Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ اَلَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا اَلنِّعْمَةَ وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً،
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
النَّاسُ
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَاشْكُرُوْا
نِعْمَةَهُ
عَلَيْكُمْ
إِذْ
جَعَلَكُمْ
مُسْلِمِيْنَ
وَ اعْرِفُوْا
مَعْنَى
الْإِسْلَامِ
حَتَّى تَتَمَسَّكُوْا
بِهِ عَلَى
بَصِيْرَةٍ
وَلَا
تَكُوْنُوْا
مِمَّا
يَدَّعُوْنَ
الإِسْلَامَ
وَهُمْ عَلَى
ضِدِّهِ
الْإِسْلَامِ
Ibadallah,
Para
ulama mendefiniskan Islam dengan istislam berserah diri kepada Allah dengan
mentauhidkan-Nya, tunduk patuh dan taat kepada-Nya, dan berlepas diri dari
kesyirikan dan pelakunya. Inilah tiga pondasi yang mewujudkan Islam yang hakiki
pada diri seseorang.
Pondasi
pertama:
Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya.
Hal
itu dilakukan dengan beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Banyak orang yang mengaku sebagai
umat Islam, tapi mereka melakukan kesyirikan dengan beribadah kepada para wali
dan orang-orang shaleh. Mereka mendekatkan diri kepada para wali dan
orang-orang shaleh itu. Dengan sangkaan bahwa mereka mampu member syafaat di
sisi Allah dan dengan keyakinan bawah para wali itu bisa mendekatkan diri
mereka kepada Allah. Ini adalah kekeliruan yang sangat besar sekali, yang
diselipkan setan di tengah-tengah orang yang mengaku Islam dengan lisan mereka,
namun mereka juga menyembah selain Allah dengan praktik amalan dan keyakinan.
Pondasi
kedua: tunduk
dan patuh kepada-Nya.
Barangsiapa
yang ingin berserah diri kepada Allah, memurnikan ibadah kepada-Nya, dan
mengikuti Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, maka wajib bagi mereka untuk tunduk pada
perintah Allah dan Rasul-Nya. Ia wajib melakukan apa yang Allah dan Rasul-Nya
perintahkan dan wajib meninggalkan apa yang keduanya larang.
Barangsiapa
yang meninggalkan amalan wajib dan melakukan perbuatan yang diharamkan, maka ia
telah mengurangi kemurnian penyerahan dirinya tadi kepada Allah. Semoga Allah
melindungi kita dari yang demikian.
Pondasi
ketiga: Berlepas
orang-orang musyrik dan agama serta keyakinan mereka yang batil.
Pondasi
ini adalah pondasi yang sangat penting. Karena saat ini banyak sekali orang
yang menyerukan untuk meninggalkan prinsip yang pokok ini. Hal ini dilakukan
dengan cara berlepas diri dari keyakinan mereka, tidak mencintai mereka dengan
kekaguman atau menjadikannya teladan, tidak menolong mereka dalam permasalahan
agama dan keyakinan, dan tidak membela apalagi memuji keyakinan dan ajaran
agama mereka. Ini adalah kewajiban bagi setiap muslim dan inilah agama yang
diajarkan para nabi, termasuk Nabi Ibrahim dan anak keturunannya. Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Sesungguhnya
telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
“Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang
kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara
kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman
kepada Allah saja”. (QS. Al-Mumtahanah: 4).
Nabi
Ibrahim berlepas diri dari ayahnya ketika ia mengetahui bahwa sang ayah adalah
musuh Allah. Allah Ta’ala
berfirman,
فَلَمَّا
تَبَيَّنَ
لَهُ أَنَّهُ
عَدُوٌّ لِلَّهِ
تَبَرَّأَ
مِنْهُ إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ
لأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu
adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS.
At-Taubah: 114).
Allah
Jalla wa ‘Ala
juga berfirman,
لا
تَجِدُ
قَوْماً
يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ
يُوَادُّونَ
مَنْ حَادَّ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
وَلَوْ
كَانُوا آبَاءَهُمْ
أَوْ
أَبْنَاءَهُمْ
أَوْ إِخْوَانَهُمْ
أَوْ
عَشِيرَتَهُمْ
أُوْلَئِكَ
كَتَبَ فِي
قُلُوبِهِمْ
الإِيمَانَ
وَأَيَّدَهُمْ
بِرُوحٍ
مِنْهُ
وَيُدْخِلُهُمْ
جَنَّاتٍ
تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا
الأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا
رَضِيَ
اللَّهُ
عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ
أُوْلَئِكَ
حِزْبُ
اللَّهِ أَلا
إِنَّ حِزْبَ
اللَّهِ هُمْ
الْمُفْلِحُونَ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan
hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah
dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan
yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap
mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah
golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan
yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22).
