Khutbah
Pertama
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً
أما
بعد
Amma
ba’du :
Ayyuhal
ikhwah fillah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dengan takwa yang sebenar-benarnya. Sesungguhnya
manusia kini tengah terjebak di dalam timbunan kesibukan dunia yang
materialistik bersama aneka macam problema jiwa dan ketegangan syaraf yang
ditimbulkan oleh nafsunya, mereka sangat membutuhkan sesuatu yang bisa
menghibur perasaannya. Melepaskan beban penderitaannya, dan membangkitkan
perasaan tentram di dalam hati dan perasaan tenang di dalam jiwa, jauh dari
kesulitan, kegelisahan, dan keresahan. Mana mungkin manusia bisa menemukan hal
itu di luar naungan Islam dan ibadah-ibadahnya yang agung, yang merupakan
terapi rohani yang mutlak ampuh dan tidak tergantikan oleh terapi materi.
Ketahuilah, bahwa ibadah yang memiliki pengaruh terbesar dalam hal itu ialah
shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.
Allah
berfirman :
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ
وَالصَّلاَةِ
“Hai
orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”
(QS.Al-Baqarah :153)
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ
إِنَّ
الصَّلاَةَ
تَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
“Dan
dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut :45)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah bersabda kepada Bilal radiyallahu ‘anhu :
“Bangkitlah
hai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.’’ ( HR.Ahmad,
5:371, dan Abu Daud, 4986 )
“Dan
setiap kali dirundung masalah, beliau selalu melaksanakan shalat.”
(HR. Ahmad, 5:388 dan Abu Daud, 1319 )
Hal
itu tidak lain karena shalat adalah komunikasi antara hamba dengan tuannya.
Berdiri di hadapan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam shalat memiliki efek yang sangat besar dalam
memperbaiki jiwa manusia,bahkan seluruh masyarakat manusia.
Hanya,
shalat seperti apakah yang dapat mempererat hubungan komunikasi antara makhluk
dan penciptanya? shalat seperti apakah yang dapat memberikan efek yang positif
di dalam diri pelakunya, sehingga dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan
munkar, dan bisa membantunya dalam urusan agama dan dunianya; mendorongnya
untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan dan
dimakruhkan? apakah itu shalat jasmani tanpa ruh, badan tanpa hati, gerakan
tanpa kekhusyukan, bentuk tanpa esensi, kata-kata tanpa makna? Bukan! sama sekali
bukan! Tetapi shalat Syar’iyah nabawiyah yang dilaksanakan menurut
rambu-rambu Alquran dan sunah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Sesungguhnya
shalat yang diserukan Islam merupakan mi’raj ruhani bagi seorang mukmin.
Karena ruhnya bisa membawanya mi’raj ( naik ke langit ) setiap kali ia
melaksanakan shalat kepada Allah, baik shalat fardlu maupun shalat sunnah.
Ruhnya mengajaknya pindah dari alam materi menuju alam yang tinggi, jernih,
suci dan bersih. Di situlah sumber kebahagiaan dan ketenteraman.
Ikhwatal
Islam! Setiap muslim pasti mengetahui kedudukan shalat di dalam agama dan
syariat Allah. Karena shalat adalah tiang agama Islam dan garis pemisah antara
kufur dan iman.Posisi shalat dalam Islam seperti posisi kepala bagi tubuh. Bila
manusia tidak bisa hidup tanpa kepala, begitu pula agama tidak bisa wujud tanpa
shalat. Nash-nash syariat yang menerangkan hal itu sangat banyak. Jika
masalahnya sedemikian penting dan krusial maka satu hal yang sangat menyesakkan
dada dan menyakitkan hati ialah bahwa di antara orang-orang yang mengaku Islam
masih ada orang-orang yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin, tetapi
meremehkan dan menyepelekan shalat. Bahkan terkadang lebih parah dari itu. Laa haula wala quata illa billah!
Akankah
mereka berhenti bersikap seperti itu sebelum mereka ditimpa murka Allah,
dikepung azab Allah, atau dijemput maut?
Saudara-saudaraku
yang rajin shalat! berbahagialah dengan shalat. Bergembiralah bila Allah
melapangkan dada anda untuk melaksanakan kewajiban yang agung ini. Selamat buat
anda yang akan menerima balasan dan anugerah dari Allah, baik di dunia maupun
di Akhirat. Karena anda telah melaksanakan kewajiban agama yang agung ini.
Wahai
orang-orang yang rajin shalat, ketahuilah bahwa shalat yang diterima oleh Allah
harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, wajib-wajib, dan adab-adab tertentu.
Di samping itu, banyak masalah penting dan kesalahan yang berkembang luas
seputar kewajiban ini yang harus diketahui dan dipraktikkan oleh orang-orang
yang shalat. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan:
“Orang yang paling buruk pencuriannya
ialah orang yang mencuri sebagian dari shalatnya.’’ (al-Musnad, 5:310 )
Yang
dimaksud dengan mencuri di dalam shalat ialah tidak menyempurnakan rukuknya,
sujudnya dan khusyuknya.
