Khutbah
pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
أَرْسَلَهُ بَيْنَ
يَدَيَّ
السَّاعَةِ
بِالْحَقِّ
لِيَكُوْنَ
رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ،
وَهِدَايَةً
لِلْغَاوِيْنَ،
وَحُجَّةً
عَلَى المُعَانِدِيْنَ،
فَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِ
بَيْتِهِ
وَأَصْحَابِهِ
المَيَامِيْنِ،
وَعَلى
المُقْتَدِيْنَ
بِهِ وَبِهِمْ
إِلَى يَوْمِ
الجَزَاءِ
وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا
بَعْدُ،:
Segala
puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah,,,amma
ba’du :
Allah
Ta’ala
berfirman :
وَفِي
ذَلِكَ
فَلْيَتَنَافَسِ
الْمُتَنَافِسُونَ
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang
berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin :26).
Seorang
muslim sejati selalu berlomba-lomba dalam ketaatan, dan selalu bersegera dalam
kebaikan, karena umur itu pendek dan ajal itu terbatas, seorang yang pandai dan
berakal selalu bersegera sebelum datangnya halangan dan rintangan ; sungguh
tidaklah sama antara yang bersegera menuju kebaikan dan yang berlambat-lambat,
juga antara yang berlomba-lomba kepada keutamaan dan yang memberatkan diri
kepadanya.
Berlomba-lomba
yang terpuji memperkaya kehidupan, dan menjadikan seorang muslim berambisi
untuk mengangkat dirinya dan menanjak dengan ilmu dan amalnya agar berusaha
menuju kesempurnaan.
Mengalir
ruh saling berlomba-lomba dalam jiwa orang-orang yang memiliki semangat yang
tinggi, dan yang paling tinggi diantara mereka adalah para Nabi shalawatullahi wa salamuhu
‘alaihim, Nabi Musa ‘alaihissalam
menangis ketika dilampaui oleh Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam karena iri, dikatakan kepadanya : apa yang
membuatmu menangis? Ia menjawab : (saya menangis karena seorang anak laki-laki
diutus setelahku, -akan tetapi- pent. masuk surga dari ummatnya lebih banyak
dari ummatku) (HR.Bukhari). Rasul kita shallallahu
‘alaihi wa sallam yang mulia pernah bersabda : (saya berharap
menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam senantiasa membangkitkan semangat saling berlomba-lomba
kepada para sahabatnya, agar mereka menaiki tangga yang menyampaikan mereka
kepada tujuan, serta menggambarkan kepada mereka tujuan-tujuan yang tinggi
dalam hadits-hadits yang tak terhitung jumlahnya ; diantaranya : sabda
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam :
(Tidak
ada saling berlomba diantara kalian kecuali pada dua perkara : Seorang
laki-laki yang Allah ‘Azza
wa Jalla karuniakan kepadanya hafalan Alquran dan ia membacanya
dalam shalat siang dan malam, serta mengikuti isinya, kemudian seorang
laki-laki lain berkata : jika Allah mengaruniakan kepadaku seperti apa yang ia
karuniakan kepada Fulan, maka aku akan mengerjakan seperti apa yang dikerjakan
oleh Fulan, dan seorang laki-laki yang Allah karuniakan kepadanya harta dan ia
berinfak dan bersedekah, kemudian berkata laki-laki lain seperti apa yang
diucapkan yang tadi.) (HR.Thabrani).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda : barangsiapa yang shalat dengan membaca
sepuluh ayat maka tidak dicatat kedalam golongan orang-orang yang lalai, dan
barangsiapa yang shalat dengan membaca seratus ayat maka akan dicatat termasuk
golongan orang-orang yang taat, dan barangsiapa yang shalat dengan membaca
seribu ayat maka akan dicatat termasuk dari golongan muqantharin. (HR.Abu
dawud) arti muqantharin adalah : mereka yang mendapatkan pahala yang
berlimpah-limpah.
Diantara
hal yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah ; berlomba-lomba menuju shaf pertama
; dalam hadits : seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala pada adzan
dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan masuk
kedalam undian, sungguh mereka akan masuk kedalam undian, dan seandainya
orang-orang mengetahui besarnya pahala pada bersegera menuju shalat
berjama’ah, sungguh mereka akan berlomba-lomba kepadanya, dan seandainya
mereka mengetahui besarnya pahala shalat isya dan subuh berjama’ah
sungguh mereka akan mendatanginya walaupun dalam keadaan merangkak. (HR.Bukhari
dan Muslim).
