
BeRkatalah yang
Baik, atau Diamlah
Oleh: Waznin Mahfud
KHUTBAH PERTAMA:
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
HadiRin
Rahimakumullah wa A'azzakumullah
Allah Ta’ala senantiasa menyeRukan agaR kita menjadi
hamba-hamba yang beRbahagia di dunia dan di akhiRat, dengan caRa mena-ati,
patuh, dan mengikuti dengan ikhlas petunjuk dan atuRan Dinul Islam, yaitu Rahmat
bagi kita sekalian.
TeRmasuk bukti Rahmat Allah dalam Dinul Islam adalah
wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sunnahnya tentang menjaga
lisan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
مَنْ
كَانَ
يُؤْمِنُ
بِاللهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
فَلْيَقُلْ
خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ.
"BaRangsiapa
yang beRiman kepada Allah dan HaRi AkhiR, maka hendaklah dia beRkata yang baik
atau hendaklah diam." (HR. al-BukhaRi dan Muslim daRi sahabat Abu
HuRaiRah).
HadiRin
Rahimakumullah!
Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teRsebut
menunjukkan betapa pentingnya kedudukan lisan. Dengan lisan, seORang hamba bisa
mencapai deRajat yang teRtinggi, bahkan mendapat kaRunia yang amat agung di
sisi Allah. Namun sebaliknya, dengan lisan pula seORang hamba jatuh teRsungkuR
ke dalam juRang kehinaan yang sedalam-dalamnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
إِنَّ
الْعَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ
مِنْ
رِضْوَانِ
اللهِ لاَ
يُلْقِي لَهَا
بَالاً،
يَرْفَعُ
اللهُ بِهَا
دَرَجَاتٍ،
وَإِنَّ
الْعَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ
مِنْ سَخَطِ
اللهِ لاَ
يُلْقِي
لَهَا بَالاً
يَهْوِي بِهَا
فِي
جَهَنَّمَ.
"Sesungguhnya
seseORang mengucapkan kalimat daRi keRidhaan Allah yang tidak dipeRhatikannya,
namun Allah mengangkatnya disebabkan kalimat itu bebeRapa deRajat, dan
sesungguhnya seORang hamba mengucapkan kalimat daRi kemuRkaan Allah yang tidak
di-peRhatikannya, sehingga Allah melempaRkannya disebabkan kalimat itu ke dalam
NeRaka Jahanam." (HR. al-BukhaRi).
HadiRin
Rahimakumullah!
Itulah kekuatan lisan dalam menentukan kedudukan dan
keselamatan seORang hamba. Kemudian maRilah kita Renungkan, bagaimana agaR kita
secaRa pRibadi-pRibadi sekaligus secaRa maj-muk masyaRakat, mampu mempeRgunakan
kekuatan lisan kita untuk mencapai kedudukan yang tinggi, deRajat yang
teRhORmat, bahkan pangkat yang paling mulia, bukan hanya di kalangan manusia
atau segenap makhluk, akan tetapi kemuliaan di sisi Allah juga, bagaimana
caRanya?
Junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin yang
paling mengasihi dan menyayangi umatnya, telah beRpesan seRta beRwasiat demi
keselamatan, kemuliaan, seRta ketinggian deRajat kita, umat beliau, dalam sabda
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau meneRangkan,
إِنَّ
أَحَدَكُمْ
لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ
مِنْ رِضْوَانِ
اللهِ مَا
يَظُنُّ أَنْ
تَبْلُغَ مَا
بَلَغَتْ
فَيَكْتُبُ
اللهُ لَهُ
بِهَا رِضْوَانَهُ
إِلَى يَوْمِ
يَلْقَاهُ.
"Sesungguhnya
seseORang daRi kalian beRkata dengan peRkataan yang diRidhai Allah, dia tidak
menyangka bahwa kalimat itu bisa sampai pada apa yang dicapai (Oleh kalimat
itu), kemudian Allah mencatat baginya disebabkan kalimat itu pada keRidhaanNya
sampai haRi dia beRtemu denganNya." (HR. Ahmad, at-TiRmidzi,
an-Nasa`i, Ibnu Hibban daRi sahabat Bilal bin HaRits y).
Sekali lagi, kita peRhatikan dalam wasiat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam teRsebut, bahwa deRajat yang tinggi dapat dicapai
dengan kalimat yang diRidhai Oleh Allah. Kalimat apakah itu?
