
Rizki Hanyalah
Hak Allah
الحمد
لله الذي
هدانا
للإسلام وما
كنا لنهتدي
لولا أن هدانا
الله
الحمد الله
الذي يبسط
الرزق لمن
يشاء من عباده
ويقدر، ويحيط
علما بما
يظهره العبد
وما يضمر،
الكريم
الرحمن الذي
يقبل التوبة
عن عباده فيمحو
الزلل ويغفر،
نحمده سبحانه
ونشكره،
وأشهد أن لا
إله إلا الله
وحده لا شريك
له.....................................
وأشهد أن
سيدنا محمدا
عبده ورسوله
بلغ الرساله
وأدى الأمانة
ونصح للأمة
وجاهد في الله
حق جهاده.
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah
Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Marilah
kita selalu menumbuhkan dan menjaga rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas segala
nikmat dan karunia yang telah Dia anugerahkan kepada kita, sehingga kita bisa
menunaikan rangkaian ibadah shalat Jum’at dengan berjama’ah. Dan marilah kita
juga senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kwalitas ketaqwaan kita, yaitu
ketaqwaan yang dibangun atas dasar mengharap keridhaan Allah Ta'ala dan bukan
keridhaan manusia, ketaqwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari
al-Qur'an dan sunnah Rasulullah, dan ketaqwaan yang dibuktikan dengan amal
perbuatan dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan Nabi-Nya
shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mengharap rahmat Allah Ta'ala dan berusaha
semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan Allah dan
Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam karena takut terhadap adzab dan siksa
Allah Ta’ala.
Thalq bin Habib rahimahullah, seorang tabi’in pernah
menuturkan:
التقوي:
أن تعمل بطاعة
الله على نور
من الله، ترجو
رحمة الله،
وأن تترك
معصية الله
على نور من
الله، تخاف
عذاب الله.
Beliau menggambarkan bahwa, ”Taqwa adalah engkau mengamalkan ketaatan di atas cahaya dari Allah,
engkau mengharapkan rahmat-Nya. Engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah,
di atas cahaya Allah, engkau takut terhadap siksa-Nya.”
Demikianlah ketaqwaan ini harus tumbuh dalam jiwa setiap muslim, sehingga akan
lahir dan muncul pribadi-pribadi muslim yang istiqamah dan komitmen terhadap
agamanya, serta dapat membentuk satu keluarga dan komunitas masyarakat yang
Islamy, yaitu masyarakat yang terbina dan berjalan di atas manhaj dan jalan
yang lurus dan benar.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat
Jum'ah Rahimakumullah
Terhadap golongan yang demikian Allah Ta’ala telah memberikan khabar gembira
dan janji yang agung. Sebagaimana yang termaktub di dalam surat an-Nahl ayat
97, Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ
عَمِلَ
صَالِحًا
مِّن ذَكَرٍ
أَوْ أُنثَى
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً
طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا
يَعْمَلُونَ
Artinya:"Barangsiapa
yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dan dia (dalam keadaan)
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di
dunia). dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala
yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (di akhirat kelak)"
(Q.S an-Nahl: 97).
Ibnu Abbas, Ali bin Abi Thalhah, Ikrimah dan Wahab bin Munabbih dan selainnya
dari kalangan Shahabat radhiyallahu ‘anhum pernah menuturkan sebagaimana
dinukil oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ketika memberikan penjelasan
terhadap ayat tersebut, bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik di dunia
adalah Allah akan memberikan rizki yang halal dan baik, timbulnya rasa qana'ah
(perasaan cukup) dengan apa yang telah Allah anugerahkan dan karuniakan, serta
mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan di dalamnya.
Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah memberikan
penegasan sebagaimana yang termaktub dalam hadits riwayat Imam Muslim yang
bersumber dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
إن
الله لايظلم
مؤمنا حسنة
يعطى بها في
الدنيا،
ويجزى بها في
الآخرة. وأما
الكافر فيطعم
بحسنات ما عمل
لله تعالى في
الدنيا حتي
إذا أفضى إلى
الآخرة لم يكن
له حسنة يجزى
بها
”Sesungguhnya Allah
tidak akan mendhalimi kebaikan seorang mukmin, dengan kebaikan itu ia akan
diberi rizki di dunia dan diberi balasan diakhirat. Adapun orang kafir maka
dengan kebaikan-kebaikan amal yang ia kerjakan karena Allah, ia diberi rizki di
dunia, sehingga ketika ia memasuki akhirat ia tidak memiliki satu kebaikan yang
harus dibalasnya karenanya.” (HR. Muslim).
