Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اخْتَارَ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِصُحْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِيْ أَرْسَلَ فِي خَيْرِ القُرُوْنِ وَخَيْرِ النَّاسِ
{ يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ}
[آل عمران: 102]
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
خَيْرَ
الكَلَامِ
كَلَامُ
اللهِ وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلُّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
.
إِنَّ اللهَ
حَكِيْمٌ
عَلِيْمٌ
كَمَا قَالَ
سُبْحَانَهُ
{أَلَيْسَ
اللَّهُ
بِأَحْكَمِ
الْحَاكِمِينَ}
[التين: 8] ،
وَقَالَ
{وَهُوَ الْحَكِيمُ
الْعَلِيمُ }
[الزخرف: 84]
Ibadallah,
Di
antara hikmah Allah Ta’ala
adalah Dia memilihkan suatu kaum untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mereka inilah yang dikenal dengan para sahabat yang terdiri dari orang-orang
yang mulia. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwasanya
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
وَدِدْتُ
أَنَّا قَدْ
رَأَيْنَا
إِخْوَانَنَا
قَالُوا أَوَلَسْنَا
إِخْوَانَكَ
يَا رَسُولَ
اللَّهِ
قَالَ
أَنْتُمْ
أَصْحَابِي
وَإِخْوَانُنَا
الَّذِينَ
لَمْ
يَأْتُوا
بَعْدُ
“Sungguh aku sangat merindukan untuk bertemu dengan
saudara-saudara kita,” para sahabatpun bertanya: “Bukankah kami ini
saudara-saudaramu?” Beliau menjawab,”Kalian adalah para sahabatku,
sedangkan saudara-saudara kita adalah mereka yang datang kemudian.” (HR.
Muslim).
Hadits
ini menjelaskan bahwa perbedaan para sahabat dengan orang-orang beriman setelah
mereka adalah para sahabat yaitu orang yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan beriman kepada beliau.
Para
sahabat adalah manusia-manusia yang Allah pilih di antara sekian banyak manusia
yang ada di dunia ini. Untuk apa? Untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam mendakwahkan dan menegakkan ajaran Islam. Mereka korbankan harta mereka
untuk membela Nabi, mereka rela darah mereka tertumpah, dan segala daya dan
upaya mereka kerahkan demi menolong agama Allah. Hingga kita lihat seperti
sekarang ini, agama Islam tersebar di penjuru timur dan barat bumi ini. Semoga
Allah meridhai mereka.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
memuji-muji mereka dalam banyak ayat Alquran. Di antaranya firman Allah Ta’ala,
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sesungguhnya
Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia
kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka
lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath: 18).
Dan
firman-Nya,
مُحَمَّدٌ
رَسُولُ
اللَّهِ
وَالَّذِينَ
مَعَهُ
أَشِدَّاءُ
عَلَى
الْكُفَّارِ
رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ
تَرَاهُمْ
رُكَّعًا
سُجَّدًا
يَبْتَغُونَ
فَضْلًا مِنَ
اللَّهِ
وَرِضْوَانًا
سِيمَاهُمْ
فِي
وُجُوهِهِمْ
مِنْ أَثَرِ
السُّجُودِ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia
Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud.” (QS. Al-Fath: 23).
Dalam
ayat lainnya,
وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ
مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ
اتَّبَعُوهُمْ
بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ
اللَّهُ
عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ
وَأَعَدَّ
لَهُمْ
جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا
الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ
فِيهَا
أَبَدًا
ذَلِكَ
الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang
besar.” (QS. At-Taubah: 100).
Demikian
juga dalam ayat,
لَا
يَسْتَوِي
مِنْكُمْ
مَنْ
أَنْفَقَ مِنْ
قَبْلِ
الْفَتْحِ
وَقَاتَلَ
أُولَئِكَ أَعْظَمُ
دَرَجَةً
مِنَ
الَّذِينَ
أَنْفَقُوا
مِنْ بَعْدُ
وَقَاتَلُوا
وَكُلًّا وَعَدَ
اللَّهُ
الْحُسْنَى
“idak sama di antara kamu orang yang menafkahkan
(hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi
derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang
sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih
baik.” (QS. Al-Hadid: 10).
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam pun memuji para sahabatnya dalam banyak haditsnya. Di
antaranya,
خَيْرُ
النَّاسِ
قَرْنِيْ
ثُمَّ
الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ
ثُمَّ
الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah
mereka yang sezaman denganku, kemudia setelah mereka, dan kemudian setelah
mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam
hadits yang lain,
عَنْ
أَبِيْ
هُرَيْرَةَ
أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ:” لَا
تَسُبُّوْا
أَصْحَابِيْ،
فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ
أَنْفَقَ
مِثْلَ
أُحُدٍ، ذَهَبًا
مَا بَلَغَ
مُدَّ
أَحَدِهِمْ،
وَلَا نَصِيْفَهُ
Dari
Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian cela
sahabatku! Seandainya salah seorang di antara kalian berinfak dengan emas
sebesar bukit Uhud, tidak akan sepadan (kualitasnya) dengan infak mereka yang
hanya satu mud atau bahkan setengan mud.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabdanya
juga,
لنُّجُوْمُ
أَمَنَةٌ
لِلسَّمَاءِ.