Adapun
dua sahabat yang mulia ; ummat terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Abu Bakar dan Umar maka sungguh telah melompat jauh semangat mereka dalam medan
perlombaan, dan mereka telah mencapai derajat yang tinggi dengan amalan-amalan
mereka, dan tidak akan ada seorang pun yang akan mampu mecapai derajat mereka
berdua. Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
suatu saat pernah menyuruh kami bersedekah, dan kebetulan waktu itu aku sedang
memilik harta, maka aku mengatakan, hari ini aku akan mendahului Abu Bakar jika
aku dapat mendahuluinya sehari saja, ia berkata : maka aku datang dengan
separuh hartaku, maka Rasulullah bertanya : apa yang engkau sisakan untuk
keluargamu? Aku mengatakan : seperti itu juga, kemudian Abu Bakar datang dengan
semua harta miliknya, maka Rasulullah bertanya kepadanya : apa yang engkau
sisakan untuk keluargamu? Ia menjawab : aku sisakan untuk mereka Allah dan
RasulNya. Saya berkata : demi Allah saya tidak akan mampu untuk
mendahuluinya kepada sesuatu apapun selamanya. (HR.Tirmidzi dan ia mengomentari
hadits ini hasan dan sahih).
Berkobar
bara semangat saling berlomba dalam kehidupan para sahabat -semoga Allah
meridhoi mereka semuanya- ; yang membuat mereka betul-betul memanfaatkan waktu,
dan menginvestasikan umur mereka, hingga menjadi tinggi kedudukan ilmu
dan amal mereka, bahkan mereka menjadi pemilik keutamaan dan keterdahuluan;
bersabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam : akan masuk ke dalam surga dari
ummatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab, maka berkata seorang sahabat
: wahai Rasulullah berdoa’lah kepada Allah agar menjadikan aku diantara
mereka. Rasulullah berdo’a : ya Allah jadikanlah ia diantara mereka.
Kemudian berdiri seorang laki-laki lain dan berkata : wahai Rasulullah
berdoa’lah kepada Allah agar menjadikan aku diantara mereka. Rasulullah
menjawab : engkau telah didahului oleh Ukkasyah.(HR.Muslim).
Ketika
Perang Uhud, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memancing semangat saling berlomba diantara
para sahabatnya, beliau berkata : siapa yang ingin mengambil pedang ini dengan
haknya? Maka berdiri sahabat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah dan berkata : saya
yang akan mengambilnya wahai Rasulullah dengan haknya, apakah haknya?
Rasulullah menjawab : jangan engkau membunuh seorang muslim dengan pedang ini
dan jangan engkau lari dengannya dari orang kafir. Perawi berkata : maka
Rasulullah memberikan kepadanya. (dikeluarkan oleh Al-Hakim di dalam mustadrak.)
Abu Dujanah adalah seorang sahabat pemberani.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mendidik para sahabatnya untuk selalu bersegera menuju
kebaikan dan berlomba-lomba dalam ketaatan dan amal-amal kebaikan ; dari
sahabat Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu berkata : datang orang-orang fakir kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan berkata : orang-orang kaya telah pergi dengan harta mereka dengan derajat
yang tinggi dan nikmat yang abadi, mereka shalat sebagaimana kami shalat,
mereka puasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta
yang mereka mampu melaksanakan haji, umrah,berjihad dan bersedekah dengannya.
Rasulullah berkata : maukah aku beritahukan sesuatu jika kalian melakukannya
kalian akan menyusul orang-orang yang mendahului kalian dan tidak akan ada yang
meyusul kalian seorangpun dari belakang kalian, dan kalian akan menjadi yang
terbaik dari orang-orang yang ada di tengah-tengah kalian, kecuali orang yang
beramal sepertinya ; kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai
shalat tiga puluh tiga kali.(HR.Bukhari dan Muslim).