Dengan demikian seorang mukmin yang senantiasa berada di atas tuntunan Allah
dan Rasul-Nya Shallallaahu 'alaihi wasallam dia akan mendapatkan kebahagian di
dunia dan akhirat yang abadi. Sebaliknya bagi orang kafir dan orang-orang yang
mengikuti jalan mereka, meskipun di dunia juga Allah berikan kenikmatan, namun
di akherat kelak ia akan mendapatkan kehidupan yang sempit. Sebagaimana
firman-Nya,
وَمَنْ
أَعْرَضَ عَن
ذِكْرِى
فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً
ضَنكًا
وَنَحْشُرُهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَعْمَى
”Dan barangsiapa
yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
(QS. 20:124)
Demikianlah janji-janji Allah Ta’ala dan bentuk ancaman
dan peringatan-Nya, agar kita selalu hati-hati dan mawas diri sehingga Allah
tidak murka dan menimpahkan segala bentuk cobaan dan musibah karena disebabkan
perbuatan kita sendiri.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Berkaitan dengan permalahan rizki yang telah Allah Ta’ala tentukan dan
anugerahkan kepada setiap hamba-Nya, maka ada beberapa hal yang harus menjadi
keyakinan seorang muslim, diantaranya:
Manakala aqidah ahlus sunnah wal jama’ah telah menyakini bahwa diantara sifat
fi’liyah yang dimiliki Allah Subhaanahu wa ta'ala dan menujukkan kesempurnaan
rububiyah-Nya adalah Allah Ta’ala sebagai Dzat satu-satunya Pemberi Rizki
kepada setiap makhluk, Dia sendiri yang telah menentukannya sesuai dengan kadar
masing-masing sejak 50 ribu tahun sebelum bumi diciptakan, kemudian ketentuan
ini ditulis oleh malaikat sejak manusia berada di dalam kandungan ibunya pada
40 hari ke 4, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh sebuah hadit riwayat
Imam Muslim, maka termasuk konsekwensi iman terhadap qadha dan qadar Allah
Ta'ala bagi setiap muslim dalam masalah ini adalah, dia harus menyakini bahwa
segala bentuk rizki, baik yang datang dari langit maupun buminya, dalam bentuk
harta dan anak, rumah, perkebunan, sehat dan tentram telah Allah tentukan bagi
setiap hamba-Nya, bahkan kepada binatang melata pun telah Allah Ta’ala berikan
bagiannya. Allah Ta'ala berfirman,
وَمَامِن
دَآبَّةٍ فِي
اْلأَرْضِ
إِلاَّ عَلَى
اللهِ
رِزْقُهَا
وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا
وَمُسْتَوْدَعَهَا
كُلٌّ فِي كِتَابٍ
مُّبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan
Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu
dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh).” (QS. 11:6)
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
إن
نفسا لن تموت
حتي تستكمل
رزقها ،
فاتقوا الله
وأجملوا في
الطلب
"Sesungguhnya
seseorang tidak akan meninggal dunia sampai ia sudah meraih seluruh bagian
rizkinya, maka bertaqwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam
mencari rizki." (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani)
Dengan demikian setiap kebaikan dan setiap bentuk dan
kadar rizki setiap makhluk telah Allah tentukan, tidak ada seorang pun yang
memiliki kewenangan untuk menolak dan menahannya, sebagaimana tak ada
seorangpun yang dapat merubah ketentuan tersebut. Sebagaiman yang demikian
telah merusak keyakinan sebagian kaum muslimin, sehingga mereka terjerumus
dalam sekian bentuk kesyirikan, mereka mendatangi tukang ramal, mencari hari
baik dan mujur, mengarahkan bangunan rumah-rumah mereka ke arah tertentu bahkan
melakukan dan mengadakan ritual-ritual tertentu dengan keyakinan agar
mendapatkan rizki yang banyak. Na’udzubillahi min dzalik.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat Jum'ah
Rahimakumullah
Di antara keyakinan yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam masalah rizki
juga, bahwa Allah Ta'ala telah membagi dan memberikan keutamaan sebagian orang
terhadap lainnya berkaitan dengan rizki dan yang demikian tidak ada hubungannya
sama sekali dengan nasab dan keturunan, warna kulit, kedudukan, kehormatan,
kepandaian, bahkan keta'atan dan kemaksiatan seseorang. Namun Allah Ta'ala
memberikan nikmatnya kepada seluruh makhluknya untuk suatu hikmah dan tujuan
yang Allah ketahui dan kehendaki.
