Sucikan Diri Benahi Hati
Kamis, 27
Februari 14
إِنّ
الْحَمْدَ ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Sejak
dahulu kala semua orang yang berakal, berpendidikan dan berbudaya mendambakan
penyucian jiwa dan perbaikan hati. Mereka menempuh berbagai cara, menerapkan
metode-metode dan meniti banyak jalan untuk menggapai cita-cita tersebut. Namun
ada di antara mereka yang justru menyiksa diri sendiri dengan melakukan
perkara-perkara yang melelahkan dan menyakitkan karena tidak sesuai syari'at.
Akibatnya, perbuatan-perbuatan ini menyeret dan menenggelamkan mereka ke dalam
syahwat, kelezatan dunia, menzhalimi jiwa, dan menyibukkan diri dengan
metode-metode, pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan
tidak sejalan dengan akal sehat.
Namun, orang yang bisa bersikap adil, dan bisa menilai perkara-perkara dengan
bijak, akan menyatakan bahwa metode menyucikan diri telah dijelaskan oleh
al-Qur'an dan Hadits dengan sangat jelas dan dijamin mampu menghantarkan kepada
kebahagiaan yang hakiki.
Ibadallah !
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus para rasul dan mewahyukan kitab-kitab
untuk menunjukkan kepada manusia bagaimana metode menyucikan jiwa dan
memperbaiki hati. Realisasi hal ini adalah dengan mentauhidkan Allah, yaitu
beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan ini merupakan hikmah penciptaan
makhluk, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَمَاخَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَاْلإِنسَ
إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
"Dan
tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah
kepada-Ku" (Qs.
adz-Dzariyat: 56)
Ibadallah !
Tauhid mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam menyucikan jiwa dan
membenahi hati seorang muslim. Tauhid mampu menyatukan tujuan dan maksud, serta
menyelaraskan antara ilmu dengan amal. Sehingga pemahaman, akidah, amalan,
kehendak, kecenderungan, dan kegiatan seorang muslim berjalan menuju satu arah
dan serasi, tidak ada kontradiksi. Dengan demikian, beban kehidupan dapat
hilang dari pundak seseorang, akibat dari kontradiksi antara tujuan dan
perbuatan.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah
Diantara yang bisa menyucikan jiwa dan memperbaiki hati adalah memperbaharui
terhadap keimanan secara berkesinambungan.
Iman itu perlu diperbaharui karena dia dapat lusuh seperti pakaian. Oleh karena
itu, para sahabat Rasulullah menggandeng tangan saudaranya yang lain seraya
mengatakan, "Marilah kita perbaharui iman kita meskipun sesaat"
kemudian mereka duduk di suatu majlis, lalu berdzikir kepada Allah.
Dzikrullah, membaca al-Qur'an, melakukan ketaatan adalah cara ampuh untuk
memperbaharui iman yang bersemayam dalam jiwa seorang mukmin. Karena iman itu
bisa bertambah dengan sebab perbuatan taat dan berkurang dengan sebab
kemaksiatan. Dalam usaha meningkatkan keimanan, seorang mukmin mestinya
benar-benar bersandar kepada Allah sehingga akan menghasilkan buah yang penuh
barakah yaitu kesucian jiwa, sebagaimana disabdakan oleh Nabi yang mulia dalam
doanya shallallahu 'alaihi wasallam :
اللهم
آت نفسي
تقواها وزكها
أنت خير من
زكاها
"Ya
Allah ! Berikanlah ketakwaan kepada jiwaku dan sucikanlah jiwaku, sungguh
Engkau Pembersih jiwa terbaik"
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah
Termasuk jalan untuk menyucikan jiwa dan memperbaiki hati adalah selalu
mengingat-ingat nikmat-nikmat yang sangat banyak yang telah Allah Subhanahu
wa Ta'ala berikan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
yang artinya, "Dan Jika engkau menghitung nikmat Allah kamu tidak akan
mampu menghitungnya" (an-Nahl: 18)
Orang yang senantiasa mengingat nikmat-nikmat ini akan menyadari
ketergantungannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , sehingga dia akan
focus dalam beribadah dengan khusyu'. Bagaimana tidak ?! semua yang dia rasakan
saat ini seperti hidup, sehat, harta, anak, terhormat dan lain-lainnya adalah
pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala . Allah memberikannya dengan
cara dan dalam waktu yang Allah pilih, bisa saja pemberian ini diambil setiap
saat, tanpa ada yang mampu menghalangi-Nya.
Kesadaran akan pemberian Allah Subhanahu wa Ta'ala yang melimpah ini
bisa mendorong seorang hamba untuk menyadari kelemahan dirinya dan menyadari
betapa ia sangat butuh kepada Rabbnya dalam semua urusan. Namun, mengingat
nikmat mesti diiringi dengan amalan yang diridhai dan dicintai oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala sehingga bernilai pada hari Kiamat. Realisasinya yaitu dengan
mengerjakan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, dengan
tetap mengutamakan amalan-amalan fardhu, karena amalan fardhu merupakan amalan
yang paling bisa mendekatkan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah
Diantara yang dapat mensucikan jiwa adalah melakukan amalan-amalan hati.
Ma'asyiral Muslimin, hati ibarat raja bagi anggota badan, jika
hati itu baik maka semua anggota badan akan baik dan apabila hati rusak maka
semua anggota badan ikut rusak.
Termasuk perbuatan hati yang paling penting dan paling agung adalah niat dan
tujuan seseorang dalam beramal. Niat ini memiliki peran penting dalam masalah
diterima atau tertolaknya amal seorang muslim. Oleh karena itu hendaknya kita
senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memohon kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala agar kita dijadikan termasuk orang-orang yang
ikhlas dalam beramal.
أقول
ما تسمعون
وأستغفر الله
لي ولكم
ولسائر المسلمين
فاستغفروه
إنه هوالغفور
الرحيم
Khutbah
Kedua
الحمد
لله وكفى
والصلاة
السلام على
النبي
المصطفى وعلى
آله وصحبه ومن
والاه، أما
بعد:
Ma'asyiral
Muslimin, rahimakumullah
Sarana berikutnya yang bisa mensucikan jiwa dan membenahi hati seorang muslim
adalah bertaubat dari semua dosa. Karena tidak seorang manusia pun yang luput
dari dosa. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa taubat adalah
ibadah yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah. Sungguh Allah mencintai
orang-orang yang bertaubat. Seandainya taubat itu bukan amalan yang paling
dicintai oleh Allah, tentu Allah tidak menguji manusia yang paling mulia dengan
dosa. Namun karena Allah mencintai taubat hamba-Nya maka Allah menguji hamba
tersebut dengan dosa.
Taubat mempunyai kedudukan yang tidak dimiliki ketaatan-ketaatan lain. Oleh
karena itu, Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya. Sebagaimana
digambarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti
senangnya orang saat menemukan kembali hewan tunggangannya yang hilang padahal
berisi semua bekal perjalanannya, ketika dia sedang safar di tanah yang sangat
gersang sekali.
Kegembiraan Allah Subhanahu wa Ta'ala tentu memiliki pengaruh besar pada
hati orang yang bertaubat. Orang yang bertaubat yang menyadari ini akan
merasakan kegembiraan yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Ini termasuk
rahasia kenapa seorang hamba ditakdirkan berdosa lalu bertaubat. Karena saat
bertaubat, seseorang akan menyadari dengan hati dan mengakui dengan jujur
betapa hina dan rendah dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Kesadaran dan pengakuan seperti lebih dicintai oleh Allah daripada
perbuatan-perbuatan zahir dalam jumlah yang banyak. Inilah inti penghambaan
seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah
Memang semua ibadah yang dilakukan seseorang akan memunculkan rasa tunduk dan
patuh kepada Allah, namun ketundukan yang muncul dari taubat lebih kuat
daripada yang lainnya. Perbuatan dosa yang dilakukan seseorang lalu disesali
dan bertaubat darinya akan mendorong dia untuk melakukan berbagai perbuatan
taat, baik yang bersifat fisik maupun bersifat amalan hati seperti muncul rasa
takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , malu kepada Allah, bersimpuh di
hadapan Rabbnya, mengaku, menangisi kesalahannya serta sangat berharap
maghfirah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala . Ini jauh lebih bermanfaat dibandingkan
dengan perbuatan taat namun menimbulkan rasa ujub pada diri pelakunya.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah
Taubat yang dilakukan oleh seseorang wajib memenuhi syarat-syaratnya yaitu
berhenti dari perbuatan dosanya dan bertekad untuk tidak akan mengulanginya,
menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan, dan apabila dosa itu berhubungan
dengan manusia maka harus ada syarat keempat, yaitu meminta maaf kepadanya.
Disamping hal-hal di atas, taubat seharusnya juga mendorong seseorang untuk
tetap istiqamah melakukan berbagai perbuatan taat. Karena inti taubat itu
adalah kembali kepada Allah dengan cara mengerjakan apa yang Allah cintai dan
meninggalkan apa yang Allah benci atau haramkan.
Semua yang bertaubat adalah orang yang beruntung, namun seseorang tidak
dikatakan beruntung kecuali jika dia menjalankan perintah dan menjauhi
larangan. Allah berfirman:
وَمَن
لَّمْ يَتُبْ
فَأُوْلاَئِكَ
هُمُ الظَّالِمُونَ
"Dan barang siapa yang belum bertaubat,
maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim" {al-Hujurat: 11}
Orang yang meninggalkan perintah adalah orang zhalim, sebagaimana orang yang
mengerjakan larangan juga zhalim. Seseorang akan disebut tidak zhalim jika dia
menjalankan kedua-duanya yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah
Itulah beberapa hal yang bisa membersihkan dan mensucikan jiwa seorang mukmin.
Dan masih banyak lagi sarana-sarana yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk
menggapai kesucian jiwa. Intinya, yaitu melaksanakan perintah dan meninggalkan
larangan dari Allah dan Rasul-Nya menjadi sarana untuk membersihkan diri
manusia dari noda dosa.
Akhirnya khatib berwasiat jika kita hendak menjaga dan ingin menggapai
kebersihan jiwa maka hendaklah kita senantiasa mengikuti metode dan sarana dari
Kitabullah dan Sunnah Nabi, dengan tujuan mencari ridha Allah.
اللهم
صل على محمد
وعلى آل محمد
كما صليت على إبراهيم
وعلى آل
إبراهيم إنك
حميد مجيد،
اللهم بارك
على محمد وعلى
آل محمد كما
باركت على إبراهيم
وعلى آل
إبراهيم إنك
حميد مجيد.
اللهم
اغفر للمؤمنين
والمؤمنات
والمسلمين
والمسلمات
الأحياء منهم
والأموات إنك
سميع قريب
مجيب الدعوات.
ربنا لا
تزغ قلوبنا
بعد إذ هديتنا
وهب لنا من لدنك
رحمة إنك أنت
الوهاب.
ربنا لا
تجعلنا فتنة
للذين كفروا
واغفرلنا ربنا
إنك أنت
العزيز
الحكيم.
اللهم
يا مقلب
القلوب والأبصار
ثبت قلبي على
دينك
ربنا
آتنا في
الدنيا حسنة
وفي الآخرة
حسنة وقنا
عذاب النار.
والحمد لله رب
العالمين.
Majalah As-Sunnah, edisi 10/tahun XV/Rabi'ul
Awwal 1433H/Februari 2012M