_files/image002.gif)
Haji, Jihad dan
PengORbanan (Khutbah Idul Adha)
Oleh: Izzudin KaRimi, Lc.
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ
الله
أَكْبَرُ،
الله
أَكْبَرُ،
الله أَكْبَرُ،
وَ لله
الْحَمْدُ.
الله
أَكْبَرُ
كَبِيْرًا،
وَالْحَمْدُ
لله
كَثِيْرًا،
وَسُبْحَانَ
لله بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً
Kaum Muslimin Jamaah Shalat
Idul Adha Rahimakumullah
HaRi ini kaum
Muslimin beRibadah kepada Allah dengan salah satu ibadah yang mulia, yaitu
shalat Idhul Adha yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan-hewan kuRban
sebagai ungkapan syukuR dan beRbuat baik kepada kawan, sanak keluaRga dan
ORang-ORang yang membutuhkan. HaRi ini adalah haRi pamungkas daRi sepuluh haRi teRbaik
di bulan yang mulia ini. Sepuluh haRi yang saRat dengan kebaikan. Kebaikan
padanya beRnilai utama di sisi Allah.
DaRi
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia beRkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam beRsabda,
مَا
الْعَمَلُ
فِي أَيَّامٍ
أَفْضَلُ
مِنْهَا فِي
هَذَا
الْعَشْرِ،
قَالُوْا:
وَلَا
الْجِهَادُ؟ قَالَ:
وَلَا
الْجِهَادُ،
إِلَّا
رَجُلٌ يُخَاطِرُ
بِنَفْسِهِ
وَمَالِهِ،
فَلَمْ يَرْجِعْ
بِشَيْءٍ.
"Tidak ada
amal pada haRi-haRi, yang lebih utama daRipada amal-amal di sepuluh haRi
ini." MeReka beRkata, "Tidak pula jihad?" Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam menjawab, "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali
seORang laki-laki yang beRangkat menghadapi musuh dengan jiwa dan haRtanya lalu
dia tidak pulang dengan sesuatu (daRi keduanya atau mati syahid)."
(HR. al-BukhaRi, Shahih al-BukhaRi, nO. 969).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Salah satu ibadah utama di haRi-haRi ini adalah ibadah
haji di tanah suci yang meRupakan salah satu Rukun Islam yang lima. Begitu
identiknya haji dengan haRi dan bulan ini sehingga ORang-ORang mengatakan haRi
Raya haji dan bulan haji. Haji adalah ibadah tua seumuR bapak paRa nabi,
IbRahim ’Alaihissalam. Dialah pembangun Ka'bah baitullah dan setelah itu dia
mengumumkan haji ke seluRuh penjuRu bumi.
FiRman Allah Ta’ala,
وَإِذْ
يَرْفَعُ
إِبْرَاهِيمُ
الْقَوَاعِدَ
مِنَ
الْبَيْتِ
وَإِسْمَاعِيلُ
رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنتَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
"Dan
(ingatlah), ketika IbRahim meninggikan (membina) dasaR-dasaR Baitullah beRsama
Isma'il (seRaya beRdOa), 'Ya Rabb kami, teRimalah daRi kami (amalan kami),
sesungguhnya Engkaulah yang Maha MendengaR lagi Maha Mengetahui'."
(Al-BaqaRah: 127).
FiRman Allah Ta’ala,
إِنَّ
أَوَّلَ
بَيْتٍ
وُضِعَ
لِلنَّاسِ لَلَّذِي
بِبَكَّةَ
مُبَارَكاً
وَهُدًى
لِّلْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya Rumah
yang mula-mula dibangun untuk (tempat beRibadat) manusia, ialah Baitullah yang
di Bakkah (Mekah) yang dibeRkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."
(Ali ImRan: 96).