Sehingga dengan demikian ada sebagian di antara manusia yang mendapatkan harta
yang cukup atau bahkan melimpah ruah dan sebagian yang lain justru sebaliknya,
serba kekurangan dan menghadapi kesulitan hidup.
Dalam hal Allah Ta'ala telah menegaskan sebagaimana firman-Nya,
وَاللهُ
فَضَّلَ
بَعْضَكُمْ
عَلَى بَعْضٍ فِي
الرِّزْقِ
فَمَا
الَّذِينَ
فُضِّلُوا بِرَآدِّي
رِزْقِهِمْ
عَلَى
مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
فَهُمْ فِيهِ
سَوَآءٌ أَفَبِنِعْمَةِ
اللهِ
يَجْحَدُونَ
”Dan Allah telah melebihkan sebahagian kamu
dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan
(rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka
miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari
nikmat Allah.” (QS. 16:71)
Namun
yang terjadi, betapa banyak orang yang telah Allah Ta'ala karuniakan rizki yang
melimpah, kedudukan yang berada, keluarga terhormat dan terpandang di
masyarakat, namun mereka tidak mendapatkan dan merasakan sedikitpun nilai suatu
kebahagian hidup di dunia sama sekali apalagi di akhirat karena mereka telah
jauh dari tuntunan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallaahu 'alaihi wasallam.
Sebaliknya betapa banyak orang yang berkehidupan serba kekurangan dan
pas-pasan, namun mereka justru dapat merasakan kebahagiaan dengan keadaan yang
telah ditentukan oleh Allah Ta'ala terhadapnya karena ketaqwaan, kesabaran,
rasa tawakkal, dan qana'ah yang mereka miliki serta khusnudhan mereka terhadap
Allah Ta'ala.
Mereka merasa telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Dan ini semua
merupakan sebab-sebab mereka mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di dunia
dan akhirat. Apa yang menjadi rahasia di balik ini semua ma'asyiral
muslimin….?? Sesungguhnya rizki yang haqiqiy adalah hati yang terhiasi dengan
keimanan dan perasaan cukup dengan apa yang telah AllahTa'alaanugerahkan.
Sehingga seseorang merasa mendapat kebaikan dan merasakan kebahagiaan di dunia
sebelum akhiratnya. Oleh karena itulah suatu ketika Umar bin Khathab pernah
menulis surat kepada Abu Musa al-Asy'ari, dan beliau mengatakan kepadanya,
واقنع
برزقك من
الدنيا فإن
الرحمن فضل
بعض عباده على
بعض بالرزق
"Merasa cukuplah dengan rizkimu di dunia,
sesungguhnya Allah Ta'ala telah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang
lain dalam hal rezki"
Maka
manakala Allah Ta'ala menginginkan terhadap hamba-Nya satu kebaikan dan
kebahagiaan, maka Allah Ta'ala akan memberikan keberkahan dan mencatat baginya
kebaikan dalam menggunakan segala bentuk kenikmatan dan mendapatkan keberkahan
pada hartanya, keberkahan dalam keluarganya, dan keberkahan dalam setiap
keadaan dan urusannya. Kalau sudah demikian tidak ada seorangpun yang dapat
menutup segala keberkahan tersebut. Sebaliknya jika Allah Ta'ala menghendaki
sebaliknya maka tak akan ada seorangpun yang dapat memberikan keberkahan. Maka
yang menjadi ukurannya adalah keberkahan dan inilah rizki yang hakiki.
