Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ المُبِيْنِ، يُحِقُّ الحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيُبْطِلُ البَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ المُجْرِمُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُتَّقِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ
بِالْعَمَلِ
بِمَرْضَاتِهِ،
وَبُعْضُ
مُحَرَّمَاتِهِ،
فَقَدْ فَازَ
بِكُلِّ
خَيْرٍ مَنِ
اتَّقَى،
وَخَابَ مَنِ
اتَّبَعَ
الْهَوَى.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Islam
adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber, dan pokok-pokok
ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ja termasuk
Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan yang keluar
atau menyimpang darinya, maka ja termasuk firqah-firqah yang halikah (kelompok
yang binasa).
Di
antara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberal adalah sebuah paham
yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori, dan pandangan hidup yang
berbeda. Prinsip ajaran liberal adalah: (1) prinsip kebebasan individual, (2)
prinsip kontrak sosial, (3) prinsip masyarakat pasar bebas, dan (4) meyakini
eksistansi Pluralitas Sosio – Kultural dan Politik Masyarakat.
Islam
dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak
mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang
rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang
“pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya.
Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq tetapi pada
hakikatnya suara mereka itu adalah bathil karena liberal tidak sesuai dengan
Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh
orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka
diuraikan sanad (asal usul) firqah liberal (kelompok Islam Liberal atau
Kelompok kajian utan kayu), visi, misi agenda dan bahaya mereka.
Ibadallah,
Asal-usul
Firqah Liberal
Islam
liberal muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani, Dinasti
Shafawi, dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu
tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan pemurnian, kembali kepada Alquran
dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah
Waliyullah, menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai
dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syiah. Aqa
Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan
membukanya lebar-lebar.
Ide
ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873)
memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani
(Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata
pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam.
Di
India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-18..) yang membujuk kaum muslimin agar
mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ia
membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920).
Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The
Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang
dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah Pelopor Agung Rasionalisme.
Di
Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran
mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari
pengaruh ulama salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan
pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali
Abd. Raziq (1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam
tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan
oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatatan bahwa yang dikehendaki
oleh Alquran hanyalah system demokrasi tidak yang lain.
Di
Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Prancis, ia
menggagas tafsir Alquran model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin
Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda),
antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya Ia ingin menelaah Islam
berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan
keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam.
Di
Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi
guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual,
satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan
Alquran itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju
oleh Alquran adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas untuk
diterapkan.
Di
Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang
memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahid,
dan Abdurrahman Wachid.
Nurcholis
Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia
telah rnenyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi
agama hanya akan tumbuh di atas dasar paham kenisbian (relativisme)
bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu
nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan
inti setiap agama”.
Lalu
sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang
menghasung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok
dengan pikirannya.
Demikian
asal-usul Islam Liberal hingga sampai ke Indonesia. Akan tetapi kalau kita urut
maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Sedang paham sekuleris
dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang
mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar what
The Caesar’s and to the God what the God’s (Serahkan apa yang
menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada Tuhan).
Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur cuma meminjam pendekatan Kristen
yang membidani lahirnya peradaban barat” Sedangkan paham pluralisme yang
mereka agungkan bersambung sanadnya kepada lbn Arabi (468-543 H) yang
merekomendasikan keimanan Firaun dan mengunggulkannya atas nabi Musa ‘alaihis salam.
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Misi
Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya: rnenghancurkan) gerakan Islam
fundamentalis. Mereka menulis: “sudah tentu, jika tidak ada upaya-upaya
untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi,
dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan
ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat
buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan
keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok
agama yang ada. Sebut saja antara Islam dan Kristen. Pandangan-pandangan
kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu
nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”
Yang
dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal adalah
orang yang memiliki lima cirri-ciri,yaitu.
Pertama:
Mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat.
Kedua:
Mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan
membangkitkan kembali masa lalu itu.
Ketiga:
Mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam.
Keempat:
Mereka yang mempropagandakan bahwa Islam adalah agama dan negara.
Keenam:
Mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa depan.
Agenda
dan Gagasan Firqah Liberal
Dalam
tulisan berjudul “Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi
Asy-Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas
Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal.
Pertama:
Agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem
kerajaan, dan parlementer (demokrasi) sama saja.
Kedua:
Mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi
pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di
negeri-negeri Islam.
Ketiga:
Emansipasi wanita.
Keempat:
Kebebasan berpendapat (secara mutlak).
Sementara
dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah.
[1].
Pentingnya konstekstualisasi ijtihad
[2].
Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan
[3].
Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama
[4].
Permisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلُهُ القَوِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتِ،
لَهُ
الْحَمْدُ
أَمَرَ بِالفْضَائِلِ
وَالصَّالِحَاتِ،
وَنَهَى عَنِ
الْبَغْيِ
وَالعُدْوَانِ
وَالرَّذَائِلِ
وَالْمُنْكَرَاتِ،
أَحْمَدُ
رَبِّي عَلَى
نِعَمِهِ
الظَاهِرَاتِ
وَالْبَاطِنَةِ
الَّتِي
أَسْبَغَهَا
عَلَيْنَا
وَعَلَى
المَخْلُقَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ إِلَهُ
الأَوَّلِيْنَ
وَالآخِرِيْنَ
لَا يَخْفَى
عَلَيْهِ
شَيْءٌ مِنَ
الأَقْوَالِ
وَالأَفْعَالِ
وَالإِرَدَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
وَسَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
بَعَثَ اللهُ بِالْبَيِّنَاتِ،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
السَّابِقِيْنَ
إِلَى
الخَيْرَاتِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ
–عَزَّوَجَلَّ-
وَأَطِيْعُوْهُ،
وَكُوْنُوْا
دَائِمًا
عَلَى حَذْرٍ
وَخَوْفٍ
مِنَ
المَعَاصِي،
فَإِنَّ
بَطْشَ اللهُ
شَدِيْدٌ.
Kaum
muslimin wafaqaniyallahu waiyyakum,
Bahaya
Firqah Liberal
Pertama:
Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah ‘‘Azza wa Jalla,
tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan pan
Thaghut lainnya.
Kedua:
Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan
karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah, salaf, dan lain-lainnya
dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam Liberal. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
بِئْسَ
الِاسْمُ
الْفُسُوقُ
بَعْدَ الْإِيمَانِ
ۚ
“Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk
sesudah iman”. [Al-Hujurat : 11]
Keempat:
Mereka beriman kepada sebagian kandungan Alquran dan meragukan kemudian menolak
sebagian yang lain, supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiyah mereka
menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri Alquran. Mereka
menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis, dan
Tafsir Liberal.
Sebagai
contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafsir
al-Ashri-li Alquran menafsiri ayat (Faq tho’u aidiyahumaa)
dengan “maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan
mencukupi kebutuhannya.”
Dan
tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah orang
munafik yang pandai bicara. Dia membantah dengan Alquran.”
Orang-orang
yang seperti inilah yang merusak agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.
“Mereka
mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam,
mereka mengajak kepada kepada Alquran padahal merekalah yang mencampakkan
Alquran.”
Mengapa
demikian ? Karena mereka tidak paham terhadap sunnah.
Keempat:
Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam
Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat, maka mereka
melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat.
Kelima:
Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
para sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang
hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks agama serta pada bentuk-bentuk Formalisme
Sejarah Islam paling awal adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi
agama yang ahistoris dan eksklusif. Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang
diancam oleh Allah:
وَمَنْ
يُشَاقِقِ
الرَّسُولَ
مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ
لَهُ
الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ
غَيْرَ
سَبِيلِ
الْمُؤْمِنِينَ
نُوَلِّهِ
مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ
جَهَنَّمَ ۖ
وَسَاءَتْ
مَصِيرًا
“Dan
barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan
Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’:
115).
Keenam:
Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih
percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku sebagai
“pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo
modernis. Allah berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan
bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang
mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang
yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada
mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah
beriman,” mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana
orang-orang bodoh itu telah beriman.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah
orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah 11-13)
Ketujuh:
Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki
liberal pada zaman Kemal Ataturk sebagai model bagi seluruh negara Islam.
Kedelapan:
Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan
setiap bid’ah pasti memecah belah.
Kesembilan:
Mreka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal,
memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup.
Kesepuluh:
Mereka tidak memiliki metode berama yang jelas sehingga gagasannya terkesan
“asbun” dan asal “comot”. Bahayanya adalah mereka tidak
bisa diam, padahal diam mereka adalab emas, memang begitu berat jihad menahan
lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan yang
baik atau hendaklah ia diam.” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
Ahlul
batil selain menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul haq. Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ
كَفَرُوا
بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَاءُ
بَعْضٍ ۚ
إِلَّا
تَفْعَلُوهُ
تَكُنْ
فِتْنَةٌ فِي
الْأَرْضِ
وَفَسَادٌ
كَبِيرٌ
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung
bagi sebagian yang lain. JIka kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa
yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi
dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 73).
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
–
رَحِمَاكُمُ
اللهُ – عَلَى
مُحَمَّدِ
ابْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وقال صلى الله
عليه وسلم :
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
وَاحِدَةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِيْ
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ -
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، .(
[Diadaptasi dari tulisan Ustadz Agus Hasan Bashari di Majalah As
Sunnah Edisi 04/VI/1423/2002M].
www.KhotbahJumat.com