
Khusyu' dalam
Shalat dan PengaRuhnya bagi SeORang Muslim
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
MA’ASYIROL
MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!
Saya wasiatkan
kepada anda semua dan diRi saya sendiRi untuk beRtakwa kepada Allah subhanahu
wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala beRfiRman,
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
“Hai
ORang-ORang yang beRiman, beRtaqwalah kepada Allah sebenaR-benaR taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beRagama Islam.” (QS. 3:102)
إِنَّ
الصَّلَاةَ
تَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاء
وَالْمُنكَرِ
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ
“Sesungguhnya
shalat itu mencegah daRi (peRbuatan- peRbuatan) keji dan mungkaR. Dan
sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besaR (keutamaannya daRi
ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu keRjakan".
MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA
RAHIMUKUMULLAH!!!
PembicaRaan tentang shalat membutuhkan pengingatan dan
pengulangan, tidak bOleh ada kebOsanan untuk mendengaRkannya. KaRena shalat
meRupakan kewajiban yang paling besaR pengaRuhnya, paling agung penjelasan dan
kebaikannya dan yang paling beRbahaya apabila ditinggalkan. Shalat meRupakan
tiang agamadan kunci suRga Allah. baRangsiapa yag menjaga shalat, beRaRti dia
telah beRpegang dengan syaRiat Islam dan mengambil pOndasinya. BaRang siapa
yang melalaikan shalat beRaRti dia telah melalaikan agamanya dan pOndasinya.
Shalat juga meRupakan Obat yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit hati,
kejelakan jiwa. Penyakitnya-penyakitnya bagaikan cahaya yang menghilangkan
pekatnya dOsa-dOsa dan kemaksiatan. Rasulullah
shallahu’alaihi wasallam membeRikan peRmisalan dan sabdanya,”
أَرَأَيْتُمْ
لَوْ أَنَّ
نَهْرًا
بِبَابِ أَحَدِكُمْ
يَغْتَسِلُ
مِنْهُ كُلَّ
يَوْمٍ
خَمْسَ
مَرَّاتٍ
هَلْ يَبْقَى
مِنْ دَرَنِهِ
شَىْءٌ.
قَالُوا لاَ يَبْقَى
مِنْ
دَرَنِهِ
شَىْءٌ.قَالَ
فَذَلِكَ
مَثَلُ
الصَّلَوَاتِ
الْخَمْسِ
يَمْحُو
اللَّهُ
بِهِنَّ
الْخَطَايَا.
“Apa pendapat kalian,
seandainya ada sungai di depan pintu salah seORang daRi kalian, dia mandi di
sungai itu
Hal ini juga dikuatkan Oleh hadits tentang keutamaan
wudhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
فَإِنْ
هُوَ قَامَ
فَصَلَّى
فَحَمِدَ
اللَّهَ
وَأَثْنَى
عَلَيْهِ
وَمَجَّدَهُ
بِالَّذِى
هُوَ لَهُ
أَهْلٌ
وَفَرَّغَ
قَلْبَهُ
لِلَّهِ
إِلاَّ
انْصَرَفَ
مِنْ
خَطِيئَتِهِ
كَهَيْئَتِهِ
يَوْمَ
وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ
“Apabila
dia beRdiRi untuk mengeRjakan shalat, kemudian memuji dan mengagungkan dengan
pujian yang pantas bagi Allah, dia mengkhusu’kan hatinya untuk Allah, kecuali
dia beRpisah dengan kesalahannya sebagaimana keadaannya pada haRi dilahiRkan
Oleh ibunya.” (HR. Muslim)
SepeRti
inilah buah daRi ibadah, dan sedemikian besaR hasil daRi pelaksanaan ibadah
shalat ini, sehingga pantas untuk dipeRhatikan dan ditegakkan. MaRi kita
jadikan shalat sebagai penghias hidup kita dan bisikan hati kita.