Bagaimana Allah Ta'ala dengan kekuasaan-Nya menjadikan yang sedikit menjadi
banyak, dan yang kecil menjadi besar. Dan jika Allah Ta'ala menghendaki
demikian, maka Allah Ta'ala akan membukakan dan memudahkan kepada seseorang
mendapatkan sebab dan jalan pintu-pintu keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
مَّايَفْتَحِ
اللهُ
لِلنَّاسِ
مِن رَّحْمَةٍ
فَلاَ
مُمْسِكَ
لَهَا
وَمَايُمْسِكْ
فَلاَ
مُرْسِلَ
لَهُ مِن بَعْدِهِ
وَهُوَ
الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ
“Apa saja yang
Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorangpun yang
dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada
seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.Dan Dialah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 35: 2)
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat
Jum'ah Rahimakumullah
Keyakinan berikutnya adalah, bahwa rizki yang telah Allah Ta'ala anugerahkan
kepada kita seharusnya kita jadikan sebagai washilah dan sarana untuk
mendekatkan diri dan menjaga ketaatan kita kepada Allah Ta'ala dan bukan justru
sebaliknya.
Syaikhul Islam Taqiyuddin rahimahullah pernah menuturkan,
إنما
خلق الله
الخلق
ليعبدوه،
وإنما خلق الرزق
لهم
ليستعينوا
على عبادته،
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mencipatakan
manusia hanyalah agar mereka beribadah kepada-Nya, dan menciptkakan rikzi untuk
mereka hanyalah agar dengannya dapat membantu mereka dalam beribadah kepada-Nya.”
Dengan
demikian pada hakekatnya, apa yang telah Allah Ta'ala anugerahkan bukan untuk
kesenangan dan permainan yang telah diharamkan oleh Allah Ta'ala Rasul-Nya
sehingga dapat melalaikan akherat. Bagaimana mereka akan
mempertanggungjawabkan ketika Allah Ta'ala meminta pertanggungjawaban harta
tersebut di hari kiamat kelak..? wallahu musta’an.
Banyak kita temukan ayat-ayat al-Qur’an yang yang menunjukkan bahwa maksud
terpenting Allah Ta'ala menganugerahkan rizki kepada setiap hamba-Nya adalah
agar denga sarana rizki tersebut seorang hamba dapat beribadah kepada Allah
Ta'ala.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat
Jum'ah Rahimakumullah
Adapun syubhat perasaan yang sering terlintas dalam benak mayoritas kaum
Muslimin adalah bahwa Allah Ta'ala telah banyak memberikan kemudahan dan
kelapangan rizki kepada orang-orang yang pada hakekatnya jauh dari tuntunan
Allah dan Rasul-Nya, pelaku maksiat, bahkan orang-orang dari kalangan non
muslim, dan sebaliknya kaum Muslimin justru dalam keadaan serba kekurangan,
kelaparan, menderita dan lain sebagainya.
Maka sikap seorang muslim yang benar, dia harus meyakini bahwa ini semua adalah
merupakan bentuk ujian dan cobaan dari Allah subhaanahu wa Ta'ala bagi
orang-orang yang masih memiliki rasa keimanan kepada-Nya!! Dan sesungguhnya
ketika Allah Ta'ala memberikan rizki kepada setiap hamba-Nya, maka yang
demikian tidaklah pasti menunjukkan kecintaan Allah Ta'ala dan ridha kepadanya.
Allah Ta'ala telah tegaskan dalam berfirman:
وَمَنْ
كَفَرَ
فَأُمَتِّعُهُ
قَلِيلاً ثُمَّ
أَضْطَرُّهُ
إِلىَ
عَذَابِ
النَّارِ وَبِئْسَ
الْمَصِيرُ
"Dan kepada orang
kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa
neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS. 2:126)
Maka terkadang Allah Ta'ala memberikan rikzi kepada
orang-orang yang jahat lebih banyak daripada orang-orang yang baik. Dan
memberikan rizki kepada orang-orang kafir berlipat ganda dan keadaan kaum
Muslimin pada mayoritasnya justru sebaliknya. Allah Ta'ala berfirman,
وَكَمْ
أَهْلَكْنَا
قَبْلَهُم
مِّن قَرْنٍ
هُمْ
أَحْسَنُ
أَثَاثًا
وَرِءْيًا
“Berapa banyak umat
yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat
rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (QS. 19:74)
Marilah kita renungkan sebuah hadits shahih yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad bersumber dari 'Uqbah bin Amir , Rasulullah Shalallaahu
'alaihi wa sallam bersabda,
إذا
رأيت الله
يعطي العبد من
