Sampai Kapankah Kelalaian Ini
Rabu, 18 Mei 11
Khutbah
Pertama
Amma
ba’du :
Ayyuhal
muslimun rahimakumullah!
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Taatlah padaNya, rasakanlah
pengawasanNya dan jangan durhaka kepadaNya. Segeralah bertaubat dan memohon
ampun kepadaNya.
Ibadallah! Musibah terburuk yang menimpa jiwa manusia
adalah kelalaian. Dan bencana terberat yang menimpa hati manusia adalah
kekerasan. Sudah barang tentu penyakit-penyakit seperti ini mempunyai banyak
perkara yang bisa menjadi pemicunya. Semuanya bermuara pada perbuatan dosa dan
maksiat. Inilah tabir terbesar yang menghalangi seseorang dari Sang Kekasih.
Dan tentu saja menghindari hal-hal yang bisa menjauhkan diri dari Sang Kekasih
adalah wajib hukumnya. Karena pada dasarnya manusia itu lemah dan teledor, suka
melakukan kesalahan, serta memiliki banyak musuh dari dalam dan dari luar yang
selalu mendorong mereka untuk melampiaskan syahwat dan melakukan keburukan.
Sehingga mereka selalu rentan terhadap ancaman bahaya. Maka Allah Yang Maha
Mulia Lagi Maha Mengasihi dan Menyayangi hambaNya menyiapkan sebuah benteng
yang kuat bagi mereka untuk melindungi dirinya dari perbuatan dosa dan
menghindarkannya dari kesalahan. Benteng itu adalah taubat, istigfar dan inabah
(kembali ke jalan yang benar).
Ayyuhal
ikhwah al-muslimun!
Kebiasaan orang-orang berbuat maksiat dan keasyikan mereka berbuat dosa adalah
musibah besar yang sangat berbahaya bagi jiwa manusia, masyarakat, umat dan
bangsa. Karena setiap bencana, malapetaka, musibah dan cobaan yang menimpa
pribadi maupun kelompok dipicu oleh perbuatan dosa dan maksiat. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman :
وَمَآأَصَابَكُم
مِّن
مُّصِيبَةٍ
فَبِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِيكُمْ
وَيَعْفُوا
عَن كَثِيرٍ
Dan apa
saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syuura :30)
Setiap
muslim harus bersungguh-sungguh mulai memperbaiki dirinya dan mengubah arah
hidupnya dan keluarganya, dari buruk menjadi baik, dari durhaka menjadi patuh,
dari teledor dan lalai menjadi taubat dan taat. Ini jika kita menginginkan
keadaan yang baik, kondisi yang stabil, dan situasi yang damai. Sedangkan Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman :
إِنَّ اللهَ
لاَيُغَيِّرُ
مَابِقَوْمٍ
حَتَّى
يُغَيِّرُوا
مَابِأَنفُسِهِمْ
Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri. (QS.
Ar-Ra’du :11)
Bila
manusia tidak mengetahui kapan ia akan didatangi ajal dan kapan ia akan
dijemput maut, maka orang yang pintar dan bahagia ialah orang yang mendapatkan
kemudahan untuk melaju di jalur taubat, istiqomah dan keshalihan. Sehingga ia
akan memperoleh kebaikan, keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan Akhirat.
