|
Buletin Al Hujjah, Risalah No: 43
/ Thn IV / Muharram / 1423H |
1. Kufur, Syirik, Murtad, dan Nifaq.
Wahai orang Muslim, wahai hamba Allah!
Ketahuilah, siapa yang mati dalam keadaan kafir atau musyrik atau murtad, maka
segala amal yang baik tidak ada manfaatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah,
seperti shadaqah, silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga dan lain-lainnya.
Sebab di antara syarat taqarrub adalah mengetahui siapa yang didekati.
Sementara itu orang kafir tidak begitu. Maka secara spontan amalnya menjadi
rusak dan sia-sia.
Allah berfirman:
وَمَنْ
يَرْتَدِدْ
مِنْكُمْ
عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ
وَهُوَ كَافِرٌ
فَأُولَئِكَ
حَبِطَتْ
أَعْمَالُهُمْ
فِي
الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ
وَأُولَئِكَ
أَصْحَابُ
النَّارِ
هُمْ فِيهَا
خَالِدُونَ
"Barangsiapa yang murtad diantara kamu
dari agamanya, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di
akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" [Al-Baqarah:
217].
وَمَنْ
يَكْفُرْ
بِالْإِيمَانِ
فَقَدْ حَبِطَ
عَمَلُهُ
وَهُوَ فِي
الْآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barang siapa yang kafir sesudah
beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia pada
akhirat termasuk orang-orang yang merugi." [Al-Maidah:
5].
وَلَقَدْ
أُوحِيَ
إِلَيْكَ
وَإِلَى
الَّذِينَ
مِنْ
قَبْلِكَ
لَئِنْ
أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ
عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
"Dan sesunggunya telah diwahyukan
kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan
(Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang
yang merugi’." [Az-Zumar: 65].
وَلَوْ
أَشْرَكُوا
لَحَبِطَ
عَنْهُمْ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
Allah juga berfirman, mengabarkan tentang
keadaan semua rasul: "Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya
leyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [Al-An’am:
88].
Dan juga sabda Rasulullah saw: "Apabila
orang-orang mengumpulan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang
kemudian untuk satu hari dan tiada keraguan di dalamnya, maka ada penyeru yang
berseru: ‘Barangsiapa telah menyekutukan seseorang dalam suatu amalan yang
mestinya dikerjakan karena Allah, lalu dia minta pahala di sisi-Nya, maka
sesungguhnya Allah adalah yang paling tidak membutuhkan untuk
dipersekutukan’." [HR. At-Tirmidzi 3154, Ibnu Majah 4203, Ahmad
4/215, Ibnu Hibban 7301, hasan].
2. Riya’.
Celaan terhadap riya’ telah disebutkan
dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Firman Allah:
كَالَّذِي
يُنْفِقُ
مَالَهُ
رِئَاءَ
النَّاسِ
وَلَا يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ
فَمَثَلُهُ
كَمَثَلِ
صَفْوَانٍ
عَلَيْهِ
تُرَابٌ
فَأَصَابَهُ
وَابِلٌ
فَتَرَكَهُ
صَلْدًا لَا
يَقْدِرُونَ
عَلَى شَيْءٍ
مِمَّا كَسَبُوا
وَاللَّهُ
لَا يَهْدِي
الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
"... seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu sperti batu yang licin dan diatasnya
ada tanah, kemudian batu itu mejadilah bersih (tidak bertanah). Mereka itu
tidak menguasai sesuatu sesuatu apapun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." [ Al-Baqarah:
264].
Rasullullah saw bersabda: "Sesungguhnya
yang aku paling takutkan atas kamu sekalian ialah syirik kecil, yaitu riya’.
Allah berfirman pada hari kiamat, tatkala memberikan balasan terhadap amal-amal
manusia, ‘Pergilah kepada orang-orang yang dulu kamu berbuat riya’ di dunia,
lalu lihatlah apakah kamu mendapatkan balasan bagi mereka?" [HR.
Ahmad 5/428, 429, shahih].
Maka dari itu jauhilah riya’, karena ia
merupakan bencana amat jahat, yang bisa menggugurkan amal dan menjadikannya
sia-sia. Ketahuilah, bahwa orang-orang yang riya’ adalah pertama kali menjadi
santapan neraka, karena mereka telah menikmati hasil perbuatannya di dunia,
sehingga tidak ada yang menyisa di akhirat.
Ya Allah, sucikanlah hati kami dari nifaq
dan amal kami yang riya’ teguhkanlah kami pada jalan-Mu yang lurus, agar datang
keyakinan kepada kami.
3. Menyebut-Nyebut Shadaqah dan Menyakiti
Orang Yang Diberi.
Allah berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لَا
تُبْطِلُوا
صَدَقَاتِكُمْ
بِالْمَنِّ
وَالْأَذَى
"Hai
orang-orang yang beriman jangalah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." [Al-Baqarah:
264].
Ketahuilah wahai hamba Allah! Jika engkau
menshadaqahkan harta karena mengharap balasa dari orang yang engkau beri, maka
engkau tidak adakn mendapatkan keridhaan Allah. Begitu pula jika engkau
menshadaqahkannya karena terpaksa dan menyebut-nyebut pemberianmu kepada orang
lain.
Rasulullah saw bersabda: "Tiga
orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu
orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan
takdir." [HR. Ibnu Abi Ashim 323, Ath-Thabrany 7547, hasan].
Abu Bakar Al-Warraq berkata, "Kebaikan
yang paling baik, pada setiap waktu adalah perbuatan yang tidak dilanjuti
dengan menyebut-nyebutnya."
Allah berfirman:
قَوْلٌ
مَعْرُوفٌ
وَمَغْفِرَةٌ
خَيْرٌ مِنْ
صَدَقَةٍ
يَتْبَعُهَا
أَذًى
وَاللَّهُ
غَنِيٌّ
حَلِيمٌ
"Perkataan
baik dan pemberian maaf lebih baik dari shadaqah yang diiringi dengan sesuatu
yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha
Penyantun." [Al-Baqarah: 263].
4. Mendustakan Takdir.
Ketahuilah wahai orang Mukmin, iman seorang
hamba tidak dianggap sah kecuali dia beriman kepada takdir Allah, baik maupun
buruk. Dia juga harus tahu bahwa bencana yang menimpanya bukan unutk
menyalahkannya, dan apa yang membuatnya salah bukan untuk menimpakan bencana
kepadanya. Semua ketentuan sudah ditetapkan dan ditulis di Mushhaf yang hanya
dikethaui Allah semata, sebelum suatu peristiwa benar-benar terjadi dan sebelum
Dia menciptakan alam.
Rasulullah saw bersabda: "Tiga
orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu
orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan
takdir."
Dan sabda beliau yang lain:
لَوْ
أَنَّ
اللَّهَ
عَذَّبَ
أَهْلَ
سَمَاوَاتِهِ
وَأَهْلَ أَرْضِهِ
عَذَّبَهُمْ
وَهُوَ
غَيْرُ ظَالِمٍ
لَهُمْ
وَلَوْ
رَحِمَهُمْ
كَانَتْ رَحْمَتُهُ
خَيْرًا
لَهُمْ مِنْ
أَعْمَالِهِمْ
وَلَوْ
أَنْفَقْتَ
مِثْلَ
أُحُدٍ ذَهَبًا
فِي سَبِيلِ
اللَّهِ مَا
قَبِلَهُ
اللَّهُ
مِنْكَ
حَتَّى
تُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ
وَتَعْلَمَ
أَنَّ مَا
أَصَابَكَ
لَمْ يَكُنْ
لِيُخْطِئَكَ
وَأَنَّ مَا
أَخْطَأَكَ
لَمْ يَكُنْ
لِيُصِيبَكَ
وَلَوْ مُتَّ
عَلَى غَيْرِ
هَذَا لَدَخَلْتَ
النَّارَ
"Andaikata
Allah mengadzab semua penhuni langit dan bumi-Nya, maka Dia tidak zhalim
terhadap mereka. Dan, andaikata Allah merahmati mereka, maka rahmat-Nya itu
lebih baik bagi mereka dari amal-amal mereka. Andaikata engkau membelanjakan
emas seperti gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerima amalmu
sehingga engkau beriman kepada takdir, dan engkau tahu bahwa bencana yang
menimpamu, dan apa yang membuatmu salah bukan untuk menimpakan bencana
kepadamu. Andaikata engkau mati tidak seperti ini, maka engkau akan masuk
neraka." [HR. Abu Daud 4699, Ibnu Majah 77,
Ahmad 5/183, 185, 189, shahih].