الدنيا، وهو
قائم على
معصية الله
فاليخذر
فإنما هو
استدراج
"Seandainya kamu
melihat Allah ta'ala menganugerahkan nikmat dunia kepada seorang hamba,
sementara dia pelaku maksiat, maka ketahuilah bahwa yang demikian hanyalah
istidraj dari Allah"
Kemudian beliau membaca ayat:
فَلَمَّا
نَسُوا
مَاذُكِّرُوا
بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
أَبْوَابَ
كُلِّ شَىْءٍ
حَتَّى إِذَا
فَرِحُوا
بِمَآأُوتُوا
أَخَذْنَاهُم
بَغْتَةً
فَإِذَا هُم
مُّبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan
peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua
pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa
yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong,
maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. 6:44)
فَأَمَّا
اْلإِنسَانُ
إِذَا
مَاابْتَلاَهُ
رَبُّهُ
فَأَكْرَمَهُ
وَنَعَّمَهُ
فَيَقُولُ
رَبِّي
أَكْرَمَنِ {15}
وَأَمَّآ
إِذَا
مَاابْتَلاَهُ
فَقَدَرَ
عَلَيْهِ
رِزْقَهُ
فَيَقُولُ
رَبِّي
أَهَانَنِ
“Adapun manusia
apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka
dia berkata:"Rabbku telah memuliakanku". (QS. 89:15) Adapun bila
Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata:"Rabbku
menghinakanku". (QS. 89:16)
Akhirnya marilah kita selalu berhusnuzh-zhan,
berprasangka baik kepada Allah Ta'ala dalam situasi dan kondisi apapun, ketika
kita mendapatkan nikmat kita bersyukur, sebaliknya ketika kita mendapatkan
musibah dan cobaan kita-pun bersabar untuk tujuan yang lebih agung yaitu
kebahagiaan di akhirat.
Sahabat Jabir bin Abdullah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda tiga hari sebelum beliau wafat sebagaimana diriwayatkan oleh
Imam Muslim, beliau bersabda,
لا
يموتن أحدكم إلا
وهو يحسن الظن
بالله عز وجل
(رواه مسلم)
“Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal, melainkan
dia dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla,” (HR. Muslim)
أقول
قولي هذا
وأستغفر الله
لي ولكم
ولجميع المسلمين
من كل ذنب
فاستغفروه إنه
هو الغفور
الرحيم.
Khutbah
yang kedua
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وبعد,
Ma'asyiral
Muslimin Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Kendatipun rizeki seseorang telah ditetapkan semenjak
manusia berada di dalam perut ibunya. Namun tidak ada seorang manusia pun yang
mengetahui pendapatan rizki yang akan ia peroleh pada setiap harinya, ataupun
selama hidupnya. Ini semua tentu mengandung hikmah sesuai dengan kehendak Allah
Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَاتَدْرِي
نَفْسٌ
مَّاذَا
تَكْسِبُ غَدًا
وَمَاتَدْرِي
نَفْسٌ
بِأَيِّ
أَرْضٍ تَمُوتُ
إِنَّ اللهَ
عَلِيمٌ
خَبِيرٌ
"Dan tidak ada
seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia usahakan.
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34)
Dengan demikian seorang muslim disyari'atkan dan dituntut
selayaknya tetap mencari sebab-sebab sehingga AllahTa'ala akan memberikan rizki
kepadanya, dengan cara berusaha secara maksimal untuk mencari rizki yang halal
dan baik, dan menjahui hal-hal yang haram, sehingga keberkahan ada di dalamnya
dengan senantiasa menumbuhkan perasaan syukur kepada Allah Ta'ala, sabar serta
tawakkal terhadap segala ketentuan Allah Ta'ala, menjaga ketaqwaan kepada-Nya,
membiasakan bersedekah, menyambung silaturrahim, dan senantiasa berdo'a dan
meminta hanya kepada Allah Ta'ala serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan
perbuatan dosa, karena kemaksiatan dapat menyempitkan dan mengurangi rizki
seseorang dan keberkahannya. Sebagaimana hal ini banyak termaktub di dalam
al-Qur'an dan hadits Nabi di dalam banyak tempat.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ
نَا إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلََى
اّلذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا وَلاَ
تًحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنّا وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
والحمد لله رب
العالمين
(Oleh: Ust.
Khusnul Yaqin)
:: Compiled by oRiDo™ ::