Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيِ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مَنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
فِي السِّرِّ
وَالْعَلَانِيَةِ
وَالْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ
مُرَاقَبَةً
مَنْ يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ .
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Sesungguhnya
di antara bentuk kewajiban yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah
kewajiban pendidikan, pengasuhan, dan kepemimpinan. Amanat yang agung yang
wajib dipegangi adalah perhatian dalam hal ini. Yakni perhatian terhadap
pendidikan anak. Hal ini –ma’asyiral muslimin-, adalah sebuah amanah
dan tanggung jawab. Allah Tabaraka
wa Ta’ala berfirman,
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لَا
تَخُونُوا
اللَّهَ
وَالرَّسُولَ
وَتَخُونُوا
أَمَانَاتِكُمْ
وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ
(27) وَاعْلَمُوا
أَنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ
وَأَوْلَادُكُمْ
فِتْنَةٌ
وَأَنَّ
اللَّهَ عِنْدَهُ
أَجْرٌ
عَظِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati
Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat
yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi
Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 27-28).
Maknanya
adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala
menganugerahkan seorang anak kepada para orang tua sebagai cobaan dan ujian.
Ujian tersebut dalam bentuk anak memiliki hak-hak yang harus ditunaikan.
Apabila orang tua menunaikan hak-hak tersebut sesuai dengan yang Allah
perintahkan, maka Allah persiapkan bagi para orang tua pahala yang sangat
bersar. Namun jika mereka menyia-nyiakan anak, maka bagi para orang tua hukuman
di sisi Allah bergantung dengan sejauh mana penyia-nyiaan mereka.
Oleh
karena itu, Allah Jalla wa
‘Ala berfirman,
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا
وَقُودُهَا
النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ
غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَا
يَعْصُونَ
اللَّهَ مَا
أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ
مَا
يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat
ini merupakan prinsip yang penting dalam pendidikan anak. Para orang tua wajib
berpegang dengannya. Dalam shahihain dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ
رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ
؛ الإِمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ
عَنْ
رَعِيَّتِهِ،
وَالرَّجُلُ
رَاعٍ فِي
أَهْلِهِ
وَهُوَ
مَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ،
وَالمَرْأَةُ
رَاعِيَةٌ
فِي بَيْتِ
زَوْجِهَا
وَهِيَ
مَسْئُولَةٌ
عَنْ رَعِيَّتِهَا
،
وَالخَادِمُ
رَاعٍ فِي
مَالِ سَيِّدِهِ
وَهُوَ
مَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ
، أَلا
كُلُّكُمْ
رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ
عَنْ
رَعِيَّتِهِ
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan
dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan
seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan
anak suaminya. Pembantu dalam permasalahan harta tuannya adalah pemimpin dan
dia akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Sehingga seluruh kalian
adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang
dipimpin.”
Makna
mas’ul (tanggung jawab) di sini adalah seorang hamba apabila ia berdiri
di hadapan Allah Jalla wa
‘Ala, maka Allah akan bertanya kepadanya tentang hal itu.
Sebagian ulama menyatakan, sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala pada hari kiamat akan
bertanya kepada orang tua tentang anaknya sebelum Allah bertanya kepada anak
bagaimana ia berlaku kepada orang tuanya. Allah telah mewatiati agar anak
berbuat kebaikan kepada orang tuanya. Dan juga Allah mewasiatkan kepada orang
tua untuk mendidik dan mengajari anaknya kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ
بِوَالِدَيْهِ
حُسْنًا
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua
orang ibu-bapaknya.” (QS. Al-Ankabut: 8).
Firman-Nya
juga
يُوصِيكُمُ
اللَّهُ فِي
أَوْلَادِكُمْ
“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka
untuk) anak-anakmu.” (QS. An-Nisa: 11).
Dan
firman-Nya juga,
قُوا
أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا
“peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6).
Ma’asyiral
muslimin,
Pendidikan
anak adalah tanggung jawab dan amanah yang besar. Wajib bagi para orang tua
untuk bertakwa kepada Allah dalam urusan anak-anak mereka. Wajib bagi para
orang tua untuk memberikan pendidikan dan bimbingan. Menumbuh-kembangkan mereka
dalam akidah Islam, amalan-amalan Islam, dan akhlak-akhlak Islam. Para orang
tua wajib membangun pondasi ketakwaan dan keshalehan agar anak-anak mengetahui
dan mengamalkan apa yang menjadi hak-hak Allah Jalla wa ‘Ala pada diri mereka.
