Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
Segala
puji itu hak Allah zat yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa ilmu yang
manfaat serta amal shalih untuk memenangkan agama-Nya atas semua agama dan
cukuplah Allah sebagai saksi.
Aku
bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan diri-Nya semata,
tiada sekutu bagi-Nya. Hal ini saya ucapkan sebagai ikrar atas keesaan-Nya.
Aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak manusia untuk
menuju ridha-Nya dengan mengesakan-Nya.
Semoga Allah menyanjungnya, keluarganya dan semua sahabatnya serta memberi
tambahan keselamatan.
Wahai
orang-orang yang beriman, para hamba Allah, bertakwalah kalian kepada Allah.
Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaganya dan membimbingnya
untuk melakukan kebaikan dalam semua urusan baik urusan agama ataupun urusan
dunia. Ketahuilah bahwa takwa adalah melakukan ketaatan kepada Allah karena
beriman kepada Allah dan berharap pahala dari-Nya dan meninggalkan perbuatan
maksiat karena beriman kepada Allah dan merasa takut dengan siksaan-Nya.
Menjadi
kewajiban setiap muslim untuk hidup di dunia ini dalam keadaan merasa khawatir
jika melakukan suatu hal atau suatu dosa yang menyebabkan Allah marah dan
murka.
Perkara
paling penting yang seorang hamba itu wajib merasa takut dengannya sehingga dia
bersemangat untuk menjaga diri darinya dan memaksa jiwanya untuk menjauhinya
adalah kemusyrikan. Memang merasa takut untuk melakukan kemusyrikan adalah
sebuah tujuan agung yang wajib diwujudkan oleh setiap muslim.
Kemusyrikan
adalah dosa yang paling besar, paling berbahaya, merupakan tindakan kezaliman
yang paling zalim, kejahatan yang paling besar dan dosa yang tidak bakal
terampuni.
Menyekutukan
Allah adalah perbuatan menghancurkan rububiyyah dan melecehkan uluhiyyah Allah
serta berburuk sangka dengan pencipta alam semesta.
Kemusyrikan
adalah menyamakan makhluk dengan Allah yang hal ini berarti menyamakan makhluk
yang tidak sempurna dan tidak punya apa-apa dengan zat yang agung serta kaya
raya.
Kemusyrikan
adalah sebuah dosa yang rasa takut kita dengannya harus lebih besar
dibandingkan rasa takut kita dengan hal selainnya.
Terdapat
banyak dalil dalam Alquran dan sunah yang jika direnungkan dan ditelaah oleh
seorang hamba akan menyebabkan timbulnya rasa takut di dalam hati terhadap
kemusyrikan sehingga dia akan mewaspadainya dan menjaga diri jangan sampai
terjerumus ke dalamnya.
Renungkanlah
firman Allah yang terdapat dalam dua ayat dalam surat an Nisa
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Yang
artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya.” (QS an Nisa: 48)
Dalam
ayat ini terdapat penjelasan yang sangat jelas bahwa orang yang berjumpa Allah
dalam keadaan musyrik maka tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan ampunan
Allah karena tempat kembalinya adalah neraka dan dia akan kekal di dalamnya. Di
dalamnya dia tidak akan mati tidak pula ada keringanan siksa untuknya.
Sebagaimana firman Allah,
وَالَّذِينَ
كَفَرُوا
لَهُمْ نَارُ
جَهَنَّمَ لا
يُقْضَى
عَلَيْهِمْ
فَيَمُوتُوا
وَلا
يُخَفَّفُ
عَنْهُمْ
مِنْ
عَذَابِهَا كَذَلِكَ
نَجْزِي
كُلَّ
كَفُورٍ (٣٦)وَهُمْ
يَصْطَرِخُونَ
فِيهَا
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا
نَعْمَلْ
صَالِحًا
غَيْرَ
الَّذِي
كُنَّا
نَعْمَلُ
أَوَلَمْ
نُعَمِّرْكُمْ
مَا
يَتَذَكَّرُ
فِيهِ مَنْ
تَذَكَّرَ
وَجَاءَكُمُ
النَّذِيرُ
فَذُوقُوا
فَمَا
لِلظَّالِمِينَ
مِنْ نَصِيرٍ
(٣٧)
Yang
artinya, “Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. mereka tidak
dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka
azabnya. Demikianlah Kami membalas Setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka
berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya
Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami
kerjakan”. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang
cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang
kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi
orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS Fathir: 36-37)
Di
antara faktor penyebab timbulnya rasa takut di dalam hati orang yang beriman
dengan kemusyrikan adalah merenungkan keadaan orang-orang shalih dan para nabi
yang merasa demikian takut terhadap dosa yang sangat besar ini.
