Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ ثَنَاءَ الذَّاكِرِيْنَ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ ، أَحْمَدُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ بِمَحَامِدِهِ الَّتِي هُوَ لَهَا أَهْلٌ ، وَأَشْكُرُهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى نِعَمِهِ اَلَّتِي لَا تَعُدُّ وَلَا تُحْصَى ، وَآلَائِهِ وَنِعَمِهِ الَّتِي لَا تُسْتَقْصَى ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى ، وَرَاقِبُوْهُ
سُبْحَانَهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ ،
وَكُوْنُوْا
لَهُ جَلَّ
وَعَلَا مِنَ
الذَّاكِرِيْنَ
، وَلِنِعَمِهِ
سُبْحَانَهُ
مِنَ
الشَّاكِرِيْنَ
، وَعَلَى
طَاعَتِهِ
جَلَّ فِي
عُلَاهُ
مُقْبِلِيْنَ
.
Ayyuhal
mukminun, ibadallah,
Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya,
dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu
‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
((لَا
يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ
مَنْ كَانَ
فِي قَلْبِهِ
مِثْقَالُ
ذَرَّةٍ مِنْ
كِبْرٍ)) ، قَالَ
رَجُلٌ:
«إِنَّ
الرَّجُلَ
يُحِبُّ أَنْ
يَكُونَ
ثَوْبُهُ
حَسَنًا
وَنَعْلُهُ
حَسَنَةً»،
قَالَ: ((إِنَّ
اللهَ
جَمِيلٌ يُحِبُّ
الْجَمَالَ ؛
الْكِبْرُ
بَطَرُ الْحَقِّ
، وَغَمْطُ
النَّاسِ )) .
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya
terdapat kesombongan sebesar debu.” Ada seseorang yang bertanya,
“Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang
bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai
keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
(HR. Muslim).
Ibadallah,
Renungkanlah
sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah itu indah dan
menyukai keindahan” karena kalimat ini mengandung dua prinsip yang agung;
makrifat (pengetahuan) dan suluk (prilaku).
Yang
pertama adalah sabda Nabi “Sesungguhnya Allah itu Indah”. Ini
adalah poin yang harus kita ketahui bahwa Rabb kita, Allah Jalla wa ‘Ala Maha
Indah dalam nama-nama, sifat-sifat-Nya, dan Dzat-Nya. Allah Tabaraka wa Ta’ala
memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia lagi sempurna. Allah Ta’ala juga memiliki
Dzat yang Maha Indah, Maha Sempurna, Maha Agung, yang keindahan, kesempurnaan,
serta keagungan itu tidak mampu dilogikakan oleh manusia.
لَيْسَ
كَمِثْلِهِ
شَيْءٌ
وَهُوَ
السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ
“Tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).
Dan
di akhir hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda “Dia mencintai
keindahan”. Allah Subhanahu
wa Ta’ala mencintai hamba-hamba-Nya, yang beribadah
kepada-Nya dengan memperbagus diri dan penampilan. Inilah syariat-Nya yang Maha
Bijaksana, agama-Nya yang senantiasa mengurus makhluk-Nya, dan jalan Allah Tabaraka wa Ta’ala
yang lurus.
Ayyuhal
mukminun, ibadallah,
Sabda
Nabi bahwasanya Allah Jalla
wa ‘Ala mencintai keindahan meliputi seluruh syariat Allah.
Jadi, Allah menyukai agar seseorang indah dalam perkataannya, hatinya, dan amal
perbuatannya. Memperindah hati dengan keimanan, memperbaiki hati dengan
ketenangan, dan sebaik-baik amalan yang memperindah hati seseorang adalah iman
kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
dan hari akhir. Allah Tabaraka
wa Ta’ala berfirman,
وَلَكِنَّ
اللَّهَ
حَبَّبَ
إِلَيْكُمُ
الْإِيمَانَ
وَزَيَّنَهُ
فِي
قُلُوبِكُمْ
“Tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada
keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu.” (QS.
Al-Hujurat: 7).
Dalam
sebuah doa disebutkan,
اللَّهُمَّ
زَيِّنَّا
بِزِينَةِ
الْإِيمَانِ،
وَاجْعَلْنَا
هُدَاةً
مُهْتَدِينَ
“Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah
kami orang-orang yang diberi petunjuk dan memberi petunjuk (kepada orang
lain).”
Hati
dihiasi dan dibuat indah dengan amalan-amalan hati; seperti cinta kepada Allah,
berharap kepada-Nya, tawakkal, meminta tolong hanya kepada-Nya, dll. Dan hati
juga dibuat sakit atau rusak dengan amalan-amalan yang buruk, seperti: dengki,
hasad, dll. Sifat-sifat jelek ini akan menghilangkan sifat-sifat yang indah
yang ada di dalam hati.
