
Mulia kaRena
Lidah yang TeRjaga
Oleh: Luqman Hakim, M.HI.
KHUTBAH PERTAMA:
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ حَقّ
تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ فِي
النّارِ.
HadiRin
Sidang Jum’at yang TeRhORmat..
Allah Ta’ala beRfiRman,
مَا
يَلْفِظُ مِن
قَوْلٍ
إِلَّا
لَدَيْهِ رَقِيبٌ
عَتِيدٌ
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada
di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadiR." (Qaf: 18).
Sesungguhnya lisan meRupakan salah satu nikmat Allah yang
amat besaR dan salah satu ciptaan Allah yang menakjubkan. Ben-tuknya kecil,
namun peRannya besaR dalam ketaatan dan kemak-siatan. Bahkan kekufuRan dan
keimanan tidak bisa diketahui dengan jelas kecuali dengan peRsaksian lisan,
padahal keduanya meRupa-kan puncak daRi ketaatan dan kemaksiatan.
HadiRin
Sidang Jum’at yang TeRhORmat
Lisan meRupakan salah satu ayat-ayat Allah. Dia
beRfiRman,
وَلِسَاناً
وَشَفَتَيْنِ
وَهَدَيْنَاهُ
النَّجْدَيْنِ
"Lidah dan dua
buah bibiR. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan."
(Al-Balad: 9-10).
HadiRin
yang BeRbahagia
APA
PERAN LISAN
Lisan adalah Raja atas semua anggOta tubuh. Semua tunduk
dan patuh kepadanya. Jika ia luRus, niscaya semua anggOta tubuh ikut luRus. Jika
ia bengkOk, maka bengkOklah semua anggOta tubuh.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
إِذَا
أَصْبَحَ
ابْنُ آدَمَ
فَإِنَّ
الْأَعْضَاءَ
كُلَّهَا
تُكَفِّرُ
اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ:
اِتَّقِ
اللهَ
فِيْنَا
فَإِنَّمَا
نَحْنُ بِكَ
فَإِنِ
اسْتَقَمْتَ
اسْتَقَمْنَا
وَإِنِ
اعْوَجَجْتَ
اِعْوَجَجْنَا.
"Apabila anak
cucu Adam masuk waktu pagi haRi, maka seluRuh anggOta badan tunduk kepada
lisan, seRaya beRkata, 'BeRtakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami,
kaRena kami mengikuti-mu, apabila kamu luRus, maka kami pun luRus, dan apabila
kamu bengkOk, maka kami pun bengkOk'." (HR. at-TiRmidzi dan Ahmad).
SeORang manusia bisa masuk suRga disebabkan lisannya.
Apa-bila benaR lisannya, maka dia akan mendapatkan pahala, dan seba-liknya bila
salah maka dia mendapatkan dOsa. Lisan manusia bisa mewujudkan dzikiR, tasbih,
dan tahlil, atau membaca al-QuR`an, atau ucapan amaR ma'Ruf nahi munkaR,
beRbuat baik kepada manu-sia, dan mengajak meReka kepada kebaikan. Lisan adalah
salah satu nikmat Allah jika dipeRgunakan Oleh hamba untuk kebaikan, petunjuk,
dan keshalihan.
Kaum
Muslimin yang BeRbahagia
MENJAGA LISAN
Lisan memang senang mengembaRa ke tempat yang tak
beRtujuan, lahannya luas tiada teRbatas dan beRtepi. Ia memiliki peRan yang
besaR di dalam lahan kebajikan, dan juga di dalam kebuRu-kan. Maka baRangsiapa
yang mengumbaR lisannya dengan bebas dan tidak mau mengendalikannya, maka setan
akan menggiRing-nya ke dalam segala sesuatu yang dia ucapkan. Lalu menyeRetnya
ke juRang kehancuRan, dan selanjutnya jatuh ke dalam kebinasaan.
Tidak seORang pun dapat selamat daRi teRgelinciRnya lisan
kecuali ORang yang mau mengendalikannya dengan tali kekang syaRiat, sehingga
lisannya tidak mengucapkan kecuali sesuatu yang membeRi manfaat di dunia dan
akhiRat. Ketika Aisyah beRkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
حَسْبُكَ
مِنْ
صَفِيَّةَ
كَذَا
وَكَذَا، تَعْنِيْ
قَصِيْرَةً،
فَقَالَ:
لَقَدْ قُلْتِ
كَلِمَةً
لَوْ
مُزِجَتْ
بِمَاءِ
الْبَحْرِ
لَمَزَجَتْهُ.
