Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
أَرْسَلَهُ
بَيْنَ يَدَيَّ
السَّاعَةِ
بِالْحَقِّ
لِيَكُوْنَ
رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ،
وَهِدَايَةً
لِلْغَاوِيْنَ،
وَحُجَّةً
عَلَى المُعَانِدِيْنَ،
فَصَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ وَبَارَكَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِ
بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ
المَيَامِيْنِ،
وَعَلى المُقْتَدِيْنَ
بِهِ
وَبِهِمْ
إِلَى يَوْمِ
الجَزَاءِ
وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا
بَعْدُ،:
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah,
Di
antara peristiwa kontempporer yang sering menyeruak ketika terjadi konflik
antara umat Islam dan Yahudi adalah memboikot produk Yahudi. Seruan ini kian
nyaring gemanya tatkala Yahudi mengagresi saudara-saudara kita di Palestina
tanpa belas kasih sama sekali.
Kita
sangat menyadari kita tidak bisa mengandalkan orang-orang kafir yang sering
menyerukan kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara kita di sana. Kita pun telah
mengetahui PBB akan menjadi ompong tatkala berhadapan dengan negara-negara
pemilik hak veto. Karena itu, di antara saudara-saudara kita menyerukan untuk
memboikot produk Yahudi sebagai salah satu solusi.
Ibdallah,
Para
ulama telah menjelaskan bahwa asal hukum memboikot produk-produk orang kafir
adalah diperbolehkan, dan jika ada maslahat syariat dalam pemboikotan tersebut,
maka ia dapat dihukumi sunnah atau bahkan wajib.
Dalil-dalil
tentang disyariatkannya pemboikotan antara lain adalah:
Firman
Allah Ta’ala:
وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ أَلا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ * فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلا تَقْرَبُونِ
“Dan
tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata:
“Bawalah kepadaku saudaramu yang se-ayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah
kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik
penerima tamu? Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan
mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku.” (QS.
Yuusuf: 59-60).
Dalam
ayat ini, Nabi Yuusuf ‘alaihissalam
menjadikan ditahannya makanan kepada saudara-saudaranya sebagai sarana
(wasilah) untuk membawa saudaranya (Bunyamin) kepadanya.
يَا
أَيُّهَا
النَّبِيُّ
جَاهِدِ
الْكُفَّارَ
وَالْمُنَافِقِينَ
وَاغْلُظْ
عَلَيْهِمْ
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan
orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (QS.
At-Taubah: 73).
Ayat
ini menjelaskan bahwa jalan pemboikotan atau pemutusan hubungan perdagangan
(jual-beli) merupakan salah satu jalan melawan orang kafir dan munafik dengan
cara memberikan kemudharatan secara ekonomi, sehingga ia termasuk dalam cabang
jihad secara umum.
ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ
لا
يُصِيبُهُمْ
ظَمَأٌ وَلا
نَصَبٌ وَلا
مَخْمَصَةٌ
فِي سَبِيلِ
اللَّهِ وَلا
يَطَئُونَ
مَوْطِئًا
يَغِيظُ
الْكُفَّارَ
وَلا يَنَالُونَ
مِنْ عَدُوٍّ
نَيْلا إِلا
كُتِبَ لَهُمْ
بِهِ عَمَلٌ
صَالِحٌ
“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa
kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak
suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan
sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang
demikian itu suatu amal shalih.” (QS. At-Taubah: 120).
Ayat
ini juga menjelaskan bahwa pemboikotan perdagangan merupakan salah satu upaya
yang menyebabkan bencana, kesulitan, dan kemudlaratan bagi orang kafir.
