Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ يُبْتَلِي بِالْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ مَنْ يَشَاءَ مِنْ خَلْقِهِ لِيَتَبَيَّنُ بِذَلِكَ الشَاكِرُ القَائِمُ بِالأَمَانَةِ مِمَّنْ يَضِيْعُهَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ)،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
يُوَفِّقُ
مَنْ شَاءَ
إِلَى
أَدَاءِ
الْأَمَانَةِ
وَالنَصِيْحَةِ
فِيْمَا
حَمَّلَ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
خَيْرَ
قُدْوَةٍ
وَأَحْسَنُ
أُسْوَةٍ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Bertakwalah
kepada Allah, dan ingatlah bahwasanya Allah memberikan kita amanah berupa harta
dan anak-anak, keduanya merupakan amanah yang berat. Namun, bagi siapa yang
Allah beri taufik, maka hal itu akan menjadi mudah untuk ditunaikan sehingga
kita bisa selamat ketika Allah meminta pertanggung-jawabannya kelak di hari
kiamat.
Beban
amanah ini memerlukan usaha ekstra, perhatian yang luar biasa, dan niat yang
tulus dari hati kita. Anak adalah amanah yang menjadi tanggung orang tua, mulai
dari masa pertumbuhan hingga usia mereka matang berpikir. Anak adalah amanah di
pundak-pundak para ayah dan para ibu, kalau tidak mereka jaga dengan baik, maka
mereka akan termasuk orang-orang yang Allah firmankan.
فَلا
تُعْجِبْكَ
أَمْوَالُهُمْ
وَلا أَوْلادُهُمْ
إِنَّمَا
يُرِيدُ
اللَّهُ
لِيُعَذِّبَهُمْ
بِهَا فِي
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَتَزْهَقَ
أَنفُسُهُمْ وَهُمْ
كَافِرُونَ
“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik
hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan
anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan
melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS At-Taubah
: 55)
Allah
Ta’ala
juga berfirman,
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لا
تُلْهِكُمْ
أَمْوَالُكُمْ
وَلا
أَوْلادُكُمْ
عَنْ ذِكْرِ
اللَّهِ
وَمَنْ
يَفْعَلْ
ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ
هُمْ الْخَاسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan
anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat
demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun:
9)
Ayat-ayat
di atas bukan berarti memerintahkan kita untuk meninggalkan anak-anak kita atau
menganjurkan kita agar memohon kepada Allah agar tidak memberikan kita anak,
bukan demikian maksudnya. Maksudnya adalah agar kita memohon kepada Allah
keturunan yang baik dan shaleh, sebagaimana permintaan Nabi Zakariya ‘alaihissalam,
رَبِّ
هَبْ لِي مِنْ
لَدُنْكَ
ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
إِنَّكَ
سَمِيعُ
الدُّعَاءِ
“Duhai Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang
baik. Sungguh Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)
Demikian
juga doa Nabi Ibrahim,
رَبِّ
هَبْ لِي مِنْ
الصَّالِحِينَ
Duhai
Tuhanku, anugerahkanlah bagiku (seorang anak) yang termasuk orang
shalih.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Tidak
diragukan lagi, mengemban amanah harta dan anak adalah sesuatu yang berat
kecuali bagi orang-orang yang Allah mudahkan untuk mengembannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
كُلُّ
مَوْلُودٍ
يُولَدُ
عَلَى
الْفِطْرَةِ
“Setiap anak terlahir dengan fitrahnya.”
Maksudnya
adalah secara fitrah seorang anak itu terlahir di atas agama Islam dan jiwa
yang bersih.
كُلُّ
مَوْلُودٍ
يُولَدُ
عَلَى
الْفِطْرَةِ،
فَأَبَوَاهُ
يُهَوِّدَانِهِ
أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak terlahir dengan fitrahnya. Kedua orang
tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau
seorang Majusi.”
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak mengatakan “atau yang membuatnya menjadi seorang
muslim” karena memang asalnya anak yang terlahir adalah Islam, yang
mengubah mereka adalah pendidikan orang tua mereka masing-masing.