Ibadallah,
Di
antara keindahan lainnya yang Allah cintai adalah memperbagus ucapan dan
menghiasi lisan dengan kalimat-kalimat yang baik dan pembicaraan yang terpuji.
Berdzikir kepada Allah ‘Azza
wa Jalla, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, membaca
Alquran, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan, berdakwah, dan mengajarkan
hal-hal yang baik, semua itu adalah bentuk memperindah dan menghiasi lisan.
Demikian
juga anggota badan dihiasi dengan hal-hal yang Allah cintai, seperti: beramal
shaleh, menjaga hal-hal yang menjadi bangunan Islam: shalat, puasa, haji,
zakat, dan semua bentuk ketaatan yang mendekatkan diri seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala, maka
ia adalah memperindah amalan, yang perbuatan tersebut dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibdallah,
Ketika
seseorang menghiasi diri dengan adab dan akhlak yang terpuji, maka ia telah
melaksanakan hal yang paling maksimal dalam memperindah dirinya. Dan syariat
Islam adalah ajaran yang sangat menjunjung tinggi akhlak dan adab, orang yang
menjaga adab dan akhlak yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam, maka dia
telah berhias diri dengan sebaik-baik perhiasan.
Termasuk
juga menghiasi dan memperindah diri adalah menjauhi hal-hal yang diharamkan dan
perbuatan dosa. Dosa dan maksiat akan mengurangi bahkan menghilangkan keindahan
seseorang. Sejauh mana ia melakukan pelanggaran dan dosa, sejauh itulah
seseorang akan kehilangan keindahan dan perhiasan dirinya.
Ibadallah,
Di
antara perbuatan memperindah diri yang lainnya yang Allah cintai, yaitu
seseorang memiliki perhatian terhadap sunnah fitrah yang telah dijelaskan oleh
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Yaitu menghilangkan bulu atau rambut yang
kurang disukai. Seperti mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, memotong
ujung-ujung kumis, menggunting kuku, dll. Yang semua itu merupakan bentuk
memperindah dan menghiasi diri yang Allah Tabaraka
wa Ta’ala cintai.
Ibadallah,
Memperhias
dan memperindah diri juga bisa dalam bentuk seseorang membeli pakaian-pakaian
yang bagus sebagai bentuk menunjukkan nikmat Allah yang telah Allah berikan.
Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu
‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
“Sesungguhnya
Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada seorang hamba.” (HR.
Tirmidzi).
Dari
Malik bin Auf radhiallahu
‘anhu, ia berkata,
رَآنِي
رسول الله صلى
الله عليه
وسلم رَثَّ الثِّيَابِ
، فَقَالَ:
هَلْ لَكَ
مِنْ مَالٍ؟ قُلْتُ:
نَعَمْ مِنْ
كُلِّ
الْمَالِ»
قَالَ : ((فَإِذَا
آتَاكَ
اللَّهُ
مَالًا
فَلْيُرَ أَثَرُهُ
عَلَيْكَ))
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam melihatku memakai pakaian yang usang, maka beliau bertanya,
“Apakah engkau memiliki harta?” Aku menjawab, “Iya
Rasulullah, aku memiliki seluruh jenis harta (yaitu jenis harta yang dikenal
saat itu).” Beliau bersabda, “Jika Allah memberikan harta kepadamu,
maka hendaknya terlihat tanda harta tersebut pada dirimu.” (HR.
Tirmidzi).
Allah
mencintai seseorang yang berhias dengan pakaian yang indah selama dalam
batas-batas yang dibolehkan dan dihalalkan syariat. Allah ‘Azza wa Jalla
menganugerahkan kepada hamba-hambanya dua macam perhiasan yaitu perhiasan yang
tampak dengan memakai pakaian yang baik dan perhiasan di batin berupa
ketakwaan. Allah Ta’ala
berfirman,
يَا
بَنِي آدَمَ
قَدْ
أَنْزَلْنَا
عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا
يُوَارِي
سَوْآتِكُمْ
وَرِيشًا ۖ
وَلِبَاسُ
التَّقْوَىٰ
ذَٰلِكَ
خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ
مِنْ آيَاتِ
اللَّهِ
لَعَلَّهُمْ
يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan
kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan
pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS.
Al-A’raf: 26).
Barangsiapa
yang kehilangan perhiasan takwa, maka tidak bermanfaat baginya perhiasan yang
zhahir yang tampak. Karena perhiasan yang hakiki dan keindahan yang
sejati adalah takwa kepada Allah Tabaraka
wa Ta’ala.