FiRman Allah Ta’ala,
وَأَذِّن
فِي النَّاسِ
بِالْحَجِّ
يَأْتُوكَ
رِجَالاً
وَعَلَى
كُلِّ
ضَامِرٍ
يَأْتِينَ
مِن كُلِّ
فَجٍّ
عَمِيقٍ
"Dan beRseRulah
kepada manusia untuk mengeRjakan haji, niscaya meReka akan datang kepadamu
dengan beRjalan kaki, dan mengendaRai unta yang kuRus yang datang daRi segenap
penjuRu yang jauh." (Al-Hajj: 27).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Salah satu hikmah Allah dalam mensyaRiatkan ibadah adalah
Dia menjadikannya beRagam, di mana hal ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah
yang meRupakan Rukun Islam, syahadat meRupakan ibadah hati kaRena ia meRupakan
keyakinan dasaR yang kemudian dilafazhkan dengan lisan, sementaRa shalat adalah
geRakan jasad, ia meRupakan ibadah badani, lain lagi puasa yang meRupa-kan
sikap menahan diRi, lalu zakat yang meRupakan ibadah haRtawi dan yang kelima
adalah haji yang menggabungkan semua sisi daRi empat ibadah sebelumnya. DaRi
sinilah, maka haji teRmasuk ibadah yang teRakhiR diwajibkan kepada kaum
Muslimin yaitu pada tahun 9 H. Hal ini kaRena haji memeRlukan segala peRkaRa
yang dipeRlukan Oleh empat Rukun sebelumnya. Ia memeRlukan landasan iman yang
teRtanam dalam syahadat, ia memeRlukan tenaga jasmani dan haRta yang ada pada
shalat dan zakat, dan ia memeRlukan sikap menahan diRi yang dikandung Oleh
puasa.
Maka daRi itu, ibadah haji saRat dengan nilai-nilai luhuR, padat dengan jihad
dan pengORbanan, penuh dengan pendidikan dan penempaan diRi. Kita menengOk
kepada syaRat wajib haji, ia adalah istitha'ah. FiRman Allah Ta’ala,
وَلِلّهِ
عَلَى
النَّاسِ
حِجُّ
الْبَيْتِ مَنِ
اسْتَطَاعَ
إِلَيْهِ
سَبِيلاً
وَمَن كَفَرَ
فَإِنَّ الله
غَنِيٌّ عَنِ
الْعَالَمِينَ
"MengeRjakan
haji adalah kewajiban manusia teRhadap Allah, yaitu (bagi) ORang yang sanggup
mengadakan peRjalanan ke Baitullah. BaRangsiapa mengingkaRi (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memeRlukan sesuatu) daRi semesta
alam." (Ali ImRan: 97).
Kesanggupan atau kemampuan di mana dasaRnya menuRut paRa
ulama adalah kesanggupan finansial, kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan,
untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah
lagi manakala haRta yang telah diRaih itu, yang meRupakan keteRgantungan dan
kecintaan jiwa, mesti diROgOh daRi kantOng untuk membiayai diRi, demi Rukun
Islam yang agung ini, belum lagi kesiapan jasmani di mana mOdal utamanya adalah
sehat. Dibutuhkan jihad melawan kecintaan beRlebih kepada haRta agaR jiwa Rela
dan lapang mengORbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan diRinya sendiRi.
Dibutuhkan pula jihad melawan kecintaan beRlebih kepada sikap santai dan Rehat,
sebab haji memang menghaRuskan kelelahan, baik kelelahan peRjalanan dan
kelelahan pelaksanaan.
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Kita menengOk lebih dalam kepada atuRan dan tatanan
manasik haji. Kita bisa mendapatkan bahwa ia meRupakan pendidikan jihad agaR
jiwa menghORmati dan menghaRgai batasan-batasan Allah, menahan diRi dengan
tidak melanggaRnya. SepeRti kita ketahui, haji ditunaikan dalam keadaan ihRam,
dan dalam ihRam ini teRdapat pantangan-pantangan yang haRus dijaga, sepeRti
pakaian beRjahit, tOpi atau kOpyah, mencukuR Rambut, memOtOng kuku, membunuh
binatang buRuan, memakai minyak wangi, beRsetubuh, menikah dan menikahkan.
Semua ini adalah peRkaRa-peRkaRa yang haRus dijauhi semasa ihRam, padahal
sebagian daRinya adalah peRkaRa yang mungkin dalam pandangan sebagian ORang
sepele, sepeRti menutup kepala dengan penutup atau memOtOng kuku. SementaRa
sebagian lagi meRupakan peRkaRa yang disukai Oleh jiwa sepeRti minyak wangi dan
beRsetubuh. Akan tetapi semua itu adalah batasan-batasan Allah yang tidak patut
disepelekan atau dipandang sebelah mata.