فَإِذَا
ذَهَبَتِ
النُّجُوْمُ
أَتَى
السَّمَاءَ مَا
تُوْعَدُ.
وَأَنَا
أَمَنَةٌ
لِأَصْحَابِـيْ.
فَإِذَا
ذَهَبْتُ
أَتَى
أَصْحَابِـيْ
مَا
يُوْعَدُوْنَ.
وَأَصْحَابِـيْ
أَمَنَـةٌ
لِأُمَّتِيْ.
فَإِذَا
ذَهَبَ
أَصْحَابِـيْ
أَتَى
أُمَّتِـيْ
مَا يُوْعَدُوْنَ
“Bintang-bintang itu sebagai penjaga langit, apabila
bintang-bintang itu hilang maka datanglah apa yang dijanjikan atas langit itu.
Dan aku adalah penjaga bagi para shahabatku, apabila aku telah pergi (meninggal
dunia) maka akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka.
Dan para shahabatku adalah penjaga bagi umatku, apabila shahabatku telah pergi
(meninggal dunia) maka akan datang apa yang dijanjikan kepada mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dan
sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang bernama Abdullah bin Mas’ud
pernah mengatakan,
إِنَّ
اللهَ
تَعَالَى
نَظَرَ فِيْ
قُلُوْبِ
الْعِبَادِ ،
فَوَجَدَ
قَلْبَ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ،
خَيْرَ
قُلُوْبِ
الْعِبَادِ
“Sesungguhnya Allah –Ta’ala– telah melihat hati para
hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam–
adalah sebaik-baik hati hamba.”
Karena
pujian dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam atas para sahabat, maka para ulama sepakat
menyatakan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang terpercaya dan yang jujur
dalam meriwayatkan sesuatu.
Di
antara prinsip kita, ahlussunnah wal jamaah barangsiapa yang mencela salah
seoarang dari sahabat Nabi, maka ia divonis memiliki pemahaman menyimpang.
Seorang
tabi’in yang bernama Abu Zur’ah ar-Razi mengatakan, “Jika
engkau melihat seseorang yang mengkritik salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ketahuilah bahwa ia adalah seseorang yang hendak mengadakan kerusakan dalam
agama”.
Imam
Ahmad mengatakan, “Apabila engkau melihat seseorang yang berkata miring
tentang sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, maka curigailah orang tersebut hendak
berbuat jahat terhadap (ajaran) Islam.”
Ayyuhal
muslimun,
Tidak
boleh bagi siapapun mencela salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka adalah sebaik-baik generasi dan sebaik-baik manusia. Tidak diperkenankan
mencela mereka karena perselisihan yang terjadi di antara mereka karena yang
demikian sama saja dengan menjelek-jelekkan mereka. Membicarakan perselisihan
yang terjadi di antara mereka hanyalah akan mengurangi rasa cinta kita kepada
mereka. Ditambah lagi cerita-cerita tentang perselisihan yang terjadi di antara
para sahabat banyak riwayat yang tidak shahih.
Perselisihan
yang terjadi di antara mereka adalah perselisihan yang terjadi pada level
seorang mujtahid. Seorang mujtahid (ulama yang mumpuni) diperbolehkan
mengerluarkan pedapat. Jika mereka benar mendapat dua pahala dan jika mereka
salah mendapatkan satu pahala. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits,
إِذَا حَكَمَ اَلْحَاكِمُ, فَاجْتَهَدَ, ثُمَّ أَصَابَ, فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ, فَاجْتَهَدَ, ثُمَّ أَخْطَأَ, فَلَهُ أَجْرٌ
“Jika
seorang hakim hendak menghukumi, kemudian ia berijtihad lalu ijtihadnya benar,
maka ia mendapat dua pahala. Dan jika ia hendak menghukumi, kemudian berijtihad
lalu ijtihadnya salah (keliru) maka ia mendapat satu pahala.”
Mereka
juga memiliki jasa besar dan kebaikan yang sangat banyak dibanding
kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Sementara itu Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ
الْحَسَنَاتِ
يُذْهِبْنَ
السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan
dosa-dosa.”
Ketika
kita telah mengetahui demikian kedudukan para sahabat dan adab-adab yang
digariskan syariat terhadap mereka, maka tidak boleh kita menciderai kehormatan
sahabat Rasululullah shallallahu
‘alaihi wa sallam lantaran catatan sejarah yang ada pada
mereka.
