Urgensi Sifat Yakin
Selasa, 24
Desember 13
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
Muslimin rahimakumullah,
Dia adalah satu hal penting yang selalu dirindukan oleh orang yang berakal
sehat, sebagai penenang hati dalam kesunyian, pemberi kekuatan saat ditimpa
kelemahan, menjadi penerang dalam kegelapan, penghilang dahaga saat kehausan.
Ringkasnya, keteguhan hati menyimpan banyak makna.
Barangsiapa memiliki sifat ini, maka ia akan memperoleh kewibawaan dan
kemuliaan, meski ia bukan dari keturunan bangsawan. Sifat ini tidak bisa dibeli
dengan harta dan tidak pula diraih dengan kekuatan. Sifat inilah yang
dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam , dan beliau
tidak memerintahkan kita kecuali kepada kebaikan. Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda:
سلوا
الله اليقين
والمعافاة،
فإنه لم يؤت
أحد بعد
اليقين خيرا
من المعافاة
Mohonlah
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala keteguhan hati dan keselamatan. Sungguh,
seseorang tidak diberi sesuatu yang lebih baik daripada keselamatan setelah
diberi keteguhan hati. (HR.
Ahmad)
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Sifat itu adalah sifat yakin (sifat teguh pendirian) yang ada dalam hati. Sifat
ini bila disertai dengan ilmu mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala , maka
ia akan menjadikan hati seseorang tidak terombang-ambing. Ia akan selalu tenang
dalam merealisasikan keimanannya. Sehingga ia akan dapat merealisasikan seluruh
tingkatan-tingkatan yakin yang tiga, yaitu ilmul yaqin, 'ainul yaqin dan haqqul
yaqin.
Kedudukan sifat ini bagi iman seperti kedudukan ruh bagi jasad. Oleh karena
itu, orang yang tidak mempunyai sifat yakin, maka ia tak ubahnya seperti
seonggok jasad tanpa nyawa.
Dengan sifat ini, seseorang dapat merasakan kedudukan yang tinggi dan memiliki
keinginan kuat untuk meraih derajat yang telah dicapai oleh orang terbaik
setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , yaitu Abu Bakar radhiyallahu
'anhu , dimana sifat yakin yang Allah Subhanahu wa Ta'ala
anugerahkan kepadanya shallallahu 'alaihi wasallam telah menjadikannya
kokoh menghadapi tiga peristiwa penting yang menentukan.
Pertama. Saat orang kafir Quraisy mendatangi Abu Bakar radhiyallahu
'anhu untuk membuatnya ragu terhadap agama dan ajaran yang dibawa oleh Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka berkata,
"Sesungguhnya sahabatmu (Muhammad) mengklaim dirinya dijalankan pada malam
hari menuju Baitul Maqdis kemudian dinaikkan ke langit," mendengar
pernyataan orang kafir Quraisy ini, seketika itu pula dengan penuh keyakinan,
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menjawab, "Jika ia (Muhammad) telah
mengatakannya, maka hal itu memang benar adanya."
Sebuah jawaban yang menunjukkan kemantapan hati dan menggambarkan betapa sifat
yakin itu telah melekat dalam lubuk hati beliau radhiyallahu 'anhu yang
paling dalam. Jawaban ini, telah memupus harapan kaum kafir Quraisy yang
berniat membuat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ragu terhadap ajaran Nabi
kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan mereka harus pulang
dengan membawa kegagalan
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Peristiwa kedua. Saat manusia menyatakan tidak percaya dan tidak bisa
menerima fakta bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah meninggal
dunia, maka Abu Bakar naik mimbar dan berseru di hadapan manusia, "
Barangsiapa menyembah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam , maka
sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka
sesungguhnya Allah Maha hidup dan tidak mati."
Ketiga. Saat muncul orang-orang murtad, Abu Bakar benar-benar tegar
sebagai panutan dalam memerangi mereka. Beliau radhiyallahu 'anhu
berseru, "Demi Allah, seandainya mereka tidak lagi menyerahkan iqal (tali
yang digunakan untuk mengikat unta) yang dahulu mereka berikan kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka sungguh aku akan perangi
mereka karena hal ini".
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Demikianlah cahaya iman, apabila telah menancap dalam hati seseorang, maka
keimanan itu akan membimbingnya kepada derajat yakin dan siap menerima agama
Allah ini dengan sepenuh hati. Orang yang menjalani kehidupan dunia ini dengan
penuh keyakinan terhadap Allah, dia pasti menyadari bahwa dunia ini tidak
senilai dengan sehelai sayap nyamuk di sisi Allah . Dia tidak akan tertipu
dengan dunia, karena dia memiliki cita-cita tinggi. Ini hanya diketahui oleh
orang-orang yang merasakannya saja. Karena sifat yakin (keteguhan hati)
merupakan amalan hati. Yang mengetahui pengaruhnya hanyalah orang-orang yang
berilmu yang memiliki kepekaan. Orang yang memiliki keyakinan kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala berhak dan pantas mendapatkan bashirah (ilmu), hidayah, dan
rahmat Allah. Tiga hal ini merupakan faktor penting dalam kehidupan beragama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
هَذَا
بَصَائِرُ
لِلنَّاسِ
وَهُدًى
وَرَحْمَةً
لِّقَوْمٍ
يُوقِنُونَ
al-Qur'an
ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini (al-Jatsiyah: 20)
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuliakan Nabi Ibrahim 'alaihissalam
dengan memberinya sifat yakin (keteguhan hati). Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
وَكَذَلِكَ
نُرِي
إِبْرَاهِيمَ
مَلَكُوتَ
السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرْضِ
وَلِيَكُونَ
مِنَ
الْمُوقِنِينَ
Dan
demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang
terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu
termasuk orang-orang yang yakin (al-An'am
75)
Sifat yang dimiliki Nabi Ibrahim 'alaihissalam ini semakin menambah
keimanan serta ketegarannya. Dengan rasa ini, Nabi Ibrahim 'alaihissalam
kian mengetahui bahwa kaumnya berada dalam kesesatan dan penyimpangan dari
jalan yang lurus. Mereka menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah dan
menghalangi dari jalanNya, padahal mereka mengetahui.
Keteguhan hati ini pula yang menjadikan Nabi Ibrahim 'alaihissalam siap
melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail.
Keteguhan hati ini jugalah yang membuat Isma'il 'alaihissalam tidak ragu
untuk mengatakan kepada ayahnya, tersebut dalam al-Qur'an surat ash-Shafat 102
:
قَالَ
يَاأَبَتِ
افْعَلْ
مَاتُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي
إِن شَآءَ
اللهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ
"Wahai
ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau
akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar".
Tingkatan inilah yang disebut dengan ilmul yaqin.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Kesabaran itu sebagian
dari iman, dan sifat yakin itu adalah seluruh keimanan itu sendiri" (HR.
al-Bukhari)
Orang yang kehilangan faktor penting ini (maksudnya kehilangan sifat yakin),
maka ia tidak mungkin menjadi petunjuk jalan dan tidak pula mendapat petunjuk,
baik di rumah, di pasar, maupun di tengah masyarakatnya.
Allah berfirman yang artinya: "dan Kami jadikan di antara mereka itu
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka
sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami."(as-Sajdah 24)
Oleh sebab itu, tatkala kepemimpinan dalam agama merupakan hal yang berat, maka
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaitkannya dengan hal yang berat pula yang
ada di dalam hati (yaitu sifat yakin). Sifat ini tidak diketahui hakikat dan
rasanya kecuali oleh orang yang merenungi kematian dan kehidupan ini
sebagaimana Ulama merenunginya.
Inilah keteguhan hati yang seharusnya dihadirkan setiap saat, namun tidak
setiap orang mampu melakukannya. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
kita memohon agar senantiasa menguatkan jiwa kita agar istiqamah di atas
keyakinan kepada Allah.
أقول ما
تسمعون
وأستغفروا
الله لي ولكم
ولسائر
المسلمين
فاستغفروه إنه
هو الغفور
الرحيم
Khutbah Kedua
الحمد
لله وكفى
والصلاة
والسلام على
النبي المصطفى
وعلى آله
وصحبه ومن
والاه، أما
بعد:
Kaum
Muslimin rahimakumullah,
Sifat yakin inilah yang menjadikan seorang hamba bisa menerima agama ini dengan
sepenuh hati, baik perintah Allah maupun larangan-Nya. Mereka mengatakan:
ءَامَنَّا
بِهِ كُلُُّ
مِّنْ عِندِ
رَبِّنَا
"Kami
beriman kepada [Al-Qur'an], semuanya itu dari sisi Rabb kami"(Ali Imran : 7)
Mereka tidak membantah dan tidak pula menyelisihinya, serta tidak pula
mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain.
Hamba Allah yang memiliki sifat yakin, akan menerima seluruh syari'at agama ini
dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman yang artinya: Apakah hukum jahiliyah yang
mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi
orang-orang yang yakin? (al-Maidah 50)
Keteguhan hati seorang mukmin ibarat cahaya di atas cahaya yang senantiasa
menerangi langkahnya, karena ia mengetahui, bahwa Allah melihat keberadaannya,
mendengar pembicaraan rahasianya, mengetahui musibahnya, mengetahui detak
jantungnya yang dipenuhi dengan sifat yakin, sehingga hamba ini mengetahui,
bahwa segala yang ditakdirkan kepadanya tidak mungkin meleset. Sebaliknya yang
bukan ditakdirkan untuknya tidak akan menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala
tidak menimpakan kepadanya ujian kecuali menginginkan keselamatan untuknya. Dan
apa yang diambil oleh Allah akan dikembalikan kepadanya. Begitu pula apa yang
dikurangi darinya justru akan ditambah. Allah mengujinya dengan kesusahan,
membuat buntu jalan yang ia tempuh dengan susah payah. Hingga tatkala ia berada
di lorong kegelapan, muncullah cahaya terang dan ditemukan kunci-kunci untuk
membukanya. Ditemukan mata air bagi yang dilanda haus dahaga. Setelah musibah
ada hibah (pemberian karunia), sesudah kesedihan ada kegembiraan. Dunia ini
tidak lain hanyalah fatamorgana di tanah yang datar, dan kita akan dikembalikan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala . sungguh akhirat itulah negeri tempat tinggal.
Barangsiapa menginginkan hidup dengan leluasa serta penuh kemuliaan dalam
urusan dunia dan agama, hendaklah ia mengharapkan keselamatan sebagaimana
kebebasan dan kemuliaan yang ingin ia dapatkan, dengan membentengi keimanannya
dengan keteguhan hati.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
اللهم
افتح بيننا
وبين قومنا
بالحق وأنت
خير الفاتحين.
اللهم
إنا نسألك
علما نافعا
ورزقا طيبا
وعملا متقبلا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه و َمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 12/Thn.
XVI/Jumadil Awwal 1434 H/April 2013 M