Sebagian
orang yang berdakwah kepada Allah dan mendakwahkan Islam, namun mereka tidak
mengetahui hakikat Islam itu sendiri. Jika mereka ditanya apakah itu Islam?
Mereka tidak menjawab dengan jawaban yang tepat. Mungkin mereka jawab Islam
adalah kedamaian, Islam adalah isya, subuh, lohor, asar, dan maghrib, dll.
Tidak sebagaimana definisi Islam yang telah dijelaskan oleh para ulama seperti
di atas. Mengapa demikian? Karena para da’i tersebut tidak belajar, tidak
mempelajari apa itu Islam. Mereka tidak mempelajari akidah yang benar, yang
dibangun dari Alquran dan sunnah. Yang mereka tahu, Islam adalah Islam sebagaimana
dipahami kebanyakan manusia, walaupun ternyata hal itu menyelisihi syariat.
Berikut
di antara pengertian Islam yang diajarkan Jibril ‘alaihissalam kepada sahabat
Rasulullah. Suatu hari Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya.
عَنْ
عُمَرَ
رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ
أَيْضًا قَالَ
: بَيْنَمَا
نَحْنُ
جُلُوْسٌ
عِنْدَ رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّم
ذَاتَ يَوْمٍ
إِذْ طَلَعَ
عَلَيْنَا رَجُلٌ
شَدِيْدُ
بَيَاضِ
الثِّيَابِ
شَدِيْدُ سَوَادِ
الشَّعْرِ,
لاَ يُرَى
عَلَيْهِ
أَثَرُ
السَّفَرِ
وَلاَ
يَعْرِفُهُ
مِنَّا أَحَدٌ,
حَتَّى
جَلَسَ إِلَى
النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّم,
فأَسْنَدَ
رُكْبَتَيْهِ
إِلَى
رُكْبَتَيْهِ,
وَوَضَعَ كَفَّيْهِ
عَلَى
فَخِذَيْهِ,
وَ قَالَ : يَا
مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ
عَنِ
الإِسْلاَمِ,
فَقَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّم :
اَلإِسْلاَمُ
أَنْ
تَشْهَدَ
أَنْ لاَإِ لَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَ أَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
اللهِ,
وَتُقِيْمُ
الصَّلاَةَ,
وَتُؤْتِيَ
الزَّكَاةَ,
وَتَصُوْمَ
رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ
الْبَيْتَ
إِنِ
اسْتَطَعْتَ
إِلَيْهِ
سَبِيْلاً.
قَالَ :
صَدَقْتُ.
فَعَجِبْنَا
لَهُ يَسْئَلُهُ
وَيُصَدِّقُهُ.
قَالَ :
فَأَخْبِرْنِيْ
عَنِ
الإِيْمَانِ,
قَالَ : أَنْ
بِاللهِ,
وَمَلاَئِكَتِهِ,
وَكُتُبِهِ,
وَرُسُلِهِ,
وَالْيَوْمِ
الآخِرِ, وَ
تُؤْمِنَ
بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ
وَ شَرِّهِ.
قَالَ :
صَدَقْتَ.
قَالَ :
فَأَخْبِرْنِيْ
عَنِ
الإِحْسَانِ,
قَالَ : أَنْ
تَعْبُدَ
اللهَ
كَأَنَّكَ
تَرَاهُ فَإِنْ
لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ
فَإِنَّهُ
يَرَاكَ.
قَالَ :
فَأَخْبِرْنِيْ
عَنِ
السَّاعَةِ قَالَ
: مَا
الْمَسْؤُوْلُ
عَنْهَا
بِأَعْلَمَ مِنَ
السَّائِلِ.
قَالَ :
فَأَخْبِرْنِيْ
عَنْ
أَمَارَاتِهَا,
قَالَ : أَنْ
تَلِدَ الأَمَةُ
رَبَّتَهَا,
وَأَنْ تَرَى
الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ
الْعَالَةَ
رِعَاءَ
الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ
فِيْ
الْبُنْيَانِ,
ثم اَنْطَلَقَ,
فَلَبِثْتُ
مَلِيًّا,
ثُمَّ قَالَ : يَا
عُمَرُ,
أَتَدْرِيْ
مَنِ
السَّائِل؟
قُلْتُ : اللهُ
وَ
رَسُوْلُهُ
أَعْلَمُ.
قَالَ :
فَإِنَّهُ
جِبْرِيْلُ
أَتَاكُمْ
يُعَلِّمُكُمْ
دِيْنَكُمْ.
رَوَاهُ
مُسْلِمٌ
Umar
bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata :
Suatu
ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat
putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas
perjalanan, tapi tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera
duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan
meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :
“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang
berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad
adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan
Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu
melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami
heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian
ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi
menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya;
kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah
yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia
bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya
Dia melihatmu.”