Saudara-saudara
seiman dan seakidah ! Sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap taubat merupakan
kebutuhan yang mendesak dalam semua periode hidupnya. Karena taubat adalah
jalan keselamatan dan sarana untuk mendapatkan keberuntungan. Sebab, Allah
Subhanahu Wata’ala mengaitkan keberuntungan dengan adanya taubat. Allah
memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk bertaubat seraya menjelaskan hasil
akibatnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَتُوبُوا
إِلَى اللهِ
جَمِيعًا أَيُّهَ
الْمُؤْمِنُونَ
لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
Dan
bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur :31)
Allah
Subhanahu Wata’ala mengancam orang-orang yang enggan bertaubat sebagai
orang-orang zhalim. Karena mereka tidak mengetahui hal tuhannya, buta terhadap
aibnya sendiri dan tidak menyadari kerusakan amalnya. Allah berfirman:
وَمَن لَّمْ
يَتُبْ
فَأُوْلاَئِكَ
هُمُ الظَّالِمُونَ
Barangsiapa
yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat :11)
Ayyuhal
mukminun! Allah Subhanahu Wata’ala memanggil anda semua dengan panggilan iman
agar anda kembali ke pangkuan taubat dan bernaung di bawah pohon taat kepada
Allah, jauh dari kesialan dosa dan maksiat. Juga supaya kesalahan-kesalahan
anda dihapus dan anda dapat masuk ke dalam surga.
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
تُوبُوا
إِلَى اللهِ
تَوْبَةً
نَّصُوحًا
عَسَى رَبُّكُمْ
أَن
يُكَفِّرَ
عَنكُمْ
سَيِّئَاتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ
جَنَّاتٍ
تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا
اْلأَنْهَارُ
Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu
dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. At-Tahrim :8)
Sebagaimana
anda perhatikan, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mensyaratkan taubat yang
bisa mengantarkan seseorang ke dalam Surga adalah taubat yang nasuha. Marilah
kita simak penjelasan para ulama tentang pengertian taubat yang nasuhaa.
Umar bin
Khattab Radiyallahu ‘anhu dan Ubay bin Ka’ab mengatakan, “ Taubat nasuhaa yaitu
bertaubat dari perbuatan dosa kemudian tidak kembali lagi sebagaimana air susu
yang tidak pernah kembali ke dalam payudara.”
Hasan
Al-Bashri Rahimahullah berkata, “Taubat nasuhaa ialah seseorang menyesali dosa
yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.”
Al-Kalbi
berkata, “Taubat nasuhaa ialah engkau memohon ampun dengan lisan, menyesal
dengan hati, dan menahan diri dengan badan.”
Muhammad
bin Ka’ab berkata: “Taubat nasuhaa meliputi empat hal: istighfar (memohon
ampun) dengan lisan, berhenti dengan badan, berniat untuk tidak mengulangi
dengan hati, dan menjauhi pergaulan yang buruk.
Al-Hafidz
Ibnu Katsir dalam tafsirnya At-Tahrim menyatakan, “Maksudnya adalah taubat yang
sungguh-sungguh dan mantap. Taubat semacam ini dapat menghapus
keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, menghimpun apa yang
tercerai-berai pada diri yang bersangkutan, dan mencegahnya dari
perbuatan-perbuatan tercela yang pernah dikerjakannya.”
Al-Allamah
Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata: “Taubat nasuhaa meliputi tiga hal:
Pertama: Mencakup segala macam dosa.
Kedua: Bertekad dan bersungguh-sungguh untuk meninggalkannya.
Ketiga: Membersihkan dari hal-hal yang bisa merusak kemurniannya
Dengan
demikian, anda memiliki gambaran yang jelas tentang syarat-syarat taubat.
Ternyata taubat itu memiliki nilai yang agung. Taubat bukan sekedar ucapan
kosong atau kata-kata biasa yang keluar dari mulut tanpa pemahaman dan
pembuktian makna yang dikandungnya. Taubat harus disertai dengan melengkapi
syarat-syaratnya dan meniadakan hal-hal yang bisa menghalangi keabsahannya.
Ayyuhal
ikhwah fillah! Taubat wajib dilaksanakan secara langsung dan segera. Karena
dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan hal itu. Karena dosa dapat
membinasakan dan menjauhkan pelakunya dari Allah, maka wajib dijauhi dan
ditinggalkan. Baik dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak
sesama manusia. Jika seseorang melalaikan ibadah, ia harus mengqadha’nya, jika
ia mengambil hak milik orang lain secara zhalim, ia harus mengembalikannya.