Adapun
dalil dari hadits:
عَنْ
أَبِي
هُرَيْرَةَ
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ،
قَالَ: بَعَثَ
النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
خَيْلًا
قِبَلَ
نَجْدٍ
فَجَاءَتْ
بِرَجُلٍ
مِنْ بَنِي
حَنِيفَةَ،
يُقَالُ لَهُ:
ثُمَامَةُ
بْنُ
أُثَالٍ،
فَرَبَطُوهُ
بِسَارِيَةٍ
مِنْ
سَوَارِي
الْمَسْجِدِ،
فَخَرَجَ
إِلَيْهِ
النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
فَقَالَ: ”
مَا عِنْدَكَ
يَا ثُمَامَةُ؟
” فَقَالَ:
عِنْدِي
خَيْرٌ يَا
مُحَمَّدُ،
إِنْ
تَقْتُلْنِي
تَقْتُلْ ذَا
دَمٍ، وَإِنْ
تُنْعِمْ
تُنْعِمْ
عَلَى
شَاكِرٍ، وَإِنْ
كُنْتَ
تُرِيدُ
الْمَالَ،
فَسَلْ مِنْهُ
مَا شِئْتَ،
فَتُرِكَ
حَتَّى كَانَ
الْغَدُ،
ثُمَّ قَالَ
لَهُ: ” مَا
عِنْدَكَ يَا
ثُمَامَةُ؟ ”
قَالَ: مَا
قُلْتُ لَكَ:
إِنْ
تُنْعِمْ
تُنْعِمْ
عَلَى
شَاكِرٍ،
فَتَرَكَهُ
حَتَّى كَانَ
بَعْدَ
الْغَدِ،
فَقَالَ: ”
مَا عِنْدَكَ يَا
ثُمَامَةُ؟ ”
فَقَالَ:
عِنْدِي مَا
قُلْتُ لَكَ،
فَقَالَ: ”
أَطْلِقُوا
ثُمَامَةَ “،
فَانْطَلَقَ
إِلَى نَجْلٍ
قَرِيبٍ مِنَ
الْمَسْجِدِ
فَاغْتَسَلَ،
ثُمَّ دَخَلَ
الْمَسْجِدَ،
فَقَالَ:
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا
اللَّهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُولُ
اللَّهِ، يَا
مُحَمَّدُ وَاللَّهِ
مَا كَانَ
عَلَى
الْأَرْضِ
وَجْهٌ أَبْغَضَ
إِلَيَّ مِنْ
وَجْهِكَ،
فَقَدْ
أَصْبَحَ
وَجْهُكَ
أَحَبَّ
الْوُجُوهِ
إِلَيَّ،
وَاللَّهِ
مَا كَانَ
مِنْ دِينٍ
أَبْغَضَ
إِلَيَّ مِنْ
دِينِكَ،
فَأَصْبَحَ
دِينُكَ
أَحَبَّ الدِّينِ
إِلَيَّ،
وَاللَّهِ
مَا كَانَ مِنْ
بَلَدٍ
أَبْغَضُ
إِلَيَّ مِنْ
بَلَدِكَ، فَأَصْبَحَ
بَلَدُكَ
أَحَبَّ
الْبِلَادِ
إِلَيَّ،
وَإِنَّ
خَيْلَكَ
أَخَذَتْنِي
وَأَنَا
أُرِيدُ الْعُمْرَةَ،
فَمَاذَا
تَرَى؟
فَبَشَّرَهُ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَمَرَهُ
أَنْ
يَعْتَمِرَ،
فَلَمَّا
قَدِمَ
مَكَّةَ،
قَالَ لَهُ
قَائِلٌ:
صَبَوْتَ،
قَالَ: لَا،
وَلَكِنْ
أَسْلَمْتُ
مَعَ
مُحَمَّدٍ رَسُولِ
اللَّهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَلَا
وَاللَّهِ
لَا
يَأْتِيكُمْ مِنْ
الْيَمَامَةِ
حَبَّةُ
حِنْطَةٍ
حَتَّى
يَأْذَنَ
فِيهَا
النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Dari
Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
mengirim pasukan berkuda menuju Najd. Mereka kembali dengan membawa tawanan
seseorang dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Atsal. Lalu mereka
mengikatnya pada salah satu tiang diantara tiang-tiang masjid.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam keluar menemuinya dan bersabda kepadanya, “Apa yang
engkau miliki wahai Tsumamah?”. Ia menjawab, “Aku memiliki yang
lebih baik wahai Muhammad. Jika engkau membunuhku, maka engkau telah membunuh
orang yang memiliki darah. Jika engkau memberi (kebebasan), maka engkau telah
memberi pada orang yang tahu berterima kasih. Jika engkau menginginkan harta,
maka mintalah apa yang engkau minta”. Lalu ia pun ditinggalkan hingga
keesokan harinya.