5. Meninggalkan Shalat Ashar.
Allah memperingatkan manusia agar tidak
meninggalkan shalatul-wustha (shalat ashar) karena dilalaikan harta, keluarga
atau keduniaan. Allah mengkhususkan bagi pelakunya dengan ancaman keras,
khususnya shalat ashar. Firman-Nya: "Maka kecelakaanlah
bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya."
[Al-Ma’un: 4-5].
Rasulullah saw bersabda: "Orang
tidak mengerjakan shalat ashar, seakan-akan dia ditinggalkan sendirian oleh
keluarga dan hartanya." [HR. Al-Bukhari 2/30, Muslim 626]
Dari Abu Al-Malih, atau Amir bin Usamah bin
Umair Al-Hadzaly, dia berkata, "Kami bersama Buraidah dalam suatu
perperangan pada suatu hari yang mendung. Lalu ia berkata, ‘Segeralah
melaksanakan shalat ashar, karena Nabi saw pernah berkata: "Barangsiapa
meninggalkan shalat ashar, maka amalnya telah lenyap." [HR.
Al-Bukhari 2/31, 66].
6. Bersumpah Bahwa Allah Tidak Mengampuni
Seseorang
Dari Jundab ra sesungguhnya Rasulullah saw
mengisahkan tentang seorang laki-laki yang berkata, "Demi Allah, Allah
tidak akan mengampuni Fulan. Padahal Allah telah berfirman, ‘Siapa yang
bersumpah kepada-Ku, bahwa aku tidak mengampuni Fulan, maka aku mengampuni
Fulan itu dan menyia-nyiakan amalnya (orang yang bersumpah)." [HR.
Muslim 16/174].
Ketahuilah, bahwa memutuskan manusia dari
rahmat Allah merupakan sebab bertambahnya kedurhakaan orang yang durhaka.
Karena dia merasa yakin, pintu rahmat Ilahi sudah ditutup di hadapannya,
sehingga dia semakin menyimpang jauh dan durhaka, hanya karena dia hendak memuaskan
nafsunya. Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang tidak diberikan kepada
orang lain.
Bukanlah sudah selayaknya jika Allah
menghapus pahala amal orang yang menutup pintu kebaikan dan membuka pintu
keburukan, sebagai balasan yang setimpal baginya?
7. Mempersulit Rasulullah, dengan Perkataan
maupun Perbuatan.
Allah berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لَا
تَرْفَعُوا
أَصْوَاتَكُمْ
فَوْقَ
صَوْتِ
النَّبِيِّ وَلَا
تَجْهَرُوا
لَهُ
بِالْقَوْلِ
كَجَهْرِ
بَعْضِكُمْ
لِبَعْضٍ
أَنْ
تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ
وَأَنْتُمْ
لَا
تَشْعُرُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara
Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana
kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lainm supaya tidak
menghapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadarinya." [Al-Hujurat:
2].
Dari Anas bin Malik ra, tatkala ayat ini
turun maka Tsabit bin Qais di rumahnya, seraya berkata, "Pahala amalku
telah terhapus, dan aku termasuk penghuni neraka." Dia juga menghidari
Nabi saw. Lalu beliau bertanya kepada Sa’d bin Mu’adz, "Wahai Abu Amr,
mengapa Tsabit mengeluh?"
Sa’d menjawab, "Dia sedang menyendiri
dan saya tidak tahu kalau dia sedang mengeluh."
Lalu Sa’d mendatangi Tsabit dan mengabarkan
apa yang dikatakan Rasulullah. Maka Tsabit berkata, "Ayat ini telah turun,
sedang engkau sekalian tahu bahwa aku adalah orang yang paling keras suaranya
di hadapan Rasulullah. Berarti aku termasuk penghuni neraka."
Sa’d menyampaikan hal ini kepada beliau,
lalu beliau berkata, "Bahwa dia termauk penghuni surga." [HR.
Al-Bukhari 6/260, Muslim 2/133-134].