"Cukuplah bagi
Anda bahwa Shafiyah itu ORangnya begini, begini." Maksudnya tubuhnya
pendek. Maka Nabi beRsabda kepadanya, "Eng-kau telah mengucapkan suatu
peRkataan yang bila dicampuR dengan aiR laut niscaya dia akan meRubahnya."
(HR. Abu Dawud).
Imam an-Nawawi yang wafat pada tahun 676 H. beRkata,
"Ketahuilah bahwa setiap mukallaf
haRus menjaga lisannya daRi semua peRkataan kecuali peRkataan yang maslahat di
dalamnya telah jelas. Dan ketika peRkataan itu mubah, sedangkan dalam
me-ninggalkannya teRdapat maslahat maka disunnahkan untuk mena-han diRi
daRinya. KaRena teRkadang peRkataan yang mubah akan teRseRet menuju kehaRaman
atau kemakRuhan, bahkan ini menjadi hal yang umum di dalam adat kebiasaan,
sedangkan keselamatan maka tidak ada sesuatu pun yang menyamainya."
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
مَنْ
كَانَ
يُؤْمِنُ
بِالله
وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ
فَلْيَقُلْ
خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ.
"BaRangsiapa
yang beRiman kepada Allah dan HaRi AkhiR, maka hen-daklah dia beRkata baik atau
diam." (HR. al-BukhaRi dan Muslim).
Saya beRkata, "Hadits
yang disepakati keshahihannya ini me-Rupakan nash yang shaRih, bahwasanya tidak
sehaRusnya seseORang beRbicaRa melainkan apabila peRkataan teRsebut baik, yaitu
yang tampak jelas maslahatnya, dan ketika Ragu tentang kejelasan mas-lahatnya,
maka janganlah beRbicaRa."
Al-Imam asy-Syafi'i 5 beRkata, "Apabila seseORang ingin beRbicaRa, maka hendaklah dia beRpikiR teRlebih
dahulu sebelum beRbicaRa, apabila telah jelas maslahatnya, maka dia beRbicaRa,
dan apabila Ragu-Ragu, maka dia tidak beRbicaRa sampai jelas maslahatnya."
Al-Imam asy-Syafi'i 5 juga peRnah beRpesan kepada muRid-nya aR-Rabi', "Wahai aR-Rabi', janganlah kamu beRbicaRa
tentang peRkaRa yang tidak penting bagimu, kaRena apabila kamu beRbicaRa satu
kata, maka ia akan memilikimu, sedangkan kamu tidak dapat memilikinya."
Dan kami meRiwayatkan dalam Shahih al-BukhaRi: DaRi Sahal
bin Sa'ad Radhiyallahu ‘anhu, daRi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
beliau beRsabda,
مَنْ
يَضْمَنُ
لِيْ مَا
بَيْنَ
لَحْيَيْهِ وَمَا
بَيْنَ
رِجْلَيْهِ
أَضْمَنُ
لَهُ الْجَنَّةَ.
"BaRangsiapa
yang membeRikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) kejahatan lisan yang beRada di
antaRa dua tulang Rahangnya, dan kejahatan kemaluan yang beRada di antaRa kedua
kakinya, niscaya aku akan membeRikan jaminan suRga kepadanya." (HR.
al-BukhaRi).
Dan kami meRiwayatkan daRi Abdullah bin Mas'ud
Radhiyallahu ‘anhu, dia beRkata, "Tidak
ada sesuatu pun yang lebih beRhak lama dipenja-Rakan daRipada lisan."
Dan yang lainnya beRkata, "PeRumpamaan
lisan adalah se-peRti hewan buas, apabila kamu tidak mengikatnya, niscaya dia
akan memusuhimu." Dan kami meRiwayatkan daRi al-Ustadz Abu al-Qasim
al-QusyaiRi 5 dalam Risalahnya yang teRkenal, dia beR-kata, "Diam pada sesuatu yang telah selamat adalah
tindakan utama. Sedangkan diam pada waktunya meRupakan sifat (baik) seseORang
sebagaimana beRbicaRa pada tempatnya meRupakan sebaik-baik tabiat."
Dia melanjutkan, "Saya mendengaR Abu Ali ad-Daqqaq Rahimahullah beRkata,
مَنْ
سَكَتَ عَنِ
الْحَقِّ
فَهُوَ
شَيْطَانٌ
أَخْرَسُ.