Ibadallah,
Pendidikan
anak harus tegak pada prinsip dan asas yang benar. Untuk merealisasikan tujuan
yang mulia ini, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Di antara prinsip
tersebut adalah:
Pertama: Senantiasa mendoakan anak.
Mendoakan
ini bisa dimulai saat sang anak belum lahir, dengan meminta kepada Allah
keturunan yang shaleh. Dan setelah mereka terlahir di dunia dengan mendoakan
mereka hidayah dan kebaikan. Setelah mereka cenderung kepada hidayah dan
kebaikan, para orang tua hendaknya mendoakan mereka agar istiqomah di jalan
kebaikan tersebut. Hal ini sebagaimana doa Nabi Ibrahim:
رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ
الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100).
Kemudian
beliau berdoa:
وَاجْنُبْنِي
وَبَنِيَّ
أَنْ
نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah
berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35).
Dan
doa beliau juga:
رَبِّ
اجْعَلْنِي
مُقِيمَ
الصَّلَاةِ
وَمِنْ
ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang
yang tetap mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 40).
Doa
Nabi Zakariya:
رَبِّ
هَبْ لِي مِنْ
لَدُنْكَ
ذُرِّيَّةً
طَيِّبَةً
إِنَّكَ
سَمِيعُ
الدُّعَاءِ
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak
yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).
Dan
doa ‘ibadurrahman:
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri
kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam
bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 76).
Ketahuilah
ma’asyiral mukminin,
Doa
orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab yang tidak tertolak. Hal itu
telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau. Namun para orang tua
juga jangan tergesa-gesa dalam doa mereka, terutama saat mereka dalam kondisi
marah kepada anak. Jangan mendoakan anak dengan keburukan. Apabila doa tersebut
dikabulkan, mereka akan menyesal. Allah Ta’ala
berfirman,
وَيَدْعُ
الْإِنْسَانُ
بِالشَّرِّ
دُعَاءَهُ
بِالْخَيْرِ
وَكَانَ
الْإِنْسَانُ
عَجُولًا
“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa
untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra:
11).
Ayyuhal
mukminun,
Kedua: Adil di antara anak dan menjauhi
sikap zhalim dan tidak adil.
Jika
orang tua tida bersikap adil di antara anak mereka, maka akan terdapat rasa
permusuhan, hasad, dan kebencian antara mereka. Jika mereka berbuat adil, maka
keadilan tersebut akan menjadi sebab terbesar saling cinta dan kasih saying di
antara mereka. Dan juga menjadi sebab baiknya perangai mereka.
Dalam
Shahihain, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu
‘anhu
عَنْ
اَلنُّعْمَانِ
بْنِ بَشِيرٍ
-رَضِيَ اَللَّهُ
عَنْهُمَا- (
فَانْطَلَقَ
أَبِي إِلَى
اَلنَّبِيِّ
صلى الله عليه
وسلم لِيُشْهِدَهُ
عَلَى
صَدَقَتِي.
فَقَالَ :
أَفَعَلْتَ
هَذَا
بِوَلَدِكَ
كُلِّهِمْ? قَالَ
: لَا قَالَ:
اِتَّقُوا
اَللَّهَ ,
وَاعْدِلُوا
بَيْنَ
أَوْلَادِكُمْ
فَرَجَعَ أَبِي,
فَرَدَّ
تِلْكَ
اَلصَّدَقَةَ
) مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ
وَفِي
رِوَايَةٍ
لِمُسْلِمٍ
قَالَ : (
فَأَشْهِدْ
عَلَى هَذَا
غَيْرِي
ثُمَّ قَالَ :
أَيَسُرُّكَ
أَنْ
يَكُونُوا
لَكَ فِي اَلْبِرِّ
سَوَاءً?
قَالَ : بَلَى
قَالَ : فَلَا إِذًا
)
Dari
Nu’man Ibnu Basyir radhiallahu
‘anhuma, “Ayahku menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
agar menyaksikan pemberiannya kepadaku, lalu beliau bersabda: “Apakah
engkau melakukan hal ini terhadap anakmu seluruhnya?”. Ia menjawab:
Tidak. Beliau bersabda: “Takutlah kepada Allah dan berlakulah adil
terhadap anak-anakmu.” Lalu ayahku pulang dan menarik kembali pemberian
itu. (Muttafaq ‘alaihi).
Dalam
riwayat Muslim beliau bersabda: “Carikan saksi lain selain diriku dalam
hal ini.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah engkau senang jika
mereka (anak-anakmu) sama-sama berbakti kepadamu?”. Ia Menjawab: Ya.
Beliau bersabda: “kalau begitu, jangan lakukan.”
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Ketiga: Lemah lembut, kasih sayang, dan
berbuat baik terhadap anak. Jauhi sifat kasar dan kaku.
Jika
lemah lembut ada pada suatu hal pasti dia akan menjadikan hal itu indah. Dan
tidaklah hilang dari sesuatu pasti hal itu akan menjadi rusak. Lakukan
kelemah-lembutan, kasih sayang, dan perhatian terhadap anak sedari mereka
kecil. lakukan hal it uterus-menerus.
Dalam
Shahihain, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menciumi cucunya Hasan bin Ali. Saat itu
al-Aqra’ bin Habis duduk di dekat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia
berkata, “Aku memiliki 10 orang anak dan aku tidak pernah mencium salah
seorang dari mereka”. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menatap al-Aqra’, kemudian bersabda,
مَنْ
لاَ يَرْحَمُ
لاَ يُرْحَمُ
“Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak
disayangi.”
Dalam
Shahihhain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu
‘anha, ia berkata, “Datang seorang Arab Badui menemui
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ‘Anda mencium anak-anak?
Kami tidak pernah melakukannya’. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَوَأَمْلِكُ
لَكَ أَنْ
نَزَعَ
اللَّهُ مِنْ
قَلْبِكَ
الرَّحْمَةَ
“Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah
telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”
Kasih
sayang dan lemah lembut ini ma’asyiral mukminin, adalah sebab yang
membuat anak menjadi dekat dan cinta kepada kedua orang tuanya. Apabila rasa
kedekatan ini sudah ada, maka rasa cinta pun akan muncul. Sehingga orang tua
bisa memberikan pengarahan, nasihat, dan pendidikan terhadap anak-anaknya. Dan
anak-anak pun akan lebih mudah menerima dan memperhatikan apa yang disampaikan
kedua orang tuanya.
Ibadallah,
Keempat: Orang tua memiliki semangat untuk
mengarahkan anak-anaknya kepada perkara yang mulia.
Hal
ini dilakukan dengan cara memberi pengajaran tentang akidah Islamiyah dan
kewajiban-kewajiban agama. Kemudian melarang mereka dari yang haram serta
memperingatkan mereka dari perbuatan dosa. Dan sebaik-baik nasihat seorang ayah
kepada anaknya adalah nasihat Lukman al-hakim kepada anaknya. Sebuah nasihat
yang Allah sebutkan di dalam Kitab-Nya di surat Lukman.
Apa
yang dilakukan oleh Lukman adalah sebuah teladan yang mulia dan agung.
Hendaknya kita mencontoh Lukman dalam mendidik dan mengajar anaknya. Ia
mengajarkan tentang keimanan kepada Allah dan beriman pada semua yang
diperintahkan-Nya. Ia mengajarkan mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala dan
menyerahkan agama hanya untuk-Nya. Allah Ta’ala
berfirman,
وَوَصَّى
بِهَا
إِبْرَاهِيمُ
بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ
يَابَنِيَّ
إِنَّ
اللَّهَ
اصْطَفَى
لَكُمُ الدِّينَ
فَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula
Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk
agama Islam”. (QS. Al-Baqarah: 132).
Dan
wasiat pertama Lukman kepada anaknya,
يَابُنَيَّ
لَا تُشْرِكْ
بِاللَّهِ
إِنَّ الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena
menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Lukman: 13).
Setelah
menasihati anaknya dengan keimanan, Lukman melanjutkannya dengan nasihat agar
menjaga kewajiban-kewajiban, melarang anaknya dari kemungkaran, dan
memperingatkannya akan perbuatan dosa. Di antara kewajiban yang paling terdepan
untuk dijaga adalah shalat.