Dengan hadits ini jelaslah bahwa
mengeraskan suara yang dapat menghapus pahala amal adalah suara yang menggangu
Rasulullah, menentang perintah beliau, tidak taat dan tidak mengikuti beliau,
baik perkataan maupun perbuatan.
Allah berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ
وَلَا تُبْطِلُوا
أَعْمَالَكُمْ
"Hai
orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan Rasul dan janganlah kamu
merusakkan (pahala) amal-amalmu." [Muhammad: 33].
8. Melakukan Bid’ah Dalam Agama.
Melakukan bid’ah akan mengugurkan amal dan
menghapus pahala. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:
مَنْ
أَحْدَثَ فِي
أَمْرِنَا
هَذَا مَا لَيْسَ
فِيهِ فَهُوَ
رَدٌّ.
"Barangsiapa yang menciptakan sesuatu
yang baru dalam agama kami ini yang tidak termasuk bagian darinya, maka ia
tertolak."
Dalam riwayat lain disebutkan:
مَنْ
عَمِلَ
عَمَلًا
لَيْسَ
عَلَيْهِ
أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa
yang melakukan suatu amalan yang tidak termasuk agama kami, maka ia
tertolak." [HR. Al-Bukhari 5/301, Muslim 12/16].
9. Melanggar Hal-Hal Yang Diharamkan Allah
Secara Sembunyi-Sembunyi.
Dari Tsauban ra, dari Nabi saw, beliau bersabda:
"Benar-benar akan kuberitahukan tentang orang-orang dari umatku yang
datang pada hari kiamat dengan membawa beberapa kebaikan seperti gunung Tihamah
yang berwarna putih, lalu Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu sebagai debu
yang berhamburan". Tsauban berkata, "Wahai Rasulullah, sebutkan
sifat-sifat mereka kepada kami dan jelaskan kepada kami, agar kami tidak
termasuk diantara mereka, sedang kami tidak mengetahuiny". Beliau
bersabda: "Sesungguhnya mereka itu juga saudara dan dari jenismu. Mereka
shalat malam seperti yang kamu kerjakan. Hanya saja mereka adalah orang-orang
yang apabila berada sendirian dengan hal-hal yang diharamkan Allah maka, mereka
melanggarnya." [HR. Ibnu Majah 4245, shahih].
10. Merasa Gembira Jika Ada Orang Mukmin
Terbunuh.
Darah orang Muslim itu dilindungi. Maka
seseorang tidak boleh menumpahkan darahnya menurut hak Islam.
مَنْ
قَتَلَ
مُؤْمِنًا
فَاعْتَبَطَ
بِقَتْلِهِ
لَمْ
يَقْبَلْ
اللَّهُ
مِنْهُ
صَرْفًا
وَلَا
عَدْلًا
Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa
membunuh seorang Mukmin lalu ia merasa senag terhadap pembunuhannya itu, maka
Allah tidak akan menerima ibadah yang wajib dan yang sunat darinya." [HR.
Abu Daud 4270, shahih].
11. Menetap Bersama Orang-Orang Musyrik Di
Wilayah Perperangan.
Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari
kakeknya, dia berkata: "Aku berkata, ‘wahai Nabi Allah, aku tidak pernah
mendatangimu sehingga aku menjalin persahabatan lebih banyak dari jumlah
jari-jari tangan? Apakah sekarang aku tidak boleh mendatangimu dan mendatangi
agamamu? Sesungguhnya aku dulu adalah orang yang tidak pernah melalaikan
sesuatu pun kecuali apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepadaku, dan
sesungguhnya aku ingin bertanya atas ridha Allah, dengan apa Rabb-mu mengutusmu
kepada kami?"
Beliau menjawab, "Dengan Islam."
"Apakah tanda-tanda Islam itu?",
Dia bertanya.
Beliau menjawab, "Hendaklah engkau
mengucapkan: ‘Aku berserah diri kepada Allah’, hendaklah engkau bergantung
kepada-Nya, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Setiap orang Muslim atas
orang Muslim lainnya adalah haram (menyakiti), keduanya adalah saudara dan
saling menolong. Allah tidak akan menerima suatu amalan dari orang Muslim
setelah dia masuk Islam, sehingga dia meninggalkan orang-orang kafir untuk
bergabung dengan orang-orang Muslim." [HR. An-Nasa’i 5/82-83, Ibnu
Majah 2536, Ahmad 5/4-5, hasan].