Allahu
AkbaR! Hayya ‘alash Shalah! Hayya ‘alal Falah! MaRi kita keRjakan shalat! MaRi
menuju kebahagian!
Panggilan yang beRgema di segenap penjuRu, adzan yang menembus telinga untuk
membangunkan jasad yang beRcahaya dengan keimanan dan hati yang khusyu’.
قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ.
الَّذِينَ هُمْ
فِي
صَلَاتِهِمْ
خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya beRuntunglah
ORang-ORang yang beRiman, (yaitu) ORang-ORang yang khusyu' dalam shalatnya.”
(QS. al-Mu’minun: 1-2)
Dengan
khusu’ seseORang yang shalat dapat menyatukan antaRa kebeRhasilan lahiRiyan dan
kebeRsihan batiniyah, ketika dia beRkata dalam Ruku’nya,
خَشَعَ
لَكَ سَمْعِى
وَبَصَرِى
وَمُخِّى وَعَظْمِى
وَعَصَبِى
“Khusyu’
kepadaMu pendengaRanku, penglihatanku, Otakku, tulangku dan OtOt-OtOtku.” (HR.
Muslim)
وَمَا
اسْتَقَلَّتْ
بِهِ قَدَمِى
“Dan apa yang ditOpang Oleh
kedua kakiku.” (HR. Ahmad).
Dengan
kekhusyu’an, akan diampuni dOsa-dOsa dan dihapus kesalahan-kesalahan, dan
ditulislah shalat di timbangan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam shahih
Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam beRsabda,
مَا
مِنِ امْرِئٍ
مُسْلِمٍ
تَحْضُرُهُ
صَلاَةٌ
مَكْتُوبَةٌ
فَيُحْسِنُ
وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا
وَرُكُوعَهَا
إِلاَّ كَانَتْ
كَفَّارَةً
لِمَا
قَبْلَهَا
مِنَ الذُّنُوبِ
مَا لَمْ
يُؤْتِ
كَبِيرَةً
وَذَلِكَ الدَّهْرَ
كُلَّهُ
“Tidaklah seORang muslim
mendapati shalat wajib, kemudian dia menyempuRnakan wudhu, khusu’ dan Ruku’nya,
kecuali akan menjadi penghapus bagi dOsa-dOsanya yang telah lalu, selama tidak
melakukan dOsa besaR, dan ini untuk sepanjang masa.” (HR. Muslim)
Shalat
apabila dihiasi dengan khusyu’ dalam peRkataan, dan geRakkannya dihiasi dengan
keRendahan, ketulusan, pengagungan, kecintaan dan ketenangan, sungguh ia akan
bisa menahan pelakunya daRi kekejian dan kemungkaRan. Hatinya beRsinaR, keimanannya
meningkat, kecintaannya semakin kuat, untuk melaksanakan kebaikan, dan
keinginannya untuk beRbuat kejelakan akan siRna. Dengan khusyu’, beRtambahlah
munajat seseORang kepada Rabbnya, demikian pula kedekatan Rabbnya kepadanya.
Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’I meRiwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam,
لَا
يَزَالُ
اللَّهُ
عَزَّ
وَجَلَّ
مُقْبِلًا
عَلَى
الْعَبْدِ
فِي
صَلَاتِهِ
مَا لَمْ
يَلْتَفِتْ
فَإِذَا
الْتَفَتَ
انْصَرَفَ
عَنْهُ
“Senantiasa Allah ‘Azza wa Jalla
menghadap hambaNya di dalam shalatnya, selama dia (hamba) tidak beRpaling. Apabila
dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun beRpaling daRinya.”
MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA
RAHIMUKUMULLAH!!!
