
AkhiR Hidup yang
Baik
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا اتّقُوا
اللهَ حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
KHUTBAH
PERTAMA
Ma’asyiRal Muslimin Rahimani wa
Rahimakumullah!!
Setelah kita mengucapkan kalimat tahmid, kalimat tahlil
sebagai bentuk sanjungan dan pujian kita kepada Dzat satu-satunya tempat kita
menggantungkan diRi daRi segala sesuatu, maka tiada kata dan ungkapan yang
sepatutnya kita sampaikan dalam majelis yang mulia ini melainkan washiyatut
taqwa, yaitu satu kalimat yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah
menyebutkannya dalam sekian banyak ayat, dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa
sallam pun seRingkali membeRikan washiyat kepada paRa shahabatnya dalam
khutbah-khutbahnya dengan kalimat teRsebut, sebagaimana yang peRnah beliau
sampaikan juga kepada dua ORang sahabat yang beRnama Abu DzaR dan Mu’ad bin
Jabal dalam Riwayat at-TiRmidzi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beRsabda
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ،
وَاَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
اْلحَسَنَةَ
تَمْحُهَا وَخَالِقِ
النَّاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“BeRtakwalah kepada
Allah dimana saja kamu beRada, dan baRengilah peRbuatan yang buRuk dengan peRbuatan
yang baik dan beRakhlak baiklah kepada semua manusia” (HR. at-TiRmudzi).
Hadits yang mulia ini, jelas-jelas telah membeRikan
penjelasan kepada kita bahwa ketaqwaan itu tidak teRbatas pada waktu dan tempat
teRtentu. Namun demikian apa yang dipahami Oleh paRa sahabat daRi kalimat yang
agung ini tidaklah sesedeRhana yang kita pahami, sebagai kalimat yang seRing
kita dengaR, mudah kita ucapkan, namun kita acapkali susah dalam menceRnanya
apalagi meRealisasikannya dalam kehidupan sehaRi-haRi. KaRena pentingnya makna
kalimat ini hadiRin yang mulia, UmaR bin Khathab Radhiayallahu 'anhu peRnah
mengatakan dalam Riwayat yang shahih,
التَّقْوَى
هُوَ
اْلخَوْفُ
بِاْلجَلِيلِ
وَاْلعَمَلُ
بِالتَّنْزِيلِ
وَالرِّضَى بِالْقَلِيلِ
وَاْلاِسْتِعْدَادِ
بِيَوْمِ
الرَّحِيلِ.
“At-Taqwa adalah peRasaan takut
kepada Allah, beRamal dengan apa yang datang daRi Allah dan Nabi-Nya, meRasa
cukup dengan apa yang ada dan mempeRsiapkan diRi dalam menghadapi haRi akhiR.”
Ma’asyiRal Muslimin Rahimani wa
Rahimakumullah!!
Sesungguhnya bagian manusia daRi dunia ini adalah
umuRnya. Apabila dia membaguskan penanaman mOdalnya pada apa yang dapat
membeRikan manfaat kepadanya di akhiRat kelak, maka peRdagangannya akan
beRuntung. Dan jika dia menjelekkan penanaman mOdalnya dengan peRbuatan-peRbuatan
maksiat dan kejahatan sampai dia beRtemu dengan Allah pada penghabisan (akhiR
hidup) yang jelek itu, maka dia teRmasuk ORang-ORang yang meRugi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala beRfiRman,
مَنْ
عَمِلَ
صَالِحًا
مِّن ذَكَرٍ
أَوْ أُنثَى
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً
طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا
يَعْمَلُونَ
"BaRangsiapa yang
beRamal shalih, baik laki-laki maupun peRempuan dan dia (dalam keadaan)
beRiman, maka sesungguhnya akan Kami beRikan kepadanya kehidupan yang baik. dan
sesungguhnya akan Kami beRikan balasan kepada meReka dengan pahala yang lebih
baik daRi apa yang telah meReka keRjakan " (Q.S an-Nahl:97).
Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala beRfiRman,
فَمَنْ
يَعْمَلْ
مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ
خَيْرًا
يَرَهُ .
وَمَنْ
يَعْمَلْ
مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ
شّرًّا يَرَهُ.
“BaRangsiapa yang
mengeRjakan kebaikan sebeRat dzaRRahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan baRangsiapa yang mengeRjakan kejahatan sebeRat dzaRRahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya pula.” (QS. al-Zalzalah:7-8)
Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala menegaskan,
أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا
خَلَقْنَاكُمْ
عَبَثًا
وَأَنَّكُمْ
إِلَيْنَا
لاَتُرْجَعُونَ
. فَتَعَالَى
اللهُ
الْمَلِكُ
الْحَقُّ
لآإِلَهَ
إِلاَّهُوَ
رَبُّ
الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Maka apakah kamu mengiRa,
bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secaRa main-main (saja), dan bahwa
kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang
SebenaRnya;tidak ada ilah (yang beRhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai)
'ARsy yang mulia.” (QS. al-Mu’minun:115-116)
Ma’asyiRal Muslimin Rahimani wa
Rahimakumullah!!
KaRenanya ORang yang beRakal adalah ORang yang dapat
menghisab (menghitung) amalan diRinya sebelum Allah Ta'ala menghitungnya, dan
dia meRasa takut dengan dOsa-dOsanya itu menjadi sebab akan kehancuRannya.
HadiRin yang mulia sementaRa itu kematian dan akhiR hidup seseORang akan selalu
menjemputnya, kapan Allah Ta'ala menghendaki niscaya tidak ada seORangpun yang
dapat meRubahnya, dia tidak dapat menghindaRi daRi sebuah kenyataan yang akan
menjemputnya. Allah
Ta'ala beRfiRman,
كُلُّ
نَفْسٍ
ذَآئِقَةُ
الْمَوْتِ
وَإِنَّمَا
تُوَفَّوْنَ
أُجُورَكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَمَنْ
زُحْزِحَ
عَنِ
النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ
فَقَدْ فَازَ
وَمَا
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلاَّ
مَتَاعُ
الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang beRjiwa akan
meRasakan mati. Dan sesungguhnya pada haRi kiamat sajalah disempuRnakan
pahalamu. BaRangsiapa dijauhkan daRi neRaka dan dimasukkan ke dalam suRga maka
sungguh ia telah beRuntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang mempeRdayakan.” (QS. Ali ImRan:185)
MaRilah kita tanyakan kepada diRi kita masing-masing, apa
yang telah menjadikan diRi kita teRpedaya dengan gemeRlapnya kehidupan dunia,
akankah akhiR hidup kita akhiR hidup yang baik atau bahkan sebaliknya?
Na'udzubillahi min dzalik.
Ma’asyiRal Muslimin Rahimani wa
Rahimakumullah!!
Dalam sebuah Riwayat al-BukhaRi dan Muslim yang beRsumbeR
daRi Said al-KhudRiy yang mengisahkan seORang yang telah membunuh sembilan
puluh sembilan ORang, kemudian genap seRatus ORang. Dan pada akhiR ceRita, dia
dikisahkan meninggal dalam keadaan mukmin kaRena taubatnya. (HR. al-BukhaRi dan
Muslim daRi Said al-KhudhRiy).
Dan Sebaliknya dalam Riwayat yang lain dikisahkan suatu ketika ada seORang
laki-laki ikut beRpeRang beRsama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallamuntuk
menghadapi kaum MusyRikin sehingga dia teRluka. Dan kaRena tidak kuasa menahan
Rasa sakit, akhiRnya dia bunuh diRi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
beRsabda, "Dia teRmasuk ahli neRaka". Setelah itu seseORang
mendatangi nabi menceRitakan kejadian ini. Kemudian Rasullah beRsabda,
إِنَّ
الرَّجُلَ
لَيَعْمَلُ
عَمَلَ أَهْلِ
اْلجَنَّةِ
فِيمَا
يَبْدُو
لِلنَّاسِ وَهُوَ
مِنْ أَهْلِ
النَّارِ، وَ
إِنَّ الرَّجُلَ
لَيَعْمَلُ
عَمَلَ
أَهْلِ
النَّارِ فِيمَا
يَبْدُو
لِلنَّاسِ
وَهُوَ مِنْ
أَهْلِ اْلجَنَّةِ
(رواه البخاري
ومسلم)
“Sungguh seORang benaR-benaR
melakukan peRbuatan penduduk suRga di hadapan manusia, namun (sebenaRnya) dia
teRmasuk penghuni neRaka, dan sungguh seseORang benaR-benaR melakukan peRbuatan
penghuni neReka di hadapan manusia, namun (sebenaRnya) di a teRmasuk penghuni
suRga .” (HR. al-BukhaRi dan Muslim).
Dua Riwayat di atas telah tegas dan jelas menunjukkan
bahwa akhiR hidup seseORang, baik dan buRuknya tidak ada seORangpun yang dapat
mengetahuinya.
Dan akhiR hidup seseORang ditentukan Oleh baik-dan buRuknya akhiR peRjalanan
hidupnya, yang telah Allah Subhanahu wata’ala tentukan dalam taqdiRnya.
Dalam Riwayat Ahmad dengan sanad yang shahih daRi 'Aisyah Radhiyallahu
‘anha, Rasulullah beRsabda,
إِنَّ
الرَّجُلَ
لَيَعْمَلُ
عَمَلَ أَهْلِ
اْلجَنَّةِ
وَهُوَ
مَكْتُوبٌ
مِنْ أَهْلِ
النَّارِ،
فَإِذَا
كَانَ قَبْلَ
مَوْتِهِ
تَحَوَّلَ،
فَعَمِلَ
أَهْلَ
النَّارِ، فَمَاتَ
فَدَخَلَ
النَّارَ. وَ
إِنَّ الرَّجُلَ
لَيَعْمَلُ
عَمَلَ
أَهْلِ النَّارِ
وَهُوَ
مَكْتُوبٌ
مِنْ أَهْلِ
اْلجَنَّةِ،
فَإِذَا
كَانَ قَبْلَ
مَوْتِهِ
تَحَوَّلَ،
فَعَمِلَ
أَهْلَ
اْلجَنَّةِ،
فَمَاتَ
فَدَخَلَ
اْلجَنَّةَ.
“Sesungguhnya seseORang benaR-benaR
melakukan peRbuatan penghuni suRga, sedangkan dia dicatat sebagai penghuni
neRaka. Maka sebelum kematian menjemput, ia beRubah dan mengeRjakan peRbuatan
penghuni neRaka, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam neRaka. Dan
sesungguhnya seseORang benaR-benaR melakukan peRbuatan penghuni neRaka
sedangkan dia dicatat sebagai penghuni suRga. Maka sebelum kematian menjemput,
ia beRubah dan melakukan peRbuatan penghuni suRga, kemudian ia mati, maka
masuklah ia ke dalam suRga.”.
Dalam Riwayat lain yang beRsumbeR daRi Ali bin Abi
Thalib, diceRitakan ada seORang laki-laki beRtanya kepadanya:
فقال
رجل: يا رسول
الله، أفلا
نمكث على
كتابنا وندع
العمل؟ فقال :
اعملوا فكل
ميسر لما خلق
له. أما أهل
السعادة
فييسرون لعمل
أهل السعادة.
وأما أهل
الشقاوة
فييسرون لعمل
أهل الشقاوة،
ثم قرأ : (فأما
من أعطي واتقي
) سورة الليل: 5)
“SeseORang lelaki beRtanya, Wahai
Rasulullah!, apakah kita tidak pasRah teRhadap taqdiR (ketentuan)Allah Ta'ala
teRhadap kita dan meninggalkan amalan? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam menjawab, “BeRamalah kalian! Maka setiap ORang akan dimudahkan
sebagaimana apa yang ditakdiRkan baginya.” Adapun ORang yang ditakdiRkan
bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan peRbuatan gOlOngan ORang-ORang
yang bahagia. Sedangkan ORang yang ditakdiRkan sengsaRa, maka ia pun akan
dimudahkan untuk melakukan peRbuatan gOlOngan ORang-ORang yang sengsaRa.
Kemudian beliau membaca ayat, “Adapun ORang yang membeRikan (haRtanya di jalan
Allah) dan beRtaqwa, (QS. al-Lail : 5)
Dalam hadits-hadits di atas telah menunjukkan bahwa
kebahagiaan dan kesengsaRaan di akhiR hayat telah Allah Ta'ala tentukan di
dalam kitabNya (taqdiRnya). Dan yang demikian beRdasaRkan amalnya yang
meRupakan sebab keduanya. Maka akhiR hidup yang baik atau sebaliknya ditentukan
dengan keadaan akhiR amalannya.
sebagaimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam beRsabda dalam Riwayat
yang lain daRi Sahl bin Said:
إنما
الأعمال
بالخواتيم.
“Sesungguhnya
segala amal itu teRgantung dengan akhiRnya.”
Maka baRangsiapa yang yang telah mengikuti tuntunan Allah
Ta'ala dan NabiNya, maka akhiR hayatnya adalah meRupakan akhiR hayat yang baik,
sebaliknya baRangsiapa dalam hidupnya senantiasa mengikuti hawa nafsu dan
syaithan, maka niscaya dia akan mendapatkan akhiR hidup yang tidak baik, kaRena
dOsa-dOsa yang dia lakukan selama hidupnya, sebagaimana peRnah dikisahkan Oleh
Abdul Aziz bin Rawad yang dinukil Oleh Ibnu Rajab dalam kitabnya, suatu haRi
dia menjumpai seORang yang akan meninggal dunia, kemudian ditalqinkan untuk
mengucapkan kalimat Tauhid, namun teRnyata dia tidak bisa mengucapkan, dan dia
beRkata pada akhiR peRkataannya: Dia telah mengkufuRi kalimat teRsebut. Dan
meninggal dalam kekufuRan. Kemudian Abdul Azis menanyakan tentang dia, maka
dikatakan dia adalah seORang peminum khamR. Kemudian Abdul Aziz mengatakan:
اتقوا
الذنوب فإنها
هي التى
أوقعته
“BeRhati-hatilah
kalian teRhadap segala (bentuk) dOsa dan maksiat, kaRena dOsa-dOsa itulah yang
menyebabkannya.”
اللهم
أعدنا من عذاب
النار ومن
عذاب القبر، وأعدنا
من فتنة
المحيا
والممات،ومن
فتنة المسيح
الدجال. اللهم
ارحمنا عند
سكرات الموت،
ووسع لنا في
قبورنا,
وثبتنا
بالقول
الثابت في
الحياة
الدنيا وفي
الأخرة.وتوبوا
إلى الله
جميعا أيها
المؤمنون،
إنه هو الغفور
الرحيم.
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمِ
KHUTBAH
KEDUA
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
Ma'asyiRal
Muslimin Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
MaRilah kita menengOk ke belakang bagaimana paRa
as-Salafus Shalih beRsikap dalam menyikapi akhiR hayatnya dengan haRapan dapat
menjadi peRingatan dan pelajaRan bagi kita.
Sebagaimana diRiwayatkan Oleh
Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, diceRitakan sebagian paRa sahabat
meneteskan aiR mata, manakala mengingat akhiR hayatnya, ditanyakan kepadanya
kenapa sampai demikian, salah seORang diantaRa meReka menjawab: Aku mendengaR
Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam beRsabda:
إن
الله تعالي
قبض خلقه
قبضتين، فقال:
هؤلاء في
الجنة وهؤلاء
في النار، ولا
أدري في أي
القبضتين
كنت؟
“Sesunggunya Allah Ta’ala
menggenggam penciptaannya dalam dua genggaman, dan beliau beRsabda, DiantaRa
meReka beRada di SuRga dan diantaRa meReka yang lain beRada di neRaka, dan aku
tidak tahu, dalam genggaman yang mana aku akan beRada?”
BeRkata sebagian Salaf:
ما
أبكى العيون
ما أبكاها
الكتاب
السابق.
“Tidaklah mata ini menangis,
melainkan ketentuan (Allah) yang telah teRtulis (di Lauhul Mahfudz) yang
menyebabkannya.”
Suatu saat Sufyan ast-TsauRi didapati gelisah dan Resah
kaRena memikiRkan akhiR hayatnya, bahkan dia meneteskan aiR mata seRaya
beRkata:
أخاف
أن أكون قي أم
الكتاب شقيا،
أخاف أن أسلب
الإيمان عند
الموت
“Aku khawatiR kalau (ketentuanku) di dalam kitab (Lauhul
Mahfudz) teRmasuk yang sengsaRa (celaka). Dan keimanan dicabut manakala
kematian menjemput” (HR. abu Nu’aim dalam al-Hilyah)
DiceRitakan
Malik bin DinaR selalu bangun malam sambil memegangi janggutnya dan beRkata:
يا
رب قد علمت
ساكن الجنة من
ساكن النار،
ففي أي
الدارين منزل
مالك؟
“Wahai
Tuhanku, sungguh Engkau telah mengetahui penghuni SuRga daRi penghuni neRaka,
maka di mana tempat Malik beRada di antaRa keduanya?.” (HR. abu Nu’aim dalam
al-Hilyah)
Demikianlah keutamaan meReka paRa as-Salafus Shalih,
selalu khawatiR dan was-was teRhadap akhiR hayat dan kehidupannya. Tentunya
kita yang hadiR di majelis yang mulia ini lebih daRi itu, disebabkan dOsa-dOsa
dan kemaksiatan yang senantiaasa kita lakukan. Namun demikian yang ada justRu
sebaliknya, kita selalu meRasa aman dengan makaR Allah Subhaanahu wa Taala,
meRasa selamat daRi adzabnya sehingga sekian bencana, cObaan dan ujian baik
beRupa gempa, tsunami, tanah lOngsOR, banjiR, angin puyuh, gunung meletus
teRasa belum menjadikan kita sadaR padahal Allah Subhaanahu wa Taala beRfiRman:
أَفَأَمِنُوا
مَكْرَ اللهِ
فَلاَيَأْمَنُ
مَكْرَ اللهِ
إِلاَّ
الْقَوْمُ
الْخَاسِرُونَ
“Maka
apakah meReka meRasa aman daRi adzab Allah (yang tidak teRduga-duga)? Tiadalah
yang meRasa aman daRi adzab Allah kecuali ORang-ORang yang meRugi.” (QS.
al-A’Raf: 99)
BeRkata al-Hafidz Ibnu KatsiR: “Sesungguhnya peRbuatan dOsa, maksiat dan kecOndOngan kepada hawa
nafsu, pengaRuhnya akan mendOminasi pelakunya ketika menjelang kematian dan
syaithan akan menguatkannya, maka beRkumpul padanya dua kekalahan dengan
lemahnya keimanan, sehingga dia akan teRjatuh pada akhiR hidup yang tidak baik,
Allah Ta’ala beRfiRman:
وكان
الشيطان
للإنسان
خذولا
“Dan
adalah Syaithan itu tidak mau menOlOng manusia” (QS. al-FuRqan: 29)
Dan akhiR hidup yang buRuk semOga Allah Ta’ala
menjauhkannya daRi kita tidak akan menimpa kepada ORang yang shalih secaRa
lahiR dan bathin, yang jujuR peRkataannya, dan tidak teRdengaR ceRita yang
demikian. Akan tetapi akhiR hidup yang buRuk akan selalu menimpa seseORang yang
telah Rusak bathinnya, keimanannya dan lahiRnya, yaitu peRbuataanya seRta bagi
ORang-ORang yang beRani melakukan peRbuatan dOsa besaR dan suka melakukan
peRbuatan jahat, maka peRkaRa yang demikian akan selalu menguasai sampai nyawa
menjemput sebelum melakukan taubat.
Ma'asyiRal Muslimin Jama'ah Shalat
Jum'ah Rahimakumullah.
Oleh kaRena itu, sudah sepantasnyalah bagi ORang yang beRakal untuk
beRhati-hati atas keteRikatan dan keteRgantungan dengan sesuatu yang teRlaRang.
Selayaknya hati, lisan dan anggOta tubuhnya selalu mengingat Allah Ta’ala, dan
menjaga diRi supaya selalu dalam ketaatan kepada-Nya dalam kOndisi dan situasi
apapun.
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik
peRbuatan kami pada akhiR hidup kami, dan sebaik-baik kehidupan kami sebagai
akhiR hayat kami, dan sebaik-baik haRi kami, haRi di mana kami akan beRtemu
dengan Mu. Ya Allah tunjukilah kami semua kepada peRbuatan yang baik dan
jauhkanlah diRi kami daRi peRbuatan yang mungkaR dan teRlaRang.”
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ
نَا إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلََى
اّلذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا وَلاَ
تًحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ وَاعْفُ
عَنّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
والحمد لله رب
العالمين.
وصلى الله على
نبينا محمد
وعلى أله
وصحبه ومن
تبعهم بإحسان
إلى يوم الدين
وآخر دعوانا
أن الحمد لله
رب العالمين.
(Oleh:
Khusnul Yaqin ARba’in)
:: Compiled by oRiDo™ ::