وَأْمُرْ
أَهْلَكَ
بِالصَّلَاةِ
وَاصْطَبِرْ
عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat
dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).
Dalam
Sunan Abu Dawud,
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
مُرُوا
أَوْلَادَكُمْ
بِالصَّلَاةِ
وَهُمْ
أَبْنَاءُ
سَبْعِ
سِنِينَ،
وَاضْرِبُوهُمْ
عَلَيْهَا
وَهُمْ
أَبْنَاءُ
عَشْرٍ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika
mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun
tidak mengerjakan shalat.”
Ayyuhal
mukminun,
Kelima: Memperhatikan teman-teman mereka,
terutama teman dekat.
Karena
teman dekat yang bertemu secara intens akan mempengaruhi satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah memberikan perumpamaan yang sangat menarik mengenaik teman yang baik dan
teman yang buruk. Dalam Shahihain, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ
الْجَلِيسِ
الصَّالِحِ
وَالْجَلِيسِ
السَّوْءِ
كَحَامِلِ
الْمِسْكِ
وَنَافِخِ الْكِيرِ،
فَحَامِلُ
الْمِسْكِ:
إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ،
وَإِمَّا
أَنْ
تَبْتَاعَ
مِنْهُ،
وَإِمَّا
أَنْ تَجِدَ
مِنْهُ
رِيحًا طَيِّبَةً،
وَنَافِخُ
الْكِيرِ:
إِمَّا أَنْ
يُحْرِقَ
ثِيَابَكَ،
وَإِمَّا
أَنْ تَجِدَ
رِيحًا
خَبِيثَةً
“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang
buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi
ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium
bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau
engkau mencium bau yang tidak enak.”
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,
الْمَرْءُ
عَلَى دِينِ
خَلِيلِهِ
فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ
مَنْ
يُخَالِلْ
“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah
kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan
Tirmidzi).
Kemudian
di zaman ini, ada wujud pertemanan, yang belum ada di zaman sebelumnya. Yaitu
pertemanan dengan chanel-chanel televisi, internet, dan alat-alat komunikasi
modern lainnya. Hal itu terdapat di dalam rumah-rumah bahkan dalam genggaman.
Oleh karena itu, hendaknya para orang tua mengawasi teman-teman anak-anaknya
berupa benda-benda tersebut. Karena teman dekat akan memberikan pengaruh yang
besar dan bahaya yang fatal terhadap pola pikir, agama, dan akhlak. Berapa
banyak pemuda-pemuda menjadi rusak gara-gara benda-benda tersebut.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Keenam: Orang tua harus menjadi teladan bagi
anaknya.
Jangan
orang tua menjadi seseorang yang memerintahkan anaknya kepada kebaikan, namun
dia sendiri tidak melakukannya. Jangan pula melarang mereka dari kejelekan,
tapi dia sendiri malah melakukannya. Yang demikian malah menjadikannya sebagai
orang tua teladan dalam keburukan untuk anaknya. Yang demikian malah menjadikan
seruan dan arahannya bertolak belakang. Antara perkataan dan perbuatannya
berada di lembah yang berbeda.
Jika
demikian halnya, anak-anak akan tumbuh besar pada didikan seorang ayah yang bertentangan
perkataan dan perbuatannya. Yang berbahaya bagi karakter anaknya. Sang anak
akan sangat terpengaruh dengan prilaku kedua orang tua tersebut.
Wajib
bagi para orang tua yang mendidik dan mengarahkan anak-anaknya untuk merenungi
terus firman Allah Tabaraka
wa Ta’ala,
أَتَأْمُرُونَ
النَّاسَ
بِالْبِرِّ
وَتَنْسَوْنَ
أَنْفُسَكُمْ
وَأَنْتُمْ
تَتْلُونَ
الْكِتَابَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian,
sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca
al-Kitab?” (QS. Al-Baqarah: 44).
Dan
perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam,
وَمَا
أُرِيدُ أَنْ
أُخَالِفَكُمْ
إِلَى مَا
أَنْهَاكُمْ
عَنْهُ
“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan
mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88).