Cukuplah
dalam kesempatan ini kita renungkan bersama doa pemimpin orang-orang yang
bertauhid, sang kekasih Allah, Ibrahim. Beliau adalah seorang yang telah Allah
angkat sebagai kekasih-Nya. Beliau hancurkan patung-patung berhala dengan
tangannya. Beliau berdakwah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan telah
melakukan hal yang luar biasa untuk itu. Renungkanlah doa beliau sebagaimana
yang terdapat dalam Alquran,
وَإِذْ
قَالَ
إِبْرَاهِيمُ
رَبِّ
اجْعَلْ هَذَا
الْبَلَدَ
آمِنًا
وَاجْنُبْنِي
وَبَنِيَّ
أَنْ
نَعْبُدَ
الأصْنَامَ (٣٥)رَبِّ
إِنَّهُنَّ
أَضْلَلْنَ
كَثِيرًا مِنَ
النَّاسِ
فَمَنْ
تَبِعَنِي
فَإِنَّهُ مِنِّي
وَمَنْ
عَصَانِي
فَإِنَّكَ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
(٣٦)
Yang
artinya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku,
jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta
anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, Sesungguhnya
berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. Maka
barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku.
Dan barangsiapa yang mendurhakai Aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS Ibrahim 35-36)
Renungkanlah
pemimpin orang-orang yang bertauhid berdoa kepada Allah agar dirinya dan anak
keturunannya dijauhkan dari penyembahan terhadap berhala. Artinya beliau
meminta agar dirinya dan keturunannya diletakkan di posisi yang jauh dan tidak
dekat dengan kemusyrikan dengan bahasa lain tidak terjerumus dalam
jaring-jaring dan berbagai sarana pengantar menuju kemusyrikan.
Salah
seorang ulama salaf, Ibrahim at Taimi namanya, suatu ketika membaca ayat ini
lantas berkomentar, “Siapa berani merasa terjamin selamat dari
kemusyrikan setelah Ibrahim?”
Artinya
jika Ibrahim sang kekasih Allah saja merasa khawatir melakukan kemusyrikan dan
berdoa kepada Allah agar selamat darinya maka bagaimana mungkin orang selainnya
berani merasa aman darinya?
Nabi
kita setiap pagi berdoa sebanyak tiga kali. Demikian pula setiap sore. Beliau
berdoa, “Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan
dari kefakiran dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur.”
Diantara
doa Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim adalah,
“Ya Allah, aku hanya pasrah kepada-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal
kepada-Mu dan kembali kepada-Mu. Hanya karena-Mu aku mendebat. Aku memohon
perlindungan dengan kemuliaan-Mu yang tiada sesembahan yang pantas disembah
melainkan diri-Mu agar engkau tidak menyesatkanku. Engkau adalah zat yang hidup
dan tidak mati. Sedangkan jin dan manusia mati.”
Di
antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “Ya
Allah, aku memohon hidayah dan sikap yang benar kepada-Mu.”
Hadits-hadits
seputar hal ini banyak sekali. Bahkan Ummu Salamah mengatakan bahwa mayoritas
doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah “Wahai zat
yang membolak-balikkan hati palingkanlah hati kami untuk tetap
mentaatimu.” Aku yaitu Ummu Salamah bertanya, “Wahai Nabi, apakah
hati itu bisa berubah-ubah?” Nabi bersabda, “Memang, semua hati itu
diantara dua jemari Allah. Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia
kehendaki. Jika Dia mau maka Dia akan mengarahkan hati tersebut pada kebenaran
dan jika Dia mau maka Dia akan menyesatkan hati tersebut.”