Lelaki
itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi
menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia
pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi
menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau
melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta
pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang
menjulang tinggi.”
Kemudian
lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku
: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku
menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” Beliau
bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama
kalian.” (HR Muslim no. 8).
Oleh
karena itu, wajib bagi seorang untuk mempelajari Islam. Agar ia berislam dengan
pengilmuan dan mampu mengamalkannya sesuai dengan yang Allah perintahkan.
Dengan itu ia menjadi seorang muslim yang utuh. Bukan seorang muslim yang
membeo atau cuma pengakuan saja.
Hendaknya
kita bertakwa kepada Allah dalam urusan agama kita dengan cara mempelajarinya,
mengamalkannya, dan menjauhi apa yang dilarang. Yang demikian inilah yang akan
menyelamatkan kita dan sumber kesuksesan di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
Jangan
kita akhiri hayat kita kecuali kita sebagai seorang muslim. berpegang teguhlah
dengan agama sampai maut menjemput dan sampai kita berjumpa dengan Allah Jalla wa ‘Ala.
وَوَصَّى
بِهَا
إِبْرَاهِيمُ
بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ
يَا بَنِيَّ
إِنَّ
اللَّهَ
اصْطَفَى
لَكُمْ
الدِّينَ
فَلا
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula
Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk
agama Islam”. (QS. Al-Baqarah: 132).
Akhir
hayat sebagai seorang muslim itu hanya dapat kita upayakan dengan senantiasa
mengkaji agama ini, mengamalkannya, dan meninggalkan sesuatu yang dapat
membahayakan keislaman kita. barangsiapa yang wafat sebagai seorang muslim,
maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang wafat dalam keadaan kafir dan
syirik, maka ia akan masuk ke neraka, wal
‘iyadzubillah.
Barangsiapa
yang wafat sebagai seorang muslim, namun ia memiliki tanggungan dosa
kemaksiatan, walaupun dosa besar, selama bukan kesyirikan, maka ia akan
mendapatkan janji Allah berupa ampunan, baik ampunan langsung atau diadzab
terlebih dahulu di neraka lalu kemudian dimasukkan ke dalam surga.
Pelajarilah
agama yang mulia ini melalui para ulamanya dengan memanfaatkan segala fasilitas
yang ada. Hingga kita bisa memahaminya, menjaganya, dan berpegang teguh
dengannya.
Pemandangan
yang menyedihkan saat ini, kita lihat orang-orang yang berani mengajarkan Islam
sendiri tidak mengetahui apa itu Islam, bahkan terkadang mereka lulusan
universitas-universitas agama. Ketika mereka ditanya, apa itu Islam? Mereka
tidak mampu menjawabnya dengan benar. Yang demikian terjadi karena mereka tidak
menaruh perhatian dengan mempelajari Islam dan mengetahui hakikatnya.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah sekalian. Pelajarilah agama kalian
sehingga kalian bisa merealisasikannya sesuai dengan apa yang Allah
perintahkan.
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ
“Dan
barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang
berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang
kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman:
22).
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ،
وَنَفَعْنَا
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
البَيَانِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ
وَ
أَشْكُرُهُ
عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ
تَعْظِيْماً
لِشَأْنِهِ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنِ
اهْتَدَى
بِهُدَاهُ
وَتَمَسَّكَ
بِسُنَّتِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْراً.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
النَّاسُ،
Ibadallah,
Setelah
kita mengetahui kenikmatan Islam dan mengetahui hakikatnya. Kewajiban berikutnya
adalah memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan di atas agama ini. Karena
tidak sedikit, orang-orang yang telah memeluk Islam, lalu mengetahui
hakikatnya, mereka tersesat lalu murtad berpaling dari agama ini. Alasan dan
motifnya banyak. Mereka terpengaruh dengan provokasi dan hasutan-hasutan yang
masuk ke rumah mereka melalui media. Mereka dengar detik demi detik di rumah
mereka, bahkan ketika hendak tidur pun mereka masih menyaksikan hasutan-hasutan
tersebut. Hasutan yang memuat kerancuan dan seruan kepada kejelekan yang
membuat mereka berpaling dari Islam. Sampai-sampai di kartu penduduk agama
mereka Islam, tapi keyakinan dan amalannya adalah amalan seorang ateis.
Pengaruh-pengaruh
itu membuat sebagian kaum muslimin memperdebatkan agama mereka sendiri,
mendebat Allah, Rasul-Nya, dan ayat-ayat-Nya. Karena apa? Karena pengaruh
hasutan yang mereka dengar setiap hari, sementara mereka tidak menambah
pemahaman agama mereka setiap hari.