12. Mendatangi Dukun dan Peramal.
Beliau saw mengancam orang-orang yang
mendatangi dukun dan sejenisnya, lalu meminta sesuatu kepadanya, bahwa
shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Beliau bersabda:
مَنْ
أَتَى
عَرَّافًا
فَسَأَلَهُ
عَنْ شَيْءٍ
لَمْ
تُقْبَلْ
لَهُ صَلَاةٌ
أَرْبَعِينَ
لَيْلَةً
"Barangsiapa
mendatangi peramal lalu bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya
tidak akan diterima selama empat puluh hari." [HR.
Muslim 14/227].
Ancaman ini diperuntukkan bagi orang yang
mendatangi dukun dan menanyakan sesuatu kepadanya. Sedangkan orang yang
membenarkannya, maka dia dianggap sebagai orang yang mengingkari apa yang
diturunkan kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda:
مَنْ
أَتَى
كَاهِنًا
قَالَ مُوسَى
فِي حَدِيثِهِ
فَصَدَّقَهُ
بِمَا
يَقُولُ
ثُمَّ اتَّفَقَا
... فَقَدْ
بَرِئَ
مِمَّا
أُنْزِلَ
عَلَى مُحَمَّدٍ
"Barangsiapa mendatangi peramal atau
dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa
yang diturunkan kepada Muhammad saw." [HR.
Muslim 135, Abu Daud 3904, Ahmad 2/408-476].
13. Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.
Allah telah memerintahkan agar berbuat baik
kepada ibu bapak dan berbakti kepada keduanya. Dia memperingatkan, mendurhakai
keduanya dan mengingkari kelebihan keduanya dalam pendidikan merupakan dosa
besar dan melenyapkan pahala amal. Rasulullah saw bersabda: "Tiga
orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu
orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan
takdir."
14. Meminum Khamr.
مَنْ
شَرِبَ
الْخَمْرَ
لَمْ
يَقْبَلْ
اللَّهُ لَهُ
صَلَاةً
أَرْبَعِينَ
صَبَاحًا فَإِنْ
تَابَ تَابَ
اللَّهُ
عَلَيْهِ
فَإِنْ عَادَ
لَمْ يَقْبَلْ
اللَّهُ لَهُ
صَلَاةً
أَرْبَعِينَ
صَبَاحًا
فَإِنْ تَابَ
تَابَ
اللَّهُ
عَلَيْهِ فَإِنْ
عَادَ لَمْ
يَقْبَلْ
اللَّهُ لَهُ
صَلَاةً
أَرْبَعِينَ
صَبَاحًا
فَإِنْ تَابَ
تَابَ
اللَّهُ
عَلَيْهِ
فَإِنْ عَادَ
الرَّابِعَةَ
لَمْ
يَقْبَلْ
اللَّهُ لَهُ
صَلَاةً
أَرْبَعِينَ
صَبَاحًا
فَإِنْ تَابَ
لَمْ يَتُبْ
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَقَاهُ
مِنْ نَهْرِ
الْخَبَالِ
قِيلَ يَا
أَبَا عَبْدِ
الرَّحْمَنِ وَمَا
نَهْرُ
الْخَبَالِ
قَالَ نَهْرٌ
مِنْ صَدِيدِ
أَهْلِ
النَّارِ
Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa
meminum khamr, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh pagi (hari).
Jika dia bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka
shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Jika dia
bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka
shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Jika dia
bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka
shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Dan, jika
mengulanginya keempat kalinya, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama
empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat maka Allah tidak mengampuninya dan
Dia mengguyurnya dengan air sungai al-khabal." Ada yang bertanya,
"Wahai Abu Abdurrahman (Nabi), apakah sungai al-khabal itu?" Beliau
menjawab, "Air sungai dari nanah para penghuni neraka." [HR.
At-Tirmidzi 1862, shahih].
15. Perkataan Dusta dan Palsu.
Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa
tidak meninggalkan perkataan palsu dan pelaksaannya, maka Allah tidak mempunyai
kebutuhan untuk meninggalkan makanan dan minumannya." [HR.
