_files/image002.gif)
Menggapai
Kebahagiaan Sejati (Khutbah Idul Adha)
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Allah AkbaR…3x Allahu AkbaR
walillahil Hamd.
Ma’asyiRal Muslimin Rahimakumullah.
Alhamdulillah, kita beRsyukuR kepada Allah subhanahu
wata’la pada pagi haRi ini kita dikaRuniai Allah subhanahu wata’ala kesempatan
untuk menyambut haRi Raya idul Adha, setelah kaum mujslimin sedunia melakukan
wukuf di Padang ARafah dan setelah umat Islam melaksanakan puasa sunnha mulai
tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, khususnya tanggal 8 dan 9 yaitu haRi taRwiyah
dan ARafah.
Walaupun dalam keadaan bagaimana, setiap ia datang kita sambut Idul Adha ini
denga Rasa syukuR. Kita sambut dengan menyeRukan satu jalinan kalimat-kalimat
suci dan mengumandangkan Rajutan benang-benang tauhid.
Allah
AkbaR…3x Allahu AkbaR walillahil Hamd.
Manusia yang bemacam-macam Rupa, waRna, bahasa, bangsa
dan agama mempunyai satu kesatuan (kesamaan), yaitu kesamaan tujuan dalam
hidup. MeReka yang beRmacam-macam pekeRjaan, pROfesi dan tingkat pendidikan
itu, teRnyata yang meReka caRi hanya satu yaitu ketentRaman, kedamaian, dan
kebahagiaan.
Ketahuilah, bahwa manusia tidak akan mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia
dan akhiRat kecuali hanya melalui satu jalan, yaitu al-Islam. Baginda Rasul
shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda:
قَدْ
أَفْلَحَ
مَنْ
أَسْلَمَ,
وَرُزِقَ كَفَافًا,
وَقَنَّعَهُ
اللهُ بِمَا
آتَاهُ
”Sungguh beRuntung
ORang-ORang yang beRseRah diRi (masuk Islam), dibeRi Rezki yang cukup, dan
dibeRikan peRasaan puas Oleh Allah (qanaah) atas apa yang telah Dia beRikan
kepadanya.”(HR. Ahmad dan Muslim).
Dalam Riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
قَدْ
أَفْلَحَ
مَنْ هُدِيَ
إِلَى
اْلإِسْلاَمِ,
وَرُزِقَ
الكَفَافَ,
وَقُنِعَ
بِهِ
”Sungguh beRuntung ORang yang mendapat
petunjuk ke dalam Islam, dan hidup beRkecukupan, seRta meRasa puas atas
pembeRian Allah (qana’ah).” (HR. TuRmudzi dan Nasa’i, dan Ibnu Majah. Lihat
TafsiR Ibnu KatsiR, II/566).
Jadi, sekali lagi, jalan satu-satunya untuk meRaih
kebahagiaan hakiki menuRut petunjuk Allah dan Rasul-Nya adalah melalui jalan
Islam. AnalOginya, bumi ini kita ibaRatkan sebagai agama Islam, tanahnya
bagaikan hati manusia, dan bibit tanamannya bagaikan benih iman, sedangkan
pupuknya bagaikan siRaman ROhani dan kajian teRhadap Islam. Kalau kita beRcOcOk
tanam maka janganlah beRcOcOk tanam di Ruang angkasa atau di planet lain,
tetapi tanamlah di planet bumi. Kemudian , kalau beRcOcOk tanam di bumi, maka
pilihlah tanah yang subuR, bukan tanah yang tangdus. Kalau kuRang subuR maka
subuRkanlah dengan pupuk semestinya.
Kalau benih iman sudah beRtunas, maka Rawat dan pupuklah agaR ia tumbuh nORmal,
pOhOnnya segaR dan buahnya besaR.
Sejauh mana kita mampu memadukan keempat unsuR tadi, maka sejauh itu pula kita
akan mendapatkan buah kebahagiaan, dan kita akan menjadi manusia yang
manusiawi, dan masyaRakat yang dibeRkati.
Allahu AkbaR… 3x Allahu AkbaR walillahil
Hamd
Sesungguhnyalah kebahagiaan itu tidak dipeROleh dengan mengumbaR hawa
nafsu, memuaskan sahwat dan menumpuk haRta. Akan tetapi kebagiaan itu dipeROleh
dengan himmah (gaiRah hidup), pOla pikeR dan pOla hidup yang Islami.
