
Syubhat-Syubhat
KekufuRan
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ
اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Jama’ah kaum muslimin yang
dimuliakan Allah Ta’ala
PeRmasalahan aqidah atau keyakinan adalah peRmasalahan
yang sangat penting. Pemahaman aqidah wajib ditanamkan sejak dini pada setiap
muslim. Aqidah meRupakan pOndasi yang akan tegak di atasnya bangunan umat,
kebaikan setiap umat itu teRkait dengan selamatnya aqidah meReka daRi
aqidah-aqidah yang menyimpang daRi aqidah shahihah.
KaRena pentingnya masalah keyakinan keimanan ini, maka
seluRuh Risalah paRa nabi menyeRu kepada peRbaikan aqidah, dan awal dakwah
setiap Rasul pasti menyampaikan peRihal aqidah. Sebagai misal adalah peRkataan
paRa nabi yang diabadikan Allah subhanahu wata’ala dalam fiRman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya lalu ia beRkata:"Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada
Ilah bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah),
aku takut kamu akan ditimpa azab haRi yang besaR (kiamat).” (QS. al-‘ARaf:
59)
Allah subhanahu wata’ala menciptakan makhluk di dunia ini, hanya untuk
beRibadah kepada-Nya semata. Allah subhanahu wata’ala beRfiRman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya meReka menyembah-Ku.” (QS. adz-DzaRiyat: 56)
Dan inilah hak Allah subhanahu wata’ala yang haRus ditunaikan Oleh hamba yaitu
mentauhidkan Allah, membeRikan ibadah hanya kepada-Nya dan tauhid inilah yang
meRupakan fitRah yang Allah subhanahu wata’ala letakkan pada setiap bayi yang
baRu dilahiRkan,
َما
مِنْ
مَوْلُودٍ
إِلاَّ
يُولَدُ
عَلىَ اْلفِطْرَةِ
“Tidaklah setiap bayi yang
dilahiRkan, kecuali beRada di atas fitRah”.
Setiap bayi yan dilahiRkan di dunia ini pasti memiliki
fitRah yang luRus, setelah itu ada kemungkinan teRjadi penyimpangan yang
disebabkan Oleh taRbiyah (pendidikan) yang Rusak, sebagaimana diisyaRatkan Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam,
فَأَبَوَاهُ
يُهَوِّدَانِهِ
أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ
“Maka
kedua ORang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi, NasRani atau majusi”.
Jama’ah kaum muslimin yang dimuliakan
Allah Ta’ala
Tauhid ini pulalah ang meRupakan asal, yang ada pada awal
mula alam semesta ini, kemudian setelah itu datanglah kesyiRikan yang meRasuk
dan meRacuni dunia ini, Allah subhanahu wata’ala beRfiRman, aRtinya, “Manusia
itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul peRselisihan), maka Allah mengutus
paRa nabi, sebagai pembeRi kabaR gembiRa dan pembeRi peRingatan, dan Allah
menuRunkan beRsama meReka Kitab yang benaR, untuk membeRi keputusan di antaRa
manusia tentang peRkaRa yang meReka peRselisihkan”. (QS. al-BaqaRah: 213)
BeRkata Abdullah ibnu Abbas, Radhiyallahu ‘anhuma “AntaRa Nuh dan Adam
alaihimassalam itu adalah sepuluh abad yang selama itu seluRuhnya meReka beRada
di atas syaRiat yang satu, syaRiat yang hak.”
KaRena memang awal mula teRjadinya kesyiRikan, yaitu tatkala kaum Nuh beRsikap
ghuluw (beRlebih-lebihan) kepada ORang-ORang shalih dan beRsikap sOmbOng
teRhadap dakwah nabi meReka. Allah subhanahu wata’ala beRfiRman, “Dan meReka
beRkata:"Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu
dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan
pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasR.” (QS. Nuh: 23)
Jama’ah kaum muslimin yang dimuliakan
Allah Ta’ala
Kadang kala kita menjumpai ORang-ORang musyRik itu melakukan kesyiRikan
ORang-ORang musyRik itu melakukan kesyiRikan bukan kaRena meReka tidak memiliki
hujjah ataupun sandaRan, akan tetapi sebagian meReka mungkin memiliki dalil dan
hujjah-hujjah yang Rapuh dan lemah, yang lebih tepatnya kita sebut sebagi
syubhat dan bukan sebagai hujjah. BebeRapa syubhat yang dilOntaRkan Oleh
ORang-ORang musyRik untuk melegalkan kesyiRikan meReka adalah:
·
Syubhat
yang peRtama, ORang-ORang musyRik beRdalil dengan apa yang dilakukan
Oleh paRa pendahulu meReka. Syubhat ini ada sejak zaman dahulu sampai sekaRang,
meReka mengatakan bahwa kami melakukan demikian hanya kaRena mewaRisi apa yang
telah ditinggalkan nenek mOyang, dan bapak-bapak kami. Allah subhanahu wata’ala
beRfiRman, aRtinya, “Bahkan meReka beRkata: "Sesungguhnya kami
mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami
ORang-ORang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak meReka".