Pendidikan
yang buruk adalah pendidikan yang mengubah fitrah seorang anak yang muslim. Dan
yang demikian tidak terjadi kecuali di tangan kedua orang tuanya, karena anak
berada di bawah bimbingan orang tua. Orang tua bisa menjaga fitrah seorang anak
sebagai fitrah yang murni, menumbuhkembangkan mereka dalam kebaikan dan
ketaatan dan orang tua juga bisa mengubah fitrah tersebut menjadi Yahudi,
Nasrani, atau Majusi.
Orang
tualah yang mendidik anak-anaknya menjadi baik atau buruk. Pendidikan dan
tanggung jawab tidak diartikan semata-mata memberikan kecukupan harta, makanan,
minuman, pakaian, kendaraan, dan sejenisnya. Yang dimaksud pendidikan dan
tanggung jawab di sini adalah pendidikan dan tanggung jawab keagamaan,
pendidikan dan tanggung jawab bimbingan moral yang baik dan akhlak yang terpuji,
termasuk juga menjaga shalat. Allah berfirman,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Perintahkahlah
keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta
rezeki darimu, Aku yang akan memberikan rezeki kepadamu. Akibat baik untuk
orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132)
Allah
berfirman tentang Nabi Ismail,
وَاذْكُرْ
فِي
الْكِتَابِ
إِسْمَاعِيلَ
إِنَّهُ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ
وَكَانَ رَسُولاً
نَبِيّاً*
وَكَانَ
يَأْمُرُ
أَهْلَهُ
بِالصَّلاةِ
وَالزَّكَاةِ
وَكَانَ
عِنْدَ
رَبِّهِ مَرْضِيّاً
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah
Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang
benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh
keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang
diridhai di sisi Rabbnya.” (QS. Maryam: 54-55).
Allah
berfirman,
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا
أَنفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ
نَاراً
وَقُودُهَا
النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا
مَلائِكَةٌ
غِلاظٌ
شِدَادٌ لا
يَعْصُونَ
اللَّهَ مَا
أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim: 6)
Selamatkanlah
diri kita dan anak-anak kita dari neraka dengan cara bertakwa kepada Allah dan
mendidik mereka dengan pendidikan Islam, membimbing mereka dengan akhlak yang
mulia dan menjauhkannya dari akhlak yang tercela. Jika tidak, sama saja halnya
kita berkhianat atas amanat yang kita bawa.
Hendaknya
para orang tua membimbing anaknya agar ke masjid, bukan malah membiarkan mereka
nongkrong-nongkrong di jalan, pergi dengan mobil-mobil, yang kita sendiri tidak
tahu kemana. Dimana pengawasan kita kepada mereka? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
كُلُّكُمْ
رَاعٍ،
وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ
عَنْ
رَعِيَّتِهِ،
الإِمَامُ
رَاعٍ
وَمَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ،
وصاحب البيت
رَاعٍ فِي
بيته ومَسْئُولٌ
عَنْ
رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dipintai
tanggung jawab atas apa yang kalian pimpin. Imam adalah seorang pemimpin, dia
akan dimintai tanggung jawa atas kepemimpinannya. Pemiliki rumah adalah
pemimpin di rumahnya dan dia akan dimintai tanggung jawab atas
kepemimpinannya.”
Sebagaimana
kita mengarahkan anak-anak kita ke tempat pendidikan mereka, demikian juga
halnya kita semestinya mengarahkan anak-anak kita menuju masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مُرُوا
أَوْلاَدَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
لسَبْعِ
وَاضْرِبُوهُمْ
عَلَيْهَا
لعَشْرِ، وَفَرِّقُوا
بَيْنَهُمْ
فِي
الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat mereka
berusia 7 tahun, dan pukullah mereka saat berusia 10 tahun, serta pisahkanlah
tempat tidur mereka.”
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan kita agar membimbing anak-anak kita untuk
menunaikan shalat saat mereka berusia tujuh tahun. Jika lebih dari tujuh tahun,
namun anak-anak tersebut malas untuk menunaikan shalat, maka beliau
memerintahkan untuk memukulnya dengan pukulan yang mendidik. Bahkan dalam tidur
pun kita bertanggung jawab terjadap anak kita, berdasarkan sabda beliau
“pisahkan tempat tidur mereka” agar mereka dewasa dan jauh dari
fitnah.