Di antara
dalil dalam permasalahan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dalam al Musnad dan yang lainnya. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda kepada para sahabat, “Sesungguhnya hal yang paling
aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat lantas
bertanya tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil.
“Riya’”, jawab Nabi.
Para
ulama mengatakan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja
mengkhawatirkan para sahabat terjerumus dalam kemusyrikan kecil padahal mereka
adalah mereka dalam masalah ketaatan dan tauhid lantas bagaimana dengan orang
yang levelnya sangat jauh di bawah para sahabat bahkan tidak ada sepersepuluh
dengan para sahabat dalam masalah tauhid dan ibadah?
Terdapat
riwayat dalam kitab al Adab al Mufrod yang kualitas sanadnya adalah hasan
mengingat banyaknya riwayat pendukung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu
lebih samar dari pada langkah semut.”
Salah
seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kemusyrikan adalah
mengangkat tandingan untuk Allah padahal Dia adalah sang pencipta?”
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang
jiwaku ada di tangan-Nya sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu lebih
samar dibandingkan dengan langkah semut.” Kemudian Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kutunjukkan kepada kalian
suatu kalimat yang jika kalian ucapkan maka Allah akan menghilangkan dari
kalian dosa kemusyrikan baik sedikit ataupun banyak.”
“Tentu”,
jawab para sahabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Itulah ucapan Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai
kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan
kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.”
Menjadi
kewajiban kita bersama untuk menghafalkan doa ini dan rutin membacanya.
Ya
Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu
dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa
yang tidak kami ketahui.
Di
antara hal yang menyebabkan timbulnya rasa khawatir dengan kemusyrikan adalah
apa yang Nabi katakan dalam banyak hadits bahwa ada di antara umat beliau akan
ada yang kembali menyembah berhala. Hal ini terdapat dalam beberapa hadits
diantaranya adalah:
Terdapat
dalam Sunan Abu Daud dan yang lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sehingga beberapa kabilah
dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan beberapa kabilah dari
umatku menyembah berhala.”
Dalam
hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kiamat tidak akan terjadi hingga pantat para wanita dari suku Daud
bergoyang di hadapan Dzul Kholashoh.” Dzul Kholashoh adalah nama berhala.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sungguh kalian
akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal,
sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lobang biawak
gurun tentu kalian juga akan memasukinya.”
Semua
hadits di atas Nabi sampaikan dalam rangka menghendaki kebaikan untuk umatnya
dan untuk mengingatkan umatnya dari bahaya dosa yang sangat besar itu dan
kejahatan yang sangat ngeri itu.
Semoga
Allah melindungi kita semua darinya.
Di
antara faktor yang mendorong kita untuk memiliki kekhawatiran dengan
kemusyrikan adalah orang musyrik itu dekat dengan neraka. Tidak ada yang
menghalangi untuk masuk neraka kecuali karena belum mati saja.
Renungkanlah
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam Sahih
Bukhari, “Barang siapa mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka
pasti akan masuk neraka.”
Para
ulama mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bahwa neraka itu dekat
dengan orang musyrik. Tidak ada penghalangnya dengan neraka melainkan karena
belum mati.
Semua
dalil di atas mendorong orang beriman untuk merasa sangat khawatir dengan
kemusyrikan. Kemudian rasa khawatir tersebut menggerakkan hati untuk
mempelajari dosa besar tersebut supaya bisa mewaspadainya dan menjaga diri
darinya dalam hidup ini.
Oleh
karena itu, dalam Sahih Bukhari Hudzaifah bin al Yaman mengatakan, “Para
sahabat Nabi suka bertanya kepada Nabi tentang kebaikan sedangkan aku suka
bertanya kepada beliau mengenai keburukan karena aku khawatir dengannya.”
Ya
Allah, lindungi kami dari kemusyrikan wahai pemilik alam semesta. Ya Allah,
lindungi kami dari kemusyrikan wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya
Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu
dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa
yang tidak kami ketahui.
Ya
Allah, kami memohon kepada-Mu tauhid yang murni dan iman yang membaja.