HadiRin
Rahimakumullah!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa
kalimat yang diRidhai Oleh Allah Ta’ala, dijamin dapat menyelamatkan dan
menjadikan kita bahagia bahkan mencapai deRajat yang setinggi-tingginya di sisi
Allah adalah dzikiR kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
beRsabda,
أَلاَ
أُنَبِّئُكُمْ
بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ
وَأَزْكَاهَا
عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ
وَأَرْفَعِهَا
فِي
دَرَجَاتِكُمْ
وَخَيْرٌ
لَكُمْ مِنْ
إِنْفَاقِ
الذَّهَبِ
وَالْوَرِقِ
وَخَيْرٌ
لَكُمْ مِنْ
أَنْ
تَلْقَوْا
عَدُوَّكُمْ
فَتَضْرِبُوْا
أَعْنَاقَهُمْ
وَيَضْرِبُوْا
أَعْنَاقَكُمْ.
قَالُوْا:
بَلَى. قَالَ:
ذِكْرُ اللهِ.
"Maukah aku
tunjukkan kepada kalian tentang sebaik-baik amal kalian, yang paling beRsih di
sisi MahaRaja kalian, amalan yang paling tinggi (yang mengangkat) deRajat
kalian, dan lebih baik bagi kalian daRipada menginfakkan emas maupun peRak,
juga lebih baik (bagi kalian) daRipada kalian beRtemu musuh kalian, kemudian
kalian memenggal leheR meReka atau meReka memenggal leheR kalian?" MeReka
(paRa sahabat) menjawab, "Tentu (wahai Rasulullah)." Beliau beRsabda,
"DzikiR kepada Allah Ta’ala." (HR. Ahmad, at-TiRmidzi, Ibnu
Majah, dan al-Hakim).
BeRsyukuRlah bapak-bapak, saudaRa-saudaRa, hadiRin
Rahi-makumullah! Hanya kaRena hidayah dan taufik Allah semata, kita dapat
senantiasa beRdzikiR dan beRsyukuR kepadaNya..
Maka sekaRang teRgantung kita, apakah kita sebagai umat,
sebagai bangsa, sebagai geneRasi, ingin tetap mempeRtahankan kedudukan yang
mulia dan teRtinggi itu, atau malah kita tidak mau peduli dan tidak mau sadaR
bahwa kita sedang menukik teRjun ke dalam juRang kehinaan dan kehancuRan umat
dan bangsa.
HadiRin
Rahimakumullah!
Tiada caRa untuk bisa mempeRtahankan kedudukan teRmulia
dan teRtinggi itu selain daRi beRsyukuR kepada Allah, senantiasa mensyukuRi
nikmat kesehatan lisan, dengan beRupaya mengguna-kannya untuk mengucapkan
kalimat yang diRidhai Allah Ta’ala semata, menggunakan lisan hanya untuk
menyeRu kepada Allah, mempeRbanyak dzikiR di manapun beRada, sehingga bibiR
senantiasa basah Oleh dzikiR.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya Oleh seORang sahabat,
"Duhai Rasulullah, sesungguhnya syaRi'at Islam telah teRlalu banyak yang
haRus aku jalankan, maka beRitahukan kepadaku apa yang dapat aku pegangi (teRus
meneRus)." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
لاَ
يَزَالُ
لِسَانُكَ
رَطْبًا مِنْ
ذِكْرِ اللهِ.
"Lidahmu tidak
henti-hentinya basah daRi dzikiR kepada Allah." (HR. at-TiRmidzi).
Di samping itu juga, sangat dianjuRkan bahkan akan
mempeROleh satu kedudukan yang tinggi jika kita menggunakan lisan untuk
beRmudzakaRah, menyebaRkan, dan menuntut ilmu. Allah Ta’ala beRfiRman,
َرْفَعِ
اللَّهُ
الَّذِينَ
آمَنُوا
مِنكُمْ
وَالَّذِينَ
أُوتُوا
الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ
"Allah akan
meninggikan ORang-ORang yang beRiman di antaRamu dan ORang-ORang yang dibeRi
ilmu pengetahuan bebeRapa deRajat." (Al-Mujadilah: 11).
HadiRin
Rahimakumullah!
Dengan caRa sepeRti itulah kaum Muslimin senantiasa bisa
mempeRtahankan kedudukan yang paling mulia sejak zaman paRa Nabi dan Rasul
sampai saat sekaRang, maka janganlah sekali-kali kita melupakan atau tidak mau
mewaRisinya dengan sungguh-sungguh, sehingga teRsungkuR dalam juRang
kehancuRan, kaRena tidak mampu lagi menjaga lisan dan mensyukuRinya dengan
sebaik-baiknya.
Apabila kita tidak mampu untuk beRkata yang baik, maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeRi satu sOlusi jitu yaitu, "Diamlah!"
KaRena diam itu mampu menahan seORang hamba agaR tidak
jatuh ke dalam juRang kehancuRan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
مَنْ
صَمَتَ نَجَا.
"Siapa yang
diam, niscaya akan selamat." (HR. Ahmad, at-TiRmidzi, ad-DaRimi, Ibnul
MubaRak, Ibnu Abi ad-Dunya).
Dengan diam, kita akan selamat daRi juRang neRaka,
sepeRti yang dipeRingatkan Oleh Rasulullah dalam haditsnya, "Dan sesungguhnya seORang hamba mengucapkan
kalimat daRi yang dimuRkai Allah yang tidak dipeRhatikannya, sehingga Allah
melempaRkannya disebabkan kalimat itu ke dalam NeRaka Jahanam." (HR.
al-BukhaRi).
HadiRin Rahimakumullah wa A'azzakumullah!
Sesungguhnya peRkataan yang tidak baik dapat menyebab-kan kehancuRan dan
kesengsaRaan di dunia dan di akhiRat, semua itu dikaRenakan tidak mau
mengendalikan lisan atau tidak bisa diam.
Di sini khatib mencOba menyebutkan bebeRapa ucapan yang
haRus kita hindaRi, agaR kita selamat daRi laknat dan muRka Allah:
BERDUSTA
ATAS NAMA ALLAH
Jika peRbuatan itu dilakukan, maka dia teRmasuk
ORang-ORang yang zhalim, yang telah dipeRsiapkan baginya azab yang sangat pedih
dan mengeRikan Oleh Allah, Allah beRfiRman,
وَمَنْ
أَظْلَمُ
مِمَّنِ
افْتَرَى
عَلَى اللّهِ
كَذِباً أَوْ
كَذَّبَ
بِآيَاتِهِ
إِنَّهُ لاَ
يُفْلِحُ
الظَّالِمُونَ
"Dan siapakah
yang lebih aniaya daRipada ORang yang membuat-buat suatu kedustaan teRhadap
Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya ORang-ORang yang aniaya itu
tidak mendapat kebeRuntungan." (Al-An'am: 21).
Allah beRfiRman,
وَلاَ
تَقُولُواْ
لِمَا تَصِفُ
أَلْسِنَتُكُمُ
الْكَذِبَ
هَـذَا
حَلاَلٌ
وَهَـذَا حَرَامٌ
لِّتَفْتَرُواْ
عَلَى اللّهِ
الْكَذِبَ
إِنَّ
الَّذِينَ
يَفْتَرُونَ
عَلَى اللّهِ
الْكَذِبَ
لاَ
يُفْلِحُونَ
"Dan janganlah kamu
mengatakan teRhadap apa yang disebut-sebut Oleh lidahmu secaRa dusta "Ini
halal dan ini haRam", untuk mengada-adakan kebOhOngan teRhadap Allah.
Sesungguhnya ORang yang mengada-adakan kebOhOngan teRhadap Allah tiadalah
beRuntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi meReka azab yang
pedih." (An-Nahl:
116–117).
MEMBANTAH ATAU BERPALING DARI
KITAB ATAU SUNNAH RASULNYA.
PeRbuatan ini
akan menyebabkan kemuRkaan Allah, sehingga Allah membiaRkannya beRkubang lebih
lama di dalam kesesatan, setelah itu dilempaRkan ke dalam NeRaka Jahanam sebagai
tempat yang paling buRuk, di dalam Jahanam dia akan memakan buah Zaqqum yang
memenuhi peRutnya, ketika haus, dia akan memi-num aiR nanah yang sangat panas,
Allah Ta’ala beRfiRman,
وَمَن
يُشَاقِقِ
الرَّسُولَ
مِن بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ
لَهُ
الْهُدَى وَيَتَّبِعْ
غَيْرَ
سَبِيلِ
الْمُؤْمِنِينَ
نُوَلِّهِ
مَا تَوَلَّى
وَنُصْلِهِ
جَهَنَّمَ
وَسَاءتْ
مَصِيراً
"Dan baRangsiapa yang menentang Rasul sesudah
jelas kebenaRan baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan ORang-ORang
mukmin, Kami biaRkan ia leluasa teRhadap kesesatan yang telah dikuasai-nya itu
dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu sebuRuk-buRuknya tempat
kembali." (An-Nisa`: 115).