Ayyuhal
mukminun,
Bersamaan
dengan usaha para orang tua dengan memperhatikan hal-hal di atas, hati mereka
wajib tetap bersandar kepada Allah Ta’ala.
Bertawakal, menyerahkan urusan, dan beraharap hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
Berharap mudah-mudah Allah menjadikan anak-anak mereka anak yang shaleh dan
taat. Menjaga mereka sebagaimana Dia menjaga hamba-hamba-Nya yang shaleh.
اَللَّهُمَّ
يَا رَبَّنَا
نَتَوَجَّهُ
إِلَيْكَ فِي
هَذِهِ
السَّاعَةِ
المُبَارَكَةِ
وَفِي هَذِهِ
الْلَحْظَاتِ
الكَرِيْمَةِ،
وَنَسْأَلُكَ
يَا رَبَّنَا
بِأَسْمَائِكَ
الْحُسْنَى
وَصِفَاتِكَ
العُلْيَا
وَبِأَنَّكَ
أَنْتَ اللهُ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
أَنْ
تُصْلِحَ
لَنَا أَوْلَادَنَا
أَجْمَعِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
مَنَّ عَلَيْهِمْ
بِالصَّلَاحِ
وَالْهِدَايَةِ
وَالاِسْتِقَامَةِ
وَالسَّدَادِ،
وَجَنِّبْهُمْ
يَا رَبَّنَا
اَلْفَسَادَ
وَالْهَلَاكَ،
اَللَّهُمَّ
لَا نَرْجُوْ
ذَلِكَ
إِلَّا
مِنْكَ، وَلَا
نَتَوَكَلُ
فِي ذَلِكَ
وَفِي أَيِّ
أَمْرٍ مِنْ
أُمُوْرِنَا
إِلَّا
عَلَيْكَ؛
فَأَنْتَ
وَحْدَكَ
المُسَتَعَان
وَعَلَيْكَ التُكْلَان
وَلَا حَوْلَ
وَلَا
قُوَّةَ
إِلَّا
بِاللهِ
العَلِيِّ
العَظِيْمِ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
كَثِيْرًا،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.
Ayyuhal
mukminun,
Yang
harus diperhatikan oleh para orang tua dalam mendidik dan mengarahkan anaknya
adalah bersabar dalam usaha tersebut. Karena kesabaran akan menghasilkan
kebaikan dan hasil pendidikan yang baik dan penuh berkah. Yang hal itu akan
berdampak kebaikan di dunia, alam kubur, dan hari saat ia berjumpa dengan Allah
Tabaraka wa Ta’ala.
Orang
tua juga harus mengingat, janganlah mereka malas dalam mendidik anak mereka.
Apabila orang tua malas dalam melakukan pendidikan terhadap anaknya, maka ia
akan mendapatkan balasan yang buruk baik di dunia maupun di akhirat.
Bertakwalah
kepada Allah wahai para orang tua, dalam permasalahan anak-anak. Hendaknya kita
jadikan pendidikan dan pengarahan kepada anak-anak sebagai jalan untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Kita sertai usaha kita ini dengan doa memohon
kebaikan, hidayah, dan keistiqomahan. Kita juga memohon perlindungan kepada-Nya
dari jalan-jalan yang mengantarkan kepada kejelekan. Mohonlah pertolongan
kepada Allah dalam permasalahan ini.
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
–
رَحِمَاكُمُ
اللهُ – عَلَى
مُحَمَّدِ
ابْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
﴾ [الأحزاب:٥٦]
، وقال صلى
الله عليه
وسلم : ((مَنْ
صَلَّى عَلَيَّ
وَاحِدَةً
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
عَشْرًا)) .
للَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنَ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
النَّصْرَ
وَالمَعُوْنَةَ
لِإِخْوَانِنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَهُمْ
حَافِظًا
وَمُعِيْنًا
وَهَادِيًا
وَمُسَدِّدًا
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ
مِنْ
سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ
الْأَعْمَالِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَلِّ عَلَى
المُسْلِمِيْنَ
أَيْنَمَا
كَانُوْا
خِيَارَهُمْ،
وَاصْرِفْ
عَنْهُمْ
شِرَارَهُمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَجَنِبْنَا
وَالمُسْلِمِيْنَ
الفِتَنَ مَا
ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا، أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحَيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ العَالَمِيْنَ
.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com