Kemudian
juga pesan khatib terhadap para guru, guru juga memiliki amanah, karena para
orang tua telah menyerahkan anak-anak mereka kepada Anda selama mereka di
sekolah. Ajarkanlah mereka hal-hal yang bermanfaat, bimbing mereka agar
berakhlak mulia, jelaskanlah pelajaran hingga mereka memahami, baik pelajaran
agama atau ilmu-ilmu keduniaan. Janganlah Anda remehkan hal ini, karena ini
adalah amanah.
Seorang
guru bertanggung jawab atas murid-muridnya, tidak memalingkan mereka dari
kebenaran, tidak mengajarkan pemikiran yang buruk, dan meninggalkan benih-benih
permusuhan di antara mereka dan lingkungannya.
Bagi
para orang tua, harus memperhatikan anaknya di luar rumah, kemana mereka pergi,
siapa teman-teman mereka, bertanya kepada guru-gurunya tentang perkembangan
pelajaran dan tingkah polahnya, bertanya kepada teman-temannya tentang
keadaannya, karena mereka adalah tanggung jawab orang tua baik di dalam maupun
di luar rumah. Memang ini adalah tanggung jawab yang besar dan berat, tapi
Allah akan menolong orang tua sehingga mudah melakukannya, selama para orang
tua itu memiliki niat yang tulus.
Jika
seorang anak mengetahui bahwa orang tuanya memperhatikan tingkah polah dia di
luar rumah, maka sang anak pun akan tetap menjaga perilakunya sebagaimana dia
ketika di hadapan orang tuanya. Jika sang anak mengetahui bahwa orang tuanya
tidak memiliki perhatian, maka di luar sana anak-anak kita bisa terpengaruh
terhadap orang-orang yang merokok, menggunakan narkoba, minum-minuman keras
atau pemikiran-pemikiran yang rusak. Karena itu, tidak masalah kita tanyakan
tentang anak-anak kita bagaimana dia di sekolah, tidak masalah, karena kitalah
orang tua mereka yang bertanggung jawab atas mereka.
Jangan
kita beralasan dengan kesibukan kita, sibuk bisnis, sibuk dengan investasi,
kita perhatikan harta dan pekerjaan kita sampai-sampai kita tidak perhatian
terhadap buah hati kita. Yakinlah! Bisnis, investasi, atau perdagangan yang
tidak merugi adalah apabila anak-anak kita tumbuh dewasa dalam pendidikan yang
baik. Jika mereka rusak, maka hal itu akan menjadi penyesalan bagi kita.
Oleh
karena itu, bertakwalah kepada Allah dalam permasalahan anak, tunaikan
amanah-amanah kita, jika tidak maka Allah akan membuat kita menyesal di dunia
dan di akhirat kelak.
بَارَكَ اللهُ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيِّنَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
مَنِّهِ وَكَرَمِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah,
Ketahuilah
zaman sekarang ini sangat berbeda dengan zaman dahulu. Dahulu orang-orang di
suatu negeri tidak mengetahui keadaan negeri lainnya, apa yang terjadi di sana
tidak bisa mereka ketahui, yang mereka tahu hanya berita-berita tentang negeri
mereka masing-masing atau hanya lingkungan sekitar mereka saja. Namun sekarang,
dunia seolah tanpa jarak, dunia itu seakan-akan hanya sebuah desa yang satu.
Apa yang terjadi di ujung sana, maka bisa diketahui oleh ujung sini.
Dampaknya,
tanggung jawab kita terhadap anak pun semakin berat. Mereka diserang oleh
pemikiran-pemikiran yang buruk. Jaga mereka agar tidak berpergian kecuali
seperlunya saja. Jangan titipkan mereka kecuali kepada orang yang kita kenal
jujur, amanah, dan ikhlas. Jaga dan perhatikan mereka sampai di tempat-tempat
tidur mereka. Jauhkan mereka dari sarana-sarana yang buruk dan bersemangatlah
untuk membersihkannya dari rumah-rumah kita. Jadikan mereka dekat dan terbuka
kepada kita, sehingga kita bisa membantu persoalan mereka dan mengatahui
keadaan mereka.