Al-Bukhari 4/16, 10/473].
Di dalam hadits ini terkandung dalil
perkataan palsu dan pengamalannya dapat meleyapkan pahala puasa.
16. Memelihara Anjing, Kecuali Anjing
Pelacak, Penunggu Tanaman atau Berburu.
Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa
memelihara seekor anjing, maka pahala amalnya dikurangi setiap hari satu qirath
(dalam riwayat lain: dua qirath) kecuali anjang untuk menjaga tanaman atau pun
anjing pelacak." [HR. Al-Bukhari 6/360, Muslim 10, 240].
مَنْ
اتَّخَذَ
كَلْبًا
إِلَّا
كَلْبَ مَاشِيَةٍ
أَوْ صَيْدٍ
أَوْ زَرْعٍ
انْتَقَصَ مِنْ
أَجْرِهِ
كُلَّ يَوْمٍ
قِيرَاطٌ
Barang siapa yang memelihara anjing selain anjing
penjaga ternak, anjing berburu, dan anjing penjaga kebun, maka setiap hari,
pahala amal perbuatanya akan berkurang satu qirath. (HR. Muslim)ed.
17. Wanita Yang Nusyuz, Hingga Kembali
Menaati Suaminya.
Rasulullah saw bersabda: "Dua orang
yang shalatnya tidak melebihi kepalanya, yaitu hamba sahaya yang lari dari
tuannya hingga kembali lagi kepadanya dan wanita yang mendurhakai suaminya
hingga kembali lagi."
18. Orang Yang Menjadi Imam Suatu Kaum dan
Mereka Benci Kepadanya.
ثَلَاثَةٌ
لَا
تُجَاوِزُ
صَلَاتُهُمْ
آذَانَهُمْ
الْعَبْدُ
الْآبِقُ
حَتَّى يَرْجِعَ
وَامْرَأَةٌ
بَاتَتْ
وَزَوْجُهَا
عَلَيْهَا
سَاخِطٌ وَإِمَامُ
قَوْمٍ
وَهُمْ لَهُ
كَارِهُونَ
Rasulullah saw bersabda: "Tiga
orang yang shalatnya tidak melebihi telinga mereka, yaitu hamba sahaya yang lari
dari tuannya sehingga dia kembali yaitu hamba sahaya yang lari dari tuannya
sehingga dia kembali, wanita yang semalaman suaminya dalam keadaan marah
kepadanya, dan imam suatu kaum, sedang mereka benci kepadanya." [HR.
At-Tirmidzi 360, shahih].
Ada kisah yang dinukil dari Manshur, dia
berkata: "Kami pernah bertanya tentang masalah imam. Maka ada yang
menjawab, "Yang dimaksud hadits ini adalah imam yang zhalim. Sedangkan
imam yang menegakkan Sunnah, maka dosanya kembali kepada orang-orang yang
membencinya."
19. Orang Muslim Mejauhi Saudaranya Sesama
Muslim Tanpa Alasan Yang Dibenarkan Syariat.
عَنْ
أَبِي
هُرَيْرَةَ
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ
تُفْتَحُ
أَبْوَابُ
الْجَنَّةِ
يَوْمَ
الِاثْنَيْنِ
وَيَوْمَ
الْخَمِيسِ
فَيُغْفَرُ
لِكُلِّ
عَبْدٍ لَا
يُشْرِكُ
بِاللَّهِ
شَيْئًا
إِلَّا
رَجُلًا
كَانَتْ بَيْنَهُ
وَبَيْنَ
أَخِيهِ
شَحْنَاءُ
فَيُقَالُ
أَنْظِرُوا
هَذَيْنِ
حَتَّى يَصْطَلِحَا
أَنْظِرُوا
هَذَيْنِ
حَتَّى يَصْطَلِحَا
أَنْظِرُوا
هَذَيْنِ
حَتَّى يَصْطَلِحَا
Dari Abu Hurairah ra, seungguhnya
Rasulullah saw bersabda: "Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan
Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah akan
diampuni, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat
permusuhan. Lalu dikatakan: ‘Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai.
Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini hingga
keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai." [HR.
Muslim 16/122, 123].
(Salim Al-Hilaly)