Beliau
bersabda, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” Ia menjawab,
“Apa yang telah aku katakan kepadamu (sebelumnya). Jika engkau berbuat
baik, maka engkau telah berbuat baik pada orang yang tahu berterima
kasih”. Maka beliau meninggalkannya hingga keesokan harinya. Beliau
kembali bersabda, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” Ia
menjawab, “Aku memiliki apa yang telah aku katakan kepadamu
sebelumnya”. Beliau bersabda, “Bebaskan Tsumamah”.
Lalu
ia pergi ke sebuah batang pohon kurma di dekat masjid, dan kemudian mandi.
Setelah itu ia masuk masjid dan berkata, “Aku bersaksi tidak ada Tuhan
yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan
Allah. Wahai Muhammad, dulu tidak ada wajah seorang pun di muka bumi ini yang
paling aku benci daripada wajahmu. Namun sekarang, wajahmu adalah wajah yang
paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada agama yang paling aku benci
daripada agamamu. Namun sekarang, agamamu adalah agama yang paling aku cintai.
Demi Allah, dulu tidak ada negeri yang paling aku benci daripada negerimu ini.
Namun sekarang, negerimu adalah negeri yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya
pasukanmu telah menangkapku, sedangkan aku hendak melaksanakan ‘umrah.
Bagaimana pendapatmu ?”.
Maka
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira dan
memerintahkannya untuk melaksanakan umarh. Ketika ia sampai di Mekah, seseorang
berkata kepadanya (Tsumamah), “Apakah engkau telah murtad?”
Tsumamah menjawab, “Tidak, namun aku telah memeluk agama Islam bersama
Muhammad Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Demi Allah, engkau tidak akan mendapatkan
gandum dari Yamamah hingga diizinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Dari
hadits ini kita dapat memetik pelajaran, Tsumamah memberikan ultimatum bahwa
orang kafir di Mekah tidak akan mendapatkan pasokan gandum dari wilayahnya
hingga diizinkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ini adalah salah satu bentuk pemboikotan
perdagangan yang dilakukan Tsumamah. Perbuatannya sama sekali tidak diingkari
oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para shahabat lainnya.
Akad
muamalah maaliyyah
(yang berkaitan dengan harta) masuk dalam bab sarana (wasilah), bukan tujuan.
Maka, hukum muamalah mengikuti tujuannya. Jika tujuannya adalah untuk jihad di
jalan Allah Ta’ala
memberikan kemudharatan kepada orang kafir, maka muamalah tersebut
disyariatkan.
Hukum
pemboikotan ada beberapa keadaan:
Dalam
keadaan ini, wajib hukumnya untuk melakukan pemboikotan berdasarkan firman
Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 59).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اسْمَعُوا
وَأَطِيعُوا،
وَإِنِ
اسْتُعْمِلَ
حَبَشِيٌّ
كَأَنَّ
رَأْسَهُ
زَبِيبَةٌ
“Dengar dan taatlah, meskipun yang memerintahkan kalian
adalah seorang budak Habsyi yang kepalanya seperti kismis.” (Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dari Anas bin Maalik radhiallahu ‘anhu).
Perintah
ulil amri didapat melalui pertimbangan adanya kemaslahatan umum dan menolak
adanya mafsadat. Dan memang seharusnya begitu, sebagaimana kaedah:
تَصَرُّفُ
الْأِمَاِم
عَلَى
الرَّاعِيَّةِ
مَنُوْطٌ
بِالْمَصْلَحَةِ
“Kebijakan imam terhadap rakyat harus dikaitkan pada
kemaslahatan”.