Kita kembali menengOk, atuRan-atuRan di atas
mengakibatkan sangsi dan hukuman bagi pelanggaRnya, mulai daRi beRsedekah dan
beRpuasa, sampai dengan mengaliRkan daRah dengan menyembelih hewan teRnak,
sebuah pendidikan kedisiplinan dan tanggung jawab seRta kesiapan memikul ResikO
kelalaian dan kekhilafan, dan itu pun dalam bentuk peRbuatan yang kebaikannya
kembali kepada diRi sendiRi atau kepada sesama. FiRman Allah Ta’ala,
وَالْبُدْنَ
جَعَلْنَاهَا
لَكُم مِّن
شَعَائِرِ
اللَّهِ
لَكُمْ
فِيهَا
خَيْرٌ
فَاذْكُرُوا
اسْمَ
اللَّهِ
عَلَيْهَا
صَوَافَّ
فَإِذَا وَجَبَتْ
جُنُوبُهَا
فَكُلُوا
مِنْهَا
وَأَطْعِمُوا
الْقَانِعَ
وَالْمُعْتَرَّ
كَذَلِكَ
سَخَّرْنَاهَا
لَكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ{36}
لَن يَنَالَ
اللَّهَ
لُحُومُهَا
وَلَا
دِمَاؤُهَا
وَلَكِن
يَنَالُهُ
التَّقْوَى
مِنكُمْ
كَذَلِكَ
سَخَّرَهَا
لَكُمْ
لِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ
عَلَى مَا
هَدَاكُمْ
وَبَشِّرِ
الْمُحْسِنِينَ{37}
"Dan telah
Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian daRi syiaR Allah, kamu
mempeROleh kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika
kamu menyembelihnya dalam keadaan beRdiRi (dan telah teRikat). Kemudian apabila
telah RObOh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beRi makanlah ORang yang Rela
dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan ORang yang meminta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan
kamu beRsyukuR. Daging-daging unta dan daRahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keRidhaan) Allah, tetapi ketakwaan daRi kamulah yang dapat
mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu
mengagungkan Allah teRhadap hidayahNya kepada kamu. Dan beRilah kabaR gembiRa
kepada ORang-ORang yang beRbuat baik." (Al-Hajj: 36-37).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
MaRi kita lihat dan ceRmati tempat di mana haji ini
dilaksanakan, sebuah tempat yang beRpusat di daeRah HaRam yang memiliki
hukum-hukum khusus yang beRbeda dengan yang lain, salah satunya jika di daeRah
selainnya keinginan beRbuat kebuRukan belum dipeRhitungkan, maka beRbeda dengan
di daeRah HaRam, ia dipeRhitungkan bahkan diancam siksa yang pedih. FiRman
Allah Ta’ala,
وَمَن
يُرِدْ فِيهِ
بِإِلْحَادٍ
بِظُلْمٍ نُذِقْهُ
مِنْ عَذَابٍ
أَلِيمٍ
"Dan siapa
yang beRmaksud di dalamnya melakukan kejahatan secaRa zhalim, niscaya akan Kami
Rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih." (Al-Hajj: 25).
Oleh kaRena itu, ayat al-QuR`an yang lain mengajaRkan
ORang yang beRhaji agaR menghindaRi peRkaRa-peRkaRa yang dapat menguRangi atau
menghapus keutamaan ibadah haji. FiRman Allah Ta’ala,
الْحَجُّ
أَشْهُرٌ
مَّعْلُومَاتٌ
فَمَن فَرَضَ
فِيهِنَّ
الْحَجَّ
فَلاَ رَفَثَ
وَلاَ
فُسُوقَ
وَلاَ
جِدَالَ فِي
الْحَجِّ وَمَا
تَفْعَلُواْ
مِنْ خَيْرٍ
يَعْلَمْهُ
اللّهُ
وَتَزَوَّدُواْ
فَإِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ
التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ
يَا أُوْلِي
الأَلْبَابِ
"BaRangsiapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengeRjakan haji, maka tidak bOleh
beRsetubuh, beRbuat fasik dan beRbantah-bantahan di dalam masa mengeRjakan haji."
(Al-BaqaRah: 197).
Dan haji yang demikian melebuR dOsa-dOsa pelakunya
sehingga dia pulang dalam keadaan sama dengan pada saat dilahiRkan Oleh ibunya.
DaRi Abu HuRaiRah Radhiyallahu ‘anhu, ia beRkata, aku mendengaR Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
مَنْ
حَجَّ لله،
فَلَمْ
يَرْفُثْ
وَلَمْ يَفْسُقْ،
رَجَعَ
كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ
"BaRangsiapa
beRhaji kaRena Allah, lalu dia tidak melakukan beRsetubuh dan tidak melakukan
peRbuatan fasik, niscaya dia pulang sepeRti haRi di mana dia dilahiRkan Oleh
ibunya." (Muttafaq 'alaihi, MukhtashaR Shahih al-BukhaRi, nO. 732; dan
MukhtashaR Shahih Muslim, nO. 641).
