Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ وَعَلَا
هِيَ أَسَاسُ
الفَلَاحِ
وَعُنْوَانُ
السَعَادَةِ
فِي
الدُنْيَا
وَالآخِرَةِ،
وَتَقْوَى
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا أَنْ
يَعْمَلَ
العَبْدُ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
يَرْجُوْ
ثَوَابَ
اللهِ، وَأَنْ
يَتْرُكَ
مَعْصِيَةَ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ يَخَافُ
عِقَابَ
اللهِ.
Ibadallah,
Marilah
kita sekali lagi mengingat-ingat kewajiban kita di dunia ini untuk beramal
shaleh dan menjauhi segala larangan Allah ‘Azza
wa Jalla. Itulah wujud ketakwaan seorang hamba yang nantinya akan
mengantarkan dirinya kepada keselamatan biidznillah. Mengapa perlu ditekankan
persoalan ini? Sebab, belakangan ini banyak peristiwa yang menyita perhatian
umat –padahal tidak penting bagi dunia maupun agama mereka- sehingga
membuat mereka lalai dari kewajiban ini.
Atas
dasar itu, marilah kita merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut ini:
مَنْ
عَمِلَ
صَالِحًا
فَلِنَفْسِهِ
ۖ وَمَنْ
أَسَاءَ
فَعَلَيْهَا ۗ
وَمَا
رَبُّكَ
بِظَلَّامٍ
لِلْعَبِيدِ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka
(pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka
(dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya
hamba-hamba(Nya).” (QS. Fushshilat: 46).
Allah
‘Azza wa Jalla
mengabarkan bahwa amal shaleh yang dikerjakan oleh seorang manusia yaitu
keimanan dan ketaatannya kepada Allah ‘Azza
wa Jalla, pada hakekatnya orang yang melakukannyalah yang
memperoleh manfaat positifnya secara langsung, bukan orang lain. Selain
mendapatkan pahala dan meningkatkan keimanan, amal shaleh itu juga kian
mendekatkan dirinya kepada Rabbnya, jalan menguatkan penghambaan dirinya
kepada-Nya dan menjadi perbekalan terbaik di akherat kelak saat kekayaan dan
keturunan tidak berguna sama sekali untuk menyelamatkan seseorang dari siksa
Allah ‘Azza wa Jalla
yang sangat pedih. Dengan itu, ia akan memperoleh balasan berupa surga dan
selamat dari neraka.
Imam
ath-Thabari rahimahullah
mengatakan bahwa maksudnya adalah orang yang menjalankan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla di
dunia dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka sebenarnya
ia sedang berbuat baik bagi dirinya sendiri. Sebab dialah yang mendapatkan
balasan, sehingga di akherat nanti berhak mendapatkan surga dari Allah ‘Azza wa Jalla dan
selamat dari neraka.
Hal
ini juga telah difirmankan Allah ‘Azza
wa Jalla dalam ayat-ayat lain. Di antaranya:
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ
“Dan
barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka
menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS. ar-Rum: 44).
وَمَنْ
شَكَرَ
فَإِنَّمَا
يَشْكُرُ
لِنَفْسِهِ ۖ
“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia
bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri.” (QS. an-Naml: 40).
Amal
shaleh yang tertera dalam ayat, disyaratkan harus sejalan dengan ketentuan dan
petunjuk Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Tidak setiap amalan merupakan amal shaleh.
Demikian pula amal-amal yang dianggap baik oleh sebagian orang (kelompok,
golongan) dan kemudian dikait-kaitkan dengan ajaran Islam, padahal tidak ada
panduan khusus sama sekali dalam Islam, ini pun bukan amal shaleh. Akan tetapi
merupakan perkara baru dalam agama yang lazim disebut dengan bid’ah. Yang
dimaksud amal shaleh yaitu amal yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dan
Rasul-Nya”.
Ketepatan
amal dengan perintah Allah ‘Azza
wa Jalla dan Rasul-Nya tidak bisa ditawar-tawar. Sebab, hal itu
berpengaruh kuat dalam diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Amal
ibadah yang diterima mesti memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dan
mengikuti panduan dan petunjuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Ibadallah,
Jika
amal shaleh akan berguna bagi pelakunya, sebaliknya amal perbuatan jelek pun
pelakunya lah yang pertama dan utama menanggung beban tindakan buruknya itu.
Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Barangsiapa
yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan)
dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS.
an-Nisa: 111).
Pada
ayat yang lain, Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
مَنْ
كَفَرَ
فَعَلَيْهِ
كُفْرُهُ
“Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang
menanggung (akibat) kekafirannya itu.” (QS. ar-Rum: 44).
Balasan
buruk tidak hanya dirasakan di akherat kelak, tempat yang Allah jadikan sebagai
tempat membalas seluruh amalan para hamba, namun juga menimpa pelakunya di
dunia. Ini menyangkut seluruh perbuatan dosa, baik dosa besar maupun kecil.
Barangsiapa berbuat keburukan (dosa), maka dirinyalah yang memikul hukuman dari
kesalahan dan dosanya di dunia dan akherat, bukan tanggungan orang lain.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Allah
‘Azza wa Jalla
tidak merugi bila seluruh manusia tidak taat kepada-Nya. Begitu pula,
sebaliknya, keimanan, ketaatan dan ibadah seluruh umat manusia tidak memberi
manfaat sedikit pun bagi Allah Yang Maha Kaya. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (murtad). Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imraan: 144).