'Siapa
yang beRdiam diRi daRi kebenaRan, maka dia adalah setan yang bisu'."
Apabila HaRi Kiamat tiba, maka peRkataan dan peRbuatan
seORang hamba telah dihitung. Tiba-tiba salah seORang hamba menging-kaRi hal
itu seRaya beRkata, "Wahai Rabb, saya tidak melakukan ini, saya tidak
mengatakan ini." Maka malaikat yang menyaksikan hal itu beRkata, "Aku
tidak meneRima seseORang menjadi saksi selain diRiku sendiRi." Lalu Allah
menutup mulutnya, dan semua anggOta tubuhnya beRsaksi dan membeRikan kesaksian
peRbuatannya. Tangan menutuRkan sesuatu yang dia keRjakan, kaki melapORkan
peRjalanannya, mata membeRikan kesaksian yang dia lihat, telinga membeRikan
kesaksian yang didengaRnya, dan kulit membeRikan kesaksian yang diRasakannya.
Saat itulah sang hamba beRduka cita dan teRkejut seRta beRkata kepada anggOta
tubuhnya, "Celaka dan binasalah kalian, kaRena kalianlah aku membela
diRi." Inilah anggOta-anggOta tubuh yang tidak lain adalah anggOta
tubuhmu, akan membeRikan kesaksian atas kesalahanmu di HaRi Kiamat. Allah
Ta’ala beRfiRman,
وَيَوْمَ
يُحْشَرُ
أَعْدَاء
اللَّهِ
إِلَى
النَّارِ
فَهُمْ
يُوزَعُونَ.
حَتَّى إِذَا
مَا
جَاؤُوهَا
شَهِدَ
عَلَيْهِمْ
سَمْعُهُمْ
وَأَبْصَارُهُمْ
وَجُلُودُهُمْ
بِمَا
كَانُوا
يَعْمَلُونَ.
وَقَالُوا
لِجُلُودِهِمْ
لِمَ
شَهِدتُّمْ
عَلَيْنَا قَالُوا
أَنطَقَنَا
اللَّهُ
الَّذِي
أَنطَقَ
كُلَّ شَيْءٍ
وَهُوَ
خَلَقَكُمْ
أَوَّلَ
مَرَّةٍ
وَإِلَيْهِ
تُرْجَعُونَ.
وَمَا
كُنتُمْ
تَسْتَتِرُونَ
أَنْ
يَشْهَدَ
عَلَيْكُمْ
سَمْعُكُمْ
وَلَا
أَبْصَارُكُمْ
وَلَا
جُلُودُكُمْ وَلَكِن
ظَنَنتُمْ
أَنَّ
اللَّهَ لَا
يَعْلَمُ
كَثِيراً
مِّمَّا
تَعْمَلُونَ
"Dan
(ingatlah) haRi (ketika) musuh-musuh Allah digiRing ke dalam neRaka lalu meReka
dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila meReka sampai ke neRaka, pendengaRan,
penglihatan, dan kulit meReka menjadi saksi teRhadap meReka tentang apa yang
telah meReka keR-jakan. Dan meReka beRkata kepada kulit meReka, 'Mengapa kamu
menjadi saksi teRhadap kami.' Kulit meReka menjawab, 'Allah yang telah
menjadikan segala sesuatu pandai beRkata telah menjadikan kami pandai (pula)
beRkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang peRtama, dan hanya
kepadaNya-lah kamu dikembali-kan'. Kamu sekali-kali tidak dapat beRsembunyi
daRi peRsaksian pendengaRan, penglihatan, dan kulitmu teRhadapmu, bahkan kamu
mengiRa bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan daRi apa yang kamu keRjakan."
(Fushshilat: 19-22).
LARANGAN
GHIBAH
Ketahuilah bahwa ghibah teRmasuk peRbuatan yang paling
buRuk dan paling teRsebaR di antaRa manusia, sehingga meReka tidak selamat
daRinya melainkan hanya segelintiR ORang saja. Batasan ghibah yaitu engkau
mempeRbincangkan saudaRamu dengan sesuatu yang jika hal itu didengaR atau
sampai ke telinganya, maka dia meRasa tidak senang, baik itu mengenai badan,
nasab, peRilaku, peRbuatan, ucapan atau dalam uRusan agamanya, bahkan sampai
pakaian yang dia kenakan, Rumah tinggal, dan kendaRaannya.
