Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
أَكْمَلَ لَنَا
الدِّيْنَ
وَأَتَمَّ
عَلَيْنَا
النِعْمَةَ ،
وَجَعَلَ
أُمَّتَنَا
أُمَّةَ الإِسْلَامِ
خَيْرُ
أُمَّةٍ ،
وَبَعَثَ
فِيْنَا
رَسُوْلاً
مِنَّا
يَتْلُوْ
عَلَيْنَا آيَاتِهِ
وَيُزَكِّيْنَا
وَيُعَلِّمُنَا
الكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ؛
بِيَدِهِ
الفَضْلُ
وَالعَطَاءُ
وَالمِنَّةُ
، وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
بَعَثَهُ
اللهُ
لِلْعَالَمِيْنَ
قُدْوَةً
وَرَحْمَةً ؛
صَلَوَاتُ
اللهِ وَسَلَامُهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
أُوْلِي
الفَضَائِلِ
العَظِيْمَةِ
وَالمَنَاقِبِ
الجَمَّةِ .
ثُمَّ أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Bertakwalah
kepada Allah, dekatkanlah diri kepada-Nya dengan cara pendekatan seseorang yang
menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Takwa kepada Allah
adalah melakukan suatu ketaatan sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah
disertai dengan berharap pahala dari-Nya dan meninggalkan perbuatan maksiat
dengan petunjuk dari-Nya disertai perasaan takut akan adzab-Nya.
Ibadallah,
Kaum
muslimin telah berpisah dengan suatu masa yang agung dan utama. Suatu masa yang
hati-hati manusia begitu mudah untuk melakukan ketaatan. Suatu masa dimana
orang-orang berlomba-lomba melakukan berbagai bentuk amalan shaleh. Waktu
dimana orang-orang begitu termotivasi untuk mekhatamkan bacaan Alquran-nya,
menghilangkan kesusahan yang ada pada janda-janda miskin dan anak-anak yatim.
Itulah waktu dimana dua amalan utama puasa dan shalat saling beriringan. Itulah
musim semi amalan ketaatan yang Allah mudahkan bagi siapa yang Dia kehendaki.
Alangkah banyak perbendaharaan di bulan itu. Langkah besar keuntungan dari
perniagaannya. Dan alangkah baiknya harta yang ia simpan.
Ibadallah,
Kita
kaum muslimin telah berpisah dari bulan Ramadhan, dimana ampunan Allah
masa-masa penuh ampunan, pembebasan dari api neraka, dan perlombaan amalan
ketaatan. Namun perpiasahan dengan bulan tersebut bukan berarti perpisahan
dengan pintu-pintu kebaikan. Masa-masa kebaikan senantiasa silih berganti dan
pintu-pintu kebaikan datang berturut-turut. Wajib bagi seorang hamba Allah yang
beriman untuk mempersembahkan hidupnya dan menyibukkan dirinya dengan hal-hal
yang mulia serta berpacu bersama orang-orang shaleh untuk menggapai ridha
Rabbul ‘alamin Subhanahu wa Ta’ala.
Ibdallah,
Sesungguhnya
termasuk tanda diterimanya suatu amalan ketaatan yang kita lakukan adalah kita
merasa mudah melakukan ketaatan setelahnya. Kebaikan itu akan mengajak
saudaranya yaitu kebaikan jenis lainnya. Para ulama rahimahumullah mengatakan,
“Sesungguhnya tanda diterimanya puasa dan shalat seseorang di bulan
Ramadhan adalah ia merasakan ketenangan, syukur kepada Allah Tabaraka wa
Ta’ala, dan mudah melakukan ibadah lainnya yang Allah ‘Azza wa
Jalla perintahkan. Jika keadaan keadaan seseorang demikian, maka itulah tanda
diterimanya amalannya”.