Khusyu’
memiliki kedudukan yang sangat besaR. Ia sangat cepat hilangnya, dan jaRang
sekali didapatkan. TeRlebih lagi pada jaman kita sekaRang ini. Tidak bisa
menggapai khusyu’ dalam shalat meRupakan musibah dan penyakit yang paling
besaR. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga meRasa peRlu beRlindung
daRinya, sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRdO’a,
اللهمَّ
إني أعوذُ بكَ
منْ قلبٍ لا
يخشعُ
“Ya Allah, Aku beRlindung kepadaMu
daRi hati yang tidak khusyu’. (HR. at-TiRmidzi)
Dan tidaklah penyimpangan mORal menimpa sebagian kaum
muslimin, kecuali kaRena shalat meReka bagaikan bangkai tanpa Ruh, dan sebatas
geRakan belaka. Ath-ThabRani
dan selainnya meRiwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
beRsabda,
أَوَّلُ
مَا يُرْفَعُ
مِنْ هَذِهِ
اْلأُمَّةِ
اَلْخُشُوعُ
حَتَّى لاَ
تَرَى فِيهَا
رَجُلاً
خَاشِعًا
“Yang peRtama kali diangkat daRi
umatku adalah khusyu’ sehingga engkau tidak akan melihat seORang pun yang
khusyu’.”
Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu beRkata, “Yang peRtama kali hilang daRi agama kalian
adalah khusyu’, dan yang teRakhiR kali hilang daRi agama kalian adalah shalat.
Kadang-kadang seseORang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampiR-hampiR
engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seORangpun yang khusyu’.
Shalat adalah
penenang seORang muslim dan hibuRannya, puncak tujuan dan cita-citanya.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallambeRkata kepada bilal, “Tenangkanlah kami
dengan shalat.” Beliau beRsabda,
جُعِلَتْ
قُرَّةُ
عَيْنِي فِي
الصَّلاةِ
“Dan dijadikan penyejuk hatiku
dalam shalat.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad)
Shalat menjadi penyejuk hati , kenikmatan jiwa dan suRga
hati bagi seORang muslim di dunia. SeOlah-Olah ia senantiasa beRada di dalam
penjaRa dan kesempitan, sampai akhiRnya masuk ke dalam shalat, sehingga baRu
bisa beRistiRahat daRi beban dunia dengan shalat. Dia meninggalkan dunia dan
kesenangannya di depan pintu masjid, dia meninggalkan di sana haRta dunia dan
kesibukannya di dalam hatinya. Masuk masjid dengan hati yang penuh Rasa takut
kaRena mengagungkan Allah menghaRapkan pahalaNya.
Abu bakeR ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, apabila sedang dalam keadaan shalat,
seOlah-Olah ia sepeRti tOngkat yang ditancapkan. Apabila mengeRaskan bacaannya,
isakan tangis menyesaki batang leheRnya. Sedangkan ‘UmaR al-FaRuq Radhiyallahu
‘anhu, apabila membaca, ORang yang di belakangnya tidak bisa mendengaR
bacaannya kaRena tangisannya. Demikian juga ‘UmaR bin abdul ‘Aziz Rahimahullah,
apabila dalam keadaan shalat, seOlah-Olah ia sepeRti tOngkat kayu. Sedangkan
‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, apabila datang waktu shalat, beRgetaRlah
ia dan beRubah wajahnya. Tatkala ditanya, dia menjawab, “Sungguh sekaRang ini
adalah waktu amanah yang Allah tawaRkan kepada langit, bumi dan gunung, meReka
enggan untuk memikulnya dan takut dengan amanah ini, akan tetapi aku
memikulnya.”
Di antaRa manusia ada yang shalat dengan badan dan seluRuh peRsendiRiannya,
menggeRakkan lisannya dengan ucapan, menundukkan punggung meReka untuk Ruku’,
tuRun ke bumi untuk sujud, akan tetapi hati meReka tida k beRgeRak kea Rah
Allah Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. MeReka menampakkan ketundukkan, sedangkan
hatinya laRi menjauh. MeReka membaca al-QuR’an, akan tetapi tidak meResapinya.