أَسْأَلُ
اللهَ
اَلَّذِيْ
لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ
أَنْ
يَرْحَمَنَا
وَأَنْ يَتُوْبَ
عَلَيْنَا
بِحُبِّنَا
لِأَصْحَابِ نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ،
اَللَّهُمَّ
أَدْخِلْنَا جِنَانَكَ
بِحُبِّهِمْ،
اَللَّهُمَّ
انْجِنَا
مِنَ
النَّارِ
بِحُبِّهِمْ،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا
مِنْ
عِبَادِكَ
اَلْأَبْرَارِ
بِحُبِّهِمْ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
رَسُوْلِ
اللهِ أَمَّا
بَعْدُ:
Ada
sekelompok sekte yang menyimpang di dalam Islam yang gemar mencela,
merendahkan, bahkan mengkafirkan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kelompok
ini kita kenal dengan nama kelompok Syiah. Di antara mereka ada yang
mengkafirkan seluruh sahabat Nabi kecuali hanya beberapa orang saja. Mereka
menghina istri Nabi, Aisyah radhiallahu
‘anha, dengan menuduhnya sebagai wanita pezina
–wal’iyadzubillah-, padahal jelas-jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memberla kehormatan Aisyah dengan menurunka 10 ayat dalam surat An-Nur: 10-21.
Penulis-penulis
dan kolumnis-kolumnis media Syiah, telah menghina salah seorang sahabat Nabi,
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu
‘anhu, padahal Abdullah bin Mas’ud termasuk tokoh di
kalangan para sahabat.
Imam
Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memberikan kabar gembira kepada Abdullah bin Mas’ud,
مَنْ
أَحَبَّ أَنْ
يَقْرَأَ
الْقُرْآَنَ
غَضًّا كَمَا
أُنْزِلَ
فَلْيَقْرَأْ
قِرَاءَةَ
ابْنِ أُمِّ
عَبْدٍ
“Barang siapa yang ingin membaca Alquran dengan bacaan
yang tepat (indah) seperti saat diturunkan hendaklah ia membaca dengan bacaan
Ibnu Ummi Abd.”
Ibnu
Ummi Abd adalah Abdullah bin Mas’ud.
Khudzaifah
bin al-Yaman pernah ditanya tentang siapakah orang yang paling mirip perangi
dan jalan hidupnya dengan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ia menjawab
مَا
أَعْرِفُ
أَحَدًا
أَقْرَبَ
سَمْتًا وَهَدْيًا
وَدَلًّا
بِالنَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
مِنْ ابْنِ
أُمِّ عَبْدٍ
“Aku tak mengetahui ada orang yang lebih mirip
kekhusyuannya, perangainya, dan jalan hidupnya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
selain Ibnu Ummu ‘Abd.
Umar
bin al-Khattab pernah berkata tentang Abdullah bin Mas’ud bahwa ia adalah
seseorang yang dipenuhi dengan keilmuan dalam riwayat lain dikatakan keluasan
pemahaman.
Subhanallah!
Apakah orang-orang yang mencela salah seorang sahabat Rasul ini tidak merasa
malu, apalagi sampai berani mencela Abdullah bin Mas’ud. Seandainya orang
yang mencela Abdullah bin Mas’ud atau salah seorang sahabat lainnya,
diminta untuk membaca Alquran dengan bacaan terbaiknya, apakah ia mampu
menandingi kebaikan bacaan Qari’ Rasulullah ini.
Sesungguhnya,
mencela dan merendahkan para sahabat hanyalah berangkat dari kadar ilmu yang
minim, walaupun ia dikenal sebagai seorang da’i terkenal dan populer.
Ada
juga orang yang mencela Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu, padahal Muawiyah
adalah penulis wahyu Alquran. Muawilayh juga disebut pamannya orang-orang yang
beriman karena saudara perempuannya adalah ibu dari orang-orang yang beriman
yakni istri Nabi, Ummu Habibah binti Abi Sufyan radhiallahu ‘anha.
Dari
Abu Taubah al-Halabi ia berkata, “Muawiyah adalah pintu gerbang sahabat
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Apabila pintu gerbang ini dibuka
(maksudnya mencela Muawiyah), maka ia akan merembet pada apa yang ada di
belakang gerbang itu (yakni mencela sahabat-sahabat yang lain)” (Riwayat
Ibnu Asakir).
Ada
yang pernah bertanya kepada Abdullah bin Mubarak (salah seorang tabi’
tabiin). “Manakah yang lebih utama, Muawiyah ataukah Umar bin Abdul
Aziz?” Abdullah bin Mubarak menjawab, “Sungguhn, debu yang menempel
di hidung Muawiyah karena mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih
utama dibanding Umar bin Abdul Aziz.”
Ibnu
Taimiyah menyatakan bahwa ulama sepakat Muawiyah radhiallahu ‘anhu adalah raja yang
paling utama dari seluruh raja-raja Islam.
اَللَّهُمَّ يَا مَنْ تُدَافِعُ عَنْ أَوْلِيَائِكَ دَافِعْ عَنْ صَحَابَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِمَنْ سَبُّهُمْ وَانْتِقَصُهُمْ، اَللَّهُمَّ وَفِّقِ المُسْلِمِيْنَ لِيَعْرِفُوْا قَدْرَ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ مَنَّ عَلَيْنَا بِصَحَبَتِهِمْ فِي الْجِنَانِ مَعَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ
.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ
وَصَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ وَ
بَارَكَ
وَأَنْعَمَ
عَلَى عَبْدِ
اللهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
وَقُوْمُوْا
إِلَى
صَلَاتِكُمْ
يَرْحَمُكُمُ
اللهُ
www.khotbahjumat.com