Adapun
jika keadaan seseorang setelah Ramadhan berubah dari ketaatan menjadi
menyia-nyiakan ketaatan dan mengerjakan kemaksiatan dan dosa, maka yang
demikian bukanlah tanda kebaikan. Salah seorang salam dahulu, ketika
diceritakan keadaan sebagian orang yang bersungguh-sungguh beribadah di bulan
Ramadhan, namun setelah Ramadhan berlalu ia berhenti beramal dan malas, ulama
tersebut mengatakan,
بِئْسَ القَوْمُ لَا يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ
“Mereka
adalah sejelek-jelek orang, karena mereka tidak mengenal Allah kecuali hanya di
bulan Ramadhan”.
Ibdallah,
Sesungguhnya
Rabb dari setiap bulan adalah Rabb yang sama, Rabb-nya Ramadhan adalah juga
Rabb-nya bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya. Sebagian salaf mengatakan,
“Janilah seorang Rabbani bukan seoarang Ramadhani”. Maksudnya,
janganlah engkau taat dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
hanya terbatas pada bulan Ramadhan saja. Hidup kita semuanya adalah masa-masa
ketaatan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ
رَبَّكَ
حَتَّى
يَأْتِيَكَ
الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabb-mu hingga datang kematian
menjemputmu.” (QS. Al-Hijr: 99).
Firman-Nya
juga,
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
Allah
juga berfirman,
إِنَّ
الَّذِينَ
قَالُوا
رَبُّنَا
اللَّهُ
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
فَلَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan
kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS.
Al-Ahqaf: 13).
Dan
firman-Nya,
إِنَّ
الَّذِينَ
قَالُوا
رَبُّنَا
اللَّهُ
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ
أَلَّا
تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا
بِالْجَنَّةِ
الَّتِي
كُنْتُمْ
تُوعَدُونَ
Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian
mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka
dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
(QS. Fushshilat: 30).
Ibadallah,
Ada
sebuah permisalan yang perlu untuk diperhatikan. Bagaimana pendapat Anda
sekalian jika ada seorang perempuan yang memintal benang menjadi pakaian selama
satu bulan sempurna. Setelah selesai ia urai lagi pakaian yang telah jadi itu
menjadi benang-benang? Mungkin Anda akan mengatakan perempuan ini tidak pintar
atau bodoh, atau perempuan ini tidak memiliki sifat hikmah. Demikian pula yang
Allah firmankan,
وَلَا
تَكُونُوا
كَالَّتِي
نَقَضَتْ
غَزْلَهَا
مِنْ بَعْدِ
قُوَّةٍ
أَنْكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan
benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai
kembali…” (QS. An-Nahl: 92).
Demikianlah,
jika seorang hamba diberi taufik untuk menaati Allah Jalla wa ‘Ala, lalu
ia mengajak dirinya agar melakukan ketaatan kemudian setelah itu ia kembali
lagi kepada kerusakan dan merusak sendi-sendi yang sudah ia bangun. Keadaan ini
sama halnya dengan wanita yang telah memintal benang tadi, lalu merusak hasil
yang telah ia upayakan.
Ibadallah,
Sesungguhnya
waktu setelah Ramadhan adalah waktu bersyukur kepada Allah Tabaraka wa
Ta’ala,
وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ
عَلَى مَا
هَدَاكُمْ
وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah
kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Dan
kita ketahui bersama, melakukan kemaksiatan setelah sebelumnya kita mengamalkan
ketaatan adalah bukan wujud dari rasa syukur atas Dia yang memberikan taufik
untuk taat, yaitu Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,
اعْمَلُوا
آلَ دَاوُودَ
شُكْرًا
“Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada
Allah).” (QS. Saba’: 13).
Ibdallah,
Marilah
kita memuhasabah diri kita, menimbang amalan kita, dan merenungkan keadaan
kita. berlalunya bulan Ramadhan memang membuat kita sedih. Karena kita hidup di
dalam ruang waktu yang terbatas. Apabila waktu kita berakhir, selesai sudah
umur kita di dunia. Karena itu, berlalunya bulan demi bulan dan tahun demi
tahun sebagai nasihat dan pengingat seorang mukmin. Karena hari-hari,
bulan-bulan, dan tahun-tahun yang kita lewati adalah bagian dari umur kita.
Umur kita berkurang seiring dengan bertambahnya bulan dan tahun yang kita
lewati. Hari, bulan, dan tahun yang kita habiskan semakin mendekatkan kita pada
ajal kita.