(QS. az-zuhRuf: 22).
Syubat ini pulalah yang dilOntaRkan ORang-ORang musyRik untuk mencegat dakwah
paRa nabi. PeRhatikanlah kaum Nuh, Allah subhanahu wata’ala beRkata kepada
meReka,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia
beRkata:"Hai kaumku, sembahlah Oleh kamu Allah, (kaRena) sekali-kali tidak
ada Ilah bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak
beRtaqwa(kepada-Nya)?". Maka pemuka-pemuka ORang yang kafiR di antaRa
kaumnya menjawab:"ORang ini tidak lain hanyalah manusia sepeRti kamu, yang
beRmaksud hendak menjadi seORang yang lebih tinggi daRi kamu. Dan kalau Allah
menghendaki, tentu Dia mengutus bebeRapa ORang malaikat. Belum peRnah kami
mendengaR (seRuan yang sepeRti) ini pada masa nenek mOyang kami yang
dahulu."(QS. al-Mu minun: 23-24)
Ini adalah dalil-dalil bagi ORang-ORang yang lemah, ORang–ORang yang tidak
faham teRhadap dalil dan hujjah syaR’i. hujjah ini adalah hujjah yang
Rapuh yang tidak layak untuk dijadikan sebagai bahan peRbincangan atau
peRdebatan, kaRena nenek mOyang yang meReka taklid dengannya adalah ORang-ORang
yang teRsesat, kalau memang demikian keadaannya, maka meReka tidak pantas untuk
dijadikan panutan untuk diikuti. Allah subhanahu wata’la beRfiRman, aRtinya, “Apabila
dikatakan kepada meReka:"MaRilah mengikuti apa yang dituRunkan Allah dan
mengikuti Rasul". MeReka menjawab:"Cukuplah untuk kami apa yang kamu
dapati bapak-bapak kami mengeRjakannya". Dan apakah meReka akan mengikuti
juga nenek mOyang meReka walaupun nenek mOyang meReka itu tidak mengetahui
apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuki.” (QS. al-Maidah: 104)
Maka kita katakan, “Mengikuti
paRa pendahulu itu dibOlehkan kalau memang meReka menepati kebenaRan dan beRada
di atas petunjuk”.
Jama’ah kaum
muslimin yang dimuliakan Allah Ta’ala
·
syubhat
meReka yang kedua, meReka beRhujjah dengan takdiR atas kesyiRikan dan
kekufuRan yang meReka lakukan. Allah subhanahu wata’la beRfiRman, “Dan
meReka beRkata:"Jikalau Allah Yang Maha PemuRah menghendaki tentulah kami
tidak menyembah meReka (malaikat)". MeReka tidak mempunyai pengetahuan
sedikitpun tentang itu, meReka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS.
az-ZuhRuf: 20) dan dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’la beRfiRman,
“ORang-ORang yang mempeRsekutukan Allah, akan mengatakan:"Jika Allah
menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempeRsekutukan-Nya dan
tidak (pula) kami menghaRamkan baRang sesuatu apapun.” (QS. al-An’am: 148)
Dalam ayat di atas Allah subhanahu wata’la mengisahkan bahwa ORang-ORang musyRik
beRdalil dengan takdiR atas apa yang meReka lakukan daRi kesyiRikan kepada
Allah, meReka mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak
kami tidak mempeRsekutukan-Nya”. Ini pun hujjah yang tidak bisa diteRima,
kaRena Allah subhanahu wata’la tidak peRnah memaksa seseORang untuk beRbuat
kekufuRan, dan Allah subhanahu wata’ala membeRikan ikhtiaR dan pilihan kepada
hamba untuk melakukan ketaatan ataukah kekufuRan, maka kalau ia memilih
kekufuRan dan meninggalkan ketaatan, maka janganlah ia mencela kecuali
diRi-diRi meReka sendiRi.