2. Apabila tidak diperintahkan ulil-amri; maka dalam hal ini ada
dua keadaan:
a.
Ia yakin atau berprasangka kuat bahwa hasil atau keuntungan dari muamalah
jual-beli dengan orang-orang kafir dipergunakan untuk memerangi kaum muslimin,
melakukan kekufuran, atau keharaman lainnya; maka haram bermuamalah dengan
mereka dan wajib untuk memboikotnya.
Misalnya:
Menjual senjata kepada orang kafir harbi, atau menjual semen kepada orang yang
menggunakannya untuk membuat berhala. Atau bermuamalah dengan orang yang hasil
muamalahnya itu diketahui dipergunakan membeli senjata untuk memerangi kaum
muslimin, atau mendirikan kuil dan gereja tempat ibadah orang kafir; maka haram
hukumnya bermuamalah dengan mereka sehingga wajib memboikot mereka.
An-Nawawi
rahimahullah
berkata:
وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَاز مُعَامَلَة أَهْل الذِّمَّة وَغَيْرهمْ مِنْ الْكُفَّار إِذَا لَمْ يَتَحَقَّق تحريم ما مَعَهُ ، لَكِنْ لَا يَجُوز لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبِيع أَهْل الْحَرْب سِلَاحًا وَآلَة حَرْب ، وَلَا مَا يَسْتَعِينُونَ بِهِ فِي إِقَامَة دِينهمْ ، وَلَا بَيْع مُصْحَف ، وَلَا الْعَبْد الْمُسْلِم لِكَافِرٍ مُطْلَقًا . وَاللَّهُ أَعْلَم .
“Kaum
muslimin telah bersepakat tentang bolehnya bermuamalah dengan ahludz-dzimmah
(orang kafir yang membayar jizyah) dan selain mereka dari kalangan orang-orang
kafir, selama tidak mengandung keharaman. Akan tetatpi tidak diperbolehkan bagi
muslim untuk menjual senjata dan peralatan perang pada orang kafir harbi (kafir
yang diperangi). Tidak diperbolehkan pula menjual sesuatu yang dapat menolong
tegaknya agama mereka, (menjual) mushhaf, dan budak muslim kepada orang kafir
secara mutlak, wallahu
a’lam.” (Syarh Shahiih Muslim, 11/40).
Ibnu
Taimiyyah rahimahullah
pernah ditanya tentang hukum bermuamalah dengan orang Tataar, ia menjawab:
“Adapun bermuamalah dengan orang Tatar, diperbolehkan
padanya apa saja yang diperbolehkan terhadap orang yang semisal mereka. Begitu
juga diharamkan padanya apa saja yang diharamkan dalam perkara muamalah
terhadap orang yang semisal mereka. Diperbolehkan bagi seseorang membeli hewan
ternak, kuda, dan semacamnya (dari orang Tatar) sebagaimana diperbolehkan
membeli hewan ternak dan kuda orang Turkmenistan, Arab, dan Kurdi. Dan
diperbolehkan pula menjual makanan, pakaian, dan yang semacamnya kepada mereka,
sebagaimana diperbolehkan menjualnya kepada orang yang semisal mereka.
Adapun
ia menjual kepada mereka dan selain mereka sesuatu yang dapat membantu pada
hal-hal yang diharamkan, seperti kuda dan senjata pada orang yang melakukan
peperangan yang diharamkan, maka tidak diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman:
‘Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran’ (QS.
Al-Maaidah : 3)”.
Dasarnya
adalah firman Allah Ta’ala
– sebagaimana telah disebut oleh Ibnu Taimiyyah,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maaidah: 3).
Kewajiban
pemboikotan ini dikecualikan untuk barang komoditas yang bersifat mendesak atau
berkaitan dengan hajat hidup kaum muslimin yang tidak ada penggantinya dimana
ia hanya diperoleh denga cara membeli dari orang kafir. Contohnya peralatan
kedokteran, peralatan/suku cadang alat tempur/perang, dan yang semisalnya. Ini
perlu pertimbangan dari para ulama dan para ahli akan maslahat dan mafsadatnya.
b.