Bertakwalah
kepada Allah wahai hamba Allah,
Bertakwalah
dalam permasalahan anak-anak. Seorang penggembala saja sangat perhatian
terhadap hewan gembalaannya dari terkaman srigala. Apalagi kita para orang tua
yang terkadang anak kita diintai oleh sesuatu yang lebih buas dari srigala.
Jika kita bersungguh-sungguh memperhatikan anak kita, maka Allah akan menolong
kita dalam membimbing mereka. Allah Ta’ala
berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan
orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam
keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada
mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat
dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)
Bertakwalah
kepada Allah dalam urusan menjaga anak,
Ketahuilah
tanggung jawab ini adalah tanggung jawab yang besar dan hisabnya kelak adalah
hisab yang terperinci, namun itu semua akan Allah permudah jika niat kita tulus
dan baik. Jangan anggap remeh, terlebih lagi jika permasalahan itu memang
besar, karena kejelekan itu saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.
Ketauhilah
bahwa sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah sesuatu
yang diada-adakan dalam agama karena setiap yang diada-adakan dalam agama
adalah bid’ah dan setiap bid’aj itu sesat, tempat kesesatan adalah
di neraka.
ثُمَّ اعْلَمُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ فَقَال سُبْحَانَهُ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّدٍ، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
خُلَفَائِهِ
اَلرَّاشِدِيْنَ،
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِّيْنَ،
أَبِي
بَكْرٍ،
وَعُمَرَ،
وَعُثْمَانَ،
وَعَلِيٍّ،
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاجْعَلْ
هَذَا
البَلَدَ
آمِنًا مُطْمَئِنًّا
وَسَائِرَ
بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ
عَامَةٍ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ
احْفَظْ
عَلَيْنَا
أَمْنَنَا
وَإِيْمَانَنَا
وَاسْتِقْرَارَنَا
فِي أَوْطَانِنَا
وَلَا
تُسَلِّطْ
عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا
مَنْ لَا
يَخَافُكَ
وَلَا يَرْحَمُنَا،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
سُلْطَانَنَا
وَوَلِيْ عَلَيْنَا
خِيَارَنَا
وَكِفْنَا
شَرَّ شِرَارَنَا،
وَلَا
تُؤَاخِذْنَا
بِمَا فَعَلَ
السُّفَهَاءِ
مِنَّا
وَقِنَا
شَرَّ الفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ،
اَللَّهُمَّ
كُف عَنَّا
بَأْسَ
اَلَّذِيْنَ
كَفَرُوْا
فَأَنْتَ
أَشَدُّ
بَأَسًا وَأَشَدُّ
تَنْكِيْلَا،
اَللَّهُمَّ
ارْدُدْ
كَيْدَهُمْ
فِي نُحُوْرِهِمْ
وَكِفْنَا
شُرُوْرَهُمْ،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْ
بِلَادَنَا
وَبِلَادَ
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْ
هَذِهِ
البَلَدَ آمِنَةً
مُسْتَقِرَّةً
مِنْ كُلِّ
سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ
وَمِنْ كُلِّ
شَرٍّ
وَفِتْنَةٍ وَسَائِرَ
بِلَادِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
وَاجْعَلْ
الدَائِرَةَ
عَلَى
المُجْرِمِيْنَ
وَالمُفْسِدِيْنَ
مِنَ
الكُفَّارِ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَالمُنَافِقِيْنَ
وَاليَهُوْدِ
وَالنَّصَارَى
وَالعِلْمَانِيِيْنَ
وَسَائِرَ
الكُفْرَةِ،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
الدَائِرَةَ
عَلَيْهِمْ،
اَللَّهُمَّ
دَمِّرْهُمْ
بِمَا
صَنَعَتْ
أَيْدِيْهِمْ،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
كَيْدَهُمْ
فِي نُحُوْرِهِمْ
وَاجْعَلْ
سِلَاحَهُمْ
فِي صُدُوْرِهِمْ
إِنَّكَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٍ.
عِبَادَ
اللهِ، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)،
فَاذْكُرُوْا
اللهَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلِذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرَ، وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Shaleh bin Fauzan hafizhahullah
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotnahJumat.com