Ya
Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyesatkan orang lain
ataupun disesatkan oleh orang lain wahai zat yang memiliki keagungan dan
kemuliaan.
Ya
Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, takwa, terjaganya kehormatan dan
kecukupan rizki
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ
عَلَى
أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِيْنَ،
وَعَلَى أله
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
أَمَّا
بَعْدُ
Terdapat
banyak dalil dari Alquran dan sunah yang menunjukkan bahwa kemusyrikan itu ada
dua macam yaitu besar dan kecil. Dua macam kemusyrikan ini berbeda pengertian
dan konsekuensinya.
Pengertian
syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah baik dalam rububiyyah,
nama dan sifat ataupun dalam uluhiyyah.
Siapa
saja yang menyamakan selain Allah dengan Allah dalam salah satu hak khusus
Allah maka dia telah menyekutukan Allah dengan syirik besar yang mengeluarkan
palakunya dari agama Islam.
Sedangkan
syirik kecil adalah segala perbuatan yang dicap sebagai kemusyrikan oleh dalil,
akan tetapi belum sampai derajat syirik besar. Contohnya adalah bersumpah
dengan Allah, ucapan ‘sebagaimana kehendak Allah dan kehendakmu’,
‘seandainya tidak demikian tentu yang terjadi adalah demikian dan
demikian’ dan ucapan-ucapan semisal yang mengandung kemusyrikan akan
tetapi orang yang mengucapkannya tidak memaksudkannya.
Sedangkan
konsekuensi hukum dari dua macam kemusyrikan tersebut di Akherat tentu berbeda.
Pelaku syirik besar itu kekal di dalam neraka selamanya, tidak mati tidak pula
mendapatkan keringanan siksa.
Sedangkan
syirik kecil dampaknya tidak sampai seperti itu. Meski pada asalnya syirik
kecil itu dosa besar yang paling besar sebagaimana perkataan sahabat, Abdullah
bin Mas’ud. Beliau berkata, “Sungguh jika aku bersumpah dengan
menyebut nama Allah sedangkan isi sumpahku adalah dusta itu lebih aku sukai
dari pada aku bersumpah dengan selain nama Allah meskipun isi sumpahku adalah
benar.”
Bersumpah
dengan selain nama Allah meski isi sumpahnya benar adalah kemusyrikan.
Sedangkan bersumpah dengan nama Allah sedangkan isinya adalah dusta adalah
melakukan dosa besar yaitu dusta. Dosa besar tidak bisa dibandingkan dengan kemusyrikan.
Ini menunjukkan kepahaman para sahabat dengan agama ini.
Permasalahan
kemusyrikan dan mengetahui bentuk-bentuknya adalah permasalahan yang sangat
penting untuk diperhatikan mengingat banyak orang yang tidak mengetahui perkara
agung ini.
Banyak
orang yang melakukan berbagai amalan dan perkara yang merupakan kemusyrikan
namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kemusyrikan. Bahkan sebagian
orang tertipu dengan nama dan label sehingga tercegah dari ibadah yang murni
untuk Allah akhirnya melakukan berbagai hal yang haram bahkan berbagai
perbuatan kemusyrikan. Semoga Allah melindungi kita.
Kita
memohon kepada Allah agar memahamkan kita semua dengan agama-Nya dan memberi
taufik kepada kita semua untuk mengikuti sunah Nabi-Nya serta memberi hidayah
kepada kita semua agar menita jalan-Nya yang lurus.
Hendaknya
kalian mengucapkan sholawat dan salam untuk pemimpin orang-orang yang bertauhid
dan teladan para sahabat, Muhammad bin Abdillah sebagaimana yang Allah
perintahkan dalam kitab-Nya,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Yang
artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk
Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al Ahzab: 56)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang
bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sebanyak
sepuluh kali.”
إِنَّ
الله
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
Khutbah
Jumat Syaikh ‘Abdur Rozaq bin ‘Abdil Muhsin Al Abad Al Badr, pada
tanggal 26 Syawal 1427 H.
Penerjemah:
Ustadz Aris Munandar
Sumber: muslim.or.id