Ia tidak tahu atau tidak yakin atau mempunyai prasangka yang tidak kuat bahwa
hasil atau keuntungan muamalah tersebut dari muamalah jual-beli dengan
orang-orang kafir dipergunakan untuk memerangi kaum muslimin, melakukan
kekufuran, atau keharaman lainnya; maka muamalah dengan mereka diperbolehkan.
Pembolehan
ini merupakan madzhab mayoritas ulama meski diketahui bahwa orang kafir
memperoleh keuntungan dalam muamalah jual-beli tersebut. Dalilnya adalah:
قَالَ الْأَعْمَشُ: تَذَاكَرْنَا عِنْدَ إِبْرَاهِيمَ الرَّهْنَ وَالْقَبِيلَ فِي السَّلَفِ، فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ ”
Al-A’masy
berkata, “Kami pernah mengadakan diskusi di sisi Ibrahim tentang gadai
dan pembayaran tunda dalam jual beli. Lalu Ibrahim berkata, Telah menceritakan
kepada kami Al-Aswad, dari Aaisyah radhiallahu
‘anha bahwasannya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi
dengan pembayaran tunda, yang beliau gadaikan adalah baju besinya (untuk
itu).” (Diriwayatkan Bukhari).
عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ أَبِي
بَكْرٍ
رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ،
قَالَ: ”
كُنَّا مَعَ
النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
ثُمَّ جَاءَ
رَجُلٌ
مُشْرِكٌ
مُشْعَانٌّ
طَوِيلٌ بِغَنَمٍ
يَسُوقُهَا،
فَقَالَ
النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
بَيْعًا أَمْ
عَطِيَّةً،
أَوْ قَالَ
أَمْ هِبَةً،
قَالَ: لَا،
بَلْ بَيْعٌ
فَاشْتَرَى
مِنْهُ شَاةً
”
Dari
Abdurrahman bin Abu Bakar radhiallahu
‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian datanglah seorang laki-laki musyrik yang tingginya lebih dari rata
sambil menggiring kambingnya. Lalu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Kambing itu mau dijual
atau diberikan?” – atau beliau bersabda, “atau
dihadiahkan?” Laki-laki itu menjawab, “Dijual”. Maka beliau
pun membeli darinya seekor kambingnya (Diriwayatkan oleh Bukhari).
Namun,
jika seseorang yang melakukan pemboikotan dalam keadaan ini memandang bahwa
dalam pemboikotannya tersebut terdapat maslahat dalam melemahkan perekonomian
orang kafir, maka pemboikotan tersebut dianjurkan. Dalilnya adalah sebagaimana
disebutkan di awal tadi.
Atau
ia sekedar berniat melakukan pemboikotan untuk turut andil berjihad membela
kaum muslimin dengan melemahkan perekonomian orang kafir, pemboikotan itupun
dianjurkan, karena Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا
اْلأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ
وَإِنَّمَا
لِكُلِّ
امْرِئٍ مَا
نَوَى
“Setiap perbuatan hanyalah tergantung niatnya.
Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa
yang dia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak
ada larangan apapun bagi kita untuk tidak membeli produk-produk orang kafir dan
pro kafir seandainya kita memang mampu untuk tidak membeli dan mendapatkan
pengganti dari produk yang lain. Pemboikotan ini akan berdampak besar jika
dilakukan melalui gerakan massal, apalagi diserukan oleh kepala negara.
Seandainya dilakukan oleh individu, meski dampaknya lebih kecil – atau
katakanlah sangat kecil – maka ia tetap akan diberi pahala sesuai dengan
niatnya, insya Allah.
Kaumu
muslimin rahimakumullah,
Apakah
pemboikotan ini dipersyaratkan harus ada izin dari penguasa? Pendapat yang kuat
adalah tidak dipersyaratkan izin dari penguasa, karena Tsumamah ketika
memboikot orang kafir Mekah atas inisiatifnya sendiri tanpa ada perintah dari
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sebelumnya. Disyariatkannya pemboikotan
produk kafir ini telah difatwakan oleh banyak ulama.
