Tiga Pilar Amalan Utama Pada Bulan Ramadhan
Kamis, 19 Juli
12
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ فِي
النّارِ.
Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa
memberikan banyak kenikmatan sehingga tidak terhitung nilai dan jumlahnya.
Nikmat tersebut dicurahkan siang dan malam kepada kita. Semoga Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang senang bersyukur
kepadaNya. Yaitu dengan meningkatkan taqwa dan taqarrub kepadaNya.
Sidang shalat Jum’at rahimakumullah,
Pada kesempatan ini, kami ingin mengingatkan diri kami sendiri, dan juga kepada
kaum muslimin, bahwa pada bulan yang penuh barakah ini mengandung tiga jenis
ibadah yang agung, yaitu zakat, puasa dan tarawih.
Tentang zakat, alhamdulillah banyak kaum Muslimin yang melaksanakannya pada
bulan ini. Syari’at zakat merupakan bagian dari ibadah. Juga merupakan salah
satu kewajiban dalam Islam. Dengan menunaikan zakat, berarti kita telah
bertaqarrub, mendekatkan diri kepada Allah, dan telah melaksanakan salah satu
rukun Islam. Zakat yang dikeluarkan itu, bukanlah beban yang akan menyebabkan
kita miskin, sebagaimana kekhawatiran yang dibisikkan setan kepada orang yang
lemah imannya. Tetapi, justru membayar zakat akan menambah harta seseorang,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
الشَّيْطَانُ
يَعِدُكُمُ
الْفَقْرَ
وَيَأْمُرُكُم
بِالْفَحْشَآءِ
وَاللهُ
يَعِدُكُم
مَّغْفِرَةً
مِّنْهُ
وَفَضْلاً
وَاللهُ
وَاسِعٌ
عَلِيمُ {268}
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu
berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya
dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS al
Baqarah/2 : 268).
مَّثَلُ
الَّذِينَ
يُنفِقُونَ
أَمْوَالَهُمْ
فِي سَبِيلِ
اللهِ
كَمَثَلِ
حَبَّةٍ
أَنبَتَتْ
سَبْعَ
سَنَابِلَ
فِي كُلِّ
سُنبُلَةٍ
مِّاْئَةُ
حَبَّةٍ
وَاللهُ
يُضَاعِفُ لِمَن
يَشَآءُ
وَاللهُ
وَاسِعٌ
عَلِيمٌ {261}
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai seratus biji. Allah melipatgandakan
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi
Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah/2 : 261).
وَمَثَلُ
الَّذِينَ
يُنفِقُونَ
أَمْوَالَهُمُ
ابْتِغَآءَ
مَرْضَاتِ
اللهِ وَتَثْبِيتًا
مِّنْ
أَنفُسِهِمْ
كَمَثَلِ
جَنَّةٍ
بِرَبْوَةٍ
أَصَابَهَا
وَابِلُُ
فَئَاتَتْ
أُكُلَهَا
ضِعْفَيْنِ
فَإِن لَّمْ
يُصِبْهَا
وَابِلُُ
فَطَلُُّ
وَاللهُ
بِمَا
تَعْمَلُونَ
بَصِيرٌ {265}
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari
keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang
terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka
hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS
al-Baqarah/2 : 265).
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah.
Dalam membayarkan zakat, hendaklah kita tunaikan dengan penuh amanah. Kita
keluarkan zakat dari benda-benda yang wajib dizakati, sedikit atau banyak. Kita
hitung dengan teliti. Sehingga barang yang sudah wajib dizakati, sedikitpun
tidak terabaikan. Karena tujuan menunaikan zakat adalah untuk membebaskan diri
dari tanggungan kewajiban, dan menyelamatkan diri dari ancaman yang amat
dahsyat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلاَيَحْسَبَنَّ
الَّذِينَ
يَبْخَلُونَ
بِمَآءَاتَاهُمُ
اللهُ مِن
فَضْلِهِ
هُوَ خَيْرًا
لَّهُمْ بَلْ
هُوَ شَرُُّ
لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ
مَابَخِلُوا
بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَللهِ
مِيرَاثُ
السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرْضَ
وَاللهُ
بِمَا
تَعْمَلُونَ
خَبِيرُُ {180}
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada
mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan
itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah
segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang
kemu kerjakan. (QS. Ali Imran/3 : 180).
وَالَّذِينَ
يَكْنِزُونَ
الذَّهَبَ
وَالْفِضَّةَ
وَلاَيُنفِقُونَهَا
فِي سَبِيلِ
اللهِ
فَبَشِّرْهُم
بِعَذَابٍ
أَلِيمٍ {34} يَوْمَ
يُحْمَى
عَلَيْهَا
فِي نَارِ
جَهَنَّمَ
فَتُكْوَى
بِهَا
جِبَاهُهُمْ
وَجُنُوبُهُمْ
وَظُهُورُهُمْ
هَذَا مَاكَنَزْتُمْ
لأَنفُسِكُمْ
فَذُوقُوا
مَاكُنتُمْ
تَكْنِزُونَ
{35}
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada
jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa
yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu
dibakarnya dari mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada
mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka
rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan”. (QS. At Taubah/9 :
34-35).
Tentang ayat yang pertama, Rasulullah bersabda :
مَنْ
آتَاهُ الله
مَالاً
فَلَمْ
يُوَدّ زَكَاتَهُ
مُثِلّ لَهُ
مَالُهُ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
شُجَاعًا
أَقْرَعَ
لَهُ
زَبِيْبَتَانِ
ثُمّ
يَأْخُذُ
بِلِهْزِمَتَيْهِ
يَعْنِي
بِشِدْقَيْهِ
ثُمّ يَقُوْلُ
أَنَا
مَالُكَ
أَنَا
كَنْزُكَ
Orang yang dianugerahi harta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dia tidak
menunaikan zakatnya, maka pada hari Kiamat harta itu dijelmakan ke wujud seekor
ular yang sangat berbisa, memiliki dua taring lalu dia menerkam dengan dua
rahangnya seraya berkata : “Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu”.
Sedangkan tentang ayat kedua, telah dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam :
مَا
مِنْ صَاحِبِ
ذَهَبٍ وَلاَ
فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي
مِنْهَا
حَقَّهَا
إِلَّا إِذَا
كَانَ يَوْمُ
الْقِيَامَةِ
صُفِّحَتْ
لَهُ صَفَائِحُ
مِنْ نَارٍ
فَأُحْمِيَ
عَلَيْهَا
فِي نَارِ
جَهَنَّمَ
فَيُكْوَى
بِهَا جَنْبُهُ
وَجَبِينُهُ
وَظَهْرُهُ
كُلَّمَا بَرَدَتْ
أُعِيدَتْ
لَهُ فِي
يَوْمٍ كَانَ
مِقْدَارُهُ
خَمْسِينَ
أَلْفَ
سَنَةٍ
حَتَّى يُقْضَى
بَيْنَ
الْعِبَادِ
فَيَرَى
سَبِيلَهُ
إِمَّا إِلَى
الْجَنَّةِ
وَإِمَّا إِلَى
النَّارِ
Tidak ada seorangpun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya,
kecuali nanti pada hari Kiamat dia akan dibuatkan lempengan-lempengan dari api,
kemudian dipanaskan di atas api. Lempengan itu digunakan untuk menyetrika
bagian samping tubuh, kening dan punggungnya. Tatkala lempengan itu mulai
mendingin, akan dikembalikan (untuk dipanaskan lagi). (Kejadian ini)
berlangsung selama lima puluh ribu tahun, sampai semua hamba selesai diadili.
Lalu dia akan melihat jalan, mungkin ke surga atau mungkin ke neraka.
Kaum muslimin rahimakumullah
Setelah menyimak nash-nash di atas, semestinya kita takut dengan
ancaman-ancaman tersebut. Tunaikanlah zakat dengan penuh amanah, dan berikanlah
kepada yang berhak menerimanya, tidak asal mengerjakan. Harta zakat jangan
digunakan untuk kepentingan yang lain. Kita berharap, semoga zakat yang kita bayarkan
diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kaum muslimin, jama’ah shalat jum’at rahimakumullah,
Adapun jenis ibadah kedua yang ada pada bulan ini, yaitu Puasa Ramadhan. Ibadah
ini, juga merupakan salah satu rukun Islam. Manfaat puasa telah dijelaskan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al Qur’an surat al Baqarah/2 ayat 183, yaitu
agar kita menjadi orang yang bertaqwa.
Itulah hakikat tujuan puasa, yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yakni dengan menjalankan perintah-perintahNya dan
menjauhi laranganNya. Maka seorang muslim semestinya melaksanakan yang telah
menjadi kewajibannya. Dalam menjalankan puasa, seorang muslim juga dituntut
untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan, seperti berkata dusta, ghibah (menggunjing)
dan lainnya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ
لَمْ يَدَعْ
قَوْلَ
الزُّورِ
وَالْعَمَلَ
بِهِ
فَلَيْسَ
لِلَّهِ
حَاجَةٌ فِي
أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ
وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah
tidak butuh pada puasanya. (HR Bukhari-Muslim).
Hadits ini menunjukkan, orang yang berpuasa, sangat ditekankan untuk
meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan ini. Mengapa? Karena sangat
berpengaruh terhadap puasa yang sedang dijalankan.
Namun amat disesalkan, banyak kaum Muslimin, ketika menjalankan ibadah puasa
pada bulan ini, keadaannya tidak berbeda antara saat berpuasa dan tidak puasa.
Ada di antaranya yang tetap saja menganggap remeh kewajiban-kewajiban, atau
tetap saja melakukan perbuatan-perbuatan diharamkan. Sungguh sangat disesalkan.
Seorang mu’min yang berakal, ia tidak akan menjadikan hari-hari puasanya sama
dengan hari-hari yang lain. Pada saat berpuasa, ia akan lebih bertaqwa kepada
Allah, dan lebih bersemangat menjalankan perintah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang
menjalankan ibadah puasa dengan benar, dan semoga puasa yang kita lakukan
diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
أَسْتَغْفِرُ
الله لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
اْلغَفُوْرُ
الرّحِيْمُ
[KHUTBAH KEDUA]
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
Jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah
Jenis ibadah yang ketiga dalam bulan Ramadhan, yaitu ibadah shalat tarawih.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan ibadah ini. Beliau
shollallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan dalam sabdanya :
مَنْ
قَامَ
رَمَضَانَ
إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ
مَا
تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
Orang yang melaksanakan qiyam ramadhan (tarawih) karena iman dan ingin
mendapatkan balasan, maka dia akan diampuni dari dosanya. (HR. Bukhari-Muslim)
Qiyam Ramadhan ini juga mencakup shalat-shalat sunat pada malam-malam Ramadhan
dan shalat tarawih. Oleh karena itu, seharusnya kita memperhatikan dan
senantiasa menjaganya. Kita laksanakan dengan penuh antusias bersama imam, dan
tidak meninggalkan imam. Demikian ini karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam telah bersabda :
مَنْ
قَامَ مَعَ
الْإِمَامِ
حَتَّى
يَنْصَرِفَ
كُتِبَ لَهُ
قِيَامُ
لَيْلَةٍ
Barangsiapa shalat bersama imam sampai imam itu selesai, maka dituliskan
baginya shalat satu malam.
Adapun kepada para imam yang menjadi imam dalam shalat tarawih, hendaknya
bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menjalankannya. Seorang imam
hendaklah tetap menjaga thuma’ninah dan dengan tenang, sehingga para ma’mum
memiliki kesempatan untuk menjalankan hal-hal yang diwajibkan atau disunnahkan,
sesuai dengan kemampuannya.
Jama’ah shalat jum’at rahimani wa rahimakumullah,
Sungguh, pada masa sekarang ini, kita melihat fenomena yang amat menyedihkan.
Ada di antara para imam yang melaksanakan shalat tarawih secara cepat, sehingga
meninggalkan thuma’ninah. Padahal, thuma’ninah merupakan salah satu rukun
shalat. Pelaksanaan ibadah shalat yang tidak memperhatikan thuma’ninah adalah
haram. Hal ini disebabkan : Pertama, karena ia meninggalkan thuma’ninah.
Kedua, meskipun tidak sampai meninggalkan thuma’ninah, akan tetapi
perbuatan imam tersebut telah menyebabkan orang-orang yang ma’mum kepadanya
merasa kelelahan, dan tidak bisa melaksanakan yang seharusnya mereka lakukan.
Dan perlu diketahui, orang yang menjadi imam dalam shalat, tidaklah sama dengan
shalat sendirian. Seorang imam wajib memperhatikan para ma’mumnya, menunaikan
amanah yang ada di pundaknya, serta melaksanakan shalat sebagaimana mestinya.
Para ulama menyebutkan, seorang imam dimakruhkan untuk mempercepat shalat,
sehingga menyebabkan ma’mum tidak bisa melaksanakan hal-hal yang disunnahkan.
Lalu bagaimana kalau sang imam mempercepat shalatnya, sehingga para ma’mum
tidak bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan?
Terakhir, kami nasihatkan kepada diri kami sendiri, juga kepada kaum Muslimin,
hendaklah kita bertaubat dan kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan
kemampuan, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللّهُمّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنًاتِ
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
إِنّكَ
سَمِيْعٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ
رَبّنََا
لاَتًؤَخِذْنَا
إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلىَ
الّذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا
وَلاَ تُحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ عَنّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلىَ
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبّنَا
آتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَ فِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبّ
الْعَالَمِيْنَ.
[Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M]