Dan
ada pula riwayat yang menyebutkan, bahwa orang yang selesai shalat akan dicatat
dari shalatnya sebesar 25 persen, atau 20 persen, hingga 10 persen saja. ( HR.
Ahmad, 4:321 dan Abu Daud, 796 )
Ini
mengajak setiap muslim yang melaksanakan shalat agar memperhatikan urusan
shalatnya, supaya ia tidak kehilangan pahala dan mendapatkan siksa.
Berikut
ini adalah hal-hal singkat yang perlu mendapat perhatian dalam masalah ini :
1.
Bersuci secara lahir dan batin. Karena bersuci adalah syarat besar bagi sahnya
shalat. Dan shalat tidak sah tanpa bersuci. Maka setiap orang yang menunaikan
shalat harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh urusan bersuci dan wudlunya.
Ia tidak boleh meremehkan hal itu. Juga tidak boleh berlebihan dalam
menyikapinya hingga sampai ke tingkat waswas. Salah satu hal yang sangat
disesalkan dalam soal ini yaitu sebagian orang awam tidak memberikan perhatian
secukupnya terhadap masalah wudlu dan bersuci. Bahkan ada yang melakukan
tayammum di dekat air atau sebenarnya bisa mencari air. Ini adalah kecerobohan
yang nyata.
2.
Menghadap kiblat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Orang yang
berada di Masjidil Haram harus menghadap ke arah Ka’bah secara tepat.
Sebagian orang ternyata tidak memahami masalah ini atau meremehkannya.
3.
Menutup aurat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Apa yang
dilakukan sebagian orang yang teledor dalam masalah ini seperti memakai pakaian
yang transparan, atau celana ketat yang bisa memperlihatkan warna kulitnya atau
membedakan sifatnya adalah hal yang perlu diperhatikan. Wanita di dalam shalat
harus menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, jika berada di antara lelaki
yang bukan mahramnya atau berada di masjid yang berpotensi dilihat oleh kaum
lelaki, maka kondisi semacam ini ia wajib menutupi wajahnya. Dan ia harus
datang ke masjid dengan pakaian yang sederhana, tertutup rapat, tidak bersolek
dan tidak memakai parfum, agar ia bisa pulang ke rumahnya dengan membawa
pahala, bukan dosa.
4.
Memperhatikan kerapian shaf (barisan). Dalam riwayat yang shahih disebutkan
bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam merapikan sendiri barisan-barisan yang ada.
Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau bersikap keras kepada orang yang
tidak memperhatikan hal itu. Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Kalian benar-benar merapikan barisan
kalian, atau Allah benar-benar akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.’’
( HR. Al-Bukhari, 717 dan Muslim, 436 )
5.
Inti shalat dan ruhnya adalah khusyu’. Allah berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, ( Yaitu ) orang-orang yang khusyu’
dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun :1-2)
Di
mana letak khusyu’nya orang-orang yang melaksanakan shalat dengan
perasaan malas, berat, tertekan, kesal, dan ingin bebas dari kewajiban shalat?
Di mana letak kekhusyu’an orang-orang yang tidak fokus di dalam
shalatnya? Shalat mereka hanyalah main-main, gerak-gerik, tengak-tengok, miring
kesana kemari, cepat-cepat dan tergesa-gesa. Hati mereka berkeliaran di lembah,
sementara akalnya merumput di tempat lain. Shalat semacam ini adalah shalat
yang bunting, tidak sempurna.
Maka
setiap orang yang melaksanakan shalat, harus menjaga kekhusyukan dan kehadiran
hatinya secara terus-menerus. Dan ia harus melakukan upaya-upaya yang bisa
membantunya untuk itu, dan mewaspadai hal-hal yang merusak kekhusyukannya.
Ayyuhal
mushallun! Thumakninah adalah salah satu rukun shalat yang tidak boleh
ditinggalkan. Kini banyak orang yang meremehkannya akibat lemahnya iman, dan
tamaknya perasaan duniawi di dalam jiwa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
kepada orang yang melaksanakan shalat secara buruk, karena tergesa-gesa dan
tidak thuma’ninah.
“Kembalilah lalu shalatlah. Karena
sesungguhnya kamu belum shalat.’’ (HR. Al-Bukhari, 793
dan Muslim, 397 )
6.
Yang juga perlu diperhatikan ialah kewajiban mengikuti imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
“Sesungguhnya imam itu diadakan untuk
diikuti.” ( HR.Al-Bukhari,688 dan Muslim, 412 )
Jadi,
makmum tidak boleh lebih maju dari imam atau mendahului gerakan imam. Bahkan
hal itu bisa menjadi penyebab tertolak atau batalnya shalat. Ada riwayat yang
berisi ancaman keras terhadap orang yang berbuat seperti itu. Dalam hadits
riwayat Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu yang disepakati keshahihannya oleh al-Bukhari dan
Muslim dinyatakan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidaklah
salah seorang di antara kamu merasa takut apabila ia mengangkat kepalanya
sebelum imam bahwa Allah akan menjadikan kepalanya sebagai kepala keledai atau
menjadikan wujudnya sebagai wujud keledai?!” (HR. al-Bukhari, 691,dan
Muslim, 427 )
Imam
Ahmad rahimahullah
berkata : “Tidak sah shalat orang yang mendahului imamnya.”
Perkara
yang demikian gawat dan sangsinya seperti itu seharusnya mendapat perhatian
yang serius dari setiap orang yang melaksanakan shalat. Jangan sampai ia
dijerumuskan oleh setan yang ingin merusak shalatnya. Dan kondisi rill para
makmum dalam kaitan ini sangat memperhatinkan dan menyedihkan. Allahul
Musta’an .
Ibadallah!
Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kita pada umumnya dan shalat kita pada
khususnya. Karena bagian yang diperoleh seseorang dari Islam setara dengan
kadar bagiannya dan dari shalat. Kini, marilah kita berfikir tentang kondisi
kita sendiri. Apa yang akan kita peroleh bila kita meremehkan seluruh
syi’ar Islam, terutama shalat? Sesungguhnya umat yang orang-orangnya
tidak mau berdiri di hadapan Allah dalam shalat untuk meminta anugerah dan
kebaikan dari-Nya, benar-benar pantas untuk tidak mampu berdiri kokoh pada
momen-momen kebaikan, persatuan, kemenangan dan kekuatan. Karena semua itu
hanya bisa datang dari Allah semata. Maka, apabila kita memperbaiki hubungan
kita dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan sesama
manusia.
Sesungguhnya
kehancuran dan kemunduran peradaban yang terjadi di berbagai belahan bumi,
berpangkal pada kejatuhan anak-anaknya di lembah-lembah pelanggaran hukum dan
keengganan melaksanakan kewajiban yang paling wajib, yaitu shalat.
Hanya
Allahlah yang pantas kita minta untuk memperbaiki kondisi umat Islam di mana
saja, memberi mereka pemahaman yang benar tentang agamanya. Dan menjadikan
mereka sebagai orang-orang yang teguh menjaga syi’ar-syi’ar
agamanya, menghormatinya, dan menegakkan tiangnya dengan sebaik-baiknya.
Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua
الْحَمْدُ
لِلّهِ
الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُولَهُ
بِالْهُدَى
وَدِينِ
الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّينِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا
بَعْدُ
Amma
ba’du :
Ibadallah!
Bertakwalah kepada Allah. Bersungguh-sungguhlah dalam mendirikan shalat anda.
Karena shalat adalah cahaya anda di muka bumi dan simpanan anda di atas langit.
Siapa pun yang mencermati ayat-ayat Alquran pasti akan menemukan bahwa
perintah-perintah shalat selalu datang dengan redaksi, “iqamah”
(mendirikan). Redaksi ini mengandung makna lebih dari sekedar “ada”
(melaksanakan). Karena iqamah (mendirikan) berarti melaksanakan secara sempurna
dan penuh perhatian.
Sesungguhnya
tanggung jawab orang-orang yang shalat benar-benar besar. Baik terhadap dirinya
sendiri dalam bentuk perhatian yang sungguh-sungguh, maupun terhadap orang
lain, seperti kenalan, kerabat, anak dan tetangga dalam bentuk penyampaian
perintah dan nasihat kepada mereka tentang masalah yang sangat penting ini.
Para imam masjid juga memiliki peran yang besar, karena mereka memikul tugas
yang paling besar. Maka mereka harus melaksanakan tugas itu dengan cara
memberikan perhatian yang serius terhadap shalat dan memberikan pemahaman
tentang hukum-hukum dan hikmahnya sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
:
“Shalatlah
kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” (HR.Bukhari, 631)
Juga
harus ada kerjasama antara para imam dan para makmum. Di mana masing-masing
melaksanakan misinya untuk mewujudkan hasil-hasil yang diharapkan, dengan izin
Allah.
Tinggal
satu catatan penting dalam masalah ini, yaitu masalah-masalah yang longgar dan
menjadi obyek perbedaan pendapat di antara para ulama besar, terutama
masalah-masalah yang disunnahkan atau dianjurkan. Hal itu sama sekali tidak
patut menjadi pemicu perpecahan, perseteruan, dan permusuhan di antara sesama
muslim. Juga tidak patut disikapi dengan keras atau ditolak dengan tegas. Hal
ini tidak bertentangan dengan komitmen terhadap sunah.
Ibadallah!
Bertakwalah kepada Allah dan pahamilah hukum-hukum agama Anda secara mendalam.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
وَبارٍكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَ
عَلَى آلِ
مُحَمَّد
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَ عَلَى ألِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
الأَحْيَآءُ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
إِنَّكَ سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبٌ
الدَعَوَاتِ
وَيَآ
قَاضِيَ
الحَاجَاتِ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. اللهم
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Download
Ebook Khutbah Jumat Shalat Batas Antara Kita dengan Mereka (4496)
(Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jumat Pilihan Setahun
Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya
Artikel
www.KhotbahJumat.com