إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً
أما
بعد
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah
Segala
puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kita nikmat Islam dan iman. Nikmat
yang besar di dunia dan menjadi penentu kebahagian seseorang di kehidupan yang
abadi kelak, apakah seseorang merasakan kenikmatan dan kebahagiaan badi di
surga atau sengsar tiada akhir di neraka. Seseorang yang terlahir dalam keadaan
Islam, sungguh telah mendapatkan kenikmatan yang agung, bagaimana tidak? Karena
seseorang yang kufur kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam terancam dengan neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
وَالَّذِيْ
نَفْسِيْ
بِيَدِهِ لَا
يَسْمَعُ
بِيْ أَحَدٌ
مِنْ هَذِهِ
الأُمَّةِ
يَهُوْدِيٌ
أَوْ
نَصْرَانِيٌ
ثُمَّ
يَمُوْتُ وَلَمْ
يُؤْمِنْ
بِالَّذِيْ
أُرْسِلْتُ
بِهِ إِلَّا
كَانَ مِنْ
أَصْحَابِ
النَّارِ
“Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya; tak seorang pun dari umat manusia, baik
Yahudi maupun Nasrani yang pernah mendengar tentangku kemudian ia mati tanpa
beriman dengan risalahku, kecuali pastilah ia masuk Neraka.”
(HR. Muslim)
Oleh
karena itu, jamaah sekalian nikmat Islam dan iman benar-benar nikmat yang agung
yang patut kita syukuri.
Kemudian
shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad,
keluarga, sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Khatib
mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian agar
senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, karena takwa adalah wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala
seperti dalam firman-Nya
وَلَقَدْ
وَصَّيْنَا
الَّذِينَ
أُوتُوا
الْكِتَابَ
مِن
قَبْلِكُمْ
وَإِيَّاكُمْ
أَنِ
اتَّقُوا
اللهَ
Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang
yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada
Allah” (QS. An Nisa’: 131(
Jadi
jamaah sekalian takwa adalah wasiat Allah kepada seluruh manusia, baik
orang-orang terdahulu, sekarang, dan di masa yang akan datang. Demikian juga
takwa adalah wasiat orang-orang shalih dari kalangan umat ini.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, mewasiatkan kepada salah seorang sahabatnya yang
bernama Mu’adz bin Jabal untuk bertakwa kepada Allah
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ ،
وَأَتْبِعْ
السَيِّئَةَ
الحَسَنَةَ
تَمْحُهَا، وَخَالِقِ
النَاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“Bertaqwalah
kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah perbuatan dosa dengan amal
kebajikan, niscaya kebajikan tersebut akan menutupinya. Serta bergaulah dengan
orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 21354,
Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)
Hadis
ini menjelaskan tentang tiga permasalahan penting, yang mencakup bagaimana
manusia beradab terhada Tuhan mereka dan berbuat baik antar sesama.Takwa dalam
arti yang sebenarnya melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi
larangan-larangannya. Atau ada juga yang mengartikan takwa dengan
أَنْ
يَجْعَلَ
الإِنْساَنُ
بَيْنَهُ
وَبَيْنَ
عَذَابِ
اللهِ
وِقَايَةً
Seseorang
membuat pembatas antara dirinya dengan adzab Allah.
Jadi
seseorang membuat batasan yang menjaga dirinya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pembatas tersebut adalah melakukan amalan-amalan ketaatan yang diperintahkan
oleh Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh keduanya.
Ada
juga para ulama yang mendefinisikan takwa dengan
أَنْ
تُطِيْعَ
اللهَ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
تَرْجُوْ
ثَوَابَ
اللهِ وَأَنْ
تَبْتَعِد
َعَنْ
مَعَاصِ الله
عَلَى نُوْرٍ
مِنَ اللهِ
تَخَافُ
عِقَابَ
اللهِ
Engkau
menaati Allah berdasarkan cahaya petunjuk dari Allah (Alquran dan hadis)
disertai dengan perasaan berharap pahala dari Allah. Kemudian engkau menjauhi
larangan-larangan Allah berdasarkan petunjuk dari Allah disertai rasa takut
akan adzab Allah.
Inilah
pengertian takwa yang paling baik. Seseorang yang bertakwa ia harus mengetahui
mana yang Allah perintahkan agar dia amalkan dan juga mengetahui apa yang Allah
larang agar ia bisa menjauhinya.
Imam
Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kisah mengenai perihal Amirul Mukminin Umar bin
Khaththab yang bertanya kepada Ubay bin Ka’ab. Umar bertanya tentang
pengertian takwa.
Umar:
Wahai Ubay, apa yang dimaksud dengan takwa?
Ubay:
Pernahkah Anda melalui suatu jalan yang terdapat duri di jalanan tersebut?
Umar:
Pernah
Ubay:
Lalu apa yang Anda lakukan?
Umar:
Aku singkapkan sarungku atau pakaianku, kemudian aku berhati-hati melewati
jalan tersebut (agar tidak terinjak duri).
Ubay:
Itulah takwa.
Ubay
bin Ka’ab mengungkapkan pengertian takwa dengan memisalkannya dengan
analogi yang sangat mudah dipahami. Seseorang yang melewati jalan yang berduri
tentu saja ia akan berhati-hati melewati jalan tersebut. Umar meresponnya
dengan mengatakan ia angkat pakaiannya –karena pakaian orang Arab adalah
gamis, bagian bawahnya seperti sarung berbeda dengan celana panjang-. Ia angkat
pakaiannya agar ia mengetahui dimana saja posisi duri-duri yang bisa
mencelakakannya. Kalau kita realisasikan permisalan ini dengan kehidupan kita sehari-hari.