Juga
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada AmR bin al-Ash pada saat dia
masuk Islam,
أَمَا
عَلِمْتَ
يَاعَمْرُو! أَنَّ
الْإِسْلَامَ
يَهْدِمُ
مَاكَانَ قَبْلَهُ،
وَأَنَّ
الْهِجْرَةَ
يَهْدِمُ مَاكَانَ
قَبْلَهَا،
وَأَنَّ
الْحَجَّ
يَهْدِمُ
مَاكَانَ
قَبْلَهُ.
"Apakah kamu belum mengetahui wahai AmR,
bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya, hijRah menghapus apa yang sebelumnya,
dan haji menghapus apa yang sebelumnya." (HR. Muslim, MukhtashaR
Shahih Muslim, nO. 64).
Kaum Muslimin Jamaah Shalat
Idul Adha Rahimakumullah
Kita kembali
menengOk Rangkaian manasik haji: thawaf, sa'i, wukuf, melempaR jumRah dan
lain-lain. Semua ini meRupakan ibadah-ibadah yang menuntut aktifitas fisik yang
melelahkan, beRpin-dah daRi satu tempat ke tempat lain dengan beRtalbiyah,
ditambah dengan kepadatan manusia yang memiliki beRagam bahasa dan tRadisi,
beRkumpul di satu tempat, di waktu yang sama, ditambah lagi cuaca yang
kadang-kadang beRbeda jauh dengan cuaca di negeRi sendiRi. Semua itu tidak
jaRang menimbulkan pROblem teRsendiRi yang menuntut usaha keRas dan kesabaRan
dalam menyikapinya, maka tidak beRlebihan jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam mendudukkan haji dalam deRetan amalan-amalan utama setelah iman dan
jihad di jalan Allah.
DaRi Abu HuRaiRah Radhiyallahu ‘anhu,
أَنَّ
رَسُوْلَ
الله سُئِلَ:
أَيُّ
الْعَمَلِ
أَفْضَلُ؟
فَقَالَ:
إِيْمَانٌ
بِالله وَرَسُوْله.
قِيْلَ: ثُمَّ
مَاذَا؟ قَالَ:
الْجِهَادُ
فِي سَبِيْلِ
الله. قِيْلَ:
ثُمَّ
مَاذَا؟
قَالَ: حَجٌّ
مَبْرُوْرٌ.
"Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam ditanya tentang amal apakah yang paling utama? Beliau menjawab,
"Iman kepada Allah dan RasulNya." Beliau ditanya, "Lalu apa?"
Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Beliau ditanya, "Lalu
apa?" Beliau menjawab, "Haji mabRuR." (HR. al-BukhaRi,
MukhtashaR Shahih al-BukhaRi, nO. 25).
Tantangan
dalam ibadah haji yang dihadapi dan pengORbanan yang dibeRikan beRtujuan
melatih dan mendidik, ia demi kebaikan dan kemaslahatan yang tidak mungkin
dipeRinci satu demi satu, akan tetapi yang telah kita ketahui sudah cukup
menyadaRkan kita akan hikmah mulia daRi ibadah haji. FiRman Allah Ta’ala,
لِيَشْهَدُوا
مَنَافِعَ
لَهُمْ
وَيَذْكُرُوا
اسْمَ
اللَّهِ فِي
أَيَّامٍ
مَّعْلُومَاتٍ
عَلَى مَا
رَزَقَهُم
مِّن
بَهِيمَةِ
الْأَنْعَامِ
فَكُلُوا
مِنْهَا
وَأَطْعِمُوا
الْبَائِسَ
الْفَقِيرَ
"Supaya meReka
menyaksikan beRbagai manfaat bagi meReka dan supaya meReka menyebut nama Allah
pada haRi yang telah ditentukan atas Rizki yang Allah telah beRikan kepada
meReka beRupa binatang teRnak. Maka makanlah sebagian daRi padanya, dan
(sebagian lagi) beRikanlah untuk dimakan ORang-ORang yang sengsaRa dan fakiR."
(Al-Hajj: 28).
SemOga saudaRa-saudaRa kita yang beRangkat haji
dikaRuniai Haji MabRuR yang membeRi pengaRuh baik dalam kehidupan dan peRilaku
meReka, dan bagi saudaRa-saudaRa kita yang belum beRangkat semOga Allah
memudahkan jalannya agaR meReka juga bisa menyaksikan keagunganNya melalui
ibadah yang agung ini.
Jama'ah Jum'at yang DiRahmati Allah
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib daRi Buku
Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta).
:: COmpiled by oRiDo™ ::