Allah Ta’ala beRfiRman, "Kemudian sesungguhnya kamu hai ORang yang sesat lagi mendus-takan,
benaR-benaR akan memakan pOhOn zaqqum, dan akan meme-nuhi peRutmu dengannya.
Sesudah itu kamu akan meminum aiR yang sangat panas. Maka kamu minum sepeRti
unta yang sangat haus minum." (Al-Waqi'ah: 51-55).
MENERTAWAKAN
ATAU MENGOLOK-OLOK SYARI'AT ALLAH, MENGOLOK-OLOK NABI MAUPUN AL-QUR`AN
Allah mengancam ORang-ORang yang beRbuat demikian dengan
cap munafik dan kafiR, bahkan ORang-ORang yang sekedaR duduk-duduk beRsama
meReka ketika meReka sedang mengOlOk-OlOk sya-Ri'at Allah, RasulNya dan
al-QuR`an, Allah setaRakan kedudukan meReka dengan ORang-ORang kafiR dan
munafik di NeRaka Jahanam. Allah Ta’ala beRfiRman,
وَقَدْ
نَزَّلَ
عَلَيْكُمْ
فِي
الْكِتَابِ
أَنْ إِذَا
سَمِعْتُمْ
آيَاتِ
اللّهِ يُكَفَرُ
بِهَا
وَيُسْتَهْزَأُ
بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ
مَعَهُمْ
حَتَّى
يَخُوضُواْ فِي
حَدِيثٍ
غَيْرِهِ
إِنَّكُمْ
إِذاً مِّثْلُهُمْ
إِنَّ اللّهَ
جَامِعُ
الْمُنَافِقِينَ
وَالْكَافِرِينَ
فِي
جَهَنَّمَ جَمِيعاً
"Dan sungguh
Allah telah menuRunkan kepada kamu di dalam al-QuR`an bahwa apabila kamu
mendengaR ayat-ayat Allah diingkaRi dan dipeROlOk-OlOkkan (Oleh ORang-ORang
kafiR), maka janganlah kamu duduk beseRta meReka, sehingga meReka memasuki
pembica-Raan yang lain. KaRena sesungguhnya (kalau kamu beRbuat demikian),
tentulah kamu seRupa dengan meReka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan ORang-ORang
munafik dan ORang-ORang kafiR di da-lam jahanam." (An-Nisa`: 140).
Allah beRfiRman, "Dan jika kamu tanyakan kepada meReka (tentang apa yang meReka lakukan
itu), tentu meReka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanya beRsenda guRau dan
beRmain-main saja.' Katakanlah, 'Apa-kah dengan Allah, ayat-ayatNya dan
RasulNya kamu selalu beROlOk-OlOk?' Tidak usah kamu minta maaf, kaRena kamu
kafiR sesudah beRiman. Jika Kami memaafkan segOlOngan daRi kamu (lantaRan
meReka taubat), niscaya Kami akan mengazab gOlOngan (yang lain) disebabkan
meReka adalah ORang-ORang yang selalu beRbuat dOsa." (At-Taubah: 65 –
66).
GEMAR
BERSUMPAH PALSU, MENGADU DOMBA DAN MENYEBAR-KAN FITNAH (BERITA BOHONG)
Allah Ta’ala beRfiRman,
وَلَا
تُطِعْ كُلَّ
حَلَّافٍ
مَّهِينٍ{10}
هَمَّازٍ
مَّشَّاء
بِنَمِيمٍ{11}
"Dan janganlah
kamu ikuti setiap ORang yang banyak beRsumpah lagi hina yang banyak mencela,
yang kian kemaRi menghambuR fitnah." (Al-Qalam: 10–11).
- Menuduh.
Allah Ta’ala beRfiRman,
إِنَّ
الَّذِينَ
يَرْمُونَ
الْمُحْصَنَاتِ
الْغَافِلَاتِ
الْمُؤْمِنَاتِ
لُعِنُوا فِي
الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ
وَلَهُمْ
عَذَابٌ
عَظِيمٌ{23}
يَوْمَ
تَشْهَدُ
عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ
وَأَيْدِيهِمْ
وَأَرْجُلُهُم
بِمَا
كَانُوا
يَعْمَلُونَ{24{
"Sesungguhnya
ORang-ORang yang menuduh (beRbuat zina) wanita-wanita yang baik-baik, yang
lengah lagi beRiman, meReka menda-patkan laknat di dunia dan akhiRat, dan bagi
meReka azab yang besaR, pada haRi (ketika) lidah, tangan, dan kaki meReka
menjadi saksi atas meReka teRhadap apa yang dahulu meReka keRjakan."
(An-NuR: 23–24).
وَمَن
يَكْسِبْ
خَطِيئَةً
أَوْ إِثْماً
ثُمَّ يَرْمِ
بِهِ
بَرِيئاً
فَقَدِ
احْتَمَلَ
بُهْتَاناً
وَإِثْماً
مُّبِيناً
"Dan baRangsiapa yang
mengeRjakan kesalahan atau dOsa, kemudian dituduhkan kepada ORang yang tidak
beRsalah, maka sesungguhnya ia telah beRbuat suatu kebOhOngan dan dOsa yang
nyata." (An-Nisa`: 112).
GHIBAH,
GOSIP, MENGGUNJING, DAN BERBURUK SANGKA
Allah Ta’ala beRfiRman,
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اجْتَنِبُوا
كَثِيراً
مِّنَ
الظَّنِّ
إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ وَلَا
تَجَسَّسُوا
وَلَا
يَغْتَب
بَّعْضُكُم
بَعْضاً أَيُحِبُّ
أَحَدُكُمْ
أَن يَأْكُلَ
لَحْمَ أَخِيهِ
مَيْتاً
فَكَرِهْتُمُوهُ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
إِنَّ
اللَّهَ
تَوَّابٌ
رَّحِيمٌ
"Hai
ORang-ORang yang beRiman, jauhilah kebanyakan daRi pRasang-ka, sesungguhnya
sebagian pRasangka itu adalah dOsa dan janganlah kamu mencaRi-caRi kesalahan
ORang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah
salah seORang di antaRa kamu memakan daging saudaRanya yang sudah mati. Maka
tentulah kamu meRasa jijik kepadanya. Dan beRtakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha PeneRima taubat lagi Maha Penyayang."
(Al-HujuRat: 12).
Banyak bicaRa (tanpa manfaat), menyakiti hati, kalimat
sia-sia, beRsenda guRau yang melalaikan Allah, beRmain-main dengan dOa,
menjuluki dengan julukan yang jelek dan menyebut-nyebut pembeRian yang telah
dibeRikan kepada seseORang, juga teRmasuk ke dalam seRangkaian beRkata yang
mengakibatkan kita teRjeRumus ke dalam juRang neRaka, maka kita semua haRus
menghindaRi semua itu, agaR kita teRhindaR daRi laknat dan muRka Allah. .
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللّهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ,
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
yang kedua
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَصَلَّى
اللَّّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
HadiRin
Rahimakumullah!
MaRilah kita semua memOhOn peRlindungan kepada Allah daRi
semua jenis penyelewengan dan penyalahgunaan nikmat lidah atau lisan yang dapat
menghancuRkan diRi dan umat kita sekalian. Dan janganlah kalian mengObRal
OmOngan dan banyak bicaRa, kaRena banyak bicaRa, banyak salahnya.
Jauhilah beRlebihan dalam beRbicaRa, kaRena itu
menyebabkan deRajat umat ini jatuh, teRmasuk paROdi, melucu dengan kebOhOngan.
Nabi teRkasih junjungan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
وَيْلٌ
لِلَّذِيْ
يُحَدِّثُ
بِالْحَدِيْثِ
لِيُضْحِكَ
بِهِ
الْقَوْمَ
فَيَكْذِبُ،
وَيْلٌ لَهُ،
وَيْلٌ لَهُ.
"Celakalah
bagi ORang yang beRceRita untuk membuat ORang-ORang teRtawa dengannya, kemudian
dia beRdusta, celaka baginya, celaka baginya." (HR. at-TiRmidzi, Abu
Dawud, dan Ahmad).
وَهَلْ
يَكُبُّ
النَّاسَ فِى
النَّارِ عَلَى
وُجُوهِهِمْ
إِلاَّ
حَصَائِدُ
أَلْسِنَتِهِمْ؟
"Apakah ada yang
menjeRumuskan manusia dengan wajah-wajah meReka (teRseRet) selain hasil daRi
lidah meReka?" (HR. at-TiRmidzi).
Kita memOhOn peRlindungan kepada Allah daRi beRbicaRa
batil dan memOhOn taufik kepada Allah agaR senantiasa beRbicaRa yang benaR,
baik, atau diam. SemOga Allah mengangkat deRajat kita dan senantiasa teRus
meningkatkan deRajat kita setinggi-tingginya di dunia dan di akhiRat. Amin.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib daRi Buku
Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta. Telp.
(021)84998039. DipOsting Oleh: Abu Nabiel).
:: COmpiled by oRiDo™ ::