Takwa adalah mengetahui hal-hal yang bisa mencelakakan kita atau membahayakan
kehidupan kita di akhirat kelak, setelah kita tahu lalu kita jauhi hal-hal
tersebut. Inilah takwa.
خَلِّ الذُنُوْبَ كَبِيْرَهَا وَصَغِيْرَهَا ذَاكَ التُّقَى
وَاصْنَعْ
كَمَاشٍ
فَوْقَ
أَرْضِ
الشَوْكِ
يَحْذَرُ مَا
يَرَىْ
لَا
تَحْقِرَنَّ
صَغِيْرَةً
إِنَّ الجِبَالَ
مِنَ الحَصَى
–
Jauhilah dosa-dosa, yang kecil maupun yang besar.
–
Berbuatlah seperti orang yang melangkah di jalanan yang dipenuhi duri, ia mengawasi
langkahnya dan berhati-hati.
–
Jangan remehkan sesuatu yang kecil, karena gunung pun dari kerikil.
Inilah
hakikat ketakwaan menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah
Takwa
adalah sesuatu yang sangat esensi dalam akidah Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala
memandang kemuliaan seseorang bergantung dengan ketakwaan yang tertancap di
dadanya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pun masih meminta kepada Allah agar Dia
menambahkan ketakwaan untuk dirinya. Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam sering mengucapkan doa
اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى
“Ya Allah, aku memhon ketakwaan dan
petunjuk kepada-Mu.”
Apabila
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam saja senantiasa meminta kepada Allah agar
menambahkan ketakwaan kepada dirinya, maka kita sebagai umatnya lebih layak
lagi untuk memohon kepada Allah agar menambahkan ketakwaan kepada diri kita.
Kemudian
di wasiat yang kedua beliau bersabda,
وَأَتْبِعْ
السَيِّئَةَ
الحَسَنَةَ
تَمْحُهَا
“Iringilah perbuatan dosa
dengan amal kebajikan, niscaya kebajikan tersebut akan menutupinya.”
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah
Dalam
keseharian kita, tidak disangsikan lagi, kita adalah orang-orang yang
senantiasa berbuat dosa menzalimi diri kita sendiri, melanggar perintah Allah
atau meninggalkan kewajiban yang Dia perintahkan kepada kita. Oleh karena itu,
kita sangat butuh agar dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
dihapuskan dari catatan amal-amal kita, agar kita menemui Allah di akhirat
kelak dengan memenuhi catatan amal kabajikan kita.
Salah
satu upaya yang bisa kita lakukan untuk menghapus catatan dosa kita adalah
dengan memperbanyak berbuat kebajikan seperti yang telah Rasulullah jelaskan
dalam sabdanya di atas. Kita disini duduk di masjid di rumah Allah untuk
menunaikan kewajiban kita shalat Jumat berjamaah, sebelum itu kita menyimak
khatib menyampaikan khutbah, menyampaikan nasihat, menyampaikan ayat-ayat Allah
dan hadis-hadis Nabi-Nya, dan diantara kita menambahi ritual kewajiban ini
dengan amalan-amalan lainnya; shalat sunah, membaca Alquran, bershalawat, dll.
tentu saja ini adalah kebaikan yang banyak dan agung. Kita ikhlaskan niat kita
semata-mata mengharap ridha Allah, maka amalan kita saat ini insya Allah
termasuk catatan kebaikan kita dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kita.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ
العَظِيْمَ
الجَلِيْلَ
لِيْ
وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
Khutbah
Kedua
الْحَمْدُ
لِلّهِ
الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُولَهُ
بِالْهُدَى
وَدِينِ
الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّينِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا
اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ:
Kaum
muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Dalam
khutbah pertama khotib menyampaikan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan kita menjalin hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bertakwa dan
beribadah kepada-Nya, beliau melanjutkan bagaimana hendaknya kita menjalin
hubungan sosial sesama manusia dan sesama hamba Allah.
Beliau
bersabda,
وَخَالِقِ
النَاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
Serta
bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.
Beliau
mewasiatkan agar kita bersosialisasi dengan baik, dengan akhlak yang mulia.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
أَكْثَرَ
يُدْخِلَ
النَاسَ
الجَنَّةَ
التَقْوَى
اللهَ
وَحُسْنُ
الخُلُق
“Sesungguhnya
yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga adalah bertakwa kepada
Allah dan akhlak yang baik / mulia.” (HR. Bukhari)
Berakhlak
baik kepada Allah dan kepada sesama manusia walaupun orang-orang tersebut orang
yang ingkar kepada Allah –orang kafir atau non-muslim-.
Demikianlah
3 wasiat singkat
dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, tiga wasiat singkat namun mencakup segala
hal, mencakup permasalahan bagaimana hendaknya seseorang mengarungi kehidupan
mereka di dunia untuk menjemput kehidupan yang bahagia di akhirat kelak.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu
wa Ta’ala menambahkan ketakwaan kepada kita sehingga kita
dengan ringan menjalankan kewajiban-kewajiban kita dan enteng untuk
meninggalkan segala yang Dia larang. Dan semoga Allah membimbing kita agar
menjadi pribadi-pribadi yang beraklak mulia. Amin ya Rabbal ‘alamin.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
download
khotbah jumat 3-wasiat-agung-rasulullah (2377)
Ditulis
oleh Nurfitri Hadi, M.A.