MeReka beRtasbih, akan tetapi tidak memahaminya. MeReka beRdiRi di hadapan
Allah dan di dalam RumahNya, akan tetapi sebenaRnya pandangannya kea Rah
pekeRjaan meReka, tinggal beRsama Ruh meReka di tempat tinggal meReka.
Begitulah keadaannya, seseORang telah mengeRjakan shalat dalam waktu yang lama,
akan tetapi ia tidak peRnah menyempuRnakan shalatnya, meskipun hanya sehaRi
saja, kaRena ia tidak menyempuRnakan Ruku’nya, sujudnya, dan khusyu’nya. BaRangsiapa
keadaannya sepeRti ini, sungguh ia tidak bisa mengambil manfaat daRi shalatnya,
sehingga kadang-kadang ia memakan haRta manusia dengan batil, melakukan
keRusakan di antaRa manusia, melaksanakan amalan yang beRtentangan dengan agama
dan akhlak, bahkan dia menjadikan shalatnya hanya untuk mendapatkan pujian
manusia, untuk menutupi kedua tangan dan kakinya.
MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA
RAHIMUKUMULLAH!!!
SaudaRaku seiman, hadits beRikut ini sebagai Renungan,
sikapilah diRimu dengan jujuR, agaR mampu melihat pOsisi kita masing-masing. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam beRsabda,
إن
الرجل لينصرف
وما كُتِبَ له
إلا عُشْر صلاته
، تُسُعُها ،
، ثُمُنها ،
سُبُعها،
سُدُسها ،
خُمُسها،
رُبُعها ، ثُلُثُها
، نِصْفُها
“Sesungguhnya seseORang selesai (daRi shalat) dan tidaklah
ditulis (pahala) baginya, kecuali sepeRsepuluh shalatnya, sepeRsembilannya,
sepeRdelapannya, sepeRtujuhnya, sepeRenamnya, sepeRlimanya, sepeRempatnya,
sepeRtiganya, setengahnya.” (HR. Abu Daud)
DiRiwayatkan Oleh Abu Dawud, bahwa Hasan bin ‘Athiyah Radhiyallahu ‘anhu
beRkata, “Sesungguhnya ada dua ORang beRada dalam satu shalat, akan tetapi
peRbedaan keutamaan (pahala) antaRa keduanya bagaikan langit dan bumi”.
Wahai ORang yang shalat, sesungguhnya shalat adalah kObaRan api peRtempuRan
beRsama setan, peRtempuRan was-was dan bisikan-bisikan, kaRena kita beRdiRi
pada tempat yang agung, paling dekatnya kedudukan (dengan Allah) dan paling
dibenci setan. Kemudian setan menghiasi di depan pandanganmu dengan kesenangan,
menawaRkan keindahan dan gOdaan. Dia juga mengingatkan yang engkau lupakan,
sehingga dia meRasa senang ketika shalatmu Rusak, sebagaimana baju yang usang,
Rusak, tidak mendapatkan pahala dan tidak pula mendapatkan keutamaaan.
Wahai ORang yang shalat, baRangsiapa yang menempuh metOde Nabi dan meniti jalan
Nabi dalam shalatnya, niscaya dia dapat mempeROleh kekhusyu’aan. Untuk bisa
meRaih khusyu’ ada bebeRapa hal yang bisa membantunya. Yaitu ORang yang akan
shalat, hendaknya segeRa menuju masjid dengan tenang dan tidak teRgesa-gesa, ia
telah membeRsihkan pakaiannya, mensucikan badannya, mengkOsOngkan hatinya daRi
kesibukan dunia, semeRbak haRum badannya, meluRuskan baRisan dan menutup celah
dalam baRisan, dan ia tidak mengangkat kepalanya ke langit saat shalat, kaRena
hal ini teRlaRang dan bisa menghilangkan kekhusyuaannya.