Saling
berlomba dalam kebaikan akan tampak pengaruhnya di akhirat nanti, dan akan
terus sampai ke surga ; para penghafal Alquran akan terus menanjaki
derajat-derajat surga sesuai dengan jumlah bacaan dan tartilnya
(dikatakan kepada penghafal Alquran : bacalah dan teruslah naik dan
bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena
sesungguhnya tempatmu adalah pada ayat terakhir yang engkau baca) (HR.Tirmidzi
dengan sanad yang hasan dan sahih).
Perlombaan
yang terpuji ini akan melahirkan sifat untuk selalu maju, memperkuat ambisi,
dan menambah banyak pertumbuhan dan keberhasilan, seorang muslim akan merasakan
tawar dengannya sesuatu yang pahit, dan akan membuat mereka menganggap dekat
sesuatu yang jauh, dan membuat mereka lupa segala rintangan, dan dengan saling
berlomba seseorang akan terangkat ke derajat yang tinggi ketika dibangun
di atas niat yang ikhlas dan benar, serta bersih dari kotoran-kotoran hati yang
dapat merusak amalan, dan menjadikannya debu yang beterbangan.
Adapun
jika semangat saling berlomba ini mati, maka ia akan menjadikan umat ini
menjadi masyarakat yang loyo dan lemah, yang dipenuhi dengan sifat malas dan
terbelakang, juga akan melahirkan para pengangguran serta membuat
generasi lemah dan patah semangat.
Disisi
lain Agama Islam melarang saling berlomba-lomba pada hal yang tercela, yang
sumbernya saling berlomba-lomba dalam hal dunia, dan karena mengikuti hawa
nafsu, bersabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam : Demi Allah bukan kefakiran yang aku
takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah jika dilapangkan
kepada kalian dunia sebagaimana telah dilapangkan untuk orang-orang sebelum
kalian, hingga kalian saling berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka
berlomba-lomba padanya, dan akan membinasakan kalian sebagaimana telah
membinasakan mereka. (HR.Bukhari dan Muslim).
Berlomba-lomba
dalam masalah dunia menjadi tercela ketika membuat engkau lalai dari Allah dan
kampung akhirat, dan membawamu kepada kejelekan dan kemungkaran, serta
menuntunmu untuk meninggalkan kewajiban , mengambil yang haram, atau mengambil
hak-hak orang lain ; hal ini akan membuat perkelahian antara sesama saudara dan
kerabat dekat, juga sebab terputusnya silaturrahmi dan permusuhan, maka akan
semakin banyak percekcokan, dan akan semakin sering terjadi pertengkaran,
Al-Hasan rahimahullah berkata : siapa yang menyaingimu dalam masalah agama maka
bersainglah dengannya, dan siapa yang menyaingimu dalam masalah dunia maka
lemparkanlah dunia itu di lehernya.
Sifat
hasad adalah penyebab utama persaingan yang membinasakan, yang dapat merobohkan
bangunan persaudaraan dalam islam, dan dapat menghilangkan rasa aman dari kaum
muslimin; karena seorang yang hasad ia mengharapkan hilangnya nikmat dari
saudaranya, bahkan ia bisa menjadi penyebab hilangnya nikmat tersebut dengan
kekuatannya.
Dan
termasuk saling berlomba yang tercela; apa yang terjadi antara orang-orang yang
setingkat dalam keutamaan dan kedudukan agama dan dunia, terkadang seseorang
mencela orang lain dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, dan menutup mata
dari kebaikan-kebaikannya disebabkan adanya permusuhan dan kebencian Allah Ta’ala berfirman :
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
“Dan
janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan
timbangannya.” (QS.Al-A’raaf : 85).
Dan
kadang-kadang saling berlomba berakhir kepada saling menjauh, menghina,
mendzalimi, memusuhi dan melampaui batas kepada orang lain.
Saling
berlomba yang tercela juga kadang terjadi dalam hal perdagangan, oleh karena
itu islam mengatur persaingan dalam bisnis perdagangan dengan kaidah-kaidah dan
hukum-hukum syariat, serta memperkokoh nilai-nilai, norma-norma dan akhlak,
islam mengharamkan penimbunan barang -agar terjual mahal- dengan segala
bentuknya, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : (tidak menimbun barang kecuali
dia salah)(HR.Muslim).
Islam
juga mengharamkan segala bentuk penipuan, kecurangan,dan pemalsuan, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam
bersabda : barangsiapa yang berbuat curang kepada kami maka bukan dari golongan
kami (HR.Muslim).
Rasulullah
shallallahu ‘alihi wasallam juga memberikan hak untuk memilih bagi orang
yang lemah akalnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma
bahwasanya ada seorang laki-laki dilaporkan kepada Nabi shallallahu
‘alaih wasallam karena ia sering ditipu dalam jual beli, maka Rasulullah
berkata kepadanya : jika kamu berjual beli maka katakanlah : “tidak ada
tipuan” (HR.Bukhari dan Muslim).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
العَظِيْمِ
الجَلِيْلِ،
اَلْغَفُوْرِ
الرَّحِيْمِ،
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
خَاتَمِ
رُسُلِهِ
وَأَفْضَلِهِمْ،
وَآلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَتَمَمِ
بِالتَّابِعِيْنَ
لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ،
أَيُّهَا
المُسْلِمُوْنَ:
Termasuk
saling berlomba yang tercela adalah ; saling berlombanya saluran-saluran
televisi dalam menyesatkan manusia dan menggoda mereka dengan hal-hal yang
diharamkan, yang mana syaithan membuat indah jeleknya perbuatan mereka, mereka
saling berlomba pada hal yang jelas merupakan kerugian yang nyata, pada hal
yang merusak akal, mengotori fitrah dan menghancurkan akhlak.
Juga
termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; boros, angkuh dalam pesta-pesta
pernikahan serta tidak menghargai nikmat, juga kemungkaran-kemungkaran dalam
pesta-pesta tersebut tanpa ada rasa penjagaan diri dari pengawasan Allah,
pengawasan akal dan hikmah, juga tanpa mengambil pelajaran dari apa yang
terjadi di berbagai belahan dunia dari kemiskinan, kesulitan dan himpitan
keadaan.
Juga
termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; kegiatan-kegiatan yang tidak
benar di lapangan olahraga ; yang menyebabkan saling bertengkar, dan bermusuhan
serta saling mengejek dan saling membenci ; sehingga keluar dari tujuan
olahraga dan maksudnya.
Allah
Ta’ala
berfirman :
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Berlomba-lombalah
kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi,
yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS.Al-hadid : 21).
اَللَّهُمَّ
اغْننِاَ
بِحَلَالِكَ
عَنْ حَرَامِكَ،
وَيَسِّرْ
لَنَا فِي
الأَرْزَاقِ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَقْوَاتِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
وَأَعْمَارِنَا،
وَلَا
تَجْعَلِ
الدُّنْيَا
أَكْبَرَ
هَمِّنَا،
وَلَا
تَلِهْنَا عَنْ
آخِرَتِنَا،
وَوَفِّقْنَا
لِمَا يَنْفَعُنَا
فِي
مَعَادِنَا،
اَللَّهُمَّ
جَنِبْنَا
اَلْكَذِبَ
وَالْغِشَّ،
وَارْزُقْنَا
اَلصِّدْقَ
وَالنُصْحَ،
اَللَّهُمَّ
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ
إِلَى
الْخَيْرِ
وَالْهُدَى،
وَالرُشْدِ
وَالسَّدَادِ،
وَالصَّلَاحِ
وَالْإِصْلَاحِ،
وَالْاِجْتِمَاعِ
وَالْاِئْتِلَافِ،
اَللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ صِيَامَنَا
وَقِيَامَنَا
وَسَائِرَ
طَاعَاتِنَا،
وَاجْعَلْنَا
مِمَّنْ
صَامَ
وَقَامَ إِيْمَاناً
وَاحْتِسَاباً،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا،
وَسَائِرَ أَهْلِيْنَا،
وَالمُسْلِمِيْنَ
أَجْمَعِيْنَ،
وَصَلِّ
وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
الكَرِيْمِ
أَبِي القَاسِمِ
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ
اَلْهَاشِمِيْ
اَلقُرَشِيْ.
Diterjemahkan
dari khotbah Syeikh Abdul Bari Al-Tsubaiti -hafidhzahullah- Imam dan
Khatib Masjid Nabawi
Penerjemah:
Ust. Iqbal Gunawan, Lc