Oleh
karena itu, hendaknya kita merenung dan berpikir, terus memuhasabah diri dan
menimbang amal. Periksalah amalan kita sebelum nanti Allah yang memeriksa.
Timbang-timbanglah sebelum nanti ditimbang di hari kiamat. Hari ini, adalah
masa-masa beramal tanpa ada hisab perhitungan dan kiamat kelak adalah hisab
perhitungan tanpa adanya amalan.
Ya
Allah, ya Rabb kami, jadikanlah hari-hari kami adalah saat-saat dimana kami
sibuk dalam kebaikan dan ketakwaan. Bantulah kami untuk menaati-Mu ya Hayyu ya
Qayyum. Tunjukilah kami jalan yang lurus dan jangan biarkan kami bersandar
kepada diri kami sendiri walau hanya sekejap mata.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى ؛
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Jika
bulan Ramadhan adalah bulan dimana kita diwajibkan untuk berpuasa telah
berlalu, namun bulan-bulan dimana kita dianjurkan untuk berpuasa sunnah
tidaklah berlalu. Ada puasa ayyamul bid, yakni puasa sunnah di setiap 3 hari
pertengahan bulan, ada puasa senin dan kamis, ada puasa 10 Muharam, puasa
Arafah, dll. semua puasa itu tetap ada seiring bergantinya bulan-bulan
qomariyah.
Dan
saat ini kita berada di bulan Syawal. Di bulan Syawal terdapat masa-masa yang
banyak pahala dan keutamaan. Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
صَامَ
رَمَضَانَ
ثُمَّ
أَتْبَعَهُ
سِتًّا مِنْ
شَوَّالٍ
كَانَ
كَصِيَامِ
الدَّهْر
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian
menyertainya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa
satu tahun.”
Ibadallah,
Mengamalkan
enam hari puasa Syawal termasuk di antara tanda diterimanya puasa Ramadhan
kita. karena balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Dan puasa Syawal
juga merupakan perwujudan dari rasa syukur kepada Allah Tabawaka wa
Ta’ala atas taufik-Nya membantu kita menunaikan puasa Ramadhan.
Puasa
Syawal juga sama kedudukannya seperti shalat wajib dengan shalat sunnah, dalam
arti puasa sunnah Syawal ini menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa
wajib di bulan Ramadhan. Dan tentu saja keutamaannya sebagaimana telah
disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dengan berpuasa
Syawal setelah puasa Ramadhan, kita dhitung berpuasa selama satu tahun penuh.
Ya
Allah, segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau anugerahkan kepada
kami kebaikan demi kebaikan, ibadah satu ke ibadah yang lain. Ya Allah, segala
puji bagi-Mu atas nikmat yang tiada terputus dan anugerah yang tak terhitung
dan tak terhingga.
وَاعْلَمُوْا
–
رَحِمَاكُمُ
اللهُ – أَنَّ
الْكَيِّسَ
مِنْ عِبَادِ
اللهِ مَنْ
دَانَ نَفْسَهُ
وَعَمِلَ
لِمَا بَعْدَ
المَوْتِ ،
وَالعَاجِزَ
مَنْ
أَتْبَعَ
نَفْسَهُ هَوَاهَا
وَتَمَنَّى
عَلَى اللهِ
الأَمَانِي .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَعَاكُمُ
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدِ
ابْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ : ﴿إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ .
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
، وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
اَلَّذِيْنَ
يُجَاهِدُوْنَ
فِي سَبِيْلِكَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ يَا
ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
، اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ
، اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ
اللَّهُمَّ
مِنْ شُرُوْرِهِمْ
. اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةِ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وُلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا ،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرُ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
. اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الُهدَى
وَالتُّقَى
وَالعَفَةَ
وَالغِنَى .
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ ذَاتَ
بَيْنِنَا ،
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا
، وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى النُّوْرِ
، وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعْنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
،
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا .
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوُهْ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
،
Diterjemahkan
dari khotbah Syaikh Abdurrazza bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com