Kita
yang tidak terpengaruh dengan hasutan itu, janganlah pula merasa aman dan
jumawa. Wajib bagi kita takut dan mewaspadai keburukan-keburukan itu dan selalu
berdoa kepada Allah memohon keteguhan meniti agama ini hingga maut menjemput
kita. Dan memang sudah ketetapan Allah bahwa agama ini akan menjadi asing di akhir
zaman, sebagaimana yang kita rasakan serakanga ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء
“Islam
bermula dalam keadaan asing (di tengah-tengah manusia) dan akan kembali
terasing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah al-ghuroba’
(orang-orang yang dianggap asing karena mengamalkan Islam).”
Lihatlah!
Seorang muslim yang mengamalkan keislamannya akan tampak asing di tengah
orang-orang yang mengaku sebagai seorang muslim. Apa lagi seseorang yang memang
hidup di tengah-tengah orang kafir?!
Orang
asing adalah seseorang yang hidup di antara orang-orang yang bukan keluarganya,
bukan suku atau kaumnya, tinggal di negara yang bukan negaranya, inilah orang
yang asing. Dan Islam akan kembali mengalami keterasingan dan aneh, namun di
negeri Islam sendiri. La haula wala quwwata illah billah.
Beruntunglah
orang-orang yang asing itu. Ketika Rasulullah ditanya “Siapakah
orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Orang-orang yang shaleh ketika banyak orang telah rusak.” Dalam
riwayat lain disebutkan “Orang-orang yang memperbaiki apa yang telah
dirusak oleh banyak orang.”
Karena
itu, wajib bagi kita takut akan hal ini agar supaya tidak menimpa kita. Dan
wajib bagi kita berpegang teguh dengan agama kita, bersabar di atasnya, dan
senantiasa mewaspadai tipu daya orang-orang yang menyesatkan dan
penyeru-penyeru kejelekan. Selain memperhatikan agama kita, kita juga
memperhatikan agama anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan kaum muslimin
semuanya. Waspadailah bahaya ini dan jadikan mindset
kita bahwa kita tidak akan mungkin beragama dengan seusuai yang Allah
perintahkan kecuali dengan mempelajarinya.
Jika
kita mempelajari agama ini dengan metode yang benar, menimbanya dari seorang
pengajar yang memang ia berpegang teguh pada ajaran Islam, maka insya Allah,
Allah akan tunjuki kita kepada Islam yang benar di tengah-tengah orang-orang
yang menyeru Islam tapi mereka tidak memahami Islam. Adapun jika kita hanya
sekedar mengaku sebagai seorang muslim tanpa mempelajarinya, hal ini sangat
dikhawatirkan kita terpengaruh terhadap hasutan-hasutan yang menyesatkan atau
terjerembab ke dalam pemikiran yang menyimpang.
Bertakwalah
kepada Allah wahai hamba Allah sekalian. Waspadailah orang-orang yang menyeru
kepada kejelekan dan da’i-da’i yang mengajak kepada kesesatan.
Waspadailah kerancuan yang menggelincirkan yang saat ini benar-benar tersebar
di tengah masyarakat. Dan jangan lupa berdoa kepada Allah agar ditunjuki pada
ajaran Islam yang hakiki, kemudian diberikan kesabaran untuk berpegang teguh
padanya, hingga bertemu dengan Allah kelak.
ثُمَّ اعْلَمُوْا عِبَادَ اللهِ أَنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ، وُكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ، قَالَ تَعَالَى: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً) [الأحزاب:56]،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنْ
خُلَفَائِهِ
اَلرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
الْمَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍ وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلاَمَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدَّيْنَ،
وَاجْعَلْ
هَذَا
البَلَدَ
آمِناً
مُطْمَئِنّاً
وَسَائِرَ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
مَنْ
أَرَادَنَا
أَوْ أَرَاَد
دِيْنَنَا
أَوْ أَرَادَ
أَوْطَانَنَا
فَأَشْغَلُهُ
بِنَفْسِهِ
وَارْدُدْ
كَيْدَهُ فِي
نَحْرِهِ وَاكْفِنَا
شَرَّهُ
إِنَّكَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيْرٍ،
اَللَّهُمَّ
احْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
المُوَحِّدِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
الدَائِرَةَ
عَلَى
الشِّرْكِ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَأَهْلَ
الضَّلَالِ
وَالمُلْحِدِيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْهُمْ
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ
وَخُذْ
بِنَوَاصِيْهِمْ
إِلَى
الْحَقِّ يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
عباد
الله، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ*
وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)
[النحل:90-91]،
فاذكروا
اللهَ
يذكرْكم،
واشكُروه على
نعمِه يزِدْكم،
ولذِكْرُ
اللهِ أكبرُ،
واللهُ يعلمُ
ما تصنعون.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com