Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ:
عِبَادَ
اللهِ
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
Ibadallah,
Sesungguhnya
Allah Jalla wa ‘Ala
telah menghalalkan banyak jalan untuk mencari nafkah. Dia membolehkan mencari
rezeki dengan cara yang halal di bumi-Nya. Dan Dia bukakan berbagai pintu
rezeki bagi para hamba-Nya. Allah Ta’ala
berfirman,
وَجَعَلْنَا
النَّهَارَ
مَعَاشاً
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.”
(QS. An-Naba: 11).
Dia
juga berfirman,
وَجَعَلْنَا
لَكُمْ
فِيهَا
مَعَايِشَ
قَلِيلاً
مَّا
تَشْكُرُونَ
“Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan.
Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 10).
لَيْسَ
عَلَيْكُمْ
جُنَاحٌ أَن
تَبْتَغُواْ
فَضْلاً مِّن
رَّبِّكُمْ
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil
perniagaan) dari Tuhanmu.” (QS. Al-Baqarah: 198).
وَآخَرُونَ
يَضْرِبُونَ
فِي
الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ
مِن فَضْلِ
اللَّهِ
“Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari
sebagian karunia Allah.” (QS. Al-Muzammil: 20).
فَانتَشِرُوا
فِي
الْأَرْضِ
وَابْتَغُوا مِن
فَضْلِ
اللَّهِ
“maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia
Allah.” (QS. Al-Jum’ah: 10).
وَأَحَلَّ
اللّهُ
الْبَيْعَ
وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan
riba.” (QS. Al-Baqarah: 275).
Dan
masih banyak lagi ayat-ayat selain ayat-ayat yang telah khotib sebutkan.
Namun,
wajib bagi setiap muslim memperoleh harta dengan cara yang benar dan hendaknya
mereka mencari rezeki dari jalan yang dibolehkan dan diridhai oleh syariat.
Serta menjauhi mata pencarian yang jelek dan diharamkan.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ
يَأْخُذْ
مَالاً
بِحَقِّهِ
يُبَارَكْ
لَهُ فِيهِ ،
وَمَنْ
يَأْخُذْ
مَالاً بِغَيْرِ
حَقِّهِ
فَمَثَلُهُ
كَمَثَلِ
الَّذِى
يَأْكُلُ
وَلاَ
يَشْبَعُ
“Barangsiapa yang mengambil harta yang menjadi haknya,
maka akan diberikan keberkahan kepadanya. Dan barangsiapa yang mengambil harta
yang bukan menjadi haknya, maka ia adalah seperti hewan yang selalu makan dan
tidak pernah merasa kenyang.” (HR. Muslim).
Yaitu
keberkahan akan hilang dari harta yang diperoleh dari jalan yang haram walaupun
jumlahnya banyak dan berlipat-lipat. Apa yang bisa diharapkan dari harta yang
telah hilang keberkahannya?
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,
إِنَّ
هَذَا
الْمَالَ
خَضِرَةٌ
حُلْوَةٌ مَنْ
أَصَابَهُ
بِحَقِّهِ
بُورِكَ لَهُ
فِيهِ ،
وَرُبَّ
مُتَخَوِّضٍ
فِيمَا
شَاءَتْ بِهِ
نَفْسُهُ
مِنْ مَالِ
اللَّهِ
وَرَسُولِهِ
لَيْسَ لَهُ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
إِلاَّ
النَّارُ
“Sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Barangsiapa
mengambilnya sesuai haknya, ia diberkahi dalam harta itu. Dan berapa banyak
orang yang mengelola harta Allah dan rasul-Nya sesuai kehendak nafsunya
sendiri, yang pada hari kiamat tidak ada balasan baginya selain neraka.”
(HR. Tirmidzi).
Dalam
sabdanya yang lain,
إِنَّ
هَذَا
الْمَالَ
خَضِرَةٌ
حُلْوَةٌ فَمَنْ
أَخَذَهُ
بِحَقِّهِ
وَوَضَعَهُ
فِى حَقِّهِ
فَنِعْمَ
الْمَعُونَةُ
هُوَ
“Barangsiapa yang mengambil harta dengan cara yang benar
dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik
bekal.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari
Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
اللَّهَ
طَيِّبٌ لاَ
يَقْبَلُ
إِلاَّ
طَيِّبًا
وَإِنَّ
اللَّهَ – عز
وجل – أَمَرَ
الْمُؤْمِنِينَ
بِمَا أَمَرَ
بِهِ
الْمُرْسَلِينَ
فَقَالَ : { يَا
أَيُّهَا الرُّسُلُ
كُلُوا مِنَ
الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا
صَالِحًا }
وَقَال: {يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ}
ثُمَّ ذَكَرَ
الرَّجُلَ يُطِيلُ
السَّفَرَ
أَشْعَثَ
أَغْبَرَ
يَمُدُّ يَدَيْهِ
إِلَى
السَّمَاءِ
يَا رَبِّ يَا
رَبِّ وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ
وَمَشْرَبُهُ
حَرَامٌ
وَمَلْبَسُهُ
حَرَامٌ
وَغُذِىَ
بِالْحَرَامِ
فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ
لِذَلِكَ
“Sesungguhnya Allah itu thoyyib
(baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik) pula. Dan
sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang
diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul!
Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga
berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang
baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh,
sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke
langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.”
Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram,
pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah
Allah akan memperkenankan doanya?” (HR. Muslim).
Dari
Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتِي
عَلَى
النَّاسِ
زَمَانٌ مَا
يُبَالِي
الرَّجُلُ
مِنْ أَيْنَ
أَصَابَ
الْمَالَ
مِنْ حَلَالٍ
أَوْ حَرَامٍ
“Akan datang kepada manusia suatu masa, dimana orang tidak
lagi memedulikan dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari hasil yang halal
ataukah dari hasil yang haram.” (HR. An-Nasai).
Dari
Jabir radhiallahu
‘anhuma, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ
جَسَدٍ
نَبَتَ مِنْ
سُحْتٍ
فَالنَّارُ
أَوْلَى بِهِ.
رواه الحاكم
والبيهقي
“Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka nerakalah
yang lebih tepat menjadi tempatnya.” (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi).
Dan
masih banyak lagi hadits-hadits yang semakna dengan hadits-hadits yang baru
saja khotib sampaikan.
Ibadallah,
Hendaklah
kita bertakwa kepada Allah dalam perniagaan kita, harta, dan usaha-usaha kita.
Wajib bagi kita mewaspadai yang haram. Karena cara mencarai nafkah dari jalan
yang haram adalah sesuatu yang rusak dan jelek akibatnya baik di dunia maupun
di akhirat. Cara mencari nafkah dengan jalan yang haram adalah jauh dari
keberkahan. Dan pada hakikatnya cara-cara seperti itu adalah cara yang rendah
dan membinasakan.
Ibadallah,
Jual
beli atau perdagangan yang diharamkan oleh syariat ada banyak. Wajib bagi
setiap muslim menjaga diri dan mewaspadai dari bentuk perdagangan demikian,
apalagi sampai terjatuh di dalamnya agar harta dan rezeki mendapat berkah.
Bentuk-bentuk perdagangan yang diharamkan adalah:
Pertama: Jual beli barang-barang yang
diharamkan oleh syariat.
Apabila
Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka ia mengharamkan pula
memperdagangkannya. Karena yang demikian sama saja seseorang mendistribusikan
sesuatu yang haram. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam melarang memperjual-belikan bangkai, khamr,
babi, dan patung-patung.
Barangsiapa
yang memperjual-belikan bangkai, yaitu daging yang disembelih tidak sesuai
ketentuan syariat, haram hukumnya. Dan mengambil manfaat dari hasil perdagangan
tersebut juga haram. Sama halnya juga dengan memperjual-belikan daging yang
sudah busuk yang mudharat bagi orang yang memakannya, yang jika dikonsumsi bisa
menyebabkan seseorang sakit.
Kedua: Jual beli khamr.
Khamr
adalah segala sesuatu yang secara dzatnya memabukkan. Hal ini berdasarkan sabda
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
“Setiap
yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr haram hukumnya.”
Termasuk
dalam hal ini, jual beli ganja, opium, heroin, dan jenis-jenis narkoba lainnya.
Orang-orang yang memperjual-belikan yang demikian mereka telah melakukan tindak
kriminal dan melanggar hak kaum muslimin. Hasil dari perdagangan barang-barang
haram ini adalah seburuk-buruk penghasilan. Dan bagi para pengedarnya berhak
untuk mendapatkan hukuman mati karena mereka termasuk orang-orang yang
mengadakan pengrusakan di muka bumi.
Ketiga: Jual beli rokok dan syisya.
Rokok
dan syisya adalah dua hal yang kotor yang menyebabkan banyak penyakit dan
berbahaya bagi kesehatan. Keduanya sama sekali tidak memiliki manfaat dari sisi
manapun. Dan bahayanya laten bagi kehidupan individu dan masyarakat.
Tidak
diragukan lagi, rokok dan syisya adalah sesuatu yang haram untuk dikonsumsi.
Haram dari segala sisi dan aspek. Membelanjakan harta pada keduanya adalah
bentuk penyia-nyiaan terhadap harta, menghabiskan waktu pada perbuatan dosa dan
haram, mengancam kesehatan, menghilangkan keceriaan pada wajah, menghitamkan
bibir, mencemari udara yang akan dihisap orang lain, dan masih banyak lagi
bahaya dan mudharat dari rokok dan syisya.
Mengonsumsinya,
memperjual-belikannya, dan menyediakannya adalah haram hukumnya.
Keempat: Jual beli alat-alat musik dengan
berbagai jenisnya.
Hal
ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan
di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna
untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6).
Dan
berdasarkan sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
لَيَكُونَنَّ
مِنْ
أُمَّتِى
أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ
الْحِرَ
وَالْحَرِيرَ
وَالْخَمْرَ
وَالْمَعَازِفَ
“Sungguh akan ada dari umatku kaum-kaum yang menghalalkan
zina, kain sutra (bagi lelaki), khomer (segala sesuatu yang memabukkan), dan
alat-alat music.” (HR. Bukhari).
Kelima: Jual beli patung makhluk yang
memiliki ruh.
Maksud
patung yang memiliki ruh adalah patung-patung makhluk hidup semisal manusia dan
hewan. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang dikenal dengan sifat penyayang, telah
melaknat orang-orang pembuat patung bernyawa atau pelukisnya. Beliau memberikan
kabar gaib bahwa pemahat patung dan pelukis makhluk bernyawa akan mendapatkan
siksa yang keras pada hari kiamat kelak. Dan beliau mengabarkan bahwa malaikat
enggan memasuki rumah yang terdapat patung-patung dan gambar-gambar makhluk
bernyawa.
Keenam: Jual beli film-film yang saru atau
memancing nafsu birahi.
Film-film
yang mempertontonkan aurat wanita dan gambar-gambar yang hina adalah perbuatan
yang keji. Hanya orang-orang yang mencintai kekejian dan kerendahan saja yang
mau menyaksikannya. Hal ini sangat jauh sekali dari adab dan akhlak Islam yang
mulia dan tinggi.
Selain
itu, ada juga hal yang mengkhawatirkan yang beredar di masyarakat kita, yaitu
banyaknya sinetron di berbagai stasiun televisi. Sinetron-sinetron tersebut
memuat kesesatan dan pemikiran ateis, juga hal-hal yang merusak agama.
Menyaksikannya hanya akan mematikan rasa cemburu, merusak adab dan akhlak,
serta menceburkan diri pada kerusakan dan perbuatan rendahan.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Wajib
bagi kita semua untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Ala dalam setiap urusan kita.
Dalam ibadah kita. Dalam muamalah kita. Dalam perniagaan kita. Dan dalam setiap
aktivitas kita. Dari Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ – تعالى – يَغَارُ ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّه
“Sesungguhnya
Allah Ta’ala
juga cemburu. Cemburunya Allah adalah ketika ada seorang hamba melakukan apa
yang Dia haramkan untuknya.”
Allah
Jalla wa ‘Ala
mengharamkan kepada hamba-Nya sesuatu yang di dalamnya terdapat kejelekan bagi
para hamba, baik pada urusan agama maupun dunia, baik pada masa sekarang
ataupun masa yang akan datang. Allah Subhanahu
wa Ta’ala Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya. Dia telah
menerangkan kepada hamba-hamba-Nya mana yang halal dan memberikan
batas-batasnya agar jangan dilewati. Dia juga telah menjelaskan mana yang haram
dan batas-batasnya. Dia berfirman,
تِلْكَ
حُدُودُ
اللّهِ فَلاَ
تَعْتَدُوهَا
وَمَن
يَتَعَدَّ
حُدُودَ
اللّهِ
فَأُوْلَـئِكَ
هُمُ
الظَّالِمُونَ
“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu
melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah
orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229).
Tentang
yang haram, Allah berfirman,
تِلْكَ
حُدُودُ
اللّهِ فَلاَ
تَقْرَبُوهَا
كَذَلِكَ
يُبَيِّنُ
اللّهُ
آيَاتِهِ
لِلنَّاسِ
لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka
bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187).
نَسْأَلُ
اللهَ
الكَرِيْمَ
أَنْ يُبَصِّرَنَا
جَمِيْعاً
بِحُدُوْدِ
دِيْنِهِ، وَأَنْ
يُفَقِّهَنَا
فِي شَرْعِهِ
وَتَنْزِيْلِهِ،
وَأَنْ
يَّمُنَّ
عَلَيْنَا
بِالرِّزْقِ
الطَيِّبِ
اَلْحَلَالِ،
اَللَّهُمَّ
بَارِكْ
لَنَا فِي
أَعْمَارِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَاغْفِرْ لَنَا
إِنَّكَ
أَنْتَ الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنِانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى.
Ibadallah,
Dalam
sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
((لاَ
تَزُولُ
قَدَمَا
عَبْدٍ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
حَتَّى
يُسْأَلَ
عَنْ أربع ))
وذكر منها: (( وَعَنْ
مَالِهِ مِنْ
أَيْنَ
اكْتَسَبَهُ
وَفِيمَا
أَنْفَقَهُ))
“Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari
kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara.” Di antaranya adalah
“Tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia
belanjakan.”
Ibadallah,
Barangsiapa
yang yakin kalau dia akan dihisab dan mempertanggung-jawabkan pekerjaan dan
hartanya pada hari kiamat kelak, hendaknya ia mempersiapkan jawaban dari apa
yang akan ditanyakan. Mempersiapkan diri dengan jawaban yang benar.
Orang
yang cerdas adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya agar mau beramal
untuk kehidupan setelah kematian. Sementara orang yang lemah adalah mereka yang
memperturutkan hawa nafsunya dan panjang angan-angannya.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِيْ
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
.( ،
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com