Di dalam Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan
at-TiRmidzi dan Sunan an-Nasa`i: daRi Abu HuRaiRah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
أَتَدْرُوْنَ
مَاالْغِيْبَةُ؟
قَالُوْا: اللهَ
وَرَسُوْلُهُ
أَعْلَمُ،
قَالَ: ذِكْرُكَ
أَخَاكَ
بِمَا
يَكْرَهُ.
قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ
إِنْ كَانَ
فِي أَخِيْ
مَا أَقُوْلُ؟
قَالَ: إِنْ
كَانَ فِيْهِ
مَا تَقُوْلُ فَقَدِ
اغْتَبْتَهُ
وَإِنْ لَمْ
يَكُنْ فِيْهِ
مَا تَقُوْلُ
فَقَدْ
بَهَتَّهُ.
"Apakah kalian
mengetahui, apakah ghibah itu?" MeReka menjawab, "Allah dan RasulNya
lebih mengetahui." Beliau beRsabda, "Kamu menyebutkan tentang saudaRamu dengan sesuatu yang tidak
disenanginya." Dikatakan kepada beliau, "Bagaimana pendapatmu bila pada saudaRaku memang benaR ada yang aku
ucapkan?" Beliau beR-sabda, "Jika
pada diRinya benaR ada yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan ghibah
teRhadapnya, dan jika pada diRinya tidak teRdapat sesuatu yang kamu ucapkan,
maka kamu telah melakukan tu-duhan dusta teRhadapnya." (HR. Muslim).
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
لَمَّا
عُرِجَ بِيْ
مَرَرْتُ
بِقَوْمٍ لَهُمْ
أَظْفَارٌ
مِنْ نُحَاسٍ
يَخْمِشُوْنَ
وُجُوْهَهُمْ
وَصُدُوْرَهُمْ
فَقُلْتُ: مَنْ
هٰؤُلاَءِ
يَا
جِبْرِيْلُ؟
قَالَ: هٰؤُلاَءِ
الَّذِيْنَ
يَأْكُلُوْنَ
لُحُوْمَ
النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ
فِي
أَعْرَاضِهِمْ.
"Ketika saya
diangkat (pada peRistiwa isRa' mi'Raj), maka saya me-lewati kaum yang memiliki
kuku daRi tembaga. MeReka mencakaR wajah dan dada meReka. Saya beRtanya,
'Siapakah meReka wahai JibRil?' JibRil menjawab, 'MeReka adalah kaum yang
memakan daging manusia (maksudnya melakukan ghibah), dan meRusak kehORmatan
meReka'." (HR. Abu Dawud).
Dalam hadits ini digambaRkan dengan jelas bahwa Allah q
menghukum ORang yang melakukan ghibah. MeReka digambaRkan sebagai ORang yang
memakan daging manusia. Di akhiRat nanti, meReka mencakaR wajah dan dada
meReka.
HadiRin
Sidang Jum’at Yang Kami HORmati
Hukum ghibah adalah haRam beRdasaRkan ijma' kaum
muslimin. Dan telah jelas dalil-dalil yang shaRih tentang kehaRamannya daRi
al-Kitab, as-Sunnah dan ijma'.
Allah Ta’ala beRfiRman,
وَلَا
يَغْتَب
بَّعْضُكُم
بَعْضاً
"Janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (Al-HujuRat :12).
Dia juga beRfiRman,
وَيْلٌ
لِّكُلِّ
هُمَزَةٍ
لُّمَزَةٍ
"Kecelakaanlah bagi
setiap pengumpat lagi pencela." (Al-Humazah: 1).
Al-Humazah
beRmakna, ORang yang mengumpat manusia dan dia menyakiti meReka dengan
ketidakhadiRan meReka, sedangkan al-Lumazah beRmakna ORang yang mencela manusia
dan menyakiti meReka dengan kehadiRan meReka. Dan mungkin al-Humazah ada-lah
ORang yang menyakiti manusia dengan peRkataannya, sedangkan al-Lumazah adalah
ORang yang menyakiti meReka dengan peR-buatan dan tindak-tanduknya, dan dalam
Riwayat lain dikatakan maknanya adalah selain hal teRsebut yang masih mencakup
makna-makna ini.
Dia juga beRfiRman,
هَمَّازٍ
مَّشَّاء
بِنَمِيمٍ
"Yang banyak mencela, yang kian ke maRi
menghambuR fitnah." (Al-Qalam: 11).
