
Adab-Adab yang
Wajib di Dalam Puasa
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا رَبّكُمُ
الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Alhamdulillah kita beRsyukuR kepada Alah Subhanahu wa Ta’ala yang telah
mempeRtemukan kita dengan bulan yang mulia ini. Bulan yang penuh kebeRkahan,
bulan yang banyak dinantikan Oleh hambaNya yang beRiman. Bulan yang memiliki
banyak keistimewaan, sepeRti malam lailatul qadaR yaitu malam yang lebih baik
daRi seRibu bulan.
Sidang
shalat Jum’at Rahimakumullah,
Sesungguhnya puasa itu memiliki banyak adab sebagai
penyempuRnanya. Adab-adab teRsebut teRbagi dua: adab-adab yang wajib yang haRus dipeRhatikan dan dijaga Oleh ORang yang
beRpuasa, dan adab-adab sunnah yang selayaknya dikeRjakan.
Di antaRa adab yang wajib adalah ORang yang beRpuasa juga haRus melaksanakan
beRbagai ibadah lain yang telah Allah wajibkan, baik itu beRupa peRkataan
maupun peRbuatan. Salah satu cOntOh yang paling penting adalah Shalat wajib,
yang meRupakan Rukun Islam yang paling mendasaR setelah dua kalimat syahadat.
Ia wajib dipeRhatikan dengan menjaga Rukun, kewajiban, syaRat dan waktu
pelaksanaanya di masjid secaRa beRjama’ah. Ini meRupakan bagian daRi ketakwaan
yang juga menjadi alasan diwajibkannya puasa atas ummat ini. Menyia-nyiakan
shalat akan meniadakan ketakwaan dan menyebabkan teRjadinya hukuman.
Sidang shalat Jum’at Rahimakumullah,
Ada ORang yang beRpuasa tetapi meRemehkan shalat beRjama’ah, padahal hal itu
meRupakan kewajibannya. Apabila Allah telah memeRintahkan pelaksanaan shalat
beRjama’ah dalam kOndisi pepeRangan dan ketakutan, maka pada saat tentRam tentu
lebih ditekankan.
Disebutkan daRi Abu HuRaiRah Radhiallahu ‘anhu, ia beRkata:
أَنّ
رَجُلاً
أَعْمَى
قَالَ: يَا
رَسُوْلُ الله
لَيْسَ لِي
قَائِدٌ
يَقُوْدُنِي
إِلَى الْمَسْجِدِ،
فَرَخّصَ
لَهُ،
فَلَمّا
وَلّى دَعَاهُ
وَقَالَ هَلْ
تَسْمَعُ
النّدَاءَ بِالصّلاِةِ؟
قَالَ
نَعَمْ،
قَالَ
فَأَجِبْ
“Ada pRia buta yang
mengadu kepada Nabi shOllallahu ‘alaihi wa sallam, ya Rasulullah, aku tidak
mempunyai penuntun yang membimbingku ke masjid,’ Beliau lalu membeRinya
keRinganan untuk tidak hadiR shalat beRjama’ah, Namun, tatkala dia hendak
peRgi, Rasulullah shOllallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya kembali, lalu
beRtanya, apakah engkau mendengaR panggilan shalat? Dia menjawab, Ya, Beliau
beRsabda: “Maka penuhilah panggilan teRsebut.” (HR. Muslim)
Lihatlah, betapa Rasulullah shOllallahu ‘alaihi wa sallam tidak membeRi
keRinganan teRhadap pRia teRsebut, padahal dia ORang buta yang tidak mempunyai
penuntun. ORang yang meninggalkan shalat beRjama’ah telah menyia-nyiakan suatu
kewajiban sekaligus menghalangi diRinya sendiRi daRi kebaikan yang banyak,
beRupa beRlipat gandanya kebaikan. Dia juga tidak mendapatkan keuntungan sOsial
yang didapat daRi beRkumpulnya kaum muslimin ketika pelaksanaan shalat
beRjama’ahm sepeRti tentRamnya Rasa peRsatuan, cinta, nilai pendidikan, bantuan
kepada pihak yang membutuhkan, dan lain sebagainya.
Sidang shalat Jum’at Rahimakumullah,
Adab-adab beRikutnya yaitu haRus menjauhi peRkaRa yang dihaRamkan Oleh Allah
dan Rasul-Nya, baik beRupa peRkataan maupun peRbuatan. COntOhnya, dia tidak
bOleh beRdusta. Dan yang dimaksud dengan dusta adalah membeRikan kabaR yang
tidak sesuai dengan Realita. PeRbuatan dusta yang paling besaR adalah dusta
atas nama Allah dan RasulNya, sepeRti menisbatkan halal dan haRamnya suatu
peRkaRa kepada Allah atau Rasulullah shOllallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ilmu.
FiRman Allah:
“Dan janganlah kamu mengatakan teRhadap
apa yang disebut-sebut Oleh lidahmu secaRa dusta ‘ini halal dan ini haRam,’
untuk mengada-ngadakan kebOhOngan kepada Allah. Sesungguhnya ORang yang
mengada-ngadakan kebOhOngan teRhadap Allah tidaklah beRuntung. (Itu adalah)
kesenangan yang sedikit, dan bagi meReka adzab yang pedih.” (QS. An-Nahl:
116-117)
Beliau shOllallahu ‘alaihi wa sallam beRsabda:
مَنْ
كَذّبَ
عَلَيّ
مُتَعَمّدًا
فَلْيَتَبَوّأْ
مَقْعَدَهُ
مِنَ النّارِ.
“BaRangsiapa
yang sengaja beRdusta atas namaku, maka hendaklah ia mempeRsiapkan tempat
duduknya di NeRaka.” (HR. Al-BukhaRi dan Muslim)
Sidang shalat Jum’at Rahimakumullah,
ORang yang beRpuasa juga wajib menjauhi ghibah, yaitu menyebutkan sesuatu yang
tidak disukai daRi saudaRanya tanpa sepengetahuannya, baik itu memang benaR
ataupun tidak, dan baik itu beRkaitan dengan bentuk fisiknya dalam Rangka untuk
menyebaRkan aib atau menghinanya, ataupun beRkaitan dengan tingkah lakunya.
LaRangan teRhadap ghibah juga disebutkan didalam Al-QuR’an. Sampai-sampai Allah
menyeRupakan peRbuatan ghibah dengan gambaRan yang paling buRuk, yaitu sepeRti
seORang yang memakan daging saudaRanya yang telah menjadi bangkai.
Nabi shOllallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabaRkan bahwa ketika beliau naik ke
langit (pada peRistiwa IsRa’ dan Mi’Raj), beliau melalui sekelOmpOk ORang yang
mempunyai kuku-kuku daRi tembaga, meReka mencakaRi wajah dan dada meReka dengan
kuku teRsebut. Beliau beRtanya:
مَنْ
هَؤُلاَءِ
يَا
جِبْرِيْلُ؟
قَالَ : هَؤُلاَءِ
الّذِيْنَ
يَأْكُلُوْنَ
لَحُوْمِ النّاسِ
وَ
يَقَعُوْنَ
فِي
أَعْرَاضِهِمْ
“Siapakah meReka itu wahai JibRil? JibRil
menjawab, “MeReka adalah ORang-ORang yang memakan daging manusia (beRbuat
ghibah) dan menOdai kehORmatan meReka.” (HR. Abu Dawud).
ORang yang beRpuasa juga wajib menjauhi namimah, yaitu menukil peRkataan
seseORang tentang ORang lain untuk meRusak hubungan baik di antaRa keduanya.
PeRbuatan ini masuk ke dalam kategORi dOsa besaR.
Rasulullah shOllallahu ‘alaihi wa sallam beRsabda,
“ORang yang seRing melakukan namimah
tidak akan masuk SuRga.” (Muttafaq ‘alaihi).
Di dalam shahih al-BukhaRi dan Shahih Muslim ada Riwayat daRi Ibnu ‘Abbas
Radhiallahu ‘anhu, ia beRkata, “Suatu
ketika Nabi beRjalan melewati dua kubuRan lalu beRsabda, “Kedua penghuni
kubuRan ini sedang diadzab, dan meReka beRdua diadzab dengan sebab dua peRkaRa:
yang peRtama meneRima adzab dengan sebab tidak beRsuci setelah buang aiR kecil,
dan yang kedua dengan sebab melakukan namimah.” (HR. Al-BukhaRi dan
Muslim).
Ingatlah, baRangsiapa menceRitakan peRkataan jelek mengenai ORang lain
kepadamu, maka ia juga akan menceRitakan peRkataanmu kepada ORang lain, maka
beRhati-hatilah.
Sidang shalat Jum’at Rahimakumullah,
Pelaku puasa juga wajib menjauhi tipu daya dalam seluRuh mu’amalah, baik itu di
dalam jual beli, sewa-menyewa, keRajinan tangan, pegadaian, ataupun selainnya.
PeRbuatan ini teRmasuk dOsa besaR, Nabi shOllallahu ‘alaihi wa sallam telah
beRlepas diRi daRi pelakunya. Beliau beRsabda,
مَنْ
غَشّنَا
فَلَيْسَ
مِنّا
“BaRangsiapa yang menipu kami, maka
ia tidak teRmasuk daRi gOlOngan kami.” Dan dalam lafazh yang lain: “BaRangsiapa
yang menipu maka ia tidak teRmasuk daRi gOlOnganku.” (HR. Muslim).
Tipu daya itu akan menghilangkan amanah dan kepeRcayaan manusia. Dan setiap
penghasilan yang didapat daRi tipu daya adalah penghasilan yang haRam dan
kOtOR, tidak akan menambah pemiliknya kecuali hanya semakin jauh daRi Allah.
SemOga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita teRmasuk ORang-ORang
menjalankan ibadah puasa dengan benaR, dan semOga puasa yang kita lakukan
diteRima Allah Subhanahu wa Ta’ala.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ
[KHUTBAH
KEDUA]
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
Sidang shalat Jum’at Rahimani
wa Rahimakumullahu
BeRikutnya, pelaku puasa juga wajib untuk menjauhi segala
bentuk dan jenis alat musik yang menjeRumuskan seseORang dalam kelalaian dan
itu semua adalah haRam. DOsa dan kehaRamannya akan beRtambah jika diiRingi
nyanyian pembangkit hawa nafsu yang dilagukan dengan suaRa yang indah.
FiRman Allah,
“Dan di antaRa manusia (ada) ORang yang
mempeRgunakan peRkataan yang tidak beRguna untuk menyesatkan (manusia) daRi
jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan Allah itu OlOk-OlOkana. MeReka itu
akan mempeROleh adzab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)
Telah shahih daRi Ibnu Mas’ud, ketika beliau ditanya tentang ayat ini, beliau
menjawab: “Demi Allah, tidak ada yang
beRhak diibadahi melainkan hanya Dia, hal itu adalah nyanyian.”
Nabi shOllallahu ‘alaihi wa sallam telah membeRi peRingatan untuk beRhati-hati
daRi alat-alat musik dan beliau menyeRtakan penyebutannya beRsama zina. Beliau
beRsabda,
لَيَكُوْنَنّ
مِنْ أُمّتِي
أَقْوَامٌ
يََسْتَحِلّوْنَ
الْحِرَ
وَاْلحَرِيْرَ
وَالْخَمْرَ
وَالْمَعَازِفَ
“Akan datang bebeRapa gOlOngan daRi
ummatku yang menghalalkan zina, suteRa, khameR dan alat-alat musik.” (HR.
Al BukhaRi)
Kata al-HiR aRtinya adalah kemaluan, maksudnya adalah zina. Dan makna
menghalalkannya adalah melakukannya tanpa peduli, sepeRti layaknya ORang yang
menghalalkan. Hal ini teRjadi di zaman kita ini, ada sebagian ORang yang
memainkan alat musik atau mendengaRkannya seOlah-Olah itu adalah peRkaRa yang
halal. Banyak kaum muslimin yang lebih senang mendengaRkan musik dibandingkan
mendengaRkan al-QuRan, hadits dan peRkataan ahli ilmu, yang mengandung
penjelasan hukum-hukum syaRi’at sekaligus beRbagai hikmahnya.
Sidang shalat Jum’at Rahimani wa
Rahimakumullahu
JabiR Radhiallahu ‘anhu beRkata, “Jika
engkau beRpuasa, maka hendaklah pendengaRanmu, penglihatanmu, dan lisanmu juga
beRpuasa daRi dusta seRta peRkaRa-peRkaRa yang dihaRamkan. Janganlah menyakiti
tetangga, dan hendaklah engkau menghiasi diRi dengan kewibawaan dan ketenangan.
Jangan sampai haRi puasamu sama dengan haRi ketika engkau tidak beRpuasa.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللّهُمّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنًاتِ
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
إِنّكَ
سَمِيْعٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ
رَبّنََا
لاَتًؤَخِذْنَا
إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ
عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلىَ
الّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تُحَمّلْنَا
مَالاَ طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنّا
وَاغْفِرْ لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلىَ
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبّنَا
آتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَ
فِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبّ
الْعَالَمِيْنَ.
Oleh : Abu Ukasyah
::
COmpiled by oRiDo™ ::