Syari'at Islam Telah Sempurna
Jumat, 07 Juni
13
Khutbah
Pertama:
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَإِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ
اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ، وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah.
Di dalam menjalankan dan menegakkan Islam, kita tinggal mengikuti syari’at yang
jelas, yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam
dalam Al-Qur’an dan Sunah Rasul dan dijelaskan oleh para sahabat, tabi’ien, dan
tabi’it-tab’ien. Tapi apa yang terjadi sekarang? Sebagian orang malah membuat
syari’at sendiri, tidak puas dengan syariat yang telah disampaikan oleh Nabi
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam. Mereka cenderung untuk menyimpang dari
syari’at. Ironisnya hal itu justru mereka anggap dan mereka yakini sebagai
kebenaran. Padahal Allah telah berfirman dalam surat Al-An’am 153, artinya,
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu
mencerai beraikan kamu dari jalanNya, yang demikian itu diperintahkan Allah
kepadamu agar kamu bertaqwa” (Al-An’am:153).
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Mengapa disaat sekarang ini semakin ngetren, berbangga-bangga dengan syariat
yang diada-adakan dalam beribadah maupun aqidah padahal sudah menjadi ketetapan
bahwa cara-cara yang sah untuk menyembah Allah Subhannahu wa Ta'ala telah
ditetapkanNya dan telah disampaikan oleh RasulNya. Maka setiap peribadatan dan
penetapan hukum haruslah berdasarkan Al-Qur’an atau ketetapan Rasul. Seseorang
tidak boleh menambah-nambahi menurut kemauannya sendiri.
Nah, sekarang seperti memperingati orang mati (tahlilan) dengan upacara pesta
dan bacaan-bacaan tertentu pada waktu-waktu tertentu yakni hari ketiga,
ketujuh, keempat puluh, keseratus, seribu hari dst, menanam kepala kerbau guna
keselamatan bangunan, sesaji untuk menolak balak, maulidan, ratiban, nujuh
bulan (pitonan), berjanjen, manakib, berbagai macam shalawat yang menyimpang
(Shalawat Nariyah, Ya Rabbibil Musthofa .. dll), melakukan penginjakan (pecah
telur) pengantin saat dipertemukan, melakukan penerobosan di bawah keranda
(mayat) bagi ahli waris, meminta do’a pada isi kubur, puji-pujian menjelang
shalat fardhu, puasa mutih, nisfu sya’ban, sadranan, dzikir dengan goyangan dan
diiringi rebana, sedekah bumi, sedekah laut, mencari petunjuk dengan tidur di
kuburan, menjalankan tirakat, dan berkecimpung dalam tasawuf. Apakah ini semua
sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah? Jawabannya adalah hal-hal tersebut tidak
dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dan tidak
diperintahkan oleh Allah. Lantas bagaimana dengan sebagian orang yang
melaksanakan hal-hal terebut? orang-orang tersebut telah menjalankan hal yang
tidak diperintahkan Allah dan tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad
Shallallaahu alaihi wa Salam . Dalam istilah agama mereka telah menjalankan
kebid’ahan (sesuatu yang diada-adakan dalam urusan agama).
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
إِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ
اْلأُمُوْرِ
فَإِنَّ
كُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ فِي
النَّارِ.
(رواه أبو
داود
والترمذي).
“Jauhilah
perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap
bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan masuk dalam Neraka” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi, dia
berkata hadits hasan shahih).
مَنْ
أَحْدَثَ
فِيْ
أَمْرِنَاهذا
مَا لَيْسَ
مِنْهُ
فَهُوَ رَدٌّ.
(رواه البخاري
ومسلم).
“Barangsiapa
mengada-adakan pada perkara (agama) kami ini, sesuatu yang bukan darinya, maka
ia adalah tertolak” (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim). “Barangsiapa
melakukan amalan, yang tidak ada keterangannya dari kami, maka amalan itu
tertolak” (Diriwayatkan Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Dari hadits-hadits ini sangat jelas bahwa semua bid’ah pada agama, hukumnya
adalah haram, sesat dan tertolak. Oleh karena itu, kita harus menjaga kemurnian
aqidah Islamiyah. Apapun yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Ash-shahihah maka wajib ditinggalkan atau ditolak. Apabila seseorang tetap
mengikuti ajaran yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-shahihah,
maka akan menyesal dan rugi sebesar-besarnya di akhirat kelak. Walaupun di
dunia bisa jadi dinilai oleh sesama sebagai orang yang hidup bermasyarakat dan
banyak konco-konconya, banyak yang mengikutinya, dan banyak pengayomnya, tapi
apa yang terjadi di akhirat, kesemuanya akan mendapat dan menerima balasan dari
Allah, setimpal dengan kemaksiatan dan kesesatannya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Oleh karena itu, marilah kita pegang teguh ajaran Islam dengan
sebenar-benarnya, sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah dengan
pemahaman salafus shalih dan juga marilah kita jauhi sikap ikut-ikutan tanpa
ilmu ta’ashub dan fanatisme semata-mata.
Penjelasan yang benar dan shahih yaitu berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Ash-Shahihah dengan jalan yang shahih pula, yaitu manhaj salaf yang telah
ditempuh oleh generasi awal Islam yakni shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.
Namun bagi mereka yang tetap memegangi ajaran atau kebiasaan yang tidak sesuai
dengan kebenaran Islam, maka ancaman dan kecaman akan ditimpakan oleh Allah
kepada mereka.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Perintah untuk tetap berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah Ash-Shahihah
ditegaskan dalam beberapa nash, sehingga tak perlu diragukan lagi. Ketika
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ketika berkhutbah pada haji wada’
(perpisahan), beliau menegaskan: “Sesungguhnya syetan telah berputus asa
untuk disembah di bumimu ini, tetapi senang bila kalian mengikutinya pada
sesuatu yang menyia-nyiakan amal-amalmu, maka waspadalah. Sesungguhnya aku
telah meninggalkan padamu satu perkara, kalau kamu sekalian berpegang teguh
kepadanya maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah
(Al-Qur’an) dan Sunnah RasulNya”. (Hadits shahih).
Demikian uraian singkat tentang hal-hal yang tidak pernah Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam kerjakan, tapi sebagian orang menganggap itu
adalah suatu amalan ibadah yang berpahala. Padahal itu mengada-ada dalam ibadah
dan balasannya adalah Neraka. Na’udzubillahi min dzalik.
Akhirnya hanya kepada Allah-lah kami bertawakkal, dan hanya kepada Allah-lah
kami mohon pertolongan. Mudah-mudahan Allah menunjukkan kita semua ke jalan
yang lurus dan yang diridhoiNya, dan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa dan
kesalahan kita semua. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
اللهُ
مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
Khutbah
Kedua
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
هَدَانَا لِهَذَا
وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ
لَوْ لاَ أَنْ
هَدَانَا
اللهُ.
أَشْهَدُ
أَنَّ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَلاَ
نَعْبُدُ
إِلاَّ
إِيَّاهُ
وَنَحْنُ
لَهُ
مُخْلِصُوْنَ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَنَحْنُ
لَهُ
تَابِعُوْنَ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
صَلِّ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
عِبَادَ
اللهِ،
رَحِمَكُمُ
اللهُ. أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى
اللهِ فِي
السِّرِ
وَالْعَلَنَ،
فَاتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَأَطِيْعُوْهُ
وَالرَّسُوْلَ
لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ.
وَاعْلَمُوْا
أَيَّهُاَ
الْمُؤْمِنُوْنَ،
أَنَّ اللهَ
تَعَالَى
صَلَّى عَلَى
نَبِيِّهِ
تَقْدِيْمًا
وَبَدَأَ
بِنَفْسِهِ
تَعْلِيْمًا،
وَقَالَ
اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ: إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ
أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا لاَ
تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا
مِن لَّدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ
أَنتَ
الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
[Redaksi www.alsofwah.or.id]