Jika ia menggunjing saudaranya, ia harus meminta kehalalannya (meminta maaf).
Jika ia merampas harta benda atau hak milik orang lain secara batil, ia harus
mengembalikannya kepada pemiliknya. Karena Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya
meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda, artinya:
Barangsiapa
yang menguasai hak milik saudaranya secara zhalim, baik berupa harta maupun
kehormatan, hendaklah ia mendatanginya lalu meminta kehalalannya, sebelum hak
milik itu diambil darinya pada saat tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia
memiliki kebajikan maka sebagian dari kebajikannya diambil untuk diberikan
kepada sahabatnya (pemilik hak itu). Dan jika tidak maka sebagian dari
keburukan sahabatnya (pemilik hak itu) diambil, lalu dilimpahkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari, 2449, 6534, dan Ath- Thabrani
dalam Musnad Asy-Syamiyyin, 1326 )
Ikhwatal
Islam! Allah Subhanahu Wata’ala telah bermurah hati kepada hamba-hambaNya
dengan membuka pintu taubat seluas-luasnya, seberat apa pun kesalahannya dan
sebesar apapun kekeliruannya. Kendati mereka telah melakukan dosa-dosa besar
dan perbuatan-perbuatan keji, sesungguhnya tidak ada yang lebih besar dari pada
kufur kepada Allah. Namun demikian Allah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha
Menerima taubat. Allah berfirman:
قُلْ
لِّلَّذِينَ
كَفَرُوا إِن
يَنتَهُوا يُغْفَرْ
لَهُم
مَّاقَدْ
سَلَفَ
Katakanlah
kepada orang-orang yang kafir itu :"Jika mereka berhenti (dari
kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka
yang sudah lalu. (QS.
Al-Anfal :38)
Setelah
memaparkan hukuman bagi sejumlah pelaku dosa besar, seperti menyekutukan Allah
(syirik), membunuh dan berzina, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إِلاَّ مَنْ
تَابَ
وَءَامَنَ
وَعَمِلَ عَمَلاً
صَالِحًا
فَأُوْلَئِكَ
يُبَدِّلُ اللهُ
سَيِّئَاتِهِمْ
حَسَنَاتٍ
وَكَانَ اللهُ
غَفُورًا
رَّحِيمًا
kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS.
Al-Furqan :70)
Allah
telah menawarkan taubat kepada para penganut trinitas yang mendustakan para
Rasul dan berkata:
إِنَّ اللهَ
ثَالِثُ
ثَلاَثَةٍ
"Sesungguhnya
Allah adalah orang ketiga dari tiga serangkai ", (QS. Al-Ma’idah :73)
Kendati
mereka berkata begitu, Allah tetap mengajak mereka bertaubat. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman:
أَفَلاَ
يَتُوبُونَ
إِلَى اللهِ
وَيَسْتَغْفِرُونَهُ
وَاللهُ
غَفُورُُ
رَّحِيمُُ
Maka
mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.
Al-Ma’idah :74)
Betapa
luasnya kesabaran Allah terhadap hamba-hambaNya. Dan betapa besar anugerah dan
karuniaNya. Hal itu didukung oleh firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَإِنِّي
لَغَفَّارٌ
لِّمَن تَابَ
وَءَامَنَ
وَعَمِلَ
صَالِحًا
ثُمَّ
اهْتَدَى
Dan
sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal
saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
(QS.Thaha :82)
وَالَّذِينَ
إِذَا
فَعَلُوا
فَاحِشَةً أَوْ
ظَلَمُوا
أَنفُسَهُمْ
ذَكَرُوا
اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ
وَمَن يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ
إِلاَّ اللهُ
وَلَمْ يُصِرُّوا
عَلَى مَا
فَعَلُوا
وَهُمْ
يَعْلَمُونَ
أُوْلاَئِكَ
جَزَآؤُهُم
مَّغْفِرَةُُ
مِّن رَّبِّهِمْ
وَجَنَّاتُُ
تَجْرِي مِن
تَحْتِهَا
اْلأَنْهَارُ
خَالِدِينَ
فِيهَا
وَنِعْمَ
أَجْرُ
الْعَامِلِينَ
Dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka
tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu
balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir
sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala
orang-orang yang beramal. (QS.