BeRkata al-Imad Ibnu KasiR Rahimahullah, “Hujjah meReka yaitu ORang-ORang
musyRik adalah hujjah yang Rapuh, dan kalau seandainya hal itu benaR, tentu
Allah subhanahu wata’la tidak akan mengadzab meReka dan tidak akan
menghancuRkan meReka”.
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمِ
[KHUTBAH
KEDUA]
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
Jama’ah kaum muslimin yang dimuliakan Allah Ta’ala
·
syubhat
yang ketiga, meReka menyangka bahwa hanya dengan sekedaR melafadzkan
kalimat: لا إله إلا الله (Laa Ilaaha Illallaah) hal itu sudah cukup untuk
memasukkan meReka ke dalam suRga.
Sekalipun
meReka melakukan sekian banyak kesyiRikan dan kekufuRan, meReka beRpegangan
dengan zhahiR hadits-hadits yang menjelaskan bahwa siapa saja yang melafadzkan
dua kalimat syahadat, maka dihaRamkan atasnya neRaka.
Dan bantahan teRhadap syubhat ini, kita katakan bahwa hadits-hadits teRsebut
haRus kita bawa kepada pemahaman bahwa siapa saja yang mengucapkan kalimat: لا
إله إلا الله (La Ilaaha Illallah)
dan ia mati di atasnya, sedang ia tidak membatalkan kalimat teRsebut dengan
kesyiRikan dan kekufuRan akan tetapi ia betul-betul
mengucapkannya dengan hati yang ikhlas yang beRsumbeR daRi hatinya, beRsama itu
ia mengkufuRi dan mengingkaRi seluRuh sesembahan selain Allah, kemudian ia mati
di atas yang demikian itu, maka benaRlah ucapan meReka.
Sebagaimana hal ini peRnah disinyaliR Oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dalam sabdanya:
مَنْ
قَالَ لاَ
إِِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَ كَفَرَ
بِمَا
يَعْبُدُ
مِنْ دُونِ
اللهِ حَرُمَ
مَالُهُ
وَدَمُهُ
وَحِسَابُهُ
عَلىَ اللهِ
“BaRang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illaah dan mengkufuRi
setiap yang disembah selain Allah, maka haRam daRah, dan haRtanya dan hisabnya
atas Allah”.(HR. Muslim)
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaitkan antaRa
keteRjagaan daRah dan haRta dengan dua hal:
Dikatakan kepada Hasan al-BashRi Rahimahullah bahwa
manusia mengatakan, “BaRangsiapa mengucapkan لا إله إلا الله(Laa Ilaaha illaha Illah)
dia masuk suRga.” Kamudian beliau mengatakan, “BaRangsiapa yang mengucapkapkan لا إله إلا الله (Laa Ilaaha Illaah) dan
melaksanakan hak-haknya seRta kewajiban-kewajibannya maka dia masuk suRga.”
Inilah bebeRapa syubhat-syubhat ORang-ORang musyRik yang
hakikatnya syubhat-syubhat meReka adalah sepeRti saRang laba-laba yang lemah, syubhat-syubhat
yang Rapuh yang tidak bisa dijadikan sandaRan bagi ORang-ORang yang mau
beRfikiR. Kita beRlindung kepada Allah subhanahu wata’la agaR diselamatkan daRi
musibah besaR yang menimpa kaum muslimin teRsebut, yaitu sedikitnya ilmu dan
bahayanya sambaRan syubhat.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ
نَا إِنْ نَسِيْنَا
أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ تَحْمِلْ
عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلََى
اّلذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تًحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ لَنَا
بِهِ وَاعْفُ
عَنّا
وَاغْفِرْ
لَنَا وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
والحمد لله رب
العالمين.
SumbeR: Diambil
daRi Majalah Al-FuRqOn, Edisi 4 tahun ke-7,1428/2007)
:: Compiled by oRiDo™ ::