Pada
hadits qudsi, Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
يَا
عِبَادِيْ
إِنَّكُمْ
لَنْ
تَبْلُغُوا ضُرِّيْ
فَتَضُرُّوْنِيْ
لَنْ
وَتَبْلُغُوا
نَفْعِيْ
فَتَنْفَعُوْْنِيْ
“Wahai hamba-Ku kamu tidak akan sanggup membahayakan-Ku
dan tidak sanggup memberi manfaat kepada-Ku.” (HR. Muslim).
Jelas
sudah, kekuasaan dan keagungan Allah ‘Azza
wa Jalla tidak mengalami penyusutan akibat ketidakpatuhan,
kekufuran maupun perbuatan maksiat manusia kepada Allah ‘Azza wa Jalla .
Akan tetapi, Allah ‘Azza
wa Jalla mencintai hamba-hamba-Nya yang taat dan bertakwa
kepada-Nya dan benci bila mereka berbuat maksiat dan kekufuran.
إِنْ
تَكْفُرُوا
فَإِنَّ
اللَّهَ
غَنِيٌّ عَنْكُمْ
ۖ وَلَا
يَرْضَىٰ
لِعِبَادِهِ
الْكُفْرَ ۖ
وَإِنْ
تَشْكُرُوا
يَرْضَهُ
لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan
(iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu
bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. az-Zumar:
7).
Dari
sini bisa diketahui kesalahan orang-orang yang enggan beribadah dan taat kepada
Allah dengan berbagai dalih dan alasan. Ketika rezeki tetap seret, lowongan
pekerjaan tak juga kunjung datang, warung masih saja sepi pembeli, usaha tidak
maju-maju, akhirnya shalat lima waktu ditinggalkan. Ia berdalih, shalat nggak
shalat sama saja, rezeki tetap saja seret. Naudzubillah min dzalik!
فَنَسْأَلُ
اللهَ
الكَرِيْمَ
بِأَسْمَائِهِ
الحُسْنَى
وَصِفَاتِهِ
العُلْىَ
أَنْ يَحْفَظَ
نِسَاءَنَا
وَنِسَاءَ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
شَرٍّ
وَبَلَاءٍ
وَأَنْ يَجْنِبْهُنَّ
الفِتَنَ مَا
ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ،
وَأَنْ
يَرُدَّ
كَيْدَ مَنْ أَرَادَ
بِهِنَّ
شَرّاً فِي
نَحْرِهِ
إِنَّهُ
سَمِيْعُ
الدُّعَاءِ
وَهُوَ
أَهْلُ الرَّجَاءِ
وَهُوَ
حَسْبُنَا
وَنِعْمَ
الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ:
عِبَادَ
اللهِ
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى
اللهِ
تَعَالَى،
فَإِنَّ
تَقْوَى الله
جَلَّ
وَعَلَا هِيَ
خَيْرُ زَادِ
يُبَلِّغُ
إِلَى
رِضْوَانِ
اللهِ،
وَهِيَ
وَصِيَّةُ
اللهِ
لِلْأَوَّلِيْنَ
وَالآخِرِيْنَ
مِنْ خَلْقِهِ،
وَهِيَ
وَصِيَةُ
الرَّسُوْلِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
لِأُمَّتِهِ،
وَهِيَ
وَصِيَة
ُالسَّلَفِ
الصَالِحِ
فِيْمَا
بَيْنَهُمْ،
وَنَسْأَلُ
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا أَنْ
يَجْعَلَنَا
جَمِيْعًا
مِنْ أَهْلِ
التَّقْوَى
وَأَنْ
يُوَفِقَنَا
لِتَحْقِيْقِهَا
.
Allah
Ta’ala
Yang Maha Adil, menafikan sifat kezhaliman dari dzat-Nya baik dalam skala kecil
dan besar. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَمَا
رَبُّكَ
بِظَلَّمٍ
لِلْعَبِيْدِ
“Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya
hamba-hamba(Nya).”
Sifat
kezhaliman, siapapun yang melakukannya adalah tercela. Karena merupakan
tindakan yang tidak pada tempatnya dan mengandung unsur melampaui batas dan
penganiayaan terhadap pihak lain. Atas dasar itulah, Allah ‘Azza wa Jalla tidak
menyiksa seseorang kecuali dengan dosa (yang telah ia perbuat) di dunia ini
atau karena ada faktor yang menyebabkan seseorang pantas menerima siksaan-Nya,
tidak membebaninya dengan kesalahan dan dosa orang lain. Dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak
menyiksa seseorang pun kecuali telah ditegakkan hujjah di hadapannya dan diutus
para rasul kepadanya.
Maha
Suci Allah ‘Azza wa
Jalla, Rabb yang Maha Agung yang berhak diibadahi, diagungkan dan
dibesarkan. Sebab, kalau berkehendak, maka Allah ‘Azza wa Jalla bisa saja berbuat zhalim
yang tidak akan ada seorang pun yang dapat menanghalanginya. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla
menyatakan dzat-Nya bersih dari sifat yang sangat tidak terpuji ini. Maka
kewajiban seorang Muslim mensucikan dzat-Nya dari sifat kezhaliman dan meyakini
bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijak lagi Maha Adil dalam perkara yang Dia
perintahkan dan larang. Dan sekaligus selalu berusaha menghindari perbuatan
kezhaliman.
Ibadallah,
Pelajaran
dari ayat di atas adalah:
Kita
memohon taufik dan hidayah kepada Allah Ta’ala
agar Dia senantiasa membimbing kita dalam kebenaran dan menjauhi segala yang
Dia larang.
وَصَلُّوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
اَللَّهُمَّ
احْمِ حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
للَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِيْ الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Minhal di majalah As-Sunnah
Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010).
www.KhotbahJumat.com