Kaum
Muslimin Rahimakumullah
ANJURAN BAGI LISAN UNTUK BERTUTUR KATA YANG LEMBUT
Kata-kata yang manis memang teRbukti bisa menghipnOtis
manusia. Ia bisa menghanyutkan manusia dalam buaiannya. Pen-dapat ini beRtitik
tOlak pada fitRah manusia yang selalu ingin dihaRgai atau bahkan dipuji. TutuR
kata yang manis juga bisa memOtivasi ORang lain untuk beRbuat baik dan
meninggalkan peRbuatan mungkaR.
Sebuah kRitikan yang tajam, namun dibungkus dengan tutuR
kata yang halus lebih bisa diteRima Oleh ORang yang dikRitik. Dan sebaliknya,
penyampaian dakwah kebenaRan secaRa vulgaR dan kasaR kepada umat manusia
teRkadang akan beRakibat sebaliknya. MetOde teRsebut tidak hanya kuRang
efektif, bahkan bisa memunculkan sikap antipati daRi Objek dakwah. Allah
membeRikan dalam kelembutan sesuatu yang tidak dibeRikanNya dalam kekeRasan.
Inti dakwah Islam adalah saling nasihat menasihati,
nasihat bagi Allah, Rasulullah, paRa pemimpin, dan kaum muslimin. Dalam sebuah
hadits disebutkan, "TOlOnglah
saudaRamu yang zhalim dan dizhalimi." Dan caRa menOlOng saudaRa yang
zhalim adalah menasihatinya agaR tidak melakukan kezhaliman dan kemungkaRan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
إِنَّ
الرِّفْقَ
لَا يَكُوْنُ
فِي شَيْءٍ إِلَّا
زَانَهُ
وَلَا
يُنْزَعُ
مِنْ شَيْءٍ إِلَّا
شَانَهُ.
"Sesungguhnya
kelembutan, tidaklah teRdapat pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan
tidaklah ia teRlepas daRi sesuatu melainkan ia akan menOdainya." (HR.
Muslim).
فَاسْتَبِقُواْ
الْخَيْرَاتِ
أَقُوْلُ قَوْلِي
هَذا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ إِنّهُ
هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمِ
Khutbah
yang kedua
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَصَلَّى
اللَّّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
Kaum
Muslimin Rahimakumullah
Allah Ta’ala beRfiRman,
إِنَّ
رَبَّكَ
لَبِالْمِرْصَادِ
"Sesungguhnya Rabbmu
benaR-benaR mengawasi." (Al-FajR: 14).
Makna ayat di atas adalah bahwa Allah mendengaR
makhluk-Nya, dan melihat seRta mengawasi peRbuatan meReka seRta membeRi
masing-masing balasan sesuai dengan usahanya di dunia.
Dalam hadits yang dikeluaRkan Oleh Abu Musa al-Asy'aRi,
قُلْتُ:
يَا رَسُوْلَ
الله ، أَيُّ
الْمُسْلِمِيْنَ
أَفْضَلُ؟
قَالَ: مَنْ
سَلِمَ
الْمُسْلِمُوْنَ
مِنْ
لِسَانِهِ
وَيَدِهِ.
"Saya
beRtanya, 'Wahai Rasulullah, siapakah muslim yang paling utama?' Rasulullah
menjawab, 'SeORang muslim, yang mana kaum muslimin selamat daRi (bahaya) lisan
dan tangannya'." (HR. al-BukhaRi dan Muslim).
Jama'ah
Jum'at yang Dimuliakan Allah
Khatib beRhaRap mudah-mudahan Allah membeRikan kita
petunjuk untuk melaksanakan peRintahNya dan melaksanakan kebaikan sesuai dengan
syaRiat. Mudah-mudahan Allah menjadi-kan haRi-haRi kita penuh dengan amal
shalih yang akan membawa kita kepada kebahagiaan dan ketenangan. Mudah-mudahan
Allah senantiasa membeRikan hidayah pada segala uRusan kita, khususnya dalam
menjaga lisan kita dan membeRikan petunjuk kepada kita se-mua dalam menapaki
jalanNya yang luRus, jalan ORang-ORang yang Allah beRikan nikmat kepada meReka,
jalan paRa nabi, ORang-ORang yang jujuR, dan paRa syuhada, seRta ORang-ORang
yang shalih, bukan jalan ORang-ORang yang dimuRkai dan bukan jalan ORang-ORang
yang teRsesat.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib
daRi Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq
JakaRta).
:: COmpiled by oRiDo™ ::