Semoga
Allah Ta’ala
menguatkan barisan kaum muslimin, mempersatukan hati-hati mereka, dan
menghancurkan tipu daya musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi
berkuasa atas segala sesuatu.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
العَظِيْمِ
الجَلِيْلِ،
اَلْغَفُوْرِ
الرَّحِيْمِ،
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى خَاتَمِ
رُسُلِهِ
وَأَفْضَلِهِمْ،
وَآلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَتَمَمِ
بِالتَّابِعِيْنَ
لَهُ
بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ،
أَيُّهَا
المُسْلِمُوْنَ:
Ibadallah,
Selain
mengupayakan dengan cara membikot produk-produk Yahudi cara yang paling utama
namun malah dianggap remeh dan dikesankan bukan bagian dari kontribusi adalah
menempuh cara dengan berdoa. Doakan saudara-saudara kita di negeri kita
Indonesia, di Palestina, di Suriah, dan tempat-tempat lainnya. Doakan mereka di
saat-saat yang mustajab.
Dari
Abu Hurairah, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ
شَيْءٌ
أَكْرَمَ
عَلَى
اللَّهِ تَعَالَى
مِنَ
الدُّعَاءِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi
Allah Ta’ala
selain doa.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Dalam
hadits yang lain Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
«
ما مِنْ
مُسْلِمٍ
يَدْعُو
بِدَعْوَةٍ
لَيْسَ
فِيهَا
إِثْمٌ وَلاَ
قَطِيعَةُ
رَحِمٍ إِلاَّ
أَعْطَاهُ
اللَّهُ
بِهَا
إِحْدَى ثَلاَثٍ
إِمَّا أَنْ
تُعَجَّلَ
لَهُ دَعْوَتُهُ
وَإِمَّا
أَنْ
يَدَّخِرَهَا
لَهُ فِى الآخِرَةِ
وَإِمَّا
أَنُْ يَصْرِفَ
عَنْهُ مِنَ
السُّوءِ
مِثْلَهَا ».
قَالُوا
إِذاً
نُكْثِرُ.
قَالَ «
اللَّهُ أَكْثَرُ
»
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama
tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan
Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2]
Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas
mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa
kalian.” (HR. Ahmad).
اِعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
عَظِيْمٍ
فَقَالَ
سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى
(إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا)،
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنْ
خُلَفَائِهِ
اَلرَّاشِدِيْنَ،اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ،
أَبِي
بَكْرٍ، وَعُمَرَ،
وَعُثْمَانَ،
وَعَلِيٍّ،
وَعَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
، اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاجْعَلْ
هَذَا
البَلَدَ
آمِناً
مُطْمَئِنّاً
وَسَائِرَ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
بَارِكْ
لَنَا فِي
شَهْرِ
رَمَضَانَ،
اللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا
فِيْهِ
القُوَّةَ وَالاِحْتِسَابَ
العَمَلَ
الصَالِحَ،
اللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ،
اَللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا
مِنْ
فَضَائِلِهِ
وَمَغَانِمِهِ
مَا
يَسَرْتَهُ
لَنَا،
اللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
صِيَامِهِ
وَقِيَامِهِ
وَحِفْظِ
أَيَّامِهِ
مِنَ الخَلَلِ
وَالضَيَاعِ،
(رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ)،
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْهُمْ
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ
غَيْرَ
ضَالِّيْنَ
وَلَا
مُضِلِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ بِطَانَتَهُمْ
وَأَبْعَدْ
عَنْهُمْ
بِطَانَةً
السُوْءِ
وَالمُفْسِدِيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ)،(وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)،
فَاذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرْ،
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Diadaptasi
dari tulisan Ustadz Abul Jauza’ dengan beberapa tambahan dari tim Khotbah
Jumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com