ORang yang bOdOh teRhadap agama seRta Rapuh imannya, selamanya tidak akan
mendapatkan kebahagiaan hakiki. JustRu semakin kaya, ia semakin beRtambah
sengsaRa dan mendeRita.
Allah subhanahu wata’ala menegaskan bahwa kebahagiaan sejati itu hanya
dipeROleh melalui iman dan taqwa –dalam fiRman-Nya yang aRtinya:
“BaRangsiapa yang mengeRjakan amal
shalih, baik laki-laki maupun peRempuan, dalam keadaan beRiman, maka
sesungguhnya akan Kami beRikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya
akan Kami beRi balasan kepada meReka dengan pahala yan lebih baik daRi apa yang
telah meReka keRjakan.”(QS. an-Nahl: 97)
Dan Allah subhanahu wata’ala beRfiRman yang aRtinya,
”BaRangsiapa yang beRtakwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluaR. Dan membeRinya Rezki daRi
aRah yang tiada disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2-3)
Allahu AkbaR…3x
Ma’asyiRal Muslimin Rahimakumullah.
Dalam Rangka menggapai kebahagiaan sejati Islam mengajaRkan kepada kita
bebeRapa hal, yaitu:
PeRtama: caRilah kehidupan akiRat,
tetapi jangan lupa kehidupan duniamu.
Jadi, bukan: caRilah kehidupan duniamu tetapi jangan melupakan akhiRat. Itu
teRbalik dan keliRu. Allah subhanahu wata’ala beRfiRman, aRtinya,
”Dan caRilah pada apa yang telah
dianugeRahkan Allah kepada (kebahagiaan) negeRi akhiRat, dan janganlah kamu melupakan
bahagiamu daRi (kenikmatan) duniawi dan beRbuat baiklah (kepada ORang lain)
sebagaimana Allah telah beRbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu beRbuat
keRusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai ORang-ORang yang
beRbuat keRusakan.” (QS. al-Qashash: 77).
Maksud daRi ayat teRsebut ialah:
o
gunakanlah
nikmat badan, akal dan haRta yang telah dianugeRahkan Allah kepada kita untuk
mencaRi Ridha Allah, taat kepada-Nya dalam bentuk ibadah seRta mengikuti
hukum-hukum-Nya. “Tetapi sisakanlah, jangan lupa “sisakan” untuk sekedaR
kehidupan duniamu, daRi makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan
keluaRgamu.
o
Baiklah
kepada sesame muslim dan kepada sesame makhluk Allah, sebagaimana Allah telah
beRbuat baik kepadamu.
o
Janganlah
kita gunakan beRbagai nikmat Allah yang telah dianugeRahkan kepada kita untuk
beRbuat keRusakan dan kamaksiatan di muka bumi Allah ini.
o
Sesungguhnya
Allah tidak menyukai ORang-ORang yang beRbuat keRusakan dan maksiat. Wallahu
a’lam.
Allahu
AkbaR…3x Allahu AkbaR walillahil Hamd
Ma’asyiRal
Muslimin Rahimakumullah
Kedua:
Untuk mendapatkan AkhiRat kita haRus beRani mengORbankan dunia.
Bukan sebaliknya: untuk mendapatkan dunia kita haRus mengORbankan AkhiRat,
alias dengan melanggaR syaRi’at Islam. Ini juga keliRu dan sesat.
Ingatlah kisah Nabi IbRahim ‘alaihissalam ketika dipeRintah Allah untuk
menyembelih puteRanya Isma’il ‘alaihissalam.
§
Adakah
sesuatu yang paling dicintai manusiaselain daRi daRah dagingnya sendiRi?!
§ Adakah
anak yang paling dicintai selain anak satu-satunya yang ia miliki?!
§ Adakah
anak tunggal yang paling dicintai selain anak yang sudah lama dinanti-nanti
kehadiRannya seRta diidam-idamkan, dan lahiR ketika ORang tua sudah lanjut
usia?!
§
Adakah
anak tunggal sepeRti teRsebut di atas yang paling dicintai selain anak yang
tampan, pintaR dan beRbakti?!
§
Tidak ada.
Semua itu hanya ada pada diRi Nabi Isma’il dan Nabi IbRahim ‘alaihimassalam.
Namun demikian:
§
Adakah itu
semua lebih beRhaRga daRi pada Ridha Allah?!
§
Adakah
kebahagiaan duniawi teRsebut lebih beRhaRga daRi kebahagiaan ukhRawi?!
§
Adakah itu
semua membuat Nabi IbRahim ‘alaihissalam bimbang dan membangkang?!
Oh... tidak. TeRnyata tidak. Demi mendapatkan Ridha Allah
beliau Rela mengORbankan Ridha Allah beliau anak satu-satunya yang lebih
beRhaRga daRi nyawanya sendiRi. Bahkan tidak hanyaitu, beliau sendiRi yang akan
mengenggam pedang dan menyembelihnya. Subhanallah… seandainya bukan kaRena iman
yang benaR dan kOkOh, tentu tidak akan sanggup beRbuat demikian.
Allahu AkbaR… 3x Allahu AkbaR walillahil
Hamd
Di manakah diRi kita daRi kisah Nabi IbRahim ‘alaihissalam ini?! Relakah
kita, atau peRnahkah kita mengORbankan haRta, Raga atau jiwa untuk membela
agama Allah dan untuk mencaRi Ridha Allah?! Ataukah justRu sebaliknya, guna
mendapatkan sejumlah uang kita Rela melupakan Allah, Rela meninggalkan ibadah,
Rela meninggalkan halal-haRam, atau bahkan kita Rela menjual agama kita dengan
haRga muRah? Na’udzubillah…
Ma’asyiRal Muslimin Rahimakumullah
ketiga: kita haRus beRsabaR
dalam beRibadah, atau dalam menjalankan syaRi’at Islam.
Ingatlah ketika sang bapak yang dengan belas kasihnya menawaRkan: “Wahai anakku, sesungguhnya aku beRmimpi
bahwa aku menyembelihmu, bagaimanakah pendapatmu?” Maka si anak yang shalih itu,
yang beRbakti kepada Allah dan ORang tuanya dengan tegaR, sabaR dan tawakkal
menjawab: “Wahai ayah, kalau itu memang peRintah Allah, maka lakukanlah, dan
wajib engkau lakukan, insya Allah saya akan beRsabaR…” (lihat QS.
ash-Shafaat: 102)
Subhanallah…bapak dan anak sama-sama hebat; tunduk dan patuh kepada Allah
subhanahu wata’ala dengan sabaR…!
Allahu AkbaR…3x Allahu AkbaR walillahil
Hamd
Ya Allah… sesungguhnya kita ini teRmasuk ORang-ORang yang zhalim… jangankan
diancam untuk dikuRangi gaji saja kita sudah Rela meninggalkan shalat. Diancam
akan di-PHK sajaa kita Rela beRkhianat kepada Allah. kita ini benaR-benaR
zhalim…jangankan diancam, tidak ada ancaman daRi siapapun kita Rela
meninggalkan shalat, dan muslimah Rela untuk melepas jilbab. Hanya demi pekeRjaan,
demi jabatan, dan demi kekayaan yang beRsifat sementaRa itu kita Rela meneRjang
syaRi’at, kita Rela hidup sepeRti hewan yang lepas daRi kandang tanpa kendali.
Ancaman Allah tidak peRnah kita hiRaukan, justRu kita Remehkan. BeRbagai
musibah sudah seRing kita Rasakan, tetapi hati ini sudah teRlanjuR bebal
sehingga tidak bisa mengambil ibRah (pelajaRan). Kita kembali beRjalan
beRlenggang-lenggang kangkung, seOlah tanpa dOsa dan beban.
Allahu AkbaR…3x Allahu AkbaR walillahil
Hamd
Ma’asyiRal Muslimin Rahimakumullah
Sekali lagi, maRilah kita Renungkan kisah Nabi IbRahim ‘alaihissalam
beseRta anaknya, Ismail ‘alaihissalam ini. MaRi kita tanamkan dalam lubuk hati
yang paling dalam. Ingatlah, siapa diRi kita ini sebenaRnya. Hanyalah seORang
manusia yang hina, penuh dOsa dan nOda, tidak memiliki apa-apa, dan pasti mati,
kembali kepada Sang pencipta untuk dipeRiksa dan dihisab amal peRbuatan amal
peRbuatan kita.
Demi Allah, semua manusia pasti meRugi,
semua sengsaRa dan mendeRita. Dengan susah payah siang dan malam meReka
beRupaya mencaRi kebahagiaan, tetapi tidak peRnah mendapatkannya. Kecuali
ORang-ORang yang beRiman dan beRamal shalih… (QS. al-AshR: 1-3)
AkhiRnya maRi kita tutup dengan dOa untuk kebaikan kita semua dan umat Islam
pada umumnya.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ
نَا إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ
عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلََى
اّلذِيْنَ
مِنْ قَبْلِنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تًحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنّا وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
:: Compiled by oRiDo™ ::