بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ”.
“يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً”.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً”
أما
بعد
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala
dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang
diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Shalawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
keluarga, sahabat-shabatnya serta pengikutnya sampai akhir zaman kelak.
Imam
Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
bahwa ia berkata:
Aku
berusaha mengajak ibuku masuk Islam ketika ia masih musyrik. Suatu hari, aku
mengajaknya (masuk Islam), lalu ia mengatakan kata-kata yang tidak aku sukai
tentang Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam keadaan menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku mengajak
ibuku masuk Islam, namun ia menolak. Pada hari ini, aku ajak lagi ia (masuk
Islam), lalu ia malah berkata-kata tentangmu perkataan yang aku tidak sukai.
Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia memberi hidayah kepada ibu Abu
Hurairah.”
Maka
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”
Lalu aku pergi dengan gembira karena doa Nabiyyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika
aku datang dan telah berada di dekat pintu, tiba-tiba pintu itu merenggang,
ternyata ibuku mendengar langkah cepat kakiku, lalu ia berkata, “Diamlah
di tempatmu wahai Abu Hurairah.” Aku mendengar bunyi siraman air, ibuku
mandi dan memakai baju gamisnya dengan cepat sehingga kerudungnya tertinggal,
lalu ia membuka pintu dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Maka
aku kembali menemui Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan mendatanginya dalam keadaan menangis
karena terharu, aku katakan, “Wahai Rasulullah, bergembiralah. Allah
telah mengabulkan doamu dan telah memberi hidayah kepada ibu Abu
Hurairah.”
Maka
Beliau memuji Allah dan menyanjungnya serta berkata, “Baguslah.” Aku
berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku
dan ibuku cinta kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan agar mereka
mencintaiku.” Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba kecil-Mu ini -yakni Abu
Hurairah- dan ibunya cinta kepada hamba-hamba-Mu yang mukmin dan jadikanlah
kaum mukmin cinta kepada mereka.” Oleh karena itu, tidak ada
seorang mukmin pun yang dicipta yang mendengar tentangku atau melihatku kecuali
akan cinta kepadaku.”
Adab
Terhadap Orang Tua
Kedua
orang tua merupakan sebab adanya manusia. Keduanya telah merasakan kelelahan
karena mengurus anak dan menyenangkan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan
hamba-hamba-Nya berbakti kepada kedua orang tua, firman-Nya,
وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ
“Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang tuamu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mendorong untuk berbakti kepada kedua orang tua, Beliau
bersabda,
مَنْ
سَرَّهُ أَنْ
يُمَدَّ لَهُ
فِي عُمْرِهِ
وَيُزَادَ لَهُ
فِي رِزْقِهِ
فَلْيَبَرَّ
وَالِدَيْهِ
وَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ
“Barang
siapa yang senang dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka
berbaktilah kepada kedua orang tuanya dan sambunglah tali silaturrahim.”
(Al Haitsami dalam Al Majma’ berkata, “Hadis tersebut ada dalam
kitab shahih tanpa kata berbakti kepada orang tua, tetapi diriwayatkan oleh
Ahmad dan para perawinya adalah perawi hadis shahih)
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,
رَغِمَ
أَنْفُ ثُمَّ
رَغِمَ
أَنْفُ ثُمَّ
رَغِمَ أَنْفُ
قِيلَ مَنْ
يَا رَسُولَ
اللَّهِ
قَالَ مَنْ
أَدْرَكَ
أَبَوَيْهِ
عِنْدَ
الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا
أَوْ
كِلَيْهِمَا
فَلَمْ يَدْخُلْ
الْجَنَّةَ
“Hinalah
ia, hinalah ia dan hinalah ia.” Lalu ada yang bertanya, “Siapa
wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang mendapatkan
orang tuanya sudah tua; salah satunya atau kedua-duanya tetapi ia tidak masuk
surga.” (HR. Muslim)
Oleh
karena itu, wajib bagi setiap muslim berbakti kepada kedua orang tuanya dan
bergaul dengan sikap yang baik. Di antara adab bergaul dengan orang tua adalah
sebagai berikut:
1.
Mencintai dan Sayang kepada Kedua Orang Tua
Seorang
muslim menyadari bahwa kedua orang tuanya memiliki jasa yang besar terhadapnya,
karena keduanya telah mengerahkan pikiran dan tenaga untuk menyenangkan
anaknya. Oleh karena itu, meskipun seorang muslim telah mengerahkan segala
kemampuannya dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, namun tetap saja ia
belum dapat membalasnya.
2.
Menaati Keduanya
Seorang
muslim hendaknya menaati perintah kedua orang tuanya, kecuali apabila kedua
orang tua menyuruh berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)
Oleh
karena itu, ketika Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam, ibunya mogok makan
dan minum sampai Sa’ad mau murtad dari agamanya, tetapi ia tetap di atas
Islam dan tidak mau murtad, ia menolak taat kepada ibunya dalam hal maksiat
kepada Allah, sampai ia berkata kepadanya, “Wahai ibu, engkau (mesti) tahu, demi Allah, jika engkau
memiliki seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, aku tetap tidak
akan meninggalkan agamaku. Jika engkau mau silahkan makan atau tidak
makan.” Akhirnya ibunya makan.
3.
Menanggung dan Menafkahi Orang Tua
Seorang
muslim juga hendaknya menanggung dan menafkahi orang tua agar ia memperoleh
keridhaan Allah. Jika ia seorang yang berharta banyak, lalu orang tuanya butuh
kepada sebagian harta itu, maka ia wajib memberikannya. Hal ini berdasarkan
hadis berikut:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي مَالًا وَوَلَدًا وَإِنَّ أَبِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي فَقَالَ أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
Dari
Jabir bin Abdillah, bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak, sedangkan bapakku ingin menghabiskan
hartaku.” Maka Beliau bersabda, “Engkau
dan hartamu adalah milik bapakmu.” (HR. Ibnu Majah, dan
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Al
Irwa’ (838) dan Ar
Raudhun Nadhir (195 dan 603))
4.
Berbuat Baik Kepada Keduanya
Seorang
muslim berusaha untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya meskipun keduanya
non muslim. Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Ibuku pernah datang
kepadaku dalam keadaan musyrik di masa Quraisy ketika Beliau mengadakan
perjanjian (damai) dengan mereka, lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
aku berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku karena berharap
(bertemu) denganku. Bolehkah aku sambung (hubungan) dengan ibuku?” Beliau
menjawab, “Ya. Sambunglah
(hubungan) dengan ibumu.” (HR. Muslim)
5.
Menjaga Perasaan Keduanya dan Berusaha Membuat Ridha Orang Tuanya
Seorang
muslim juga harus menjauhi ucapan atau tindakan yang menyakitkan hati orang
tuanya meskipun sepele, seperti berkata “Ah.” Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
“Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Israa’: 23)
Hendaknya
ia mengetahui, bahwa ridha Allah ada pada keridhaan orang tua, dan bahwa
murka-Nya ada pada kemurkaan orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رِضَا
الرَّبِّ فِي
رِضَا
الْوَالِدِ
وَ سُخْطُ
الرَّبِّ فِي
سُخْطِ
الْوَالِدِ
“Ridha
Allah ada pada keridhaan orang tua dan murka Allah ada pada kemurkaan orang
tua.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Abdullah bin ‘Amr,
dan Al Bazzar dari Ibnu Umar, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no.
3506)
6.
Tidak Memanggil Orang Tua dengan Namanya
Seorang
anak hendaknya memanggil orang tuanya tidak dengan namanya. Oleh karena itu, ia
panggil bapaknya “Abi” dan ia panggil ibunya “Ummi.”
Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu pernah melihat ada dua orang, lalu ia bertanya kepada
salah satunya tentang hubungannya dengan yang satu lagi, ia berkata, “Ia
adalah bapakku.” Maka Abu Hurairah berkata, “Janganlah kamu panggil
ia dengan namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan duduk
sebelumnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al Adabul Mufrad).
7.
Tidak Duduk Ketika Keduanya Berdiri dan Tidak Mendahuluinya Dalam Berjalan
Tidaklah
termasuk adab yang baik kepada kedua orang tua jika seorang anak duduk
sedangkan ibu-bapaknya berdiri atau meluruskan kedua kakinya, sedangkan
keduanya duduk di hadapannya, bahkan hendaknya ia memiliki adab yang baik di
hadapannya dan merendahkan diri kepada keduanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
“Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al Israa’: 24)
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ
العَظِيْمَ
الجَلِيْلَ
لِيْ
وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلحَمْدُ
لِلّهِ
الوَاحِدِ
القَهَّارِ، الرَحِيْمِ
الغَفَّارِ،
أَحْمَدُهُ
تَعَالَى
عَلَى
فَضْلِهِ
المِدْرَارِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
الغِزَارِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا
إِلَهَ
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
العَزِيْزُ
الجَبَّارُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى
المُخْتَار،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
الطَيِّبِيْنَ
الأَطْهَار،
وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ،
وَأَصْحَابُهُ
الأَخْيَارِ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
مَا
تُعَاقِبُ
اللَيْلَ
وَالنَّهَار
8.
Meminta Izin Kepada Kedua Orang Tua Ketika Hendak Keluar Berjihad
عَنْ
عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو
قَالَ جَاءَ
رَجُلٌ إِلَى
النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَسْتَأْذِنُهُ
فِي
الْجِهَادِ
فَقَالَ
أَحَيٌّ
وَالِدَاكَ قَالَ
نَعَمْ قَالَ
فَفِيهِمَا
فَجَاهِدْ
Dari
Abdullah bin ‘Amr ia berkata, “Seorang laki-laki datang
kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam meminta izin untuk berjihad, lalu Beliau
bertanya, “Apakah
kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab,
“Ya.” Beliau bersabda, “Kepada
keduanyalah kamu hendaknya berjihad (bersungguh-sungguh dalam berbakti).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hal
ini apabila jihadnya fardhu kifayah, tetapi jika jihadnya fardhu ‘ain
seperti musuh menyerang negerinya, maka tidak disyaratkan meminta izin.
9.
Tidak Mengutamakan Istri dan Anak daripada Kedua Orang Tua
Hal
ini berdasarkan hadits yang menyebutkan tentang tiga orang Bani Israil yang
berjalan-jalan di gurun, lalu mereka terpaksa bermalam di gua. Ketika mereka
masuk ke dalamnya, tiba-tiba ada sebuah batu besar yang jatuh dari atas gunung
sehingga menutupi pintu gua itu, lalu mereka berusaha menyingkirkan batu
tersebut, tetapi mereka tidak bisa, maka akhirnya mereka berdoa kepada Allah
dengan menyebutkan amal saleh yang pernah mereka lakukan.
Salah
seorang di antara mereka berkata, “Ya Allah, saya memiliki kedua orang
tua yang sudah lanjut usia dan saya biasanya tidak memberi minuman kepada
keluarga dan harta yang saya miliki (seperti budak) sebelum keduanya. Suatu
hari saya pernah pergi jauh untuk mencari sesuatu sehingga saya tidak pulang
kecuali setelah keduanya tidur, maka saya perahkan susu untuk keduanya, namun
saya mendapatkan keduanya telah tidur dan saya tidak suka memberi minum sebelum
keduanya baik itu keluarga maupun harta (yang aku miliki). Aku menunggu,
sedangkan gelas masih berada di tanganku karena menunggu keduanya bangun
sehingga terbit fajar. Keduanya pun bangun lalu meminum susu itu.
Ya
Allah, jika yang aku lakukan itu karena mengharapkan wajah-Mu, maka
hilangkanlah derita yang menimpa kami karena batu ini,” yang lain juga
menyebutkan amal saleh mereka yang ikhlas yang pernah mereka lakukan, sehingga
batu besar itu pun bergeser dan mereka dapat keluar.
10.
Mendoakan Keduanya Baik Mereka Masih Hidup atau Sudah Wafat
Demikianlah
seharusnya sikap yang seharusnya dilakukan seorang muslim terhadap kedua orang
tuanya, yakni banyak mendoakan kedua orang tuanya, dan itulah akhlak para nabi;
mereka berbakti kepada kedua orang tuanya dan mendoakan kebaikan kepada mereka.
Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berdoa untuk orang tuanya sebagaimana
disebutkan dalam Al Qur’an surat Nuh: 28:
“Ya
Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman
dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan
bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (QS. Nuh: 28)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga pernah bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal, maka
terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang
dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
إِنَّ
الرَّجُلَ
لَتُرْفَعُ
دَرَجَتُهُ فِي
الْجَنَّةِ
فَيَقُولُ
أَنَّى هَذَا
فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ
وَلَدِكَ
لَكَ
“Sesunguhnya
seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga, lalu ia berkata,
“Karena apa ini?” Lalu dikatakan kepadanya, “Karena
permintaan ampun anakmu untukmu.” (HR. Ibnu Majah, dan
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash
Shahiihah 1598 dan Al
Misykat 2354/tahqiq ke-2)
Oleh
karena itu, hendaknya seorang muslim mendoakan ampunan untuk kedua orang
tuanya, membayarkan hutang dan nadzarnya, dsb.
11. Berbuat
Baik Kepada Kawan-kawan Orang Tua Setelah Orang Tua Telah Wafat
Dari
Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar, bahwa seseorang dari kalangan Arab
baduwi pernah ditemuinya di jalan menuju Mekah, lalu Abdullah mengucapkan salam
kepadanya dan menaikkannya ke atas keledai yang ditungganginya dan memberikan
sorban yang dipakainya kepadanya. Abdullah bin Dinar berkata: Kami pun berkata,
“Semoga Allah memperbaikimu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang Arab
baduwi, mereka biasanya puas dengan perkara yang sedikit, lalu Abdullah
berkata, “Sesunggunya bapak orang ini adalah teman Umar bin Khaththab,
dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
“Sesungguhnya berbakti yang paling baik
adalah ketika seorang anak menyambung hubungan dengan kawan-kawan bapaknya.”
(HR. Muslim)
Demikianlah
adab terhadap orang tua,
semoga Allah Subhanahu wa
Ta’ala memudahkan kita untuk dapat melakukannya.
Wallahu a’lam, wa shallallahu
‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man
waalaah.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Download
Ebook Khutbah Jumat adab terhadap orang tua (1778)
Artikel
www.khotbahjumat.com oleh: Marwan bin Musa
Maraaji’: Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah
(dari situs www.islam.aljayyash.net), Al Maktabatusy Syamilah dll.