جَمَّلَنَا
اللهُ
أَجْمَعِيْنَ
بِالْإِيْمَانِ
،
وَزَيَّنْنَا
بِزِيْنِةِ
الْإِيْمَانِ
، وَأَصْلِحْ
لَنَا
شَأْنَنَا
كُلَّهُ ، وَهَدَانَا
إِلَيْهِ
صِرَاطًا
مُسْتَقِيْمًا
.
أَقُوْلُ
هَذَا
الْقَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ كَثِيْرًا
،
وَسُبْحَانَ
اللهِ
بُكْرَةً
وَأَصِيْلًا
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ : اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
سُبْحَانَهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ .
Ibadallah,
Jika
fitrah seseorang telah hilang, lalu ia menaati setan dan mengikuti hawa
nafsunya yang cenderung menyeru kepada keburukan, maka sesuatu yang baik tidak
lagi ia pandang sebagai kebaikan. Allah Ta’ala
berfirman,
أَفَمَنْ
زُيِّنَ لَهُ
سُوءُ
عَمَلِهِ فَرَآهُ
حَسَنًا
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik
pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan
orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (QS. Fathir: 8).
Allah
Tabaraka wa Ta’ala
juga berfirman tentang perkataan setan,
وَلَآمُرَنَّهُمْ
فَلَيُغَيِّرُنَّ
خَلْقَ
اللَّهِ
“dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu
benar-benar mereka meubahnya.” (QS. An-Nisa: 119).
Ketika
fitrah seseorang berubah, saat ia telah menaati setan, dan memperturutkan hawa
nafsunya, ia akan mengira bahwasanya telah menghiasi diri dengan kebaikan,
padahal apa yang ia lakukan sama sekali bukan menghiasi diri. Karena tidak
mungkin dikatakan indah dan menghiasi diri, padahal tidak menaati Allah.
Oleh
karena itu, segala yang dilarang dan diharamkan oleh syariat pastilah tidak ada
keindahan dan kebaikan dalam hal itu, meskipun orang-orang menyangkanya
kebaikan dan keindahan. Mencukur alis, menata gigi, dan mentato yang merupakan
perbuatan yang diharamkan oleh syariat bukanlah keindahan sama sekali. Perbuatan
itu adalah mengubah ciptaan Allah, mengganti fitrah, menaati setan, dan
mengikuti hawa nafsu.
Ibadallah,
Bentuk
keindahan bagi laki-laki adalah janggutnya, ia pelihara dan jaga sebagaimana
Allah dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian. Dari Ummul
Mukminin, Aisyah radhiallahu
‘anha, dalam sumpahnya beliau pernah berkata, “Demi
Dzat, yang menghiasi laki-laki dengan janggut…”
Ada
juga sikap lainnya, yang orang kira itu adalah memperbagus diri, yaitu
kesombongan. Sikap ini sama sekali tidak ada baiknya, ini adalah puncak
kejelekan. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong
itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
Menolak
kebenaran yaitu dengan cara membantahnya. Dan meremehkan orang lain dengan
mengecilkan dan melecehkan mereka. Sifat ini akan menghilangkan seluruh
keindahan yang ada pada seseorang.
Betapa
agungnya memperbaiki diri dan betapa mulianya seseorang beribdah kepada Allah
dengan cara memperindah diri mereka. Memperindah diri ini akan mendekatkan
seseorang kepada Yang Maha Indah, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memperindah
dan menghiasi diri kita dengan sesuatu yang Dia cintai dan ridhai. Menghiasi
kita dengan perkataan yang benar dan amal yang shaleh. Semoga Dia juga
menghiasi hati kita dengan keimanan, anggota badan kita dengan ketaatan, dan
memperbaiki semua keadaan kita serta melindungi kita dari setan dan hawa nafsu
yang mengajak kepada kejelekan.
Ibadallah,
Ketahuilah,
sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburu-buruk
perkara adalah sesuatu yang baru dalam agama, setiap yang baru dalam agama
adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan kesesatan
tempatnya di neraka. Berpegang teguhlah kepada jamaah kaum muslimin, karena
tangan Allah menaungi jamaah tersebut.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
، وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ
وَاحْمِ حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةِ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وُلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ
وَأَعِنْهُ عَلَى
الْبِرِّ
وَالتَقْوَى
، وَسَدِدْهُ فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
يَا ذَا الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
محمد صلى الله
عليه وسلم .
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَةَ
وَالغِنَى .
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ
. رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِوَالِدَيْهِمْ
وَلِذُرِّيَّاتِهِمْ
وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتَ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ
.
(عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
) وَلَذِكْرُ
اللَّهِ أَكْبَرُ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ
[العنكبوت:45].
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com