Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِيْهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
{ا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ
اللَّهَ
خَبِيرٌ
بِمَا
تَعْمَلُونَ }
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
خَيْرَ
الكَلَامِ
كَلَامُ
اللهِ وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
رَسُوْلِ
اللهِ وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya
turunnya hujan adalah rahmat dan fadilah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia berfirman,
وَهُوَ
الَّذِي
يُنَزِّلُ
الْغَيْثَ
مِنْ بَعْدِ
مَا قَنَطُوا
وَيَنْشُرُ
رَحْمَتَهُ ۚ
وَهُوَ
الْوَلِيُّ
الْحَمِيدُ
“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus
asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha
Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28).
Oleh
karena itu, setelah hujan turun, kita disunnahkan untuk mengucapkan kalimat.
مُطِرْنَا
بِفَضْلِ
اللهِ
وَرَحْمَتِهِ
“Kita diberi hujan atas keutamaan dan rahmat dari
Allah.”
Ada
beberapa hal, hukum-hukum syariat terkait dengan turunnya hujan:
Pertama: Disunnahkan mengucapkan doa
“Allahumma shayiban nafi’a” saat hujan turun.
Allahumma
shayiban nafi’a artinya adalah ya Allah turunkanlah hujan yang
bermanfaat. Yaitu hujan yang tidak memberikan bahaya dan merusak. Aisyah
radhiallahu ‘anha mengatakan,
كَانَ
رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
إِذَا رَأَىْ
الْمَطَرَ،
قَالَ:
«اَللَّهُمَّ
صَيِبًا
نَافِعًا»
أَخْرَجَهُ
البُخَارِيُ
“Apabilah melihat hujan turun, maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Allahumma shayiban
nafi’a’.” (HR. Bukhari).
Dan
disunnahkan juga mengucapkan “Muthirnaa bifadh-lillah warahmatihi”
artinya kita diberi hujan karena keutamaan dan kasih sayang Allah. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta’ala
berfirman,
أَصْبَحَ
مِنْ
عِبَادِى
مُؤْمِنٌ بِى
وَكَافِرٌ
فَأَمَّا
مَنْ قَالَ
مُطِرْنَا
بِفَضْلِ
اللَّهِ
وَرَحْمَتِهِ.
فَذَلِكَ
مُؤْمِنٌ بِى
وَكَافِرٌ
بِالْكَوْكَبِ
وَأَمَّا
مَنْ قَالَ
مُطِرْنَا
بِنَوْءِ
كَذَاوَكَذَا.
فَذَلِكَ
كَافِرٌ بِى
مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.
متفق عليه
“Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman
kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa yang mengatakan ’muthirna bi
fadhlillahi wa rahmatih’ (kita diberi hujan karena karunia dan rahmat
Allah) maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang.
Sedangkan yang mengatakan ‘muthirna binnau kadza wa kadza’ (kami
diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini) maka dialah yang kufur kepadaku
dan beriman kepada bintang-bintang.’”
Adapun
ketika mendengarkan petir, kita dianjurkan untuk mengucapkan,
سُبْحَانَ
الَّذِيْ
يُسَبِّحُ
الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ
وَالْمَلاَئِكَةُ
مِنْ خِيْفَتِهِ
Subhaanalladzi
yusabbihur ra’du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatihi
“Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan
memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepadaNya”.
Shahih
dari kitab al-Muwaththa karya Imam Malik, apabila Abdullah bin Zubair mendengar
bunyi guntur atau petir, ia berhenti berbicara lalu membaca,
سُبْحَانَ
الَّذِيْ
يُسَبِّحُ
الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ
وَالْمَلاَئِكَةُ
مِنْ خِيْفَتِهِ
Subhaanalladzi
yusabbihur ra’du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatihi
Kedua: Dianjurkan untuk memanjatkan doa saat
hujan turun.
Waktu
hujan adalah waktu mustajab, waktu yang baik untuk berdoa. Dari Atha, ia
berkata, “Ada tiga waktu yang pada saat itu dibuka pintu-pintu langit,
maka perbanyaklah doa pada waktu-waktu tersebut; pada saat hujan turun, pada
saat berjumpa dengan pasukan musuh –yakni saat berjihad-, dan di saat
adzan.” Dishaihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar.
Ketiga: Menjamak shalat ketika hujan.
Menjamak
shalat atau menggabungkan dua shalat zuhur dengan ashar dan magrib dengan isya
dikerjakan dalam satu waktu, hukumnya diperbolehkan. Menurut Abdullah bin Umar
radhiallahu ‘anhuma hal itu diperbolehkan. Diperbolehkan berbeda dengan
disunnahkan. Pendapat beliau juga diikuti oleh imam-imam madzhab. Mungkin
pakaian seseorang basah jika dia bolak-balik ke masjid atau jalanan becek, dll.
Oleh karena itu, Abdullah bin Abbas mengatakan, “Nabi menginginkan agar
umatnya tidak merasa berat.” (Riwayat Muslim).
Jamak
ini dilakukan di masjid, karena alasan diperbolehkannya adalah untuk
memperingan. Hal ini telah dipraktikkan oleh Abdullah bin Umar dan selain
beliau. Dan keringanan ini bukan diperuntukkan bagi mereka yang shalat di
selain masjid.
Jadi,
jamak yang dilakukan adalah jamak taqdim bukan jamak takhir.
Keempat: Dianjurkan untuk shalat istisqa saat
hujan tak kunjung turun.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempraktikkan hal ini. Aisyah
radhiallahu ‘anha berkata,
شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُحُوْطَ المَطَرِ، فَخَرَجَ لِصَلَاةِ الْاِسْتِسْقَاءِ. أخرجه أبو داود وقال إسناده جيد .
“Orang-orang
mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang
kekeringan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu keluar dan
menunaikan shalat istisqa (meminta hujan).” (HR. Abu Dawud).
Perbuatan
ini tidak hanya khusus bagi orang-orang penduduk asli daerah itu saja,
sebagaimana yang disangkakan sebagian orang. Hal ini juga dianjurkan bagi
mereka perantau dan para duta atau utusan.
Kelima: Dianjurkan juga untuk mengeluarkan
barang yang tidak rusak terkena hujan.
Hal
ini dilakukan berharap berkah saat awal turunnya hujan. Ibnu Abi Mulaikan
berkata, “Apabila hujan turun, Ibnu Abbas berkata, ‘Hai budak
perempuan, keluarkanlah pelanaku dan bajuku’. Kemudian beliau membaca
ayat,
وَنَزَّلْنَا
مِنَ
السَّمَاءِ
مَاءً مُبَارَكًا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh
keberkahan…” (QS. Qaf: 9).
Keenam: Sebab kekeringan dan sedikitnya
curah hujan adalah dosa.
Allah
Ta’ala berfirman,
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
“Dan
bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama
Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar
(rezeki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16).
Firman-Nya
juga,
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ
الْقُرَىٰ
آمَنُوا
وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
بَرَكَاتٍ
مِنَ
السَّمَاءِ
وَالْأَرْضِ
وَلَٰكِنْ
كَذَّبُوا
فَأَخَذْنَاهُمْ
بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).
Hal
ini bukan berarti melimpahnya kenikmatan –di antaranya hujan- sebagai
tanda ridha Allah terhadap suatu kaum. Bisa jadi hal itu merupakan istidraj,
siksa yang ditunda. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا
نَسُوا مَا
ذُكِّرُوا
بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
أَبْوَابَ
كُلِّ شَيْءٍ
حَتَّىٰ
إِذَا
فَرِحُوا
بِمَا
أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً
فَإِذَا هُمْ
مُبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan
kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka;
sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada
mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka
terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44).
أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
رَسُوْلِ
اللهِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
Imam
Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abdullah bin Umar:
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ
– رضى الله
عنهما – أَنَّ
رَسُولَ
اللَّهِ – صلى
الله عليه
وسلم – قَالَ «
مَفَاتِيحُ
الْغَيْبِ
خَمْسٌ لاَ
يَعْلَمُهَا
إِلاَّ
اللَّهُ لاَ
يَعْلَمُ مَا
فِى غَدٍ
إِلاَّ
اللَّهُ ،
وَلاَ
يَعْلَمُ مَا
تَغِيضُ
الأَرْحَامُ
إِلاَّ
اللَّهُ
وَلاَ يَعْلَمُ
مَتَى
يَأْتِى
الْمَطَرُ
أَحَدٌ إِلاَّ
اللَّهُ ،
وَلاَ
تَدْرِى
نَفْسٌ
بِأَىِّ أَرْضٍ
تَمُوتُ ،
وَلاَ
يَعْلَمُ
مَتَى تَقُومُ
السَّاعَةُ
إِلاَّ
اللَّهُ » .
Dari
Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah bersabda, “Kunci-kunci perkara ghaib ada
lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: (1) Tidak ada yang mengetahui
apa yang terjadi besok kecuali Allah, (2) tidak ada yang mengetahui apa yang di
rahim kecuali Allah, (3) tidak
ada yang mengetahui kapan turunnya hujan kecuali Allah, (4)
tidak ada jiwa yang mengetahui di mana akan mati, dan (5) tidak ada yang
mengetahui kapan kiamat terjadi kecuali Allah.” (HR. Bukhari).
Dari
hadits ini, hendaknya bagi badan metereologi dan geofisika tidak memastikan
bahwa hujan akan turun pada hari ini di tempat ini dan itu. Hendaknya mereka
mengatakan, diperkirakan hujan akan turun hari ini di tempat ini. Mereka
ucapkan dalam bentuk prediksi dan sangkaan, karena kepastiannya hanya Allah
saja yang mengetahuinya. Betapa banyak orang yang berani memastikan hujan akan
turun pada waktu-waktu tertentu, namun ternyata hujan tidak turun.
Kita
memohon kepada Allah agar Dia menjadikan apa yang dianugerakan-Nya kepada kita,
berupa hujan, adalah sebagai rahmat dan kasih sayang bagi kita dan negero-negeri
kita.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
واجعل هذا
البلد آمنا
مطمئنا رخاء
وسائر بلاد
المسلمين.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
أَنْبِتِ
الأَرْضَ
اَللَّهُمَّ
أَنْبِتِ
الأَرْضَ.
اَللَّهُمَّ
أَوْزِعْنَا
عَلَى شُكْرِ
نِعْمَتِكَ،
اَللَّهُمَّ
أَوْزِعْنَا
عَلَى شُكْرِ
نِعْمَتِكَ.
اَللَّهُمَّ
أَحْيَنَا
عَلَى
التَّوْحِيْدِ
وَالسُّنَّةِ
وَأَمِتْنَا
عَلَى ذَلِكَ.
وَقُوْمُوْا
إِلَى
صَلِاتِكُمْ
يَرْحَمُكُمُ
اللهُ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Aziz ar-Rais
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com