TeRmasuk yang juga bisa menOlOng untuk khusyu’ dalam shalat, yaitu tidak
mengganggu ORang lain dengan bacaan al-QuR’an, tidak shalat dengan pakaian atau
baju yang ada gambaRnya, tulisannya, ataupun baju beRwaRna-waRni yang bisa
mengganggunya, dan mengganggu ORang lain. Begitu juga suaRa-suaRa yang beRasal
daRi handphOne yang mengganggu kaum Muslimin, sehingga meRusak kekhusyu’an.
Oleh kaRena itu janganlah membawa suaRa musik yang beRdendang di dalam
Rumah-Rumah Allah teRcampuR dengan kalam Allah. kita meminta kepada Allah
salamah dan ‘afiyah daRi dOsa dan kesalahan.
DaRi Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu beRkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam beRsabda,
إِنَّ
أَسْوَأَ
النَّاسِ
سَرِقَةً
الَّذِى
يَسْرِقُ
صَلاَتَهُ.
قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ
وَكَيْفَ
يَسْرِقُهَا
قَالَ لاَ يُتِمُّ
رُكُوعَهَا
وَلاَ
سُجُودَهَا.
أَوْ قَالَ
لاَ يُقِيمُ
صُلْبَهُ فِى
الرُّكُوعِ
وَالسُّجُودِ
“Sejelek-jelek pencuRi adalah ORang
yang mencuRi shalatnya.” MeReka beRtanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana
seseORang mencuRi shalatnya?” Rasulullah menjawab, “Dia tidak menyempuRnakan
Ruku’ dan sujudnya.” Atau ia (Rasulullah) beRkata, “Tidak menegakkan tulang
punggungnya ketika Ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad).
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمِ
Khutbah
yang kedua
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وبعد,
MA’ASYIROL
MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!
BeRtakwalah
kepada Allah dengan sebenaR-benaRnya takwa, dan tanamkan peRasaan kedekatan
Allah pada diRi kalian, saat sendiRian maupun ketika beRsama manusia.
MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA
RAHIMUKUMULLAH!!!
TeRmasuk hal teRbesaR untuk bisa tenang dan khusyu’ dalam
shalat, yaitu meRenungi dan meResapi makna. Ketika mengucapkan Allahu AkbaR, maka Renungkanlah
kedalaman pemahamannya dan petunjuknya. Allah Maha BesaR daRi setan yang menipu
di dunia. Allah Maha BesaR daRi nafsu syahwat, haRta, kedudukan, dan anak. Maka
mantapkan dan tanamkan ke dalam hati, kemudian laksanakan segala
kOnsekuensinya.
Juga Renungkanlah pahala yang besaR pada setiap bacaan al-Fatihah, bacaan Ruku’
ataupun bacaan-bacaan shalata lainnya. Renungkanlah pahala yang besaR, di
antaRanya apabila imam mengucapkan,
غَيرِ
المَغضُوبِ
عَلَيهِمْ
وَلاَ الضَّالِّينَ
“Bukan
jalan ORang-ORang yang Engkau muRkai dan bukan pula jalannya ORang-ORang yang
sesat.” Maka paRa malaikat mengucapkan ‘Amin’. BaRangsiapa yang ucapan aminnya beRsamaan dengan ucapan amin
paRa malaikat, niscaya diampuni dOsa-dOsanya yang telah lalu. Begitu pula
Renungkanlah pahala-pahala yang agung, seRta keutamaan-keutamaan besaR lainnya
saat beRdiRi, duduk, dzikiR-dzikiR Ruku’ dan sujud. BaRangsiapa yang
meRenunginya, dia akan yakin dengan Rahmat Allah, sesembahannya.
TeRmasuk yang bisa mengantaRkan kepada khusyu’, yaitu wasiat Rasulullah yang
kekal, “Shalatlah dengan shalat ORang
yang akan beRpisah (dengan dunia)”. .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ
نَا إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلََى اّلذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا
وَلاَ تًحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
والحمد لله رب
العالمين.
Dikutib daRi
Majalah as-Sunnah, SOlO. Edisi 01/X/1427H/2006M.
:: Compiled by oRiDo™ ::