Ali Imran :135-136)
وَمَن
يَعْمَلْ
سُوءًا أَوْ
يَظْلِمْ
نَفْسَهُ
ثُمَّ
يَسْتَغْفِرِ
اللهَ يَجِدِ
اللهَ
غَفُورًا
رَّحِيمًا
Dan
barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia
mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. An-Nisa’ :110)
Sungguh
enak anda sekalian, orang-orang beriman! Sungguh senang anda sekalian,
orang-orang yang mau bertaubat! Anda berbuat baik, lalu anda diberi ganjaran.
Anda berbuat buruk kemudian anda memohon ampun, lalu Allah mengampuni anda.
Anda berbuat dosa kemudian anda bertaubat, lalu Allah menerima taubat anda. Dan
Allah selalu membuka pintuNya lebar-lebar untuk anda sepanjang siang dan malam.
Dalam sebuah hadits Shahih disebutkan bahwasanya Allah membuka tanganNya di
malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari mau bertaubat. Dan Allah
membuka tanganNya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari mau
bertaubat. Keadaan begini terus berlangsung sampai matahari terbit dari barat.
Dan tatkala Allah Subhanahu Wata’ala turun ke langit dunia (terdekat), ketika
malam menyisakan sepertiganya yang terakhir setiap malam, dia selalu mengajak
hamba-hambaNya ke ladang kemurahanNya, dan lapangan anugerah dan rahmatNya.
Lalu Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Adakah
orang yang memohon ampun, maka Aku akan mengampuninya ? Adakah orang yang
bertaubat, maka Aku akan menerima taubatnya ?” (HR. Ahmad, 2/433, Al-Bukhari, 1145 dan
Muslim, 758 )
Ibadallah! Bagaimanakah kira-kira kegembiraan hati orang
yang kehilangan untanya di tengah padang pasir yang gersang ? Ia kehilangan untanya
di tengah gurun yang berbahaya. Unta itu tiba-tiba melarikan diri darinya.
Padahal unta itu membawa makanan dan minumannya. Setelah ia bersusah payah
mencarinya hingga merasa putus asa, rasa lapar, haus dan lelah serasa mencekik
lehernya hingga nyaris meregang nyawa. Namun, tiba-tiba unta itu berdiri di
dekatnya. Bayangkan betapa gembiranya dia saat bertemu dengan untanya! Nah,
kegembiraan Allah Subhanahu Wata’ala saat melihat hambaNya bertaubat lebih
besar dari pada kegembiraan orang tersebut saat bertemu dengan untanya.
Demikian menurut riwayat yang tercatat pada Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim
dari Anas Radiyallahu ‘anhu.
Wahai
umat Islam! Sebesar apapun dosa yang dilakukan manusia, sesungguhnya ampunan
Allah jauh lebih besar. Maka barangsiapa menyangka bahwa ampunan dan rahmat
Allah tidak akan mencukupi dosa-dosanya, berarti ia telah berperasangka buruk
kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dikisahkan bahwa seorang laki-laki Bani Israil
telah membunuh 99 orang kemudian menggenapkannya menjadi 100 orang setelah
membunuh seorang ahli ibadah. Namun tatkala ia bertaubat dengan
sungguh-sungguh, Allah berkenan menerima taubatnya dan menyelimutinya dengan
rahmatNya. Kisah ini tercatat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari
Hadits riwayat Abu Said Radiyallahu ‘anhu.
Namun
bukan berarti manusia boleh mengandalkan nash-nash yang berisi janji-janji
Allah, sehingga menonjolkan sisi raja’ (harapan) dan bersandar pada luasnya
ampunan Allah, dengan alasan bahwa Allah Maha Mengampuni dosa. Kemudian mereka
berbuat maksiat sesuka hati, melupakan hukuman dan terbuai dengan panjang
angan-angan. Ini jelas-jelas rasa aman dari siksa Allah. Na’udzu billahi min
dzalik !
Yang
harus dilakukan adalah segera bertaubat dan tidak menunda-nunda. Karena
menunda-nunda taubat adalah perbuatan dosa yang memerlukan taubat. Bagaimana
tidak, seorang muslim harus punya rasa khawatir kalau-kalau dirinya terhalang
dari taubat tanpa terasa. Sehingga ia kehilangan kesempatan untuk bertaubat
lalu menyesali perbuatannya ketika penyesalan tidak lagi berguna. Allah telah
memperingatkan hal itu dalam firmanNya:
إِنَّمَا
التَّوْبَةُ
عَلَى اللهِ
لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ
السُّوءَ
بِجَهَالَةٍ
ثُمَّ
يَتُوبُونَ
مِن قَرِيبٍ
فَأُوْلاَئِكَ
يَتُوبُ
اللهُ
عَلَيْهِمْ
وَكَانَ اللهُ
عَلِيمًا
حَكِيمًا وَلَيْسَتِ
التَّوْبَةُ
لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ
السَّيِّئَاتِ
حَتَّى إِذَا
حَضَرَ
أَحَدَهُمُ
الْمَوْتُ
قَالَ إِنِّي
تُبْتُ
الْئَانَ
وَلاَالَّذِينَ
يَمُوتُونَ وَهُمْ
كُفَّارٌ
أُوْلاَئِكَ
أَعْتَدْنَا
لَهُمْ
عَذَابًا
أَلِيمًا
Sesungguhnya
taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan
kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera,
maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang
yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang
di antara mereka, (barulah) ia mengatakan:"Sesungguhnya saya bertaubat
sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang
mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang
pedih. (QS. An-Nisa’ :17-18)
Ibadallah! Sampai kapankah kelalaian ini ?
أَلَمْ
يَأْنِ
لِلَّذِينَ
ءَامَنُوا
أَن تَخْشَعَ
قُلُوبُهُمْ
لِذِكْرِ
اللهِ
Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah. (QS.
Al-Hadid :16)
Wahai
orang-orang yang suka meninggalkan apa yang diwajibkan oleh Allah, seperti
shalat, zakat dan bersilaturrahim! Wahai orang-orang yang suka melakukan apa
yang diharamkan oleh Allah, seperti syirik, meninggalkan shalat, menumpahkan
darah, merusak kehormatan, meminum minuman keras, mamakai narkoba, tak menjaga
tali silaturrahim, durhaka kepada orang tua, dan asyik bermain dan bercanda. Segeralah
bertaubat sebelum anda terkubur di dalam tanah dan terseret malapetaka. Dan
ketika itulah anda menjadi bangkai yang hancur lebur. Karena pada saat itu
tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi anda selain taubat yang nasuhaa dan
sungguh-sungguh.
قُلْ
يَاعِبَادِي
الَّذِينَ
أَسْرَفُوا
عَلَى أَنفُسِهِمْ
لاَتَقْنَطُوا
مِن رَّحْمَةِ
اللهِ إِنَّ
اللهَ
يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ.
وَأَنِيبُوا
إِلَى
رَبِّكُمْ
وَأَسْلِمُوا
لَهُ مِن
قَبْلِ أَن
يَأْتِيَكُمُ
الْعَذَابُ
ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ.
وَاتَّبِعُوا
أَحْسَنَ
مَآأُنزِلَ
إِلَيْكُم
مِّن
رَّبِّكُم
مِّن قَبْلِ
أَن
يَأْتِيَكُمُ
الْعَذَابُ
بَغْتَةً
وَأَنتُمْ
لاَتَشْعُرُونَ.
أَن تَقُولَ نَفْسٌ
يَاحَسْرَتَى
عَلَى
مَافَرَّطتُ
فِي جَنْبِ
اللهِ وَإِن
كُنتُ لَمِنَ
السَّاخِرِينَ
Katakanlah:"Hai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang
azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah
sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab
kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada
orang yang mengatakan:"Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam
(menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sungguh-sungguh termasuk
orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS. Az-Zumar :53-56)
Ya
Allah, anugerahilah kami taubat yang nasuhaa, lindungilah kami dari kelalaian,
dan peliharalah kami dari perbuatan dosa dan maksiat.
بارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
Khutbah
Kedua
Amma
ba’du :
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Mohon ampunlah kepada Tuhan, bertaubatlah kepadaNya, dan hindarilah dosa-dosa
kecil. Karena dosa-dosa kecil dapat mengantarkan pelakunya kepada dosa-dosa
besar. Dan jangan sekali-kali meremehkan dosa-dosa kecil. Karena mereka akan
terus bertumpuk sampai berhasil membinasakan pelakunya. Sebagaimana dinyatakan
oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Sang Manusia pilihan.
Ibadallah! Jadikanlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sebagai qudwah hasanah (Suri tauladan yang baik). Beliau yang sudah
diampuni dosanya yang lalu maupun yang kemudian adalah orang yang paling takut
kepada Allah dan paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Namun demikian
Sahabat-Sahabatnya pernah menghitung bahwa beliau membaca istighfar tidak
kurang dari seratus kali dalam satu majelis. Beliau membaca : artinya
“Ya
Yuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha
Menerima taubat lagi Maha Penyayan.” (HR.
Ath-Thyalisi, 2050, Ahmad, 2/21 Abu Daud, 1516, dan At-Tirmidzi, 3434 )
Dalam
sebuah Hadits shahih disebutkan bahwa Nabi bersabda: artinya,
“ Demi
Allah, sesugguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam
sehari lebih dari 70x.” (Shahih
Al-Bukhari, 6307)
Allahu
akbar! Bila ketakutan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam demikian
besarnya, mengapa kita yang bergemilang dosa dan kesalahan ini tidak takut
kepada Allah ?
Ibadallah! Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu
Wata’ala! Marilah kita buka lembaran baru di dalam hidup kita! Marilah kita
berjanji kepada diri kita sendiri! Dan kita semua yang ada di tempat suci ini,
marilah kita bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
Wahai
umat Islam! Jika saat ini kita semua sedang menyongsong masa depan yang
gemilang, (seperti datangnya bulan suci Ramadhan, Dzul Hijjah, Muharram dan
seterusnya) maka taubat dari hak-hak Allah maupun hak-hak sesama yang kita
bicarakan di sini adalah cara yang tepat untuk menyambut kedatangan bulan-bulan
yang mulia ini. Sementara banyak orang Islam yang tidak tahu cara menyambut
bulan suci ini secara kejiwaan dan ruhaniyah. Mereka lebih suka menyambutnya
dengan hal-hal yang rame-rame dan kebendaan. Itulah yang diterjemahkan oleh
keadaan orang-orang sekarang ini. Mereka berbondong-bondong ke pasar untuk
menyongsong bulan suci Ramadhan, Dzul Hijjah, Muharram dan seterusnya.
Wahai
umat Islam! Siapa yang ingin menuai sukses dalam menjalankan ibadah seperti :
puasa, shalat malam (Tarawih) dan seterusnya harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Yaitu dengan cara bertaubat, memperbanyak istighfar, dan mendekatkan diri
kepada Allah. Sehingga ia dapat memperoleh ampunan, rahmat, kemerdekaan dari
Neraka pada siang dan malam di bulan suci Ramadhan, Dzul Hijjah. Kini, lihatlah
apa yang telah anda siapkan ?!
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
Dikutip
dari buku :
[Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah,
Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky]