Oleh:
Suroso Abd. Salam, M.Pd.
إِنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
…
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Keterpurukan
ekonomi dan moneter yang melanda Indonesia dan beberapa negara lainnya
berdampak mengenaskan bagi kehidupan masyarakat kelas ekonomi bawah, khususnya,
angka kemiskinan semakin membengkak. Angka di bawah garis kemiskinan juga
semakin besar. Keterpurukan ekonomi dan moneter yang dimulai sejak 1997 M. di
Indonesia telah didahului oleh krisis moral dan akidah, krisis kejujuran, dan
keteladanan.
Pada
sisi lain kelas ekonomi menengah ke atas, terus-menerus menumpuk-numpuk
kekayaan, mengeruk harta benda dengan segala cara, dan berfoya ria mengumbar
hawa nafsu. Kecil sekali perhatiannya terhadap perbaikan ekonomi golongan mustad’afin. Bahkan
orang kaya terus mengeruk harga rakyat beratus-ratus trilyun rupiah dengan
bekerja sama dengan para penguasa lacur.
Norma-norma
ketimuran sebagai orang timur, terlebih nilai akidah, syariat, dan akhlak Islam
tidak lagi dilirik sedikit pun, apalagi dijadikan dasar pijakan untuk
berperilaku yang cantik. Sungguh keadaan yang sangat memilukan ini menimpa
hampir seluruh struktur dan kultur masyarakat Indonesia, kecuali yang dirahmati
Allah Ta’ala.
Genap
lengkaplah penderitaan jasmani dan rohani, sosial dan emosional. Jati diri
manusia beradab telah beralih kepada perilaku-perilaku kehewanan. Keadaan ini
menunjukkan bahwa kebanyakan manusia telah bergeser dari statusnya sebagai
hamba Allah Ta’ala
yang diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya saja. Hanyalah sedikit manusia
yang Allah Ta’ala
jaga yang tidak terlibat di dalam perkara yang mengenaskan tersebut, sehingga
tetap istiqamah hanya beribadah kepada-Nya saja.
Ulah
atau tingkah laku yang seharusnya menaati Pencipta manusia, telah mereka
gantikan dengan menuruti hawa nafsu. Segala sesuatu hanya berdasar pertimbangan
akal mereka yang terbatas dan nafsu hewani belaka. Aturan-aturan penciptanya
tak lagi dihiraukan.
Keadaan
seperti inilah yang membuat Allah Ta’ala
menurunkan azabnya. Berbagai bencana alam, musibah berskala besar datang silih
berganti. Inilah ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab yang membuat
kerusakan di muka bumi ini. Bukankah Allah Ta’ala
telah berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّبِيٍّ إِلاَّ أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ{94} ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَواْ وَّقَالُواْ قَدْ مَسَّ آبَاءنَا الضَّرَّاء وَالسَّرَّاء فَأَخَذْنَاهُم بَغْتَةً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ{95} وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ{96} أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ{97} أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ{98} أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ{99} أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأَرْضَ مِن بَعْدِ أَهْلِهَا أَن لَّوْ نَشَاء أَصَبْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ {100}
“Kami tidaklah mengutus seorang nabi
pun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan
Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka
tunduk dan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan
kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka
berkata, ‘Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasai penderitaan
dan kesenangan’, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong
sedang mereka tidak menyadarinya. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu
merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu
mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika
mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang
tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali
orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai
suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu
Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci hati mereka sehingga
mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”
(QS. Al-A’raf: 94-100).
Keadaan
seperti ini membuat sebagian manusia ‘telah kalah sebelum
berperang’. Artinya, melihat, menyaksikan, merasakan, dan mengalami
penderitaan yang bertubi-tubi, sekaligus tidak memiliki daya upaya dan tidak
memohon pertolongan, hidayah, dan inayah kepada pencipta mereka yakni Allah Ta’ala, akhirnya
muncullah sikap menyerah, pasrah, lemah gairah untuk maju, tidak ada semangat
juang untuk keluar dari krisis multi dimensional. Motivasi hancur, harta benda
hancur, keluarga hancur, kehormatan hancur, tidak memiliki sandaran atau dasar
beragama yang memadai, akhirnya sikap pesimistis menatap ke depan menjadi
pilihan yang tak seharusnya diambil.
Akankah
azab atau hal ini segera berakhir di Indonesia?
Jamaah
Jumat rahimakumullah
Sebaik-baik
manusia yang bersalah adalah mereka yang menyadari kesalahannya kemudian
bertaubat. Sebaliknya –tentu saja- manusia yang paling jahat adalah
manusia yang berbuat salah kepada penciptanya dan kepada sesama makhluk, akan
tetapi tidak mengakui kesalahannya dan dengan kepongahan dan kesombongannya,
tidak peduli untuk meminta maaf, bertaubat, dan memperbaiki diri.
Bukankah
banyak manusia Indonesia (jutaan) masih meminta rezeki, dimudahkan jodohnya,
pangkatnya, dilepaskan dari kesulitan hidup, memintanya kepada kuburan dengan
anggapan si mayit adalah orang shalih yang dekat dengan Allah Ta’ala, sehingga
dapat dijadikan perantara untuk memintanya kepada Allah Ta’ala. Juga meminta
kepada patung, keris, pohon, batu, paranormal, jin, dukun, dan sejenisnya.
Inilah dosa terbesar (syirik). Dan… masih teramat banyak jenis kesyirikan
yang dilakukan mereka.
Bukankah
Allah Ta’ala
telah berfirman,
إِيَّاكَ
نَعْبُدُ
وإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah
dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS.
Al-Fatihah: 5).
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman
kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS.
Al-Baqarah: 186).
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Demikian
halnya kesalahan besar telah dilakukan jutaan manusia berupa berakhlak rendah,
tidak berakhlak karimah. Dosa-dosa besar dikerjakan setiap hari secara
terang-terangan yang menjadi pemandangan menyesakkan dada orang-orang yang
peduli dengan agamanya. Hukum Allah Ta’ala
tidak diterapkan di dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, berbangsa,
dan bernegara serta dalam tataran internasional, kecuali hal-hal tertentu yang
disesuaikan dengan selera dan hawa nafsu (mencampur yang haq dengan yang
batil).
Jika
keadaan seperti ini tidak membuat manusia menyadari akan kekeliruan atau
kesalahan dan merasa berada di dalam kebenaran atas dasar, standar atau
kriteria hawa nafsu, maka sungguh teramat layak jika musibah, azab, bencana,
akan terus menimpa manusia Indonesia, seperti sekarang ini.
Lalu
kapan hal itu akan berakhir?
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Benar,
dengan izin Allah Ta’ala,
lambat ataupun cepat keadaan tersebut akan berakhir dan berganti dengan
kebaikan dengan syarat:
–
Manusia Indonesia, sebagian besarnya (pada gholibnya) bertaubat.
–
Istiqamah di dalam beriman dan bertakwa.
–
Beramal shalih.
–
Bertawakal kepada Allah Ta’ala.
Bertaubat
artinya menyadari kesalahannya, meminta ampun kepada Allah Ta’ala, bertekad
bulat tidak akan mengulangi kesalahan, berusaha sekuat kemampuan untuk berbuat
baik, dan meminta maaf kepada sesama manusia jika kesalahan tersebut menyangkut
hak manusia yang dirampas. Inilah taubatan nasuha. Firman Allah Ta’ala,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً{10} يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً{11} وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً{12 }
“Maka aku katakan kepada mereka,
‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan
harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula
di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
Berdasarkan
ayat ini, jika kita bertaubat, maka kesulitan seperti yang Indonesia alami,
akan segera Allah Ta’ala
ganti dengan kemudahan. Hal yang sama disebutkan di dalam banyak ayat.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ
أَكْثَرَ
الْاِسْتِغْفَارَ
جَعَلَ اللّهُ
لَهُ مِنْ
كُلِّ هَمٍّ
فَرَجًا،
وَمِنْ كُلِّ
ضِيْقٍ
مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ
مِنْ حَيْثُ
لاَ
يَحْتَسِبُ.
“Barangsiapa
memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya
jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan
memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(HR. Ahmad)
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Istiqamah
di dalam beriman dan bertakwa adalah langkah kedua, setelah bertaubat. Manusia
yang telah bertaubat, tetaplah harus mempertahankan keimanan dan ketakwaannya
dan terus berusaha meningkatkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan
Rasul-Nya. Mereka harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah
Allah Ta’ala
dan Rasul-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jika
masyarakat umum telah benar-benar beriman dan bertakwa, maka keadaan mereka
yang dulunya mengenaskan akan Allah Ta’ala
ubah dengan yang sebaliknya. Firman-Nya,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf:
96).
وَمَن
يَتَّقِ
اللَّهَ
يَجْعَل
لَّهُ مَخْرَجاً.
وَيَرْزُقْهُ
مِنْ حَيْثُ
لَا يَحْتَسِبُ
وَمَن
يَتَوَكَّلْ
عَلَى
اللَّهِ
فَهُوَ
حَسْبُهُ
إِنَّ
اللَّهَ
بَالِغُ أَمْرِهِ
قَدْ جَعَلَ
اللَّهُ
لِكُلِّ
شَيْءٍ
قَدْراً.
“Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa
yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya
Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Beramal
shalih merupakan bukti bahwa masyarakat yang telah bertaubat, dan benar-benar
beriman dan bertakwa, di dalam perbuatannya (hati, lisan, dan anggota badannya)
bergerak untuk merencanakan aktivitas, mengelola, melaksanakannya, mengontrol,
serta mengevaluasi dan mengembangkannya di dalam lingkup pribadi, keluarga,
masyarakat, berbangsa dan bernegara maupun aktivitas internasional yang selalu
berdasarkan (at-Tauhid) keikhlasan dan ittiba’ (mencontoh shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Jika
demikian keadaannya, maka yang haq akan bersinar dan kebatilan akan lenyap.
Umat Islam akan memimpin dunia dengan kebenaran dan keadilan, jauh dari
kebatilan dan kezhaliman seperti sekarang ini. Firman-Nya,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada
orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih
bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana
Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir
sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. An-Nur: 55).
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Tawakal
adalah salah satu sifat orang-orang yang beriman dan bertakwa. Setelah beramal
shalih atau beraktivitas semaksimal mungkin dalam kebaikan, mereka menyadari
bahwa itu semua atas karunia dan kekuatan dari Allah Ta’ala. Dan hasil
akhir yang berkuasa untuk menentukannya adalah Allah Ta’ala pula. Oleh
karena itu mereka bertawakal (menyerahkan segala hal ikhwal akhirnya) hanya
kepada Allah Ta’ala,
tidak kepada dirinya yang lemah, seperti halnya kebanyakan manusia yang
sombong.
Dengan
bertawakal inilah akan menjadi baik bagi seluruh masyarakat. Jika ikhtiarnya
sukses, mereka akan bersyukur. Jika ikhtiarnya belum sampai kepada tujuan yang
diinginkan, mereka tidak akan kecewa, sebab itu pun akan baik bagi mereka.
Selama mereka di dalam kebaikan, mereka yakin dan optimis, bahwa upaya,
aktivitas atau amal shalih mereka akan dibalas oleh Allah Ta’ala, lambat
ataupun cepat, di dunia ataupun di akhirat. Firman-Nya,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرا
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3).
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ إِنّهُ
هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمِ
إِنّ
الْحَمْدَ
لِلّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَصَلَّى
اللَّّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Sesungguhnya
orang yang memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya atau
benar-benar beriman, maka dalam menghadapi persoalan hidup di dunia ini
–bagaimanapun peliknya, sulitnya, menderitanya– tidaklah akan
membuatnya pesimis yang berakhir pada keputusasaan. Tidak, sekali-kali tidak.
Orang
beriman apabila diuji oleh Allah Ta’ala
dengan kelapangan, maka ia akan bersyukur dan hal itu baik baginya. Jika ia
diuji dengan kesempitan, maka ia akan bersabar dan hal itu baik pula baginya.
Hal inilah yang menakjubkan shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Sebagai
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, maka umat Islam harus berada di dalam
kondisi tersebut di atas. Mereka akan senantiasa bersabar di dalam menghadapi
berbagai keadaan yang tidak menyenangkan. Mereka akan senantiasa optimis
menatap masa depan setelah menilai, dan menghisab keadaan yang ada. Mereka
mengevaluasi dan menemukan jalan keluar berdasarkan kitabullah dan sunah
Nabi-Nya.
Maka
didapatilah bahwa bangsa ini selayaknya bertaubat kepada Allah Ta’ala, kemudian
istiqamah di dalam beriman dan bertakwa, dibarengi dengan amal shalih dan
bertawakal kepada-Nya saja.
Sikap
optimis seperti ini menepis sikap pesimistis sebagian kecil manusia Indonesia
yang mengatakan bahwa dengan berbagai problematika ini, jangan-jangan Indonesia
akan musnah sebagaimana musnahnya bangsa-bangsa besar di masa lampau. Sikap
pesimis tersebut akan menjadi kenyataan, jika benar-benar bangsa ini enggan
untuk bertaubat kepada-Nya, enggan untuk beriman dan bertakwa, enggan untuk
beramal shalih, dan enggan untuk bertawakal kepada-Nya semata.
Jika
bangsa Indonesia
di dalam menghadapi kemelut berkepanjangan ini menyerahkan solusinya
semata-mata kepada akal dan hawa mereka, maka sudah pasti kemusnahan bangsa
Indonesia memang mungkin saja terjadi, wallahu
a’lam.
Marilah
kita memohon pertolongan, karunia, petunjuk, dan inayah dari-Nya, agar kita
semua dilepaskan dari berbagai kesulitan dan dimudahkan untuk menempuh jalan
menuju perbaikan sesuai yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا تَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا
كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالمَِينَ.
download
ebook khotbah jumat bangsa indonesia akan baik (947)
[Sumber: Dikutib dari Buku Kumpulan
Khutbah Jumat Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta]