا
.
Ibadallah,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kamu kuberitahu
tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada
(fitnah) Al Masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”.
Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang
berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang
lain yang memperhatikannya.” (HR. Ahmad).
Dengan
demikian, perbuatan syirik itu terkadang samar. Terkadang muncul dari hati
begitu saja. Mudah-mudahan Allah menerima ibadah-ibadah kita dan menjadikan
kita ahlut tauhid.
وَصَلُّوْا
– رَحِمَكُمُ
اللهُ – عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ، وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
اَللَّهُمَّ
احْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
للَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِيْ
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com