Wasiat Untuk Suami dan Istri
Kamis, 24 Maret
11
Khutbah
Pertama
Amma
ba’du :
Wahai
kaum muslimin dan muslimat !
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, karena takwa adalah bekal terbaik
sepanjang hidup dan sesudah mati.
Ayyuhal
ikhwah wal akhawat ! Ada
sebuah harapan mulia dan cita-cita luhur yang diidam-idamkan oleh setiap suami
dan istri. Ada keinginan mendesak yang diharapkan oleh setiap pengantin. Bila
harapan, cita-cita dan keinginan itu terwujud maka panji-panji cinta dan
bahagia akan berkibar di atas keluarga dan kata-kata kasih dan sayang akan bergema
di sudut-sudutnya. Bila tidak, rumah tangga akan tenggelam di dalam lautan
gelisah dan nestapa, serta bahteranya akan dihempaskan oleh gelombang keburukan
dan permusuhan ke dalam samudera bencana dan malapetaka.
Saudara-saudara
! Itulah dia “Kabahagiaan Rumah Tangga”. Merupakan harta yang sulit dicari di
zaman ini, dan barang langka sepanjang masa. Karena persoalan kemasyarakatan
sosial kian membesar, persoalan rumah tangga kian menumpuk dan berada di garda
depan dalam barisan masalah-masalah umat dan masyarakat. Ini adalah peringatan
akan adanya ancaman bahaya yang besar dan kerusakan yang luas terhadap Negara
dan bangsa, dalam urusan dunia dan Akhirat.
Wahai
kaum muslimin dan muslimat ! Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada
hambaNya ialah rumah tangga. Allah memberinya pasangan hidup yang mulia sebagai
salah satu tanda kekuasaanNya, sebagai penenang hati, kasih sayang, pakaian dan
teman setia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَمِنْ
ءَايَاتِهِ
أَنْ خَلَقَ
لَكُم مِّنْ
أَنفُسِكُمْ
أَزْوَاجًا
لِّتَسْكُنُوا
إِلَيْهَا
وَجَعَلَ
بَيْنَكُم
مَّوَدَّةً
وَرَحْمَةً
إِنَّ فِي
ذَلِكَ
لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ
Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Ruum :21)
Dan
Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman :
وَاللهُ
جَعَلَ لَكُم
مِّنْ
أَنفُسِكُمْ
أَزْوَاجًا
وَجَعَلَ
لَكُم مِّنْ
أَزْوَاجِكُمْ
بَنِينَ
وَحَفَدَةً
وَرَزَقَكُم
مِّنَ
الطَّيِّبَاتِ
أَفَبِالْبَاطِلِ
يُؤْمِنُونَ
وَبِنِعْمَتِ
اللهِ هُمْ
يَكْفُرُونَ
Allah
menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu
dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari
yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan
mengingkari nikmat Allah (QS.
An-Nahl :72)
Dirumahnya
seorang suami bisa menemukan tempat berlabuh yang mulia dan ketenangan jiwa
setelah lelah bekerja. Ia bisa mengibaskan debu-debu kejenuhan dan kebosanan
dari dirinya. Ia dapat meluruhkan kesulitan hidup dengan senyuman yang manis,
wajah yang ceria, kata-kata yang lembut, perlakuan yang halus, persaan yang
hangat dan emosi yang meluap. Ia diimbangi oleh pasangan hidupnya, teman
perjalanannya, belahan jiwanya dan ibu dari anak-anaknya. Dan dirumahnya
seorang istri bisa menemukan sarang keluarga yang bahagia dan tempat hidup yang
enak. Di rumah itu lahirlah generasi baru yang shalih dan istimewa di bawah
naungan naluri ayah yang penyayang dan naluri ibu yang pengasih, jauh dari
pemicu ketegangan dan keglisahan, pengganggu kenikmatan, dan pengundang
kesengsaraan dan kekacauan.
Begitulah,
Islam menginginkan agar keluarga bisa menjadi markas kebaikan, cinta dan
keharmonisan, dan bisa menjadi benteng dalam berbakti, berkasih sayang dan
perdamaian. Islam meminta kedua pilar utama keluarga suami dan istri agar bisa
menjadi contoh dalam hal kerjasama yang baik dan pelaksanaan hak dan kewajiban
masing-masing. Atas dasar itulah kebahagiaan rumah tangga tidak terletak pada pakaian
yang mewah, makanan yang enak, dan penghidupan yang segar. Melainkan pada kasih
sayang, cinta dan kerjasama. Sesungguhnya rumah tangga yang berdiri di atas
pondasi pertengkaran dan perseteruan, dipenuhi cobaan dan masalah adalah
benar-benar rentan terhadap hantaman badai kehancuran dan topan perceraian,
jauh dari ketenangan batin dan harapan kemapanan.
Wahai
kaum muslimin dan muslimat ! Wahai
para suami dan istri ! Ikatan suami istri adalah ikatan yang memiliki akar yang
dalam, pilar yang kokoh, dan dasar yang jauh. Ini dijelaskan oleh firman Allah
Subhanahu Wata’ala :
لِّتَسْكُنُوا
إِلَيْهَا
Supaya
kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (QS.
Ar-Ruum :21)
Ini
menegaskan adanya ketenteraman (di dalam rumah tangga) dalam bentuk yang paling
tinggi dan makna yang paling atas. Dan juga dijelaskan oleh firmah Allah
Subhanahu Wata’ala :
هُنَّ
لِبَاسُُ
لَّكُمْ
وَأَنتُمْ
لِبَاسُُ
لَّهُنَّ
Mereka
(istri-istri kamu) itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi
mereka. (QS. Al-Baqarah :187)
Allahu
Akbar ! Lihatlah keindahan bahasa Al-Qur’an yang
menggambarkan hubungan antara suami dan istri seperti hubungan antara manusia
dan pakaian. Apa yang lebih dekat dan lebih lekat dengan seseorang selain
pakaiannya ? Dengan demikian pernikahan bukanlah sekedar ikatan duniawi,
materi, birahi, dan hewani, melainkan ikatan ruhani dan jiwa yang mulia. Oleh
karena itu Islam sangat getol dalam upaya memperkuat ikatan ini. Islam
memerintahkan agar kita senantiasa menjaganya dan mengingatkan kita agar tidak
gegabah dan lalai terhadapnya. Supaya mawar kebahagiaannya tidak layu, bunga
kenyamanannya tidak mati, dan pohon ketahanannya tidak kering. Dan hal itu
tidak mungkin terjadi tanpa keseriusan dari pihak suami dan istri untuk
melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing.
Saudara-saudara
seiman dan seakidah ! Sepanjang suami istri harus mengetahui bahwa kesempurnaan
hidup berumah tangga adalah sesuatu yang mustahil dicapai. Sebab, keterbatasan
adalah watak dasar manusia. Maka, baik suami maupun istri harus bisa
mengkondisikan dirinya untuk menerima kekurangan, memaklumi kesalahan, dan
memaafkan kakhilafan. Karena tak ada gading yang tak retak.
Karena
begitu pentingnya masalah ini maka Kitab Allah datang dengan penjelasan yang
sangat lengkap. Sebagaimana diproklamirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam kepada umat ini di dalam pertemuan agung di padang Arafah. At-Tirmidzi
dan lain-lain meriwayatkan dari Amr bin Ahwash Al-Jusyami Radiyallahu ‘anhu
bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di dalam Haji
Wada’ :
“
Ingatlah ! Perlakukanlah kaum wanita (istri-istrimu) dengan baik. Sesungguhnya
mereka adalah semacam tawanan di sisimu. Kamu tidak memiliki hak apapun dari
mereka selain itu, kecuali mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika
mereka melakukannya, hindarilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka
dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka patuh kepadamu maka janganlah
kamu mencari-cari jalan untuk menyalahkan mereka. Ingatlah ! Sesungguhnya kamu
punya hak atas istri-istrimu, dan istri-istrimu pun punya hak atas kamu. Adapun
hak kamu atas istri-istrimu ialah mereka tidak boleh mengizinkan orang yang
tidak kamu sukai menginjak tempat tidurmu dan tidak mengizinkan orang yang
tidak kamu sukai masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah ! Hak mereka atas kamu ialah
kamu harus berbuat baik kepada mereka dalam memberikan pakaian dan makanan
mereka.” (HR.At-Tirmidzi, 1163 dan Ibnu Majah,1851)
Imam
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah
bersabda :
“
Perlakukanlah kaum wanita dengan baik, karena wanita diciptakan dari tulang
rusuk. Sesungguhnya sesuatu yang paling bengkok pada tulang rusuk ialah bagian
atasnya. Jika engkau membiarkannya, ia akan senantiasa bengkok. Jadi perlakukanlah
kaum wanita dengan baik.” (Shahih
Al-Bukhari, 5186 dan Shahih Muslim, 1468 )
Abu Daud
meriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah Radiyallahu ‘Anhu bahwa ia pernah
bertanya : “ Ya Rasulullah, apa kewajiban kami kepada istri kami ?” Beliau
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Engkau
harus memberinya makan jika engkau makan. Engkau harus memberinya pakaian jika
engkau berpakaian. Jangan memukul wajah, jangan menjelek-jelekkannya, dan
jangan menjauhinya kecuali di dalam rumah.” (Sunan
Abu Daud, 2142 )
Lebih
dari itu Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَعَاشِرُوهُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ
فَعَسَى أَن
تَكْرَهُوا شَيْئًا
وَيَجْعَلَ
اللهُ فِيهِ
خَيْرًا كَثِيرًا
Dan
bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian jika kamu tidak
menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisa’ :19)
وَلَهُنَّ
مِثْلُ
الَّذِي
عَلَيْهِنَّ
بِالْمَعْرُوفِ
وَلِلرِّجَالِ
عَلَيْهِنَّ
دَرَجَةٌ وَاللهُ
عَزِيزٌ
حَكِيمٌ
Dan para
wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang
ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada
isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah :228)
Wahai
para suami dan para istri ! Anda semua harus mengetahui kewajiban dan haknya
masing-masing, lalu melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Demi Allah, seandainya
masing-masing melaksanakan peran dan tugas masing-masing, niscaya tidak ada
satu pun keluarga yang ditimpa masalah-masalah berat yang mengganggu tidur atau
pertengkaran yang membuat rumah menjadi kosong.
Wahai
para suami ! Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan istri-istri anda.
Laksanakanlah kewajiban anda. Jalankanlah tugas anda sebagai kepala rumah
tangga sesuai dengan syari’at Allah. Tunaikanlah kewajiban anda dalam
memberikan nafkah dan menyiapkan tempat tinggal menurut kemampuan anda.
أَسْكِنُوهُنَّ
مِنْ حَيْثُ
سَكَنتُم مِّن
وُجْدِكُمْ
وَلاَتُضَآرُّوهُنَّ
لِتُضَيِّقُوا
عَلَيْهِنَّ
Tempatkanlah
mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan
janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (QS.At-Thalaq :6)
لِيُنفِقْ
ذُو سَعَةٍ
مِّن
سَعَتِهِ
وَمَن قُدِرَ
عَلَيْهِ
رِزْقُهُ
فَلْيُنفِقْ
مِمَّآ
ءَاتَاهُ
اللهُ
لاَيُكَلِّفُ
اللهُ نَفْسًا
إِلاَّ
مَآءَاتَاهَا
Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang
disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah
kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar)
apa yang Allah berikan kepadanya. (QS.
At-Thalaq :7)
Pergaulilah
istri-istri anda dengan baik. Perlakukanlah mereka dengan akhlak yang baik.
Siapakah yang lebih berhak anda perlakukan dengan akhlak baik selain
istri-istri anda, pendamping hidup anda ?
Imam
Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah
Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Orang
mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya. Dan
orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling baik kepada
istri-istrinya.”
(Al-Musnad, 2/472, Sunan Abi Daud, 4682, Jami’ At-Tirmidzi, 1162 dan Shahih Ibnu
Hibban,4176 )
At-Tirmidzi
juga meriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“
Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku
adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (Jami’ At-Tirmidzi, 3895 )
Wahai
para suami ! Tunaikanlah kewajiban anda untuk tidur bersama istri-istri anda.
Ajarilah mereka tentang urusan-urusan agama. Cemburulah kepada mereka,
peliharalah kemuliaan dan kehormatan mereka. Jangan biarkan mereka keluyuran
sesuka hati. Wajibkan kepada mereka menutup aurat secara benar dan menjaga
kehormatan diri mereka dengan baik. Lindungilah mereka dari pemicu-pemicu
keburukan dan kerusakan, media-media perusakan dan penghancuran, dan
faktor-faktor penyebab timbulnya penyimpangan dan kejahatan.
Anda
pasti heran melihat beragam perlakuan suami kepada istrinya. Ada suami yang di
rumahnya tidak ada bahasa lain selain perintah dan larangan. Hobinya
menunjukkan gigi taring dan mengaum. Kejam dan kesewenang-wenang. Tidak pandai
bergaul, tidak ramah, susah memaafkan, cepat marah dan temperamental. Kalau
berbicara seperti orang tolol. Kalau bertindak seperti orang dungu. Selalu
cemberut dan enggan membantu istri. Kalau masuk rumah selalu menggerutu. Kalau
keluar rumah selalu curiga. Tidak bisa lembut apalagi penyayang. Istrinya
sangat menderita selama hidup bersamanya. Beragam kesengsaraan, cobaan dan
ujian ia rasakan.
Ada
istri yang mengeluh bahwa suaminya tidak pernah menghadiri shalat jum’at maupun
shalat jama’ah. Ada istri yang melaporkan suaminya mengkonsumsi miras dan
narkoba. Ada istri yang mengadu bahwa suaminya suka bergadang dan jarang
pulang. Ada istri yang mengatakan bahwa suaminya berselingkuh. Dan seterusnya. Fana’udzubillah.
Wahai
para suami ! Bertakwalah kepada Allah. Berikanlah hak-hak istri-istri anda,
terutama ketika sudah tua, sakit atau masa talak raj’i. bagi anda yang ingin
melakukan poligami, bertakwalah kepada Allah dalam menjaga keadilan di antara
mereka. Jangan sampai anda mendzalimi istri tua dan menyayangi istri muda. Dalam
hal ini anda pasti menemukan banyak keanehan dan kisah-kisah yang mengherankan.
Ada wanita yang setelah dimadu tidak pernah bertemu dengan suaminya selama
bertahun-tahun. Dan si suami pun tidak memenuhi kewajibannya kepada sang istri
maupun kepada anak-anaknya. Allahumma sallim.
Wahai
para istri ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi suami
anda. Patuhilah suami anda secara wajar. Dan lihatlah bagaimana sikap anda
kepadanya ? Karena suami anda sangat menentukan Surga dan Neraka anda.
Ketahuilah bahwa kedekatan anda dengan Allah dapat diukur dengan melihat
seberapa besar keridhaan suami anda kepada anda secara wajar. At-Tirmidzi
meriwayatkan dari Ummu Salamah Radiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Wanita
manapun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadnya, pasti akan
masuk surga.” ( Jami’
At-Tirmidzi, 1161 )
Jagalah
rumah, harta benda dan anak-anak suami anda. Jangan membebaninya dengan nafkah
yang terlalu banyak. Layanilah suami anda, berikanlah hak-haknya, dan jangan
lalai dalam menjalankannya. Karena ada ancaman keras yang disebutkan di dalam
Hadits Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Jika
seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya tetapi ia menolak, kemudian
laki-laki itu melewatkan malamnya sambil memendam amarah, maka para malaikat
akan mengutuknya sampai pagi.”
Dalam
riwayat Imam Muslim dinyatakan :
“ Demi
dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya
keranjangnya kemudian ia menolaknya, melainkan dzat yang ada di langit murka
kepadanya sampai si suami ridha kepadanya.” (Shahih
Al-Bukhari, 3237 dan Shahih Muslim, 1436 )
Allahul
mustaan ! Relakah wanita beriman, berakal sehat,
terhormat, merdeka, dan mulia dengan kondisi semacam itu ? dan kini, betapa
banyak wanita yang kondisinya seperti itu. Wal iyadzu billah.
Imam
Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal Radiyallahu ‘anhu
bahwa Rasulullah bersabda :
“
Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari
kalangan bidadari berkata : ‘Jangan sakiti dia ! Celakalah kamu, karena
sesungguhnya dia hanya singgah di sisimu. Sebentar lagi dia akan meninggalkanmu
ke tempat kami.”
(Al-Musnad,5/242 dan Jami’ At-Tirmidzi,1174 )
At-Tirmidzi
meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda :
“ Kalau
saja aku bisa menyuruh seseorang bersujud kepada seseorang, niscaya aku telah
menyuruh wanita bersujud kepada suaminya.” ( Jami’
At-Tirmidzi, 1159 )
Hal itu
tidak lain karena besarnya hak suami atas istrinya. Wahai para istri, simaklah
Hadits-hadits di atas dan amalkanlah isinya jika anda menginginkan hidup di
dunia dan ganjaran di Akhirat.
Anda
pasti tercengang dan prihatin melihat kondisi banyak wanita di rumahnya dan
perlakuannya kepada suaminya.
Ada
wanita yang hanya mengenal suaminya sebagai pembantu yang hina. Ia selalu
menghujaninya dengan guyuran tuntunan dan kebutuhan, serta mengejutkannya
dengan daftar belanja dan barang-barang pelengkap.
Ada
wanita yang suka berbuat sewenang-wenang, berbicara kasar, memancing keributan,
dan mencari-cari kesalahan. Ia tidak tahu terima kasih, suka membantah, tidak
pernah puas dan punya rasa sayang. Bila sang suami masuk ke rumah, ia menemukan
baju yang kusut, rambut yang acak-acakan dan sikap yang angkuh. Pagi hari
banyak tidur. Sore hari banyak memaki. Ia selalu mengandalkan pembantu untuk
mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Yang ia tahu hanya keluyuran bersama
teman-teman dan pergi ke pesta. Ia tidak peduli dengan agamanya dan tidak
menghiraukan adab-adab dan akhlak. Ia suka mengumpat, mencaci maki dan marah
besar untuk urusan yang spele. Ia tomboy dan berprilaku layaknya laki-laki. Ia
sama sekali tidak punya kebaikan untuk keluarga, suami dan anak-anaknya. Ya
Allah, ampunilah dia ! Dan jauhkanlah kami dari istri semacam itu, ya Allah.
Wahai
kaum muslimin dan muslimat !
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Para suami dan istri harus mau melaksanakan
tugasnya masing-masing agar keluarga dan rumah tangga yang tersisa tidak di
habisi oleh pertengkaran. Mudah-mudahan Allah berkenan memperbaiki hati, amal
dan niat kita. Dan semoga Allah berkenan menganugerahi kita istri dan keturunan
yang bisa meneduhkan mata dan menjadi pelipur lara. Sesungguhnya Allah Maha
Pemurah lagi Maha Mulia.
بارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
Khutbah
Kedua
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Takutlah akan hari di saat anda dikembalikan kepada Allah. Ketahuilah bahwa
keluarga dan rumah tangga hanya bisa baik dan makmur dengan taat kepada Allah
dan menjauhi maksiat. Karena kemaksiatan bisa mendatangkan kesialan bagi
keluarga dan merusak keharmonisan rumah tangga. Betapa banyak persatuan yang
terpecah belah, kekuatan yang tercerai berai, keluarga yang terguncang, istri
yang dicerai, anak-anak yang terlantar gara-gara kemaksiatan, baik yang
didengar, dilihat, maupun dibaca.
Ketahuilah
bahwa rumah adalah salah satu pos terpenting untuk menyebarkan iman dan
melahirkan generasi yang mengerti akidah dan Al-Qur’an. Lebih-lebih di zaman
sekarang. Dan ketahuilah bahwa musuh-musuh Islam tidak henti-hentinya melancarkan
serangannya terhadap rumah tangga dan keluarga untuk meruntuhkan
sendi-sendinya, merobohkan bangunannya, mengguncang kekompakannya dan
membangkitkan pertengkaran suami istri. Hal itu didukung oleh orang-orang yang
tidak bertanggung jawab. Lalu mereka menyalakan api fitnah di antara suami dan
istri. Dan banyak orang di luar keluarga yang berupaya merusak ikatan di antara
mereka berdua.
Kepada
para orang tua, hendaknya anda bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam
menghadapi anak dan menantu anda. Jangan suka mencampuri kehidupan rumah tangga
mereka, kecuali untuk kemaslahatan mereka. Jadikanlah rumah tangga Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan dan model yang patut ditiru
dalam upaya menggapai kebahagiaan dan merendam berbagai macam masalah dan
pertengkaran.
Dan
dengan tulus hati saya menyerukan kepada setiap pasangan suami istri yang
mengalami percekcokan rumah tangga agar menutup buku masa lalu dan memulai
hidup baru. Hidup yang penuh dengan tenggang rasa, cinta kasih dan serasi. Dan
saya juga menyerukan terbentuknya lembaga pembinaan (konsultasi) rumah tangga
untuk menyelesaikan percekcokan rumah tangga sebelum terjadi pengendapan
masalah yang bertumpuk-tumpuk dan membutuhkan bantuan perantara sebagaimana
disayari’atkan oleh Allah. Hendaknya pasangan suami istri terutama suami harus
bisa mengendalikan diri dan tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk
mengakhiri ikatan pernikahan. Karena akibatnya sangat serius dan dampaknya
sangat besar terhadap individu dan masyarakat.
Simaklah
contoh berikut ini yang patut ditiru dalam upaya menggapai kebahagiaan rumah
tangga dan hubungan yang baik antara suami dan istri.
Di dalam
perpustakaan tarikh disebutkan bahwa tatkala anak Ummu Sulaim binti Milhan,
istri Abu Thalhah, meninggal dunia sementara Abu Thalhah sedang pergi berjihad
di jalan Allah. Sampai ia pulang kerumah tidak ada seorang pun yang
menyampaikan kepada Abu Thalhah perihal kematian anaknya. Ketika ia datang dan
menanyakan perihal anaknya, Ummu Sulaim menjawab: “Dia lebih tenang dari pada
sebelumnya. “Rupanya Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah sembuh dari
sakitnya. Maka ia pun segera menyantap makanan yang disediakan. Kemudian Ummu
Sulaim berdandan dan memakai wewangian. Lalu Abu Thalhah tidur bersamanya dan bercinta
dengannya. Keesokan harinya, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya : “ Relakan
kepergian anakamu.” Lalu Abu Thalhah menceritakan kisahnya kepada Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lantas beliau bersabda :
“Semoga
Allah memberkati kalian berdua pada malam kalian itu.” (HR. Al-Bukhari, 1301,5470, Muslim, 2144 dan
Ahmad, 3/105 )
Kemudian
Ummu Sulaim melahirkan anak bernama Abdullah bin Abi Thalhah. Lalu Abdullah
dikaruniai 10 orang anak yang semuanya menjadi ahli qira’at, ulama dan mujahid.
Ini adalah
salah satu contoh hubungan yang ideal antara suami dan istri. Adakah yang mau
mengikuti ? Alhamdulillah, ternyata banyak sekali.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya. (QS. Al-Ahzab :56)
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. اللهم
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ لله
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
Dikutip
dari buku :
[Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah,
Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky]