
Membentuk Muslim
Sejati
Khutbah
PeRtama
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
القيامة أَمّا
بَعْدُ ...
HadiRin
sidang Jumat yang dimuliakan Oleh Allah Swt…
Selaku khatib Jumat kali ini, izinkanlah saya beRwasiat
baik bagi diRi saya pRibadi, maupun bagi hadiRin sekalian, untuk selalu
meningkatkan keimanan dan ketakwaan diRi kita kepada Allah Swt. Lebih daRi 50
kali di dalam Al-QuRan Allah Swt beRfiRman: “Ittaqullâh”, beRtakwalah kamu
sekalian kepada Allah! Pengulangan yang teRamat seRing ini menunjukkan bahwa,
takwa sangatlah penting aRtinya bagi setiap muslim. KaRena hanya dengan takwa
kepada Allah sajalah, kita akan dapat hidup bahagia, baik di dunia ini maupun
di akhiRat.
Melalui khutbah Jum’at kali ini, saya ingin menyampaikan
sebuah mateRi tentang bagaimana kiat membentuk diRi ini menjadi seORang muslim
sejati?
Ma’âsyiRal
muslimîn Rahimakumullâh...
Saat ini, banyak ORang mengaku diRinya sebagai muslim. Data statistik dunia
teRakhiR menunjukan ada 1,7 milyaR lebih di dunia ini jumlah penduduk dunia
yang beRagama Islam. Tapi, daRi sekian jumlah yang ada itu, sangat sedikit yang
memiliki kepRibadian sebagai seORang muslim. Selebihnya, mempunyai kepRibadian
teRpisah (split peRsOnality). ORang semacam ini agamanya saja sebagai muslim,
namun, peRilaku, sikap, dan tindakannya sama sekali tidak menunjukkan
keislamannya. Kalau demikian adanya, bagaimana Islam dapat menjadi Rahmah? Jika
paRa pemeluknya tidak memahami, menghayati dan mengamalkan Islam? PeRsis
sepeRti apa yan telah disinggung Oleh Rasulullah Saw:
قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
يُوشِكُ
الْأُمَمُ
أَنْ تَدَاعَى
عَلَيْكُمْ
كَمَا
تَدَاعَى
الْأَكَلَةُ
إِلَى
قَصْعَتِهَا فَقَالَ
قَائِلٌ
وَمِنْ
قِلَّةٍ
نَحْنُ يَوْمَئِذٍ
قَالَ بَلْ
أَنْتُمْ
يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ
وَلَكِنَّكُمْ
غُثَاءٌ
كَغُثَاءِ
السَّيْلِ
وَلَيَنْزَعَنَّ
اللَّهُ مِنْ
صُدُورِ
عَدُوِّكُمْ
الْمَهَابَةَ
مِنْكُمْ
وَلَيَقْذِفَنَّ
اللَّهُ فِي
قُلُوبِكُمْ
الْوَهْنَ
فَقَالَ
قَائِلٌ يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
وَمَا الْوَهْنُ
قَالَ حُبُّ
الدُّنْيَا
وَكَرَاهِيَةُ
الْمَوْتِ
(سنن أبي داود:
3745)
Rasulululullah Saw beRsabda: “Suatu saat nanti kalian
akan dikeROyOki Oleh beRbagai suku bangsa sepeRti meReka mengeROyOki makanan”.
Salah seORang beRtanya: “Apakah kami saat itu minORitas ya Rasululullah?”
“Tidak”, jawab Rasulullah, “bahkan kalian saat itu mayORitas, tetapi hanya
bagai busa. Allah hilangkan Rasa takut di hati musuh-musuh kalian dan Allah
tumbuhkan di dalam hati kalian kehinaan! Lantas ada yang beRtanya: “Kehinaan
bagaimana ya Rasululullah?” Nabi pun menjawab: “Cinta dunia dan takut mati”.
Lihatlah kOndisi masyaRakat kita saat ini yang beRada
dalam keadaan lemah, hina, Rendah diRi, teRbelakang, dan ditimpa beRbagai
kRisis maupun peRpecahan. Lengkap sudah segala pendeRitaan yang ada, beRbagai
simbOl negatif pun teRsematkan di dada-dada bangsa kita, bangsa yang tidak
beRadab dan tidak beRmORal! Padahal dahulu IndOnesia di kenal sebagai bangsa
yang sangat santun dan welas asih! Mengapa ini bisa teRjadi? Nyawa manusia
lebih Rendah haRganya daRi sekaRung beRas. Hanya kaRena gaRa-gaRa dituduh
mencuRi uang sepuluh Ribu Rupiah, seseORang dapat menemui kematiannya. Atau
hanya kaRena sepedanya dipinjam tanpa ijin, seseORang beRani membunuh kawan
sekeRjanya sendiRi. Di mana-mana keRusakan meRajalela, kebOdOhan, dekadensi
mORal dan hal-hal negatif lainnya. IndOnesia telah mengalami kRisis dibeRbagai
aspek kehidupan, kRisis multi dimensial!
KOndisi semacam ini tidak mungkin teRus meneRus dibiaRkan.
Siapapun yang meRasa sebagai muslim yang memiliki ghiRah (semangat) keislaman,
tidak akan meRelakan hal ini. Agama kita bukan agama faRdiyah (individual),
tetapi agama pemeRsatu (ummatan wahidah), bahkan satu jasad. Jika sakit salah
satu anggOta tubuh, maka yang lain akan meRasakannya. Islam bukan hanya agama
ibadah. Tetapi meRupakan the way Of life (jalan hidup) yang paRipuRna, mengatuR
segala uRusan dunia-akhiRat. Agama kita mengajak kepada wihdah (peRsatuan),
al-quwwah (kekuatan), al ‘izzah (haRga diRi), al-‘adl (keadilan), dan juga
kepada jihad (peRjuangan).
Maka, misi Risalah Islam yang Rahmatan lil ‘alamin
(Rahmat bagi seluRuh alam) ini beRtujuan untuk membeRikan hidayah (petunjuk)
manusia pada agama yang haq, yang diRidhOi Allah. Fungsi Islam yang menyejukkan
bagi seluRuh umat manusia ini, tidak mungkin teRwujud, kecuali jika benaR-benaR
diamalkan Oleh ORang-ORang yang memiliki kepRibadian, atau mempunyai jati diRi
sebagai seORang muslim. KaRenanya, semua itu pasti beRawal daRi diRi, lalu keluaRga,
masyaRakat dan lingkungan.
Sebagaimana kita tahu, hidup meRupakan suatu peRjalanan
daRi satu titik ke titik yang lain, beRanjak daRi gaRis masa lalu, melewati
masa kini, untuk menuju masa depan. Masa lalu adalah sebuah sejaRah, masa kini
adalah Realita dan masa yang akan datang adalah cita-cita. Sebagai seORang
muslim, tentunya kita tidak akan membiaRkan hidup ini sia-sia. Hidup di dunia
ini menjadi teRlalu singkat jika hanya dipenuhi dengan keluhan-keluhan,
kegelisahan, Rasa pesimis dan angan-angan. Jiwa-jiwa sepeRti itu,tidak
menceRminkan jati diRi seORang muslim sejati. Rasulullah Saw beRsabda:
“SeORang muslim tidak akan peRnah ditimpa kecuali kebaikan,
apabila ditimpa kejelekan ia beRsabaR, dan jika dilimpahkan kenikmatan ia
beRsyukuR.”
SeORang Muslim tidak akan peRnah mengeluh menghadapi
kehidupan, kaRena ia telah memiliki kepRibadian yang utuh dalam menghadapi
segala macam ujian hidup.
Untuk menjadi pRibadi muslim sejati, sesuai dengan apa
yang digaRiskan Oleh Islam, sudah semestinya memiliki sifat-sifat yang sesuai
dengan tuntunan Al-QuRan dan Al-Hadits, juga telah dipRaktekkan Oleh paRa
Sahabat Nabi maupun salafus shâleh, yaitu pRibadi yang sikap, ucapan dan
tindakannya teRwaRnai Oleh nilai-nilai yang datang daRi Allah Swt dan
Rasul-Nya. Nilai-nilai teRsebut, jika disedeRhanakan, setidaknya ada sepuluh sifat yang mesti melekat di
dalam diRi seORang muslim:
Hidup di dunia ini bagai
ORang yang tengah mengadakan suatu peRjalanan. COba anda bayangkan, seandainya
dalam suatu peRjalanan anda tidak mengetahui aRah mana yang akan anda tuju. Di
teRminal bus, di deRmaga, atau di bandaRa, anda teRduduk sambil beRtanya hendak
kemanakah diRi ini haRus peRgi? Apa yang akan teRjadi? Sudah bisa dipastikan
anda akan mudah teRsesat. Mengapa? KaRena anda tidak mempunyai keyakinan pasti
untuk sampai kepada suatu tujuan. Demikian halnya dengan peRjalanan seORang
muslim di dunia ini, dia haRus mempunyai keyakinan yang luRus, sebagai saRat
untuk dapat sampai kepada tujuannya.
Ada enam hal yang membuat
seORang muslim yakin teRhadap tujuan peRjalanannya. Iman (yakin) kepada
kebeRadaan Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, HaRi akhiR, dan Qadla-QadaR.
Sebagaimana Sabda nabi Saw:
قَالَ
النَّبِيُّ
صَلَّي اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
فَأَخْبِرْنِي
عَنْ
الْإِيمَانِ
قَالَ أَنْ
تُؤْمِنَ
بِاللَّهِ
وَمَلَائِكَتِهِ
وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ
وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ
خَيْرِهِ
وَشَرِّهِ
“Nabi Saw
beRtanya kepada JibRil As:”BeRitahukan aku tentang iman? JibRil menjawab: “Kamu
beRiman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab yang telah dituRunkan-Nya,
Rasul-Rasul-Nya, haRi kiamat, dan kamu beRiman kepada takdiR yang baik maupun
buRuknya”.
Keyakinan teRhadap Allah
membuat Muslim selalu dalam keadaan Optimis akan peRtOlOngan-Nya. Yakin teRhadap
Malaikat membuat Muslim menyadaRi bahwa makhluk Allah yang paling taat ini,
akan selalu mencatat segala peRbuatannya di dunia, sehingga amal peRbuatan
Muslim selalu dipenuhi dengan hal-hal pOsitif. Yakin teRhadap kitab, membuat muslim selalu
membaca panduan hidupnya setiap saat. Yakin teRhadap Rasul, membuat Muslim
memantapkan langkahnya hidup di dunia, bahwa Allah tidak meninggalkannya tanpa
pemandu peRjalanan yang panjang ini. Yakin teRhadap haRi akhiR, membuat muslim
tahu akan tujuan akhiRnya. Iman kepada qadla dan qadaR membuat muslim menyadaRi
akan tanggung jawabnya hidup di dunia, sehingga tidak teRjatuh pada keyakinan
jabaRiyah atau keyakinan qadaRiyah.
Ibadah dalam Islam bukan
hanya mencakup Ritual keagamaan semata, semisal: shalat, zakat, puasa dan haji,
tetapi semua lini kehidupan di dalam memakmuRkan dunia ini yang tidak
beRtentangan dengan landasan Al-QuRan dan Sunnah, semisal mencaRi nafkah secaRa
halal, beRhubungan baik dengan keluaRga, menuntut ilmu dan lain sebagainya.
Sebagaimana fiRmannya:
فَإِذَا
قُضِيَتِ
الصَّلَاةُ
فَانتَشِرُوا
فِي الْأَرْضِ
وَابْتَغُوا
مِن فَضْلِ
اللَّهِ وَاذْكُرُوا
اللَّهَ
كَثِيرًا
لَّعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
(الجمعة: 10)
“Jika shalat telah dilaksanakan, maka beRtebaRanlah kamu di muka
bumi, caRilah kaRunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agaR kamu
beRuntung”.
Demikianlah, seORang Muslim
haRus memahami aRti ibadah dengan benaR. Ibadah yang benaR lahiR daRi aqidah
yang benaR. Ibadah yang benaR adalah ibadah yang membawa pengaRuh bagi diRinya,
ORang lain dan melahiRkan ketaqwaan.
Setelah bebeRapa kali
mencObanya, anda sudah mulai teRbiasa memegang kendali, menjaga keseimbangan
dan menggenjOt pedal dengan nyaman. Anda sudah lupa, kesulitan peRtama kali
menjalankannya, dan teRnyata naik sepeda itu nikmat. Demikianlah, ketika anda
beRlatih mengendalikan diRi, membiasakan dengan hal-hal yang baik, dan menjauhi
sikap-sikap yang tidak beRguna. Semakin dibiasakan, peRilaku itu keluaR dengan
sendiRinya secaRa OtOmatis. Inilah yang disebut akhlaq, yaitu peRilaku yang
keluaR secaRa OtOmatis, dan menceRminkan ekspResi diRi seseORang di segala
tempat dan waktu. Jadi, akhlaq bukanlah peRilaku kOndisiOnal, yang hanya
diekspResikan pada waktu-waktu teRtentu saja, tetapi memiliki akhlak yang
kOmit, tidak fluktuatif, dan tidak beRubah dalam kOndisi bagaimana pun. Allah
Swt beRfiRman:
وَإِنَّكَ
لَعَلى
خُلُقٍ
عَظِيمٍ
(القلم: 4)
"Dan sesungguhnya kamu benaR-benaR memiliki akhlak yang
agung". (QS. Al-Qalam :4)
Begitu pula halnya dengan
kehidupan yang sedang kita jalani ini. Anda tentu membutuhkan
infORmasi-infORmasi yang dipeRlukan dalam melanjutkan peRjalanan hidup. Wawasan
itulah yang akan memandu peRjalanan hidup anda. PROses yang sedang anda jalani
dalam hidup ini juga tidak lepas daRi pengalaman-pengalaman yang akan menjadi
guRu teRbaik bagi anda. Allah Swt beRfiRman:
قُلْ
هَلْ
يَسْتَوِي
الَّذِينَ
يَعْلَمُونَ
وَالَّذِينَ
لَا
يَعْلَمُونَ
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ
أُوْلُوا
الْأَلْبَابِ
(الزمر: 9)
“Katakanlah:
“Apakah sama antaRa ORang-ORang yang mengetahui dengan ORang-ORang yang tidak
mengetahui?” Sesunguhnya hanya ORang-ORang yang beRakallah yang dapat meneRima
pelajaRan”.
KaRenanya, bagi seORang
muslim, mencaRi ilmu pengetahuan meRupakan salah satu kewajiban.
KaRenanya, peRsiapkanlah
jasmani Anda sebaik mungkin untuk dapat melanjutkan peRjalanan anda secaRa vit
dam pRima. Shalat, puasa, zakat dan haji meRupakan amalan di dalam Islam yang
haRus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi beRjihad di jalan
Allah dan bentuk-bentuk peRjuangan lainnya. Nabi beRsabda:
قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
الْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ خَيْرٌ
وَأَحَبُّ
إِلَى اللَّهِ
مِنْ
الْمُؤْمِنِ
الضَّعِيفِ
(مسلم وابن ماجه
وأحمد)
"Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih aku cintai
daRipada mukmin yang lemah”. (HR. Muslim, Ibnu majah dan Imam Ahmad)
Oleh kaRena itu, kesehatan
jasmani haRus mendapat peRhatian seORang muslim dan pencegahan daRi penyakit
jauh lebih utama daRipada pengObatan. Namun demikian, sakit tetap kita anggap
sebagai sesuatu yang wajaR bila hal itu kadang-kadang teRjadi.
Nah,
begitu pula di dunia ini. Hidup di dunia adalah suatu peRjalanan, tujuan kita
adalah akhiRat. Namun, peRsiapan bekal untuk akhiRat, tidak menutup kita untuk
mempeRsiapkan bekal dalam peRjalanan hidup di dunia ini untuk diRi sendiRi dan
keluaRga. Rasulullah peRnah mengingatkan kita untuk bisa menyeimbangkan antaRa
keduanya. “BekeRjalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan
beRamal buat akhiRatmu, seakan-akan kau akan menemui ajal esOk pagi.”
Agama kita melaRang umatnya
untuk beRsikap santai, beRmalas-malasan dan beRtOpang dagu. PaRa sahabat
mencOntOhkan, jika teRdengaR adzan maka meReka segeRa ke masjid, jika selesai
melaksanakan kewajibannya maka meReka kembali beRtebaRan di muka bumi untuk
kembali melanjutkan usahanya sambil beRdOa,”Ya Allah, kami telah memenuhi
panggilan-Mu dan telah melaksanakan apa yang telah Engkau wajibkan, sekaRang
kami menyebaR (beRusaha) sebagaima Engkau peRintahkan, maka beRilah kami Rizki
kaRena Engkaulah sebaik-baik PembeRi Rizki.
SeORang muslim yang beRhasil
adalah yang mampu menjadi pelita bagi sekelilingnya. Ia mampu meneRangi
keluaRga dan masyaRakatnya, dengan sikap, peRilaku, ilmu, haRta, dan amal
nyata. Pantulan diRinya sebagai muslim benaR-benaR diRasakan, sehingga dapat
menebaR kesejukan ORang-ORang yang beRsamanya. Sebaik-baik muslim adalah yang
bisa membeRi manfaat bagi ORang lain. Relevan dengan sabda Rasulullah Saw:
خَيْرُكُمْ
مَنْ يُرْجَى
خَيْرُهُ
وَيُؤْمَنُ
شَرُّهُ
وَشَرُّكُمْ
مَنْ لَا
يُرْجَى
خَيْرُهُ
وَلَا
يُؤْمَنُ
شَرُّهُ (رواه
أحمد)
“Sebaik-baik
kalian adalah ORang yang selalu dihaRapkan kebaikannya dan aman daRi
kejahatannya, adapun sebuRuk-buRuk kalian adalah ORang yang tidak dihaRapkan
kebaikannya dan tidak aman daRi kejahatannya.” (HR. Ahmad)
Banyak masalah yang timbul,
kaRena seseORang tidak mampu mengatuR waktunya dengan baik. Ia tidak bisa
mencapai taRget daRi Rencana. Ia kehilangan bebeRapa mOmen penting, hanya
kaRena waktu yang telah beRlalu begitu saja di hadapannya. Untuk itu, pRibadi
Muslim selalu siap dengan situasi dan waktu. Ia dapat mengatuR sebeRapa banyak
waktu untuk beRibadah mahdhah, dan untuk beRmu’amalah. Semuanya peRlu diatuR
sehingga seimbang.
Waktu adalah kehidupan,
sehingga ORang yang tidak bisa mengatuR waktu akan kehilangan mOmen hidupnya,
bahkan bisa teRgilas dengan waktunya sendiRi. Sebagaimana pepatah ARab
mengatakan:
لوقت
كالسيف فإن لم
تقطع به فإنه
قطعك!
“Waktu itu bagaikan sebilah pisau, jika tidak kamu gunakan untuk
memOtOng, niscaya ia yang akan memOtOngmu!”
Sehingga
seORang muslim tidak akan menjadi manusia yang meRugi sebagaimana yang
disinyaliR dalam QS. Al AshR:1-3.
Dengan kata lain, suatu
uRusan mesti dikeRjakan secaRa pROfesiOnal. Apapun yang dikeRjakan, pROfesiOnalisme haRus
selalu dipeRhatikan. Nabi beRsabda:
لا
يؤمن أحدكم
حتي يكون هواه
تبعا لما جئت
به (رواه
احاكم)
"Tidak beRiman seseORang daRi kamu sehingga
ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaRan Islam)". (HR. Hakim)
Demikianlah
sepuluh sifat yang haRus dimiliki Oleh setiap muslim agaR menjadi muslim sejati
sebagaimana yang digaRiskan Oleh Al-QuRan dan Sunnah. Hal teRsebut tidak akan
kita miliki, kecuali dengan amal usaha yang sungguh-sungguh, melalui pendidikan
dan pengaRahan yang intensif secaRa beRkesinambungan dan kOntinyu, hingga akhiR
hayat kita. ORang yang memiliki kesepuluh sifat ini, insya Allah
dapat diandalkan dalam memikul Misi Risalah Islam. Dengan kesepuluh sifat ini,
Islam akan benaR-benaR memancaRkan Rahmatan lil ‘alamin..
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الحمد
لله الملك
الوهاب،
الجبارالتواب،
الذي جعل
الصلات
مفتاحا لكل
باب، فالصلاة
والسلام علي
من نظر الي
جماله تعالي
بلا سطر ولا
حجاب وعلي
جميع الآل
والأصحاب وكل
وارث لهم الي
يوم المآب.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
لا نبي بعده.
أما بعد.
HadiRin sidang Jum’at yang dimuliakan Oleh Allah Swt...
Saat ini, ummat sangat membutuhkan pRibadi-pRibadi yang dapat menyelamatkan
meReka daRi kebingungan, keteRpecahan dan keteRpuRukan. Siapa lagi kalau bukan
anda? DihaRapkan kita semua menjadi ORang yang dapat menyelesaikan masalah,
bukan malah sebaliknya, menjadi ORang yang beRmasalah atau suka bikin masalah
!?
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَارْضَ عَنْ
سَادَاتِنَا
أَصْحَابِ
رَسُوْلِكَ
صَلَّي اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَي يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ
مِنَ
الْخَيْرِ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَآمِنْهُمْ
فِيْ أَوْطَانِهِمْ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ.وَأَقِمِ
الصَّلاَةِ!
SumbeR:
http://makalah-aRtikel.blOgspOt.cOm/2007/11/jumat-membentuk-muslim-sejati.html
DipOsting Oleh MaRhadi MuhayaR, Lc., M.A.
Oleh: MaRhadi MuhayaR, Lc